
Keiko yang tadinya sudah masuk ke dalam kamar serta ingin segera berendam untuk melepaskan kekesalannya pada Genta, segera keluar setelah ia merasakan aura milik sang naga emas.
Gadis kecil itu melihat Minori serta Yao yin yang begitu sibuk membantu setiap orang untuk secepatnya masuk ke dalam rumah beruang tua. Saat ia mendongakkan kepalanya ke atas, ia melihat tubuh Genta di selimuti oleh api serta siap untuk bertempur. Hal itu membuatnya yakin bahwa naga besar itu tengah memastikan sesuatu yang begitu kuat.
Keiko bergegas melesat mendekati Zaka yang masih berusaha membantu Sakura untuk bergerak lebih cepat.
"Ayo paman kita angkat tubuh bibi bersama-sama."
Zaka segera membopong tubuh bagian atas Sakura, sementara Keiko mengangkat tubuh sakura bagian bawah. Kehamilan sakura yang mulai memasuki tiga bulan terakhir, membuat perutnya semakin besar dan juga tubuhnya yang semakin bertambah berat.
"Semuanya cepat masuk ke dalam ruang bawah tanah."
Arnius sedikit berteriak setelah ia meletakkan tubuh Yaza di atas kursi beroda yang sudah di bawa Jaku ke ruang bawah tanah.
"Kalian cepat kunci semua pintu yang terhubung dengan lorong ini dari dalam setelah semuanya masuk, dan tetap berada di sini apapun yang terjadi. Minori kau yang bertanggung jawab di sini."
Yao yin, Keiko serta Minori mengangguk hampir bersamaan, ke tiganya segera melesat ke setiap pintu lorong yang ada untuk segera menguncinya. Tak lupa Yao yin berpesan untuk mengaktifkan batu yang sudah di persiapkan di setiap pintu, untuk mengaktifkan aray pelindung ciptaannya.
Setelah semua tugas mereka selesai, Keiko bergegas kembali ke pintu yang masih di biarkan terbuka. Yaitu pintu yang ada di ruangan beruang tua.
"Kau tidak mendengar perintah kakak mu adik kecil, tetap di dalam dan tutup pintunya. Aku yang akan berjaga di sini."
Eiji sedikit berteriak saat melihat tubuh Keiko melesat dari dalam ruang bawah tanah.
"Ka.. Kakak aku bisa membantu di sini."
Keiko sedikit tergagap, ia merasa sedikit takut saat mendengar suara kakak keduanya yang terdengar begitu jelas. Baru kali ini Keiko mendengar serta melihat Eiji begitu marah dan terlihat sangat cemas.
"Kei tolong dengarkan kakakmu."
Suara Gina yang sedikit serak terdengar di telinga Keiko.
"Iya ibu. Kakak aku janji tidak akan keluar dari ruangan ini, jadi biarkan aku berjaga di sini."
Keiko masih berusaha meyakinkan Eiji.
__ADS_1
"Aku tidak ingin berdebat Kei, rumah ini bisa saja rubuh setiap saat karena terkena serangan. Jadi cepat masuk ke dalam."
Suara Eiji kembali terdengar keras dan Jelas. Akhirnya Keiko lebih memilih untuk kembali masuk ke dalam ruang bawah tanah. Ia menyadari jika Eiji bisa begitu marah, pastilah yang datang kali ini bukanlah musuh sembarangan.
Yao yin segera mengunci pintu ruangan tersebut, batu-batu cahaya mulai bersinar menerangi seluruh ruangan. Terlihat Zaka berjalan cepat mendekati mereka setelah memasukkan beberapa persediaan makanan dari gudang penyimpanan ke dalam keranjang miliknya.
"Kei, apa sebenarnya yang terjadi?"
Zaka bertanya dengan nafas yang masih memburu.
"Entahlah paman, bahkan kak Eiji yang biasanya selalu sabar. Ia berteriak dan melarang ku untuk berjaga di atas, mungkin ia merasakan ada sesuatu yang benar-benar kuat mendekat ke tempat ini."
"Tenanglah Kei, kita bisa merasakan semuanya dari tempat ini."
Yao yin mencoba menenangkan adik iparnya tersebut.
"Jika saja ada kak Yuki, dia pasti bisa membantu kita."
Keiko menghela nafas panjang.
"Mungkin peralatan milikku bisa sedikit menggantikan tugas Yuki."
"Kita bisa melihat keadaan di luar melalui batu mutiara ini."
