
Di dalam giok hitam kilatan cahaya kembali terlihat oleh beberapa hewan kecil dan juga para peri yang masih tersisa untuk tetap tinggal menjaga tanaman herbal serta tetap membuat beberapa obat yang nantinya di perlukan sesuai dengan perintah Luna.
Seluruh hewan yang tersisa masih selalu mengerumuni batu mutiara besar sebelum mereka melihat cahaya yang masuk ke dalam giok hitam, kemudian mereka terlihat berlari mendekat ke arah cahaya. Tiga tubuh telah terbaring di atas rerumputan yang terletak tidak jauh dari tempat mereka berkumpul sebelumnya. Para peri mulai memeriksa ketiga tubuh tersebut.
"Mereka belum mati." Suara berat seekor beruang tua terdengar lirih, ia adalah satu-satunya hewan besar yang tersisa. Seekor beruang betina tua yang sudah tidak bisa lagi melihat.
"Tapi bukankah menurut tuan muda, mereka sudah mati?" Dua ekor angsa saling berbisik pelan.
"Hentikan pendarahan tuan muda ini cepat, berikan pil terbaik kalian. Dia seorang pengendali udara, masih ada udara yang berhembus perlahan di saluran pernafasannya. Dia masih bisa mengontrol nafasnya untuk menekan kerja jantung sehingga memperlambat aliran darahnya yang keluar dari lengannya yang telah tertebas."
Beruang tua mulai memeriksa setiap tubuh yang terkapar tak berdaya di atas rerumputan tersebut. Para peri mulai melakukan tugasnya dengan di bantu angsa serta para burung kecil untuk membersihkan setiap luka di tubuh mereka.
"Nyonya ini...."
Beruang tua menghentikan ucapannya ia kembali memeriksa dengan seksama tubuh Haruka. Darah yang mengalir pada setiap luka di tubuhnya terlihat sedikit membeku saat beruang tua meraba luka di beberapa bagian tubuh wanita setengah baya tersebut.
"Dia seorang pengendali es, wanita ini melapisi seluruh organ dalam tubuhnya dengan baik. Sehingga pada saat ia terbentur, seluruh organ vitalnya masih bisa berfungsi dengan baik. Pindahkan tubuhnya ketempat yang lebih hangat, berikan beberapa batu api di sekitarnya. Bersihkan setiap lukanya, berikan pil penyembuh ada beberapa retakan tulang di tubuhnya."
Dua ekor angsa bergegas mengangkat tubuh Haruka dan membawanya ke salah satu kamar di istana kecil setelah mendengar perintah sang beruang tua. Beruang tua beralih memeriksa tubuh yang ke tiga, ia terlihat berfikir sejenak setelah memeriksa tubuh Sayuri.
__ADS_1
"Tunjukkan jalan ke dermaga, tubuh nona ini perlu air laut."
Beruang tua mengangkat tubuh Sayuri, dua orang peri dan seekor elang mengikutinya. Mereka menuntun sang beruang tua yang tidak bisa lagi melihat untuk bergegas ke dermaga.
Setibanya di sana, beruang tua mulai memasukkan sebagian tubuh Sayuri ke dalam air laut. Ia mulai memasukkan pil penyembuh ke dalam mulutnya, serta mengalirkan sedikit tenaga untuk membantu mencernanya.
"Nona ini seekor ikan, dia penghuni laut kematian. Mungkin dia seorang putri dari ratu laut dalam."
Beruang tua mulai merasakan tubuh yang di bawanya sedikit menghangat, tarikan nafas berat mulai terdengar perlahan sebelum ia memuntahkan darah segar dan membuka kedua matanya.
"Nona tenanglah, kau di dalam giok hitam tuan muda Arnius. Kami akan menolong mu." Beruang tua kembali mengangkat tubuh Sayuri, membawanya kembali serta kemudian meletakkannya di atas ranjang di dalam istana kecil.
"Tenangkan pikiran anda nona, beristirahatlah supaya tubuh nona bisa segera pulih." Sayuri sedikit mengangguk dan mulai memejamkan kedua matanya.
