
Genta mencoba untuk memejamkan matanya setelah mengeluarkan seluruh rekannya dari dalam giok hitam, kecuali Yao Yin dan dua bayinya. Menurutnya kemungkinan besar para iblis tidak akan beraksi pada saat matahari masih bersinar.
Seluruh Classic team mencoba mengistirahatkan tubuhnya di dalam sebuah ruangan yang cukup luas yang sengaja diminta oleh Ryu kogane kepada sang pemilik rumah.
Zora membagikan beberapa pil penambah kekuatan kepada setiap rekannya setelah sang panglima mereka memberikan sedikit penjelasