Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Rombongan burung besar


__ADS_3

"Setahuku akan muncul gambar yang menunjukkan beberapa gerakan pada saat ke dua pedang itu di satukan. Akan ada gerakan yang mengharuskan kalian agar tidak menyalurkan energi pada saat melakukan latihan gerakan tertentu, karena akan ada portal yang terbuka. Ingat baik-baik setiap gerakan yang di tampilkan oleh ke dua pedang kalian. Hanya kalian berdua yang bisa melihatnya. Sekarang keluarkan pedang kalian dan lihatlah."


Kin Raiden mulai sedikit menjauh setelah mengucapkan beberapa hal yang diketahuinya tentang ilmu gabungan pedang bulan.


Arnius dan Eiji telah mengeluarkan pedang hitam dan juga pedang bulan. Keduanya mulai mendekatkan kedua pedang tersebut. Gabungan pedang hitam dan juga pedang bulan yang berwarna biru terang, menjadikan kedua pria tampan tersebut kini diselimuti oleh kabut tebal berwarna biru tua.


Beberapa gerakan mulai terlihat melintas di antara tubuh keduanya. Arnius dan Eiji berkonsentrasi untuk menghapal setiap gerakan yang terlihat. Setelah beberapa saat Arnius kembali menarik pedang hitamnya, begitu juga dengan Eiji.


"Kita lakukan satu persatu, aku baru menghapal sebagian. Bagaimana denganmu?"


Arnius mulai bersiap untuk melakukan beberapa gerakan yang sudah di lihatnya.


"Kita lakukan bersama. Sebaiknya kita tidak menggunakan energi sama sekali, Classic pearl bisa hancur."


Eiji pun ikut bersiap. Kini keduanya mulai melakukan gerakan yang sama persis. Ayunan pedang keduanya terkadang hanya saling sejajar, terkadang pula saling berbenturan. Terlihat sedikit percikan api dan petir saat kedua pedang itu berbenturan.


Arnius dan Eiji terkadang berhenti untuk kembali melihat gerakan selanjutnya. Setelah sekian lama keduanya memainkan pedang dan juga melakukan gerakan yang sama persis. Kin Raiden dan juga Ryu Kogane dengan sendirinya tiba-tiba menyatu dengan tubuh mereka. Arnius dan juga Eiji mulai menghentikan gerakannya, setelah menyadari akan beberapa hal.


Keduanya mengangguk hampir bersamaan, setelah mengerti apa yang akan terjadi selanjutnya. Arnius kembali mengeluarkan Genta dari dalam tubuhnya, begitupun Eiji.


"Bagaimana tubuh ku bisa bergerak sendiri tanpa aku sadari?"


Genta berbicara sambil memandang Arnius yang berdiri di sebelahnya.


"Pada saat membuka celah menuju ke bumi, kau adalah sumber kekuatan ku. Begitupun Eiji dengan Kin Raiden."


Genta dan Kin Raiden mengangguk mengerti.


"Ada beberapa gerakan yang bisa begitu kuat jika kalian berdua ikut menggabungkan kekuatan kalian. Kita akan menggunakan hal itu jika keadaan begitu memaksa."


Eiji sedikit memberikan penjelasan.


"Jadi, sekalipun semua naga itu menyerang kalian. Itu bukanlah hal yang harus di takutkan. Musnahkan saja mereka semua, jika mereka mulai berulah."


Genta menepuk pelan pundak Arnius.


"Mereka keluarga mu."

__ADS_1


Arnius menggenggam tangan sahabatnya.


"Keluarga ku adalah orang yang selalu sehidup dan semati bersama dengan ku. Jika mereka ingin menyakiti semua rekan ku. Maka musnahkan saja mereka semua."


Eiji dan Kin Raiden menelan ludahnya kasar, setelah mendengar ucapan Genta. Sementara Arnius hanya menggelengkan kepalanya.


Udara malam yang dingin kembali berhembus. Terlihat Keiko keluar dari dalam kamarnya, dan membagikan beberapa pakaian tebal ataupun selimut kepada setiap rekannya yang menginginkan.


Hanya ada beberapa kamar di dalam Classic pearl, sehingga hanya para wanita yang bisa tidur di dalam kamar. Sedangkan yang lainnya, tidur dengan beratapkan langit malam.


"Chio.. Di mana kau?"


Setelah berkeliling di seluruh sudut Classic pearl, Keiko tidak dapat menemukan Chio.


