Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Panglima tertinggi


__ADS_3

Udara panas menyambut mereka setelah memasuki gerbang ke tiga, Sayuri hampir melompat karena ia merasakan panas pada telapak kakinya. Kali ini mereka dihadapkan pada lautan pasir berwarna merah serta begitu panas.


"Kurangi berbicara dan bergerak yang berlebihan supaya tidak mudah lelah dan berhalusinasi. Satu orang satu guci air, gunakan seperlunya saja sepertinya kita harus berhemat. Lakukan pernapasan air untuk mengurangi panas tubuh, pakai tutup kepala kalian dengan benar jika tidak ingin pingsan di tengah jalan. Serta tutup hidung dan mulut kalian, badai gurun bisa saja terjadi. Minori dan tuan Phoenix akan membawa kita, kakak keluarkan naga emas mu itu."


Keiko memberikan guci air serta penutup kepala kepada seluruh rekannya, setelah berucap panjang dan lebar.


"Iya tenanglah Kei, kita tidak akan kehabisan air dan makanan. Aku akan mempersiapkan tunggangan kita."


Arnius menenangkan Keiko.


"Jung Bao kau mendengar ku?"


Arnius mencoba berkomunikasi dengan Jung Bao.


"Tentu saja tuan, bahkan saya bisa melihat beberapa tempat di sekitar anda tuan, apa yang anda perlukan?"


"Apa Genta merapotkan kalian?"


"Sama sekali tidak tuan, saat ini naga itu sedang di layani oleh Memei."


"Apa kau memiliki teman yang mampu berlari melewati gurun pasir ini?"


"Tentu saja tuan, singa gurun yang tercepat."


"Terimakasih Jung Jung."


Jung Bao hanya menghela nafas pelan serta menggelengkan kepalanya berulang kali mendengar nama panggilan dari tuannya terhadap dirinya. Seolah wajahnya yang garang berubah manis seperti seekor kucing rumahan.


Tak berselang lama muncullah delapan singa gurun setelah Arnius mengibaskan tangannya.


"Maaf harus merepotkan kalian, siapa namamu?"


Arnius berucap sopan di hadapan sembilan singa yang memiliki tinggi dan badan yang lebih besar daripada dirinya.


"Afram tuanku, kami bangga bisa berguna untuk tuan muda."


Seekor singa menjawab dengan pelan, namun bagi Arnius suara mereka tetaplah mengerikan.


"Ayo naiklah, mereka yang akan menjadi teman kita saat ini."


Arnius berucap setelah melompat menaiki salah satu punggung singa besar.


"Apa kau yakin mereka tidak akan memangsa kita terlebih dahulu Ar? Lagi pula sejak kapan kau berteman dengan singa gurun ini?"


Zora sedikit bergidik saat melihat seekor singa yang berjalan mendekati dirinya.


"Tidak akan terjadi apapun, kalian akan baik-baik saja. Ayo cepat apa kalian tidak kepanasan?"


Arnius mulai memegang bulu lembut pada leher singa dan menyuruhnya segera berlari.


Zora, Zen, Wu Ling, Naoki, Azumi, Sayuri, Haruka dan Yuki serentak menaiki punggung singa besar yang sudah berada di hadapan mereka. Serta tak lupa berpegangan pada bulu halus yang melekat pada tubuh hewan besar tersebut supaya tidak terlempar, atau bahkan memeluk tubuh hewan besar tersebut seperti yang dilakukan oleh Zen saat ini.


Keiko duduk manis di atas punggung Minori yang terbang berdampingan dengan Phoenix emas yang membawa Eiji diatasnya.


"Apa Genta masih tidur di dalam sana?"


Arnius mencoba berbicara dengan singa gurun tunggangannya itu.


"Tidak tuan, panglima tertinggi sedang mengadakan pertemuan dengan Jung Bao dan hewan lainnya."


"Pertemuan ..? panglima tertinggi ?"


Arnius mengerutkan keningnya.


"Kami semua sepakat mengangkat sang naga emas sebagai panglima tertinggi."

__ADS_1


Tawa Arnius hampir pecah setelah mendengar pernyataan singa buas yang ditungganginya jika dia tidak segera menahannya.


**


Jung Bao selalu berada di dekat sebuah batu mutiara yang besar yang terletak diantara hutan dan rumah. Melalui batu tersebut, ia dan seluruh penghuni giok hitam mengetahui semua hal yang terjadi diluar. Selama Arnius tidak memasang segel penutup pada gelangnya.


"Apa yang sedang kalian lihat?"


Genta terlihat sedikit berlari meninggalkan Memei yang masih saja menyuruhnya untuk menghabiskan banyak makanan, bahkan angsa besar itu berusaha menyuapinya sehingga membuat Genta bergidik dan mulai berlari meninggalkan Memei.


"Maaf tuan apa Memei tidak melayani anda dengan baik?"


Jung Bao sedikit menunduk dihadapan Genta.


"Nyonya angsa itu menganggap ku seperti bayi saja, sampai harus di suapi. Dia sungguh mengerikan. Apa kau yang menyuruhnya? lagi pula ini tempat apa dan kenapa kalian semua berkumpul disini?"


"Hormat pada panglima tertinggi."


Belum selesai kebingungan Genta kini seluruh hewan yang berkumpul di tempat itu menunduk hormat di hadapannya.


"Hei apa maksud kalian dan apa yang kalian lakukan?"


Genta melompat kebelakang karena terkejut dengan apa yang terjadi.


"Memangnya kalian pasukan perang? lagi pula siapa yang kalian panggil panglima tertinggi?"


