Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Celah penghubung


__ADS_3

Wu Ling dan Eiji yang sudah melatih ilmu segel sedari awal, mereka semakin menguasai ilmu tersebut setelah Kin Raiden mengucapkan satu kalimat dari pertapa tua Kitaro.


Keduanya mampu berpindah ke berbagai tempat yang mereka inginkan. Bukan hanya keluar dari dalam dimensi latihan yang di buat oleh kakek tua tersebut, saat ini keduanya sedang tertidur nyenyak di dalam ruangan.


"Kakak, kenapa kau jadi bermalas-malasan di tempat ini."


Keiko mengguncang tubuh kakak keduanya yang masih memejamkan mata.


"Apakah aku harus melihat adik kecilku yang sedang berpelukan dengan sahabat kakaknya sendiri."


Eiji membuka sebelah matanya dan tersenyum kecil saat melihat wajah adik perempuannya merona.


"Kakak... Aku mohon jangan bilang kepada siapapun tentang hal ini."


Keiko berucap selembut mungkin, untuk membujuk kakak keduanya.


"Termasuk kakak tertua mu?"


Wu Ling berucap santai seraya bangun dari tidurnya dan tersenyum kecil saat melihat wajah Keiko yang makin tersipu.


"Kau tidak perlu malu untuk mengakui bahwa naga besar itu telah meluluhkan hati mu."


Keiko semakin tertunduk saat Eiji kembali berucap serta duduk di sampingnya untuk memeluknya erat.


"Apa yang terjadi dengan mu Kei, apa naga besar itu menyakitimu. Katakan padaku dimana yang sakit, apa yang telah dia perbuat. Aku akan menghajarnya."


Arnius memeriksa tubuh Keiko dari pucuk rambut hingga ujung kaki. Sejak keluar dari dalam dimensi latihan bersama dengan Zen, Arnius tidak menemukan ke dua adiknya. Saat ia memasuki ruangan tersebut, Arnius melihat Eiji yang masih memeluk adik perempuannya dengan begitu erat. Ia mengira terjadi sesuatu pada keduanya.


"Kakak dimana pakaian mu, setidaknya pakai dulu baju mu atau bersihkan tubuh mu."


Berganti Keiko dan Eiji yang melihat kakak tertua mereka dengan seksama.


"Kalian lebih penting dari pada pakaian."


Arnius mulai menyadari ke dua adiknya baik-baik saja.


"Guru membuat ku tidak bisa menggunakan tenaga dalam sama sekali, jadi untuk mengambil pakaian dari dalam giok hitam pun tidak bisa."


Arnius kembali berucap.


"Kalian berdua benar-benar mengenaskan."


Genta berdecak perlahan saat menyadari penampilan Zen dan juga Arnius saat ini.


"Tapi aku sempat iri saat melihat garis-garis kotak pada perut datar kakak kalian."


Zen berucap santai seraya berjalan mengikuti Arnius menuju ke air terjun.

__ADS_1


Wu Ling dengan segera menutup mulutnya dan menelan ludahnya dengan kasar, saat ia kembali tersadar dari lamunannya. Pria bertubuh kecil itu begitu terpesona dengan perubahan tubuh dari ke dua rekannya.


"Benarkah itu tadi kapten Zen dan Arnius?"


Wu Ling mengusap wajahnya berulang kali untuk memastikan apa yang telah dilihat oleh kedua matanya.


"Semua sudah kembali, ayo kita temui kakek pertapa."


Eiji melangkah keluar dan diikuti seluruh rekannya yang tersisa.


"Keiko cantik, bukankah tubuh ku ini lebih perkasa dari pada mereka?"


Genta mendekati Keiko dan berucap lirih.


"Menjauh dari ku dan jangan coba-coba mengadu apapun kepada kakak ku."


Keiko memberikan tatapan tajam kepada Genta.


"Baiklah, aku akan menjauh dari mu dan tidak lagi mendekati mu. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan mu."


Genta tersenyum licik. Sementara Keiko menghentakkan kakinya kesal dan segera berlari menyusul kakak keduanya.


"Aku akan melihat, apakah kau benar-benar bisa jauh dari ku Keiko cantik."


Masih dengan senyum liciknya, Genta bergumam perlahan.


"Jika perhitungan ku benar, maka usia kandungan kakak Yin sudah menginjak dua bulan. Namun kenapa perut itu sudah terlihat lebih besar."


Keiko memandangi jarinya yang tengah mencoba menghitung usia kandungan kakak iparnya.


