
Ke tiga monster kecil itu mulai terlihat begitu akrab dengan Azumi. Meskipun gadis itu seorang putri yang harus menjaga wibawa serta martabatnya di manapun ia berada, saat ini gadis cantik itu sama sekali tidak canggung untuk bermain dengan Ryota, Kana dan juga Kazumi yang baru saja ia kenal.
Azumi mengusap lembut ketiga kepala bocah kecil yang baru saja terlelap, setelah mendengar beberapa cerita darinya. Minori membantu dengan membuat segel, untuk membuat tubuh mereka tidak kepanasan karena sinar matahari yang cukup terik siang ini. Karena saat ini, mereka semua berbaring di atas dek Classic pearl.
Zen menghela nafas lega. Setidaknya mereka tidak berbuat onar di atas kapal tuanya hingga saat ini, entahlah jika nanti mereka terbangun. Azumi pun terlihat terlelap di antara ketiganya. Putri cantik itu terlihat begitu lelah karena perjalanan panjang mereka menuju ke tempat ini.
Ai Sato dan Yao Yin tersenyum kecil saat melihat buah hati mereka tertidur pulas. Mereka kembali ke dalam kediaman setelah memastikan semua itu. Eiji ikut memutuskan untuk tetap berada di Classic pearl. Karena bisa saja ke tiga monster kecil itu terbangun dan membuat keributan. Sementara Minori tidak akan mampu mengendalikan mereka seorang diri.
Eiji berucap lirih, saat kilatan petir turun perlahan di hadapannya.
"Mana semua keluarga mu. Kenapa kau sendirian?"
"Mereka akan menyusul sebentar lagi."
Kin Raiden menjawab seadanya. Ia beralih menatap seseorang yang terdiam di atas layar Classic pearl, setelah melihat sekilas ke tiga monster kecil yang sudah tertidur pulas bersama dengan Azumi.
"Calon pengantin pria sepertinya berubah menjadi seorang pendiam."
Kin Raiden melayang di samping Genta yang hanya diam sambil menatap semua orang yang sibuk ke sana kemari di bawah sana.
"Apa kau merasa gugup saat akan menikah?"
Genta bertanya tanpa mengalihkan pandangannya. sementara Kin Raiden hanya menjawab singkat.
"Sedikit."
"Apakah kau merasa beban hidup mu bertambah dengan adanya istri mu serta keluarganya?"
"Tidak."
"Apa kau mencintai istri mu?"
"Sedang dalam proses."
"Aku begitu mencintai permaisuri ku. Aku juga tidak pernah menganggap dia sebagai beban, melainkan dewi penolong bagi ku yang buruk rupa ini. Kau tahu kan bagaimana wujud ku saat menjadi seorang Ryu kogane. Aku pasti tampak begitu buruk dan menyeramkan. Namun dia seolah tidak menganggap semua itu. Bahkan dia tidak pernah menghiraukannya. Aku pernah merasakan betapa pilunya perasaannya, saat dia tahu bahwa aku adalah seorang pangeran. Dia bahkan tidak memperdulikan asal usul ku sebelumnya. Namun dia menerima ku dengan lapang dada dan penuh cinta. Sekalipun maha raja dari kerajaan naga itu memberikan tahta berikutnya kepada ku. Aku tidak akan pernah meninggalkan permaisuri ku."
__ADS_1
"Dasar bucin akut."
Kin Raiden berlalu dari tempat tersebut sebelum percakapan mereka berubah menjadi perdebatan sengit seperti biasanya. Phoenix merah itu beralih kembali mendekati tuannya.
"Pastikan keamanan udara. Periksa kembali semua pasukan yang sudah di sebarkan oleh kak Arnius."
Kin Raiden hanya mengangguk dan mulai melesat pergi untuk melakukan perintah dari tuan mudanya. Kin Raiden memang bertugas untuk memastikan keamanan wilayah udara. Sementara di darat ada Jung Bao, Nara, Zooi, Monki dan semua rekannya.
Shiro bahkan sudah berulang kali berkeliling untuk memastikan keamanan sungai yang mengelilingi klan. Gadis kecil itu juga memastikan semua perangkap Tianji bekerja dengan baik.
Malam hari sebelum perhelatan upacara pernikahan. Semua orang terlihat berkumpul dan bercengkrama bersama usai makan malam. Seina dan seluruh rombongan dari Eagle rock sudah tiba di tempat ini.
Semuanya begitu heran dengan sikap diam seorang Genta yang nota bene seorang yang tidak pernah berhenti untuk berbicara maupun bertindak. Kini pria itu terlihat begitu berwibawa, meskipun sebenarnya lebih terkesan menyebalkan bagi semua rekannya yang terbiasa dengan semua tingkah konyol dari panglima mereka.
"Tenanglah Genta. Besok kau akan bertemu dengannya. Besok dia akan benar-benar menjadi milikmu. Kau harus benar-benar bersabar Genta. Aku tahu aku bisa."
Genta berbisik lirih pada dirinya sendiri. Ia begitu kesal, karena setelah proses lamaran itu. Ia sama sekali belum pernah melihat kembali sosok wanita yang menjadi pujaan hatinya.
"Apa yang sedang kau lakukan saat ini. Apa kau memikirkan aku, atau kau justru begitu merasa menyesal karena telah menerima lamaran dari ku."
Genta kembali berucap lirih, saat ini dia mengusap kasar rambutnya karena semua pikiran konyolnya tersebut. Pria itu beralih untuk memejamkan matanya.
"Mungkin tidur bisa membuatku lebih baik."
Tak berselang lama dengkuran halus mulai terdengar. Meskipun saat ini tubuhnya meringkuk di atas tiang layar, namun dia terlihat begitu lelap. Arnius hanya tersenyum kecil seraya melihat jauh ke atas sana. Sejak tadi dia mendengar semua ucapan pemuda yang telah menjadi bagian dari dirinya.
Matahari sudah mulai memperlihatkan sinarnya. Namun tubuh Genta masih sama sekali belum beralih dari tempatnya semula. Kin Raiden kembali melayang untuk memastikan keadaan rekannya tersebut.
Sinziku yang sudah merasa kesal, karena belum juga melihat keberadaan kakak tertuanya. Ia mengikuti Kin Raiden yang tadi sempat berpapasan dengannya. Gadis itu bahkan menanyakan kepada Phoenix merah tersebut, tentang keberadaan sang naga emas.
"Dia masih tidur tuan putri."
Kin Raiden menunjuk ke arah Genta yang masih tertidur pulas. Wajah Sinziku berubah marah, setelah melihat kakak pertamanya yang masih tertidur. Dengan penuh amarah, gadis itu mulai menggelitik seluruh tubuh kakak tertuanya.
"Apakah kakak sudah tidak mau lagi menikah dengan kakak ipar. Jika tidak bangun juga, akan aku adukan kepadanya."
__ADS_1
Sinziku yang sudah mulai kesal, hendak berbalik meninggalkan tempat tersebut.
"Huaah... I.. Iya aku bangun. Kan masih gelap, kenapa tergesa-gesa?"
Genta menguap lebar.
"Gelap? buka mata kakak. Para tamu sudah berkumpul. Upacara pernikahan akan segera berlangsung. Apakah aku harus mengatakan kepada kakak ipar untuk mengganti pengantin pria."
"Ja... Jangan. Aku akan bersiap."
Genta melesat ke dalam kamarnya dan mulai membersihkan tubuhnya dengan cepat pula. Sinziku mulai membantu kakak pertamanya untuk mengenakan beberapa lapis pakaian, setelah pria itu keluar dari dalam kamar mandi.
"Ini terlalu sempit. Pakaikan kain yang lebih lebar."
Genta sedikit mengeluh, karena pakaian yang ia kenakan saat ini adalah pakaian adat kuno. Sinziku melebarkan matanya. Kedua tangan gadis cantik tersebut sudah terkepal erat, karena menahan marah.
"Gunakan saja jubah yang besar. Model terbaru pun bisa di pakai."
Yao Yin yang baru saja tiba, menyaksikan perdebatan yang cukup sengit antara adik dan kakak. Ia pun berusaha untuk menjadi penengah. Yao Yin memberikan beberapa kain yang lebih lebar. Genta tersenyum manis kearah Yao Yin.
"Terimakasih kakak ipar. Kau yang terbaik."
"Ayo cepatlah. Jangan sampai kau membuat permaisuri mu menunggu lebih lama."
Genta melesat cepat setelah mendengar ucapan kakak iparnya. Semua orang hanya menggeleng perlahan dengan kelakuan pria tersebut.
Keduanya sudah berada di depan altar. Seorang pria tua berjubah panjang, mulai membaca doa untuk memimpin ritual. Genta diam seribu bahasa. Pria itu berusaha mengikuti semua yang diperintahkan kepadanya. Keringat dingin tidak berhenti menetes dari kepalanya, hingga ritual itu berakhir.
Semua tamu yang hadir mulai memberikan ucapan selamat kepada ke dua mempelai. Genta masih merasa tidak percaya, jika dia benar-benar sudah menikahi gadis pujaannya. Hingga sebuah tamparan pelan membuat pria itu terjaga dari lamunannya.
"Jangan hanya diam. Kau harus menjaga adik kami dengan nyawa mu."
Arnius menepuk pipi sahabatnya yang hanya diam terpaku.
"Pasti kakak ipar. Kau bisa memastikan hal itu."
__ADS_1
Arnius tersenyum dan memeluk erat tubuh sahabatnya.