Genta sedikit menjauh dari kerumunan para hewan.


"Kami semua sepakat anda adalah pemimpin tertinggi kami, tentu saja di bawah perintah tuan Arnius."


Jung Bao menunjuk batu permata yang memperlihatkan Arnius beserta rombongannya yang tengah berlari menunggangi singa gurun.


"Bagaimana anak itu lebih memilih menaiki singa gurun daripada diriku."


"Lalu dimana kita saat ini?"


Genta kembali melihat sekelilingnya.


"Di dalam gelang giok hitam tuan muda Arnius."


Jung Bao menjawab singkat.


"Lalu kenapa kalian mengangkat aku sebagai panglima tertinggi kalian?"


"Anda adalah hewan ilahi yang paling kuat diantara kami."


" Lalu untuk apa semua pasukan ini di bentuk?"


"Sebagai pasukan khusus tuan Arnius, untuk menghadapi setiap serangan iblis, monster atau binatang ilahi sekalipun. Silahkan panglima meninjau pasukan."


Genta mengernyitkan keningnya, seakan tak percaya dengan yang baru saja di dengarnya. Akhirnya Genta lebih memilih untuk melihat semua hewan yang ada di hadapannya, semua hewan tampak berbaris rapi sesuai dengan jenisnya.


Genta mulai mendekati setiap barisan hewan. Melihat jumlah serta menanyakan keahlian mereka dan tak lupa menanyakan apakah mereka memiliki kelemahan atau ketakutan yang berlebihan terhadap sesuatu. Ia mengira semua itu akan dia perlukan untuk menentukan tugas yang akan di berikan nantinya.


Tak lupa Genta juga terbang untuk memeriksa ratusan lebah yang berbaris sesuai dengan jenis dan keahliannya. Ada juga puluhan burung besar dan juga kecil yang membentang di atas langit-langit giok hitam.


"Terimakasih atas kepercayaan kalian, aku akan keluar bersama Arnius. Dan kau tuan Jung Bao silahkan awasi dari dalam."


Genta sedikit menunduk dihadapan Jung Bao dan mulai berjalan meninggalkan mereka.


"Bola gulung maukah kau menjadi tunggangan ku? kulihat kulitmu begitu tebal lagi pula kau mampu bertahan dari panasnya gurun ini bukan?"


Genta kembali melihat ke barisan trenggiling.


"Tentu saja panglima, dengan senang hati."

__ADS_1


Pangorin berjalan perlahan mendekati Genta. Tubuh Pangorin yang tadinya kecil berubah membesar hingga melebihi tubuh Genta.


"Itu yang ku suka dari dirimu, ayo kita minta tuan muda kalian mengeluarkan kita."


Genta berjalan di samping Pangorin.


"Ar keluarkan aku dari sini bersama bola gulung."


Genta mulai berbicara dengan Arnius melalui pikiran.


"Baiklah tuan panglima."


Arnius menjawab ucapan Genta dengan sedikit senyum di wajahnya.


"Kau ... hais .."


Genta tidak melanjutkan ucapannya, hanya helaan nafas panjang yang ia hembuskan.


Tak berselang lama Genta muncul di samping Arnius dengan menaiki Pangorin yang kini sudah bergulung dengan cepat.


"Kau lihat, bola gulung ini sungguh mengagumkan."


Genta tersenyum kecil menatap Arnius.


"Seperti biasa kau mengawasi dari belakang."


"Baik tuan muda."


Genta mulai sedikit melambatkan laju lari bola gulung nya hingga berada tepat di belakang Zen, teman tua nya.


"Hei pak tua, apa kau tidak bisa duduk dengan benar? atau kau begitu mencintai singa itu hingga terus memeluknya?"


Genta tersenyum lebar melihat posisi Zen yang masih saja memeluk punggung singa yang dinaikinya.


"Aku takut singa besar ini akan menjatuhkan tubuhku, sebaiknya aku naik ke punggung mu saja ya?"


"Tidak, kau tetap di situ saja. Mungkin singa itu akan meminta tangan atau kakimu sebagai imbalannya."


"Ayolah jangan bercanda Genta, aku benar-benar takut saat ini."


"Tapi ku lihat celana mu masih kering, kau belum sampai buang air di celana kan pak tua? apa mungkin panasnya gurun ini mampu mengeringkan celana mu dengan cepat."


Tawa Genta terdengar semakin keras.


"Kau ini, selalu saja bercanda. Ayolah Genta biarkan aku naik ke punggung mu saja."


"Aku sangat suka bermanuver pada saat terbang, apa kau tidak takut jatuh?"


"Kalian berhenti bercanda, aku merasa ada sesuatu sedang berlari menuju ke mari."


Kin Raiden sedikit menurunkan tubuhnya dan mendekati Genta.


"Iya benar."


Genta melihat tangan Arnius sudah terkepal dengan api biru yang menutupinya.


Mereka kembali dikejutkan dengan suara geraman Afram. Singa gurun yang dinaiki oleh Arnius kini sudah memakai Jirah perang yang lengkap begitupun dengan singa lainnya. Mereka semua merasakan ada kekuatan besar yang menanti kedatangan mereka.


Begitupun Pangorin, bola gulung yang dinaiki Genta kini memiliki kulit sekeras baja berwarna coklat.


"Kau hebat juga bola gulung, akan ku berikan sesuatu kepadamu."


Genta menyalurkan kekuatannya melalui telapak tangannya yang selalu menggenggam erat sisik kulit Pangorin.


Terlihat kilatan api biru pada tubuh Pangorin yang masih saja bergulung, dengan perlahan api biru itu mulai masuk ke dalam tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2