Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Aroma iblis


__ADS_3

Pagi ini Keiko begitu bersemangat membantu sang paman memetik beberapa bunga yang tumbuh subur di tepi lembah. Tempat yang dulu pernah berdiri sebuah gubuk. Rumah bagi Arnius dan juga Eiji kecil, setelah mereka berpisah dengan kedua orang tuanya. Kemudian beralih pada pengasuhan paman serta neneknya.


"Udara di tempat ini masih sama seperti dulu."


Arnius menghirup nafas panjang, saat ia berdiri tepat di depan sebuah kebun bunga yang indah. Sebelumnya ia menyempatkan diri untuk mengunjungi serta membersihkan makam sang nenek.


"Hei kenapa kau menyibukkan diri dengan pekerjaan perempuan, kau bisa membantu memanen ikan di kolam bersama Eiji. Cukup Yao yin yang membantu di sini."


Arnius kembali berucap saat melihat Genta ikut memetik beberapa bunga di sekitar kebun.


"Aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan, jadi kenapa tidak kau saja yang membantu Eiji. Sementara aku akan tetap disini membantu calon permaisuri ku."


Genta menjawab tanpa menoleh sedikitpun, karena dia sudah merasakan kedatangan tuannya tersebut sebelum kedua kaki Arnius menapak di atas rerumputan.


"Percuma saja berbicara denganmu."


Arnius berlalu menuju ke ujung lembah, hingga tiba di tepi hutan. Kedua manik matanya terus memperhatikan sekeliling tempat tersebut. Tempat yang dulu pernah ia buat begitu berantakan, saat ia bermain bersama Eiji.


Setelah kepergian Arnius, Keiko juga melihat kilatan petir yang melesat mengikuti langkah kakak tertuanya tersebut. Hal itu membuatnya ingin ikut serta melihat ke mana tujuan mereka.


"Kakak mau membuat seluruh ranting dan daun-daun itu berserakan memenuhi seluruh tempat ini lagi? ingat kak, nenek selalu berpesan untuk tidak pergi terlalu jauh ke dalam hutan dan juga segera pulang jika hari mulai senja."


Arnius yang sudah merasakan kedatangan Eiji, hanya tersenyum kecil serta mengusap sedikit air yang mulai menggenang di pelupuk matanya.


"Apa kau mau ku gendong, supaya kita bisa lebih cepat sampai di rumah dan tidak di marahi nenek karena terlambat pulang."


Keduanya terbahak kemudian berpelukan setelah mengingat sedikit kenangan mereka di tempat tersebut.


"Terimakasih karena kakak selalu menjaga ku."


"Sampai kapanpun aku akan selalu berusaha menjaga kalian. Dan ingat, jangan lagi kau berterima kasih kepada ku. Kita akan tetap saling menjaga."


Setelah melihat kejadian tersebut, tanpa sadar Keiko memeluk tubuh Genta yang berdiri tepat di sampingnya.


"Mereka pasti memiliki kenangan indah bersama nenek dan juga tempat ini."


Keiko bergumam perlahan, sementara kedua tangannya masih memeluk erat tubuh Genta yang hanya diam membisu.


"Wah sepertinya kakak harus menikahkan mereka terlebih dahulu, karena aku belum menemukan pasangan hidupku."


Eiji melipat kedua tangannya di depan dada serta tersenyum kecil, saat melihat adik kecilnya memeluk tubuh seorang pria.


"Kenapa kau berdiri di sebelah ku, kau mencuri kesempatan?"


Keiko berteriak keras.


"Bukankah kau yang sudah merenggut kesucian tubuh ku? selama ini belum ada seorang wanita pun yang berani memeluk ku erat seperti ini. Kau harus bertanggung jawab."


Genta mendengus perlahan.


"Ka.. kau.. Akan ku buat kau membeku seutuhnya. Berhenti kau naga besar."


Keiko melesat, mengejar Genta yang sudah terbang terlebih dahulu meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


"Aih kedua anak itu... Eiji apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu?"


"Sudah."


"Baiklah, aku akan membantu Yin yin mengumpulkan bunga-bunga itu."


Arnius kembali ke kebun bunga dan membantu Yao yin mengumpulkan bunga yang sudah ia petik.


***


"Nona Minori, ku lihat sejak anda tiba di rumah kami. Anda begitu senang menyibukkan diri bersama para kuda ini."


Zaka melihat Minori saat ia hendak mempersiapkan kuda yang akan di pakainya untuk mengantarkan beberapa barang pesanan pelanggan.


"Saya mengerti sedikit tentang kuda, lagi pula kuda-kuda ini seperti saudara bagiku. Apa paman ingin mempersiapkan kuda untuk membawa anda ke kota?"


"Iya nona."


"Baiklah, silahkan anda memakai kuda hitam ini. Dia sudah ku beri beberapa tanaman herbal selama beberapa hari ini, hingga ia menjadi kuda yang lebih kuat dan tangguh."


Minori mengusap pelan punggung kuda yang berwarna hitam pekat.


"Iya terimakasih, aku akan mengikatnya ke kereta barang bersama kuda yang lain."


"Tidak perlu."


"Lantas bagaimana aku harus membawa semua barang pesanan itu?"