Lesatan cahaya keemasan membentuk tubuh naga terlihat melayang di udara, Arnius berusaha agar secepatnya bisa menemukan keberadaan rekan serta kedua adiknya.
Terlihat tubuh seorang manusia tergeletak diam di atas tumpukan salju, sementara ada juga tubuh lainnya yang sempat terinjak oleh kaki besar Megan troll.
Isi kepala Arnius seakan mendidih saat melihat nasib beberapa rekannya, semua itu membuat kecepatan terbangnya semakin bertambah. Ia melihat Eiji mengalami kesulitan saat mencoba melumpuhkan beberapa Hibagon. Arnius tidak melihat Keiko ataupun rekan lainnya yang membantu adik lelakinya.
__ADS_1
"Kei... kei... Di mana kau? Kei ..."
Arnius mencoba berbicara dengan adik perempuannya, namun hanya erangan kesakitan yang di dengarnya. Arnius mulai menyerang para Megan, mencakar ataupun merobek perut hingga keluar seluruh isi yang ada di dalamnya. Beberapa kepala berukuran besar terlihat menggelinding di atas tumpukan salju, Fudo kembali berada di dalam genggaman Arnius. Tebasan tajam langsung bersarang pada leher beberapa Megan hingga kepala mereka tidak lagi berada di tempatnya. Arnius melakukan apapun untuk menghentikan aksi para Megan yang berukuran besar tersebut.
Eiji yang menyaksikan aksi brutal sang kakak merasa hal itu sedikit mengerikan, namun ia sendiri kini melakukan hal yang sama. Karena hanya dengan menebas leher ataupun merobek perut mereka, pergerakan para Megan besar tersebut bisa dihentikan dengan cepat.
Fudo terus bergerak cepat menebas setiap bagian yang mematikan dari tubuh lawannya, Eiji pun tidak tinggal diam. Pisau petir yang senantiasa menancap tepat pada setiap organ mematikan adalah salah satu hal yang kini dilakukannya. Tanpa ia sadari, black diamond yang tadinya terikat pada tubuhnya. Kini tidak lagi ada di tempatnya.
Batu hitam itu kini melayang tidak jauh dari tempat pertarungan para Megan dengan dua pemuda tampan tersebut. Black diamond seolah memiliki pikiran sendiri, seperti saat ini batu hitam tersebut seperti sedang memperhatikan pertarungan mereka dengan serius. Sesekali terlihat sinar terang dari batu hitam tersebut. Namun terkadang kepulan asap hitam juga terlihat keluar dari dalam batu, seolah sebagai ungkapan dari dalam pikiran atau mungkin juga perasaannya.
"Bagaimana mungkin batu bisa memiliki pikiran ataupun perasaan sendiri. Haah bodohnya aku."
Eiji menepuk pelan kepalanya saat menyadari ada sesuatu yang tengah melayang serta selalu memperhatikan pergerakan kakak lelakinya. Eiji bergegas melesat mendekati batu hitam yang sedari tadi melayang dan mencoba mengambilnya kembali. Namun batu tersebut seolah benar-benar memiliki pemikiran sendiri.
Black diamond selalu menghindar dari tangan Eiji yang ingin meraihnya, sejenak Eiji terdiam saat melihat batu hitam tersebut mengeluarkan asap hitam pekat saat tangan Arnius mengayunkan Fudo dengan sekuat tenaga.
"Haah.. Kau cemburu dengan Fudo? apa kau mampu menggantikannya ataupun sekedar memperkuat pedang api yang tidak pernah meleleh, sekalipun ia dialiri api yang begitu panas oleh tuannya." Eiji tergelak perlahan, senyum tipis tersungging di bibirnya.
Black diamond beralih ke hadapan Eiji, seolah ingin mengatakan sesuatu. Batu hitam itu bergerak naik dan turun secara perlahan, terlihat seperti anggukan kepala. Eiji kembali tersenyum tipis serta melipat kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Haah.. Aku ingin melihatnya, lakukanlah. Aku seperti orang bodoh yang berbicara dengan batu." Eiji menggeleng perlahan.