Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Memasuki celah yang lain


__ADS_3

Setelah beberapa purnama berlalu, Arashi tidak pernah sedikitpun mengganggu Yao Yin maupun Ai Sato. Setelah keadaan mulai tenang, Yao Yin mulai mencari informasi tentang bagaimana cara pangeran negri bulan tersebut bisa menemukan dirinya, serta mendapatkan bantuan dari beberapa klan terkuat, hanya untuk menculiknya.


Seekor trenggiling terlihat bergulir mendekatinya, saat ia duduk di sebuah bangku taman. Ada beberapa hewan bertubuh kecil yang bisa menjadi penghubung antara dirinya dengan Jung Nara.


Yao Yin meminta Nara untuk mencari kepastian tentang seseorang yang mungkin terbiasa berhubungan dengan para manusia di bumi, hingga mampu memberikan dukungan klan terkuat kepada pangeran Arashi.


Jung Nara menggunakan seluruh hewan yang masih bisa ia percayai untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan hal tersebut. Hingga sebuah kabar yang begitu mengejutkan sampai di telinga istri Arnius saat ini.


"Akan ku pastikan mereka tidak akan mati dengan mudah."


Kepalan tangan Yao Yin membuat bangku yang didudukinya saat ini terbakar dan hampir membuat ujung gaun yang dikenakannya ikut terbakar, jika Minori tidak segera menyemburkan airnya.


"Tenanglah nona, kami bersama mu."


Suara Minori terdengar melintas di dalam pikirannya, kuda air tersebut mencoba menenangkan istri tuan mudanya.


"Bagaimana dengan harimau merah itu?"


Pandangan Yao Yin kembali melihat ke arah trenggiling yang masih terdiam di dekatnya.


"Panglima Akira masih terus mengawasi pergerakan kami dan juga anda nyonya muda."


"Aku akan berusaha membuat harimau merah itu tidak akan mengganggu langkah kalian. Jaku ayo kita mengunjungi nona Ai di perbatasan."


Yao Yin melangkah memasuki sebuah kereta yang memang sudah di persiapkan untuknya. Setiap kali mendapatkan ijin dari ayahnya, Ai Sato selalu mengunjungi Yao Yin. Walaupun hanya di perbolehkan bertemu di perbatasan dengan penjagaan dari dua algojo besarnya. Namun sejak usia kandungan Yao Yin mencapai delapan bulan, gadis itu memutuskan untuk tinggal dan tidak pernah meninggalkan perbatasan hingga wanita itu melahirkan.


"Kakak Yin, kenapa harus ke tempat ini. Aku bisa meminta Akira untuk membawa ku masuk ke dalam istana walaupun sebentar."


Ai Sato membantu Yao Yin turun dari kereta.


"Maaf jika harus merepotkan nona Ai kembali."


"Tenanglah kak, apa yang bisa aku bantu?"


"Aku ingin memastikan harimau merah itu tidak akan ikut campur ataupun mengganggu jalan ku."


Ucapan Yao Yin terdengar jelas oleh Akira, yang memang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


"Maaf, apa yang membuat nona Yin mencurigai saya?"


Akira berjalan mendekati keduanya. Yao Yin memang sengaja sedikit mengeraskan suaranya supaya bisa terdengar dengan jelas oleh harimau merah tersebut.


"Aku tahu sejak kita bertemu pertama kali, kau sudah menganggap diriku ini adalah seorang pengganggu. Aku tidak pernah sekalipun membuat masalah dengan dirimu ataupun pasukan mu, namun saat ini ku minta kau untuk tidak mengacaukan kegiatan beberapa teman ku di sini."


"Teman? Siapa yang nona anggap teman, bukan kah mereka lebih pantas di sebut pengikut ataupun budak mu."


"Dengarkan aku panglima. Aku tidak pernah menganggap mereka pengikut ataupun budak. Mereka semua adalah temanku. Memangnya apa yang bisa aku perbuat untuk menjadikan mereka pengikut ku?"


"Aku tahu nona memilikinya."


"Jika maksud mu adalah black diamond, saat ini benda itu memang ada bersama dengan ku. Namun perlu kau ketahui, aku bukanlah pemiliknya."


"Jika bukan pemiliknya, bagaimana benda itu bisa bersama dengan anda?"

__ADS_1


"Jika aku memang pemilik black diamond, apakah kau masih bisa mengangkat kepala mu di hadapan ku. Kau pasti sudah mengetahui bagaimana kekuatan benda itu jika bersama dengan pemiliknya."


Akira hanya menundukkan wajahnya, tanpa bisa kembali menjawab ucapan wanita bercadar yang masih berdiri di hadapannya. Setelah terdiam sejenak, Akira kembali berucap dengan memandang wajah Yao Yin.


"Apa yang ingin nona lakukan?"


"Jika kau masih ingin mengawasi pergerakan kami, itu terserah kepadamu. Namun aku berharap, kau tidak akan menganggu pergerakan kawanan ku. Karena aku pun tidak ingin berurusan dengan mu."


"Jika nona tidak memiliki pasukan yang kuat, aku minta untuk tidak mendekati tempat itu. Tentunya nona juga sudah mengetahui bagaimana penjagaan di sana."


Ai Sato yang hanya diam, merasa benar-benar tidak mengerti arah dari pembicaraan ke dua orang yang ada di hadapannya saat ini.


"Aku bisa meminta Doulu dan Dielu untuk menjaga kakak Yin, jika memang itu diperlukan."


"Nona Ai, saya mohon jangan ikut campur. Jika nona melibatkan Doulu dan Dielu, sama saja nona membawa pasukan The Beast."


Akira segera memotong ucapan putri komandan tertingginya tersebut.