"Tuan tampan kedua membawa satu keranjang istimewa milikku di dalam cincin ruang miliknya, aku akan memintanya. Tunggulah sebentar."


"Tuan tampan kedua, tolong keluarkan keranjang istimewa milikku."


Minori bertemu dengan Eiji saat ia baru saja keluar dari dalam kandang.


"Ini, untuk apa keranjang itu?"


"Untuk paman, supaya dia lebih mudah membawa seluruh barang dagangan miliknya."


Setelah memanggil Zaka, Minori mulai menunjukkan cara mengeluarkan barang dari dalam keranjang istimewa miliknya. Ia mengeluarkan seluruh isi keranjang tersebut.


"Sekarang paman bisa memasukkan banyak barang ke dalam keranjang ini, seperti permadani ini misalnya. Paman bisa menggunakannya untuk beristirahat saat dalam perjalanan. Jangan takut jika paman mungkin akan lupa barang apa saja yang pernah paman masukkan. Paman hanya perlu mengusap permukaan kulit yang tertempel pada salah satu sisi keranjang ini. Kulit itu akan menunjukkan gambar setiap barang yang ada di dalamnya."


Zaka mengangguk perlahan, setelah ia mengerti semua hal yang sudah di jelaskan oleh Minori. Ia mulai memasukkan seluruh barang pesanan tersebut ke dalam keranjang.


"Hari sudah hampir petang, kapan paman akan berangkat? sekalipun paman akan berangkat besok atau lusa, barang-barang itu akan tetap segar selama berada di dalam keranjang itu."


Arnius meletakkan banyak buket bunga yang sudah di susun rapi oleh Yao yin di atas meja batu.


"Benarkah?"


"Tentu saja, semua jenis barang yang di masukkan ke dalam keranjang ini tidak akan rusak ataupun kehilangan kesegarannya."


Minori tersenyum kecil.

__ADS_1


"Waaah ternyata kalian memiliki benda yang begitu berharga seperti ini, aku jadi sungkan untuk menerimanya."


"Tidak apa-apa, keranjang itu untuk paman. Sebaiknya paman berangkat besok pagi, hari sudah hampir malam."


Keiko yang baru saja menapakkan kakinya ikut berkomentar.


"Sudah puas bermain kejar-kejaran?"


Yao yin tersenyum kecil menggoda adik iparnya yang terlihat masih bermuka merah.


"Dia akan tersiksa semalaman di atas sana."


Keiko menunjuk sebuah pohon kelapa yang menjulang tinggi, terlihat tubuh Genta yang tertutup es tebal seluruhnya di pucuk pohon.


"Kei, kau bisa membunuhnya jika seperti itu. Kau mau dia mati?"


"Jika aku menyisakan kepalanya, dia akan mudah meloloskan diri. Jadi aku bekukan saja seluruh tubuhnya."


Keiko mencibirkan bibirnya.


"Sekalipun dia membuatku kesal setengah mati, pasti aku tidak akan mampu berbuat seperti itu kepada orang yang aku cintai."


Yao yin tersenyum kecil seraya matanya sedikit melirik ke arah Arnius. Keiko bergegas melayang mendekati Genta, kemudian mencairkan es yang menutupi tubuh Genta.


"Aku tahu kau mencintaiku cantik."


Nafas Genta tersengal-sengal, ia tersenyum semanis mungkin saat berhadapan dengan Keiko.


"Aku hanya tidak ingin kakakku kehilangan sahabatnya."


Keiko bergegas turun dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Saat Genta masih sibuk mencairkan es yang masih menutupi sebagian tubuhnya, hidungnya mencium aroma binatang iblis dan juga binatang ilahi.


"Ini bukan aroma tubuh burung petir itu."


Genta bergumam perlahan, seketika api emas memenuhi seluruh tubuhnya. Aura naga langsung menutupi seluruh kediaman Tamura. Tubuhnya yang membara melayang lebih tinggi, untuk memastikan apa yang sedang terjadi.


"Ada apa denganmu?"


Suara Arnius terdengar di dalam pikiran Genta.


"Bersiaplah ada sesuatu yang sedang bergerak mendekat, masukkan semua orang ke rumah beruang tua."


Genta menjawab singkat pertanyaan tuannya.


"Paman cepat masuk ke ruangan beruang tua. Minori kumpulkan semuanya di rumah beruang tua. Dan kau dengarkan aku, tetap bersama Minori dan yang lainnya di rumah beruang tua."


Yao yin mengangguk cepat, dan bergegas menyuruh seluruh pelayan untuk masuk ke dalam rumah beruang tua.


Arnius melesat ke dalam rumah utama diikuti oleh Eiji. Setelah melihat sekeliling akhirnya ia menemukan keberadaan sang ayah dan juga ibunya.


"Maaf ayah, aku harus menggendong mu. Jaku ikuti kami."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban, Arnius membopong tubuh Yaza yang masih memegang mangkuk obat yang baru saja di minumnya. Eiji pun demikian, ia menggendong tubuh Gina yang duduk di sebelah suaminya. Keduanya melesat membawa tubuh orang tua itu ke dalam ruang bawah tanah, berkumpul bersama yang lain. Sementara Jaku berlari seraya mendorong kursi beroda milik Yaza.


__ADS_2