Saat ini batu besar yang ada di atas meja mulai menunjukkan beberapa aktifitas di sekitar kediaman Tamura. Keiko dan juga yang lainnya memperhatikan setiap hal yang mungkin terjadi saat ini.
"Kakak, lalu apa kegunaan batu yang telah kita aktifkan di setiap pintu tadi?"
"Aku membuat aray pelindung di setiap sisi dari dinding lorong, untuk mencegah sesuatu yang mungkin saja ingin menembusnya. Setelah kita mengaktifkannya tadi, Aray pelindung akan selamanya aktif dengan sendirinya saat pintu itu di tutup."
"Jadi dinding tempat ini akan terjaga dari apapun yang ingin menggali ataupun menerobosnya?"
"Iya, selama sesuatu itu tidak terlalu kuat. Setiap hal tentu memiliki ketahanan sendiri. Jika memang sudah terlalu sering di serang, aray pelindung ini akan melemah."
**
__ADS_1
Para hewan besar juga menyadari ada sesuatu yang besar, yang mencoba mendekati tempat tinggal mereka saat ini. Ketiga hewan besar tersebut kembali menjadi sosok hewan besar yang menakutkan. Saat ini Jung Bao berjalan perlahan menuju ke gerbang utama. Zooi berada di sisi kanan bangunan, sementara Monki di sisi yang lain.
Aura iblis mulai dirasakan oleh Arnius dan Eiji. Keduanya menyadari bahwa aura yang mereka rasakan saat ini lebih pekat dari pada para iblis yang pernah mereka lawan. Karena itulah Eiji benar-benar marah saat Keiko hendak keluar dari dalam ruang bawah tanah.
"Kakak mereka masih belum bergerak menyerang, namun aura mereka begitu pekat. Apakah yang lainnya mampu bertahan jika seperti ini terus?"
Suara Eiji terdengar di dalam kepala Arnius.
"Tenanglah, Yin yin sudah membuat aray pelindung. Mereka tidak akan merasakan apapun, dan pastikan gadis kecil itu tetap berada di dalam bersama Yin yin dan juga yang lainnya."
"Siap komandan. Kakek beruang tugasmu sudah di mulai."
Eiji melihat ke arah beruang tua yang masih diam di tempatnya. Sang beruang hanya mengangguk dan mulai berjalan mendekati pintu yang ada di lantai ruangannya dan sudah tertutup sepenuhnya. Ia kemudian menutupnya dengan sebuah karpet bulu yang tebal dan berdiri tepat di atasnya.
Arnius yang berjaga di bagian belakang mencoba merasakan pergerakan musuh, namun ia merasa bahwa mereka masih belum bergerak. Satu hal yang sudah ia pastikan, bahwa saat ini mereka sudah mengepung kediaman tersebut dari berbagai penjuru.
"Mereka mendekat."
Suara Genta yang mulai berubah sedikit berat, terdengar dengan jelas. Aura pekat semakin membuat tubuh terasa bertambah berat, bernafas pun terasa begitu sesak. Jika hanya manusia biasa yang merasakan hal itu, bisa di pastikan mereka akan pingsan dengan darah yang mengalir dari setiap lubang di tubuhnya. Namun Aura tersebut seolah tidak berpengaruh bagi Arnius ataupun Eiji.
***
Pekik elang terdengar membahana di atas ketinggian. Kin Raiden yang sedang bersenda gurau bersama kakak, ayah serta beberapa murid Eagle rocks menghentikan aktivitasnya dan segera melayang mencari keberadaan elang tersebut.
"Di sana."
Sandayu atau yang lebih dikenal dengan sebutan Master Zabuza sedikit berteriak dan bergegas melesat ke arah elang yang sudah mulai terbang lebih rendah. Ciyome dan yang lainnya ikut mendatangi elang yang tampak begitu kelelahan.
"Keluarga Yamada menyewa master ninjutsu dari klan Ito untuk memusnahkan keluarga Tamura."
Sandayu membaca gulungan yang ada di dalam bambu kecil yang terikat pada kaki elang.
"Ayah, kakak jaga diri kalian. Aku pergi."
Kin Raiden melesat setelah berpamitan singkat kepada ayah serta kakak perempuannya.
__ADS_1
"Anak itu, selalu saja begitu."
Ciyome sedikit mengumpat, karena kepergian Kin Raiden meninggalkan beberapa asap yang sedikit menganggu pernafasan. Kilatan petir yang juga sedikit menyambar beberapa rerumputan disekitarnya, meninggalkan asap hingga membuat mereka terbatuk. Bahkan gaun yang dikenakan oleh Ciyome sedikit terbakar. Hal itu membuatnya semakin kesal.