Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Doulu dan Dielu


__ADS_3

Shoji menghalangi langkah Arashi yang masih melesat mengejar Jaku, sementara Ai Sato terlihat menyusul di belakangnya.


"Aku benar-benar tidak akan memaafkan mu pangeran. Kau berani melukai pelayan kakak Yin."


Ai Sato melesatkan pukulan yang mampu di hindari oleh Arashi.


"Jaku kau tidak apa-apa, apa yang telah dia lakukan terhadap mu?"


Yao Yin memeriksa tubuh pelayan setianya, terdapat goresan luka pada lengannya.


"Aku baik-baik saja nyonya muda, dia memaksa masuk ke kamar untuk mencari anda. Aku sudah mengatakan jika nyonya muda tidak ada di kamar, tapi dia tetap memaksa untuk masuk. Maafkan Jaku yang tidak berguna ini nyonya."


Jaku berlutut di hadapan Yao Yin.


"Kau tidak bersalah Jaku, memang pangeran itu yang kurang ajar. Bangunlah dan obati luka mu."


Yao Yin menggeser tubuh Jaku hingga berada di belakangnya. Jaku merasa bersalah, seharusnya saat ini dialah yang seharusnya berdiri di depan untuk melindungi nyonya mudanya. Namun ia sadar bahwa kemampuannya tidak bisa diandalkan.


"Pangeran Arashi, apakah kau ingin membuat keributan di wilayah kami?"


Shoji mengepalkan tangannya yang sudah di penuhi oleh bara api hitam.


"Aku terlalu meremehkan mu nona Yin, aku mengira para pangeran naga ini tidak akan percaya dengan ucapan mu. Jadi aku membiarkan kau untuk mengunjungi istana ini."


"Dan kau pangeran Shoji, ku harap kau tidak ikut campur. Aku yang membawa wanita itu ke negri ini, jadi aku yang berhak atas dirinya."


Arashi berniat mengaktifkan segel wilayahnya, namun sebuah array pelindung di bawahnya tiba-tiba aktif setelah lesatan cahaya yang berasal jari telunjuk Hitoshi yang masih duduk di atas kursi beroda nya mengenai tanah yang mereka pijak.


"Ingat pangeran Arashi, kau berada di dalam wilayah kami."


Seluruh penjaga yang mendengar suara keributan tersebut, segera mengepung ke dua pangeran yang sudah saling berhadapan dan siap untuk bertarung. Api hitam pada kepalan tangan Shoji semakin membara.


Tatapan dingin Hitoshi membuat Arashi tersadar, jika mereka semua menyerang secara bersamaan maka sudah bisa dipastikan bahwa dirinya hanya akan berakhir menjadi abu.

__ADS_1


"Kalian akan berhadapan dengan pasukan the Beast."


Seketika tubuh Arashi menghilang setelah mengucapkan kalimat tersebut.


"Maaf, aku sudah membuat beban kalian bertambah."


Yao Yin menunduk di hadapan Hitoshi.


"Ada apa kakak, kenapa array pelindung di aktifkan?"


Masaru yang merasakan array pelindung di wilayahnya aktif, segera kembali melesat ke tempat ke dua kakak serta adiknya.


"Pangeran rubah itu mencoba berulah."


Hitoshi menjawab pertanyaan adiknya. Sementara Shoji bergegas melesat ke tengah kota untuk memastikan keadaan.


"Ayo kita bawa nona Yin dan yang lainnya ke istana dalam, dan persiapkan semuanya sebelum pangeran rubah itu kembali bersama pasukan the Beast."


Ucapan Hitoshi membuat Ai Sato menunduk dalam. Gadis itu menjadi serba salah saat ini. Namun tepukan pelan Sinziku di pundaknya mampu menyadarkan bahwa bukan dirinya yang harus bertanggung jawab.


"Pangeran Shoji. Apakah ada yang menyerang istana, hingga array pelindung telah di aktifkan."


Akira turun dari ketinggian dan menunduk hormat di hadapan pangeran Shoji yang baru saja tiba di tempat itu.


"Pangeran mu mencoba berulah di tempat kami."


Shoji menatap tajam wajah Akira, hingga membuat harimau merah itu tidak mampu bergerak.