"Kau salah gadis kecil, apa kau tahu sudah berapa lama kalian berada di dalam dimensi latihan yang aku buat?"


Suara serak Kitaro membuyarkan lamunan Keiko.


"Kakek.. "


Keiko bersimpuh di hadapan Kitaro.


"Hanya satu kalimat yang aku keluarkan, namun kalian meresponnya selama lima hari dan baru keluar dari dalam dimensi tersebut hari ini."


"Apa."


Semuanya menjawab serempak.


"Pantas saja perut ku saat ini begitu kelaparan."


Zen terus memakan beberapa apel yang tadi sempat di petiknya.

__ADS_1


"Aku berbaik hati memasak makanan untuk kalian, sekarang makanlah."


Semuanya serempak menoleh ke arah Kin Raiden yang masih duduk di hadapan perapian sambil memanggang beberapa ekor ayam. Berbagai jenis buah pun tersusun rapi di atas tanah beralaskan dedaunan.


"Kakek guru, bagaimana dengan Zora dan Yuki. Kenapa mereka tidak terlihat?"


Genta berucap dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Kalian makan saja dulu, mereka berdua sudah menunggu kalian di dalam hutan."


Kitaro berkata sambil mengeluarkan beberapa buntalan dari ruang hampa miliknya.


"Aku titip ini untuk mereka ya. Mereka pasti merindukan semua makanan ini, karena semua ini tidak ada di dalam sana. Dan pastikan kau membawa cicit ku dengan selamat dari negri itu."


Kitaro menatap tajam Arnius. Sementara Arnius hanya terdiam tanpa mengerti apapun.


"Maksud kakek guru.."


"Iya... Setelah kau memasuki celah itu, kau akan mengerti semuanya. Namun ingat, kau hanya bisa memasukinya. Celah itu tidak bisa membawa kalian kembali lagi ke tempat ini, jadi kalian harus berusaha sendiri. Mereka semua pasti juga masih berada di dalam sana, dan aku sangat merindukan pertengkaran mereka."


Kitaro mengusap pelan jenggot panjangnya.


"Maksud kakek, mereka adalah Kuma dan yang lainnya?"


Genta meletakkan sisa tulang ayam yang sudah di makannya. Sementara Kitaro hanya mengangguk perlahan.


"Saat itu Kuma dan lainnya sedang berlatih seperti biasanya. Namun kalian mengetahuinya sendiri, bagaimana mereka semua jika sedang berkumpul. Mereka suka sekali bermain dan bercanda, hingga mereka menemukan celah itu. Tanpa bertanya ataupun curiga, satu persatu mereka memasuki celah itu dan meninggalkan kakek tua ini sendiri di tempat ini."


Kitaro kembali menghela nafas panjang.


"Temukan mereka dan bawa mereka bersama denganmu. Aku harap, di tempat itu mereka bisa saling menjaga hingga saat ini. Kemampuan mereka belum sekuat dirimu, namun iblis dan juga monster begitu kuat di tempat itu."


"Sebenarnya tempat apakah yang kakek maksud?"


Keiko memberanikan diri untuk bertanya.


"Di dalam celah itu terdapat sebuah dimensi yang bisa terhubung dengan istana bulan, jika kau bisa menemukan celah yang lain. Namun dengan segel pemindah, kalian bisa ke istana bulan dengan mudah. Aku hanya ingin kalian membawa serta Kuma dan juga yang lainnya untuk keluar dari tempat itu, mereka mungkin bisa membantu mu nanti. Lagi pula di tempat itu kalian bisa mencari teman untuk membantu menghadapi pasukan the Beast, jika kalian benar-benar harus berhadapan dengan mereka."


"Baiklah, kalian bisa memasuki celah itu sekarang. Jangan lupa bawa semua buah ini bersama mu, aku harap mereka baik-baik saja."


Setelah menunduk hormat, Arnius mulai melangkahkan kakinya memasuki hutan. Untuk mencari keberadaan Zora yang sudah menunggu.


"Kei, katakan bagaimana keadaan Yao Yin."


Arnius bertanya di sela perjalanan mereka.


"Perut kakak Yin sudah terlihat lebih besar dari sebelumnya. Jika sudah lima hari berlalu, saat kita berada di dalam dimensi latihan kakek. Maka usia kandungan kakak Yin saat ini hampir menginjak bulan ke delapan. Kita harus secepatnya ke istana bulan, aku ingin melihat kelahiran keponakan tampan ku. Ayo kalian cepatlah."

__ADS_1


Keiko melesat menuju ke tempat Zora tanpa memperdulikan semua rekannya.


__ADS_2