
Ryu kogane beralih mencari keberadaan tuannya. Dengan melayang sedikit lebih tinggi, naga emas tersebut sudah bisa melihat tubuh sahabatnya diantara kepungan berbagai jenis binatang besar.
Seekor gurita hitam bertubuh besar, menyemburkan tinta hitam ke udara. Saat ia menyadari kekuatan besar yang mendekat dari udara. Ryu kogane menyemburkan api untuk menyambut serangan dari gurita beracun tersebut.
Ryu kogane masih terus menyemburkan api hingga membuat gurita hitam tersebut tewas terpanggang. Sementara ekornya selalu saja memukul dan menyepak semua mahkluk besar yang bertubuh cukup aneh menurutnya. Hanya dirinya dan Dielu yang bertubuh cukup besar di tempat tersebut. Sementara tubuh Ryuma pun hanya sebesar kepalan tangan sang gorila batu.
Ryota meminta bison muda tersebut untuk lebih dekat dengan tubuh sang ayah. Putra Arnius itu mengerti bahwa keberadaan dirinya dan sang adik hanya akan menambah beban ayahnya.
"Ayah. Berikan Kana pada ku."
Ryota mengulurkan kedua tangannya, saat dia yang masih berada di atas tubuh Ryuma dan tiba di dekat sang ayah. Arnius melempar tubuh Kana tepat dalam dekapan Ryota.
"Serahkan adikmu kepada para peri kecil."
Arnius berucap sesaat dan di balas anggukan dari putranya. Seketika tubuh Ryuma beserta dua penunggangnya lenyap, sebelum ekor ular besar kembali menghantam tempat tersebut.
Arnius melesat menghindar. Saat ini dia fokus untuk memasukkan semua orang yang menurutnya sudah tidak bisa bertarung kembali. Termasuk mendekati tempat keberadaan istri serta adik iparnya yang masih menggendong keponakan kecilnya.
Arnius melesat mendekati Shiro yang posisinya lebih dekat dengannya. Tubuh penyu putih sudah dipenuhi goresan luka di sekujur tubuhnya, gadis kecil itu masih berusaha melawan kura-kura hitam yang sejak tadi mengacaukan perangkap Tianji. Tubuhnya sudah terpental berulang kali. Arnius bergegas memasukkannya ke dalam giok hitam, saat tubuh Shiro sudah dalam jangkauannya.
Sesekali Arnius melesatkan pisau api ke arah ular besar yang masih saja berusaha mengikuti pergerakannya. Kali ini dia berusaha mendekati tubuh sang istri yang masih bertarung melawan mahkluk aneh yang setengah dari tubuhnya terlihat seperti seekor kuda laut.
__ADS_1
Ai Sato dan Yao Yin saling bergantian menyerang mahkluk yang bertubuh lebih besar dari mereka. Terkadang jeratan sulur perak Ai Sato di aliri oleh api putih yang bisa membuat lawannya menggelepar bagai tersengat listrik. Yao Yin selalu berusaha berada di depan saudarinya yang masih menggendong putri kecilnya Kazumi. Keduanya tersentak saat sudah berada di dalam giok hitam, bersama dengan Jaku yang jatuh tersungkur di rerumputan. Arnius bergegas memasukan keduanya ketika ada kesempatan, begitupun dengan Jaku yang senantiasa bersama dengan nyonya mudanya.
"Minori. Cepat naik."
Minori mengikuti aba-aba dari Arnius. Keduanya melayang tinggi di udara.
"Sekarang Kogane."
Ryu kogane menyemburkan apinya sekuat tenaga ke seluruh area sungai, yang sudah di penuhi oleh berbagai mahkluk bertubuh aneh. Dielu pun melompat jauh ke belakang, setelah melihat tanda dari Arnius. Hampir semua mahkluk di tempat itu sudah hancur menjadi abu, begitu pula dengan beberapa pepohonan yang ada di sekitarnya.
Namun ada satu tubuh hewan yang mereka lewatkan. Warna hitam pada pepohonan serta bebatuan yang telah hangus terkena api dari sang naga emas, menyamarkan bentuk dan juga warna binatang tersebut yang memang terlihat seperti bebatuan yang ada di sekitarnya.
"Minori. Kau pastikan keselamatan Keiko yang ada di dalam bersama dengan Eiji."
"Dielu. Kau tetap di sini. Awasi tempat ini sampai benar-benar aman."
Dielu hanya mengangguk mengerti. Sementara Arnius menyusul sang naga emas, melesat ke wilayah luar. Tempat tersebut benar-benar kacau. Banyak mayat penjaga serta penduduk yang bergelimpangan, karena tidak sempat berlindung.