"Maafkan atas keributan yang dibuat oleh pangeran Arashi. Walaupun dia pangeran dari istana bulan, namun kami pasukan the Beast tetap patuh pada perintah komandan Sato."


Akira semakin menunduk.


"Bawa seluruh pasukan mu untuk kembali ke perbatasan, aku tidak ingin ada masalah yang muncul di antara dua istana ini karena ulah pangeran kalian."

__ADS_1


"Baik pangeran."


Akira segera menjalankan permintaan Shoji untuk menarik seluruh pasukannya ke perbatasan sebelum mereka membuat para naga besar itu benar-benar marah. Tak lupa harimau merah tersebut mengirimkan berita ini kepada komandan tertinggi mereka, termasuk keberadaan putri tunggal sang pemimpin.


Seekor burung pengirim pesan telah tiba di istana bulan, lebih tepatnya di kediaman komandan tertinggi pasukan the Beast.


"Apalagi yang di lakukan oleh pangeran Arashi."


Suara berat komandan Sato terdengar begitu geram, setelah ia mendengarkan berita yang di kirimkan oleh Akira.


"Zura, jangan lakukan apapun sebelum ada perintah dari ku ataupun yang mulia. Segera pergi ke markas dan pastikan mereka semua bersiap."


"Bagaimana dengan gadis kecil ku?"


Zuraya mempertanyakan keponakan cantiknya, Ai Sato.


"Aku meminta Akira untuk tetap di tempatnya dan selalu mengawasi anak nakal itu. Minta Doulu dan Dielu untuk segera ke perbatasan, aku tidak ingin putri kecilku terluka atau menjadi tawanan mereka nantinya."


Zuraya bergegas melesat ke markas pasukan the Beast, yang berada di pinggir kota bulan. Sebuah tempat yang begitu luas dan hanya ada beberapa bangunan di tempat itu. Sementara sisanya adalah hutan serta tanah lapang yang luas.


Sebagian besar pasukan the Beast tidak bisa berubah menjadi manusia biasa, sehingga mereka tinggal di dalam hutan yang sudah di sediakan. Termasuk Doulu dan Dielu, sepasang gorila batu yang selalu bermain bersama Ai Sato sejak gadis itu baru terlahir.


Dengan keberadaan Doulu dan Dielu di perbatasan, memastikan bahwa pasukan the Beast siap bertempur kapanpun. Tanah terasa berguncang saat dua gorila batu tersebut hanya melangkahkan kakinya biasa. Namun saat ini guncangan tersebut terasa semakin hebat karena keduanya berlari untuk segera tiba di perbatasan.


Hampir di setiap langkah keduanya, menyisakan lubang yang dalam dan juga besar. Burung-burung terbang tanpa arah dan juga beberapa hewan berhamburan, saat Doulu dan Dielu memasuki hutan hujan.


Jung Nara dan seluruh rekannya juga sudah mulai bergerak menuju ke kota naga. Para hewan tersebut menyebar di seluruh tepian kota naga untuk memastikan keselamatan sang pemilik black diamond.


Walaupun Yao Yin bukanlah pemilik black diamond yang sebenarnya. Namun saat ini bagi mereka, Yao Yin adalah pemegang batu hitam itu.


Seekor burung biru kecil terlihat hinggap di bahu Doulu. Guncangan serta hempasan angin seolah tidak mempengaruhinya untuk tetap bertengger pada bahu yang lebih pantas di sebut batu tersebut.


Tubuh gorila batu seluruhnya keras seperti batu. Ukuran tubuhnya yang begitu besar dan tinggi, semakin membuat mereka terlihat begitu menyeramkan. Seluruh tubuh mereka berwarna hitam pekat seperti halnya bagian terdalam dari batu yang terkuat.

__ADS_1


Hanya butuh waktu setengah hari, bagi Doulu dan Dielu untuk sampai di perbatasan. Keduanya kini duduk bersila di antara pepohonan.


Doulu memiliki garis berwarna merah menyala di setiap lekukan tubuhnya. Karena gorila muda itu menguasai elemen api di dalam tubuhnya. Sementara Dielu memiliki garis berwarna putih di setiap lekukan tubuhnya. Karena dia menguasai elemen air dan es.


__ADS_2