"Doulu dan Dielu itu teman ku, jadi wajar jika aku memintanya untuk membantuku."


"Nona, saya mohon."


Akira semakin menunduk di hadapan Ai Sato.


"Sudahlah kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku, cukup Doulu dan Dielu yang menjaga ku. Selama aku baik-baik saja, jangan ucapkan apapun kepada ayah dan paman ku."


"Nona.."


Akira hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Bagaimana kabar kalian berdua. Tubuhmu semakin kuat Doulu, dan bagaimana dengan lenganmu Dielu. Ku harap kalian tidak berlatih dengan begitu serius hingga saling menyakiti."


Gerrrr ....


Sebuah geraman kecil terdengar dari keduanya. Yao Yin hanya tersenyum kecil di balik cadarnya.


"Nona Yin, Semoga kau bisa melahirkan seorang putra yang kuat dan tampan. Seperti yang selalu diinginkan nona muda."


Seina menundukkan kepalanya di hadapan Yao Yin.


"Terimakasih Seina."


Setelah sering bertemu beberapa kali, Yao Yin terlihat begitu akrab dengan Seina, Doulu dan juga Dielu. Bahkan kedua batu besar itu sangat nyaman dengan belaian tangan Yao Yin yang memiliki dua unsur yang sama dengan kedua gorila batu tersebut. Doulu dan Dielu seolah merasakan kembali sentuhan lembut seorang ibu.


***


Bulan mulai memperlihatkan sinarnya untuk menerangi seluruh tebing yang dipenuhi oleh pepohonan. Arnius mulai membakar tumpukan kayu yang telah di kumpulkan oleh Zora. Perapian membantu mereka melihat dengan jelas daerah di sekitarnya.


Eiji mulai membuka kedua matanya setelah memuntahkan beberapa gumpalan darah yang berwarna keunguan. Kin Raiden sedikit menggeser tubuhnya untuk memberi ruang kepada sensei muda yang masih selalu menunggu di depan mereka.


Zora kembali memeriksa nadi serta peredaran racun yang ada di dalam tubuh Eiji. Beberapa jarum panjang kembali ia tancapkan pada dada bidang pria tampan tersebut, setelah melakukan beberapa teknik totokan.


"Racun mu masih belum seutuhnya keluar dari tubuh mu. Aku hanya bisa melakukannya dengan bertahap, ada beberapa bahan obat yang tidak aku miliki."

__ADS_1


"Terimakasih Zora, maaf aku tidak menghiraukan ucapan mu "


Eiji menyentuh dadanya yang masih terasa nyeri.


"Bahan obat apa yang kau perlukan?"


Arnius menyerahkan beberapa lembar kain untuk mengganti pakaian Eiji yang sudah terkena muntahan darah. Keiko mulai membersihkan sisa darah yang masih menempel di sudut bibir kakak keduanya.


"Sejujurnya aku juga tidak mengetahui jenis racun ini, namun aku tidak akan membiarkan racun itu semakin berkembang di dalam tubuh saudaraku. Aku akan tetap berusaha."


"Terimakasih. Ayo kita bergabung dengan yang lainnya."


Semuanya mulai berjalan mendekati seluruh rekannya yang berada tepat di depan celah transparan yang lebih mirip seperti gumpalan air yang melayang di antara batang pepohonan dan juga bebatuan. Arnius mulai menggendong tubuh adik lelakinya, meskipun sebenarnya ditolak olehnya.


"Jangankan hanya menggendongnya, jika dia meminta untuk disuapi pun, pasti kakaknya itu mau melakukannya."


Genta bergumam perlahan seraya menggelengkan kepalanya.


"Dia benar-benar menyayangi saudaranya, kau beruntung bisa menjadi bagian dari mereka."


Zora memukul pelan lengan rekannya itu.


"Celah ini lebih besar dari pada celah sebelumnya."


Arnius mulai menurunkan Eiji di depan celah tersebut.


"Kita tidak punya banyak waktu lagi, kita harus bergegas."


Eiji menepuk pelan pundak kakak lelakinya.


"Bagaimana dengan tubuh mu?"


"Ada kakak dan kalian semua, aku pasti bisa bertahan."


Eiji tersenyum kecil untuk melegakan hati kakak lelakinya.


"Segera bersiap, kita akan memasuki celah ini."


Arnius memandang satu persatu semua rekannya.


"Bagaimana dengan dia, sepertinya dia tidak bisa bertahan."


Wu Ling menunjuk seekor elang besar yang masih terkulai tidak berdaya. Arnius berjalan mendekatinya dan meminumkan air dari telapak tangannya. Tak berselang lama, elang besar tersebut mulai bisa berdiri. Arnius memberikan air kehidupan kepada elang besar tersebut.


"Naru Taka memberi hormat tuan ku."


"Kau bisa mengecilkan tubuh mu?"


"Naru bersedia membawa tuan dan semuanya memasuki celah itu."


"Baiklah, ayo semua naik ke punggungnya."


Arnius mulai menaiki punggung elang besar tersebut di ikuti oleh yang lainnya. Ia sempat memberikan tatapan tajam kepada Genta yang hanya di balas dengan anggukan kecil serta menoleh kembali ke arah Kin Raiden.

__ADS_1


Tubuh naga emas mulai terlihat melesat memasuki celah besar tersebut dengan membawa Zen, Kuma, Kuro dan Robaki. Kemudian Naru menyusul dan diiringi oleh Phoenix merah yang juga melesat di belakangnya seorang diri.


Arnius memutuskan untuk mengandalkan naga emasnya dan juga Phoenix merah. Karena mereka tidak tahu, tempat seperti apa yang akan menyambut mereka.


__ADS_2