Arnius merasakan beberapa tempat yang di jadikan tempat berkumpulnya beberapa orang penduduk. Mereka bersembunyi di beberapa bangunan penting. Seperti halnya rumah peristirahatan penjaga serta beberapa bangunan penginapan yang cukup besar.
"Berpencar. Jaga setiap bangunan yang dijadikan tempat berlindung para penduduk. Jangan sampai jatuh korban lagi."
__ADS_1
Seluruh binatang ilahi mulai terbagi menjadi beberapa kelompok dan berjaga di setiap bangunan yang mereka rasakan memiliki hawa keberadaan manusia. Beberapa mahkluk aneh kembali terbakar habis, saat api dari sang naga emas mengenai tubuh mereka.
Arnius melayang di atas sebuah bangunan. Pria itu ingin memastikan pintu gerbang utama sudah benar-benar aman dari penyerangan. Sementara di kejauhan terlihat Doulu beberapa kali membanting dan memukul semua lawannya.
Begitupun dengan nyonya gorila berbulu emas. Meskipun usia gorila berbulu emas tersebut sudah tidak lagi muda. Namun setiap serangannya tidak mampu dikembalikan oleh lawannya, ataupun sekedar untuk menangkis serangan dari gorila berbulu emas tersebut.
Ryu kogane tidak tinggal diam. Naga besar tersebut mulai menyemburkan api dan bahkan mengibaskan ekornya pada setiap mahkluk aneh yang ia temui. Genta benar-benar marah, saat melihat tubuh mungil Kana terkulai tidak sadarkan diri. Karena ulah semua mahkluk yang entah berasal dari mana. Bahkan dia masih bisa melihat goresan luka yang terdapat di beberapa bagian tubuh Ryota. Dua bocah kecil yang bahkan selalu dia jaga dengan nyawanya.
Semburan api Ryu kogane tidak bisa lagi diperhitungkan oleh semua mahkluk yang saat ini ada di bawahnya. Mereka bahkan tidak bisa lari dari kepungan api yang seolah selalu berusaha memburu kemanapun mereka pergi. Berbagai jenis bangunan tidak menyurutkan niat Genta untuk membantai mereka semua. Karena ia sendiri bisa merasakan jika bangunan tersebut telah kosong.
Perlahan namun pasti, keadaan mulai bisa berangsur membaik. Sistem keamanan wilayah luar mulai kembali seperti semula, meskipun belum seutuhnya. Hampir semua mahkluk aneh yang sedari tadi terus bergerak menghancurkan hampir setiap bangunan. Kini sudah tidak ada lagi. Semua berubah menjadi abu, karena semburan api Ryu kogane sang naga emas.
Meskipun dampak dari serangan naga emas sangat luas, namun itu sebanding dengan keselamatan mereka semua. Hampir separuh dari wilayah luar, terlihat hangus dan hanya menyisakan warna hitam di setiap sudut dari tempat tersebut.
Arnius mulai meminta Jung Nara untuk mengatur kembali semua penjagaan di wilayah luar. Serta melakukan pembersihan.
Sementara itu di wilayah dalam, Kin Raiden mencium aroma iblis berada di sekitarnya. Namun pria itu berpikir bahwa aroma yang ia cium berasal dari begitu banyaknya iblis yang ada di wilayah luar. Namun Eiji memiliki pemikiran yang berbeda.
Pri itu kembali berjalan biasa di antara kerumunan orang yang sempat masuk ke wilayah dalam tanpa identitas resmi. Semua orang itu di kumpulkan dalam satu tempat. Yaitu di balai ruang tunggu yang memang berukuran cukup luas.
Eiji seolah berjalan biasa, seperti halnya semua penjaga yang selalu bersiap untuk semua kemungkinan. Semua pemikirannya terjawab, saat seorang penjaga berbisik untuk mengatakan kejadian singkat sebelum terjadinya kekacauan.
__ADS_1
Tentang seorang pria tua tanpa identitas yang sempat dicurigai oleh Doulu. Memang indera penciuman seekor gorila batu memang tidak begitu peka terhadap sesuatu hal. Mereka hanya unggul dalam hal kekuatan. Karena tubuh mereka yang benar-benar besar dan hampir keseluruhan anggota tubuhnya adalah batu. Eiji bahkan tidak bisa mencerna bagaimana cara mereka mendapatkan keturunan.
Tak berselang lama, Eiji mulai melihat sosok yang dikatakan oleh penjaga barusan. Ada seorang pria tua yang sedang duduk dengan menggenggam erat sebuah tongkat kayu yang ia gunakan untuk membantu menopang tubuhnya saat berjalan.