"Dia pasti sudah tertidur pulas hingga terguling dan berpindah tempat. Selalu saja merepotkan orang lain, dasar bunglon."


Robaki bergumam perlahan setelah mendengar ucapan Keiko. Namun dia hanya menggeser posisi tidurnya tanpa memperdulikan apapun.


"Ada apa cantik?"


Genta pun mendekat, saat mendengar suara Keiko.


Keiko mulai memperhatikan sekitarnya. Namun tetap saja tidak bisa melihat keberadaan bunglon tampan tersebut.


Genta mulai mengalirkan sedikit energi panas ke seluruh Classic pearl. Ia bergegas melesat setelah mengetahui keberadaan Chio.


"Dasar pemuda tanggung, kau merepotkan saja."


Genta menemukan tubuh Chio yang telah tertidur di antara meriam. Kemudian ia menyelipkan satu sisiknya ke dalam pakaian pemuda bunglon tersebut.


"Aku tidur di sini saja kak ."


Chio bergumam perlahan tanpa membuka kedua matanya, saat ia merasakan ada seseorang yang menyentuh tubuhnya. Genta mengambil selimut yang ada di tangan Keiko untuk menutupi tubuh pemuda yang masih dalam masa pertumbuhan itu.


"Aku bisa menemanimu menikmati keindahan malam, jika kau sulit untuk tidur."


Genta menyerahkan sebuah sisiknya yang telah ia lengkapi dengan seutas tali kepada Keiko. Saat gadis cantik itu mengulurkan tangannya, Genta mengikatkan sisik emasnya pada pergelangan tangan Keiko.

__ADS_1


"Jangan sampai terlepas. Aku menyayangimu, kei. Aku akan berusaha membawa kalian kembali ke bumi secepatnya."


Keiko berjalan perlahan meninggalkan Genta, setelah mendengar ucapan tulus pemuda tampan tersebut.


"Aku akan membantu kakak menjaga Kana dan Ryota. Mereka selalu terbangun di tengah malam."


***


Ditempat yang jauh, terlihat sebuah kawanan burung besar turun dari ketinggian. Mereka semua mendarat di sebuah padang rumput yang luas.


"Kabar apa lagi yang kau dapatkan?"


Seorang pria tua berjalan perlahan mendekati seorang pemuda yang sudah menunggu mereka di bawah, setelah merubah tubuhnya menjadi seorang manusia.


"Saat ini mereka beralih menuju ke kediaman komandan Sato untuk melangsungkan pernikahan salah satu tuan muda mereka. Lebih tepatnya, penduduk bumi yang telah menjadi tuan bagi Raiden."


"Kenapa mereka berbalik arah begitu saja, apa yang terjadi?"


"Ayah, sepertinya karena status pangeran bagi sang naga emas yang membuat mereka memilih untuk mendahulukan pernikahan itu."


"Kau benar, jika kerajaan naga menghendaki putra mereka untuk naik tahta. Maka, pertempuran besar akan terjadi. Jika pangeran tersebut tidak menginginkannya. Mereka harus berjuang untuk kembali ke bumi."


Pria tua yang masih tampak gagah dan tegap itu mengusap perlahan jenggot panjangnya. Ia bergegas menghampiri seorang wanita tua yang berjalan perlahan mendekatinya.


"Istriku duduk dan beristirahatlah, kenapa kau kemari?"


"Aku ingin melihat putraku. Jangan sampai dia terluka, kau harus membantunya."


"Aku akan selalu berusaha melindungi putra kita. Kau seharusnya tidak perlu ikut seperti ini. Aku akan membawanya untuk menemui mu."


Pria tua menuntun istrinya untuk duduk di atas sebuah batu.


"Aku harus melihatnya. Aku tahu dia putra kita yang hilang dulu."


"Iya, tenanglah Reina. Duduk dan beristirahatlah. Aina, jaga ibumu."


Seorang wanita muda yang terlihat begitu cantik mendekati keduanya. Ia hanya mengangguk, kemudian menyerahkan botol air kepada wanita tua yang dipanggilnya ibu.

__ADS_1


"Ibu, minumlah. Ibu harus tetap kuat jika ingin bertemu dengan kakak pertama."


"Semuanya kita beristirahat sejenak di sini. Kita akan menunggu mereka di sekitar perbatasan kota naga. Kita akan membantu mereka jika kerajaan naga mencoba menyerang mereka."


__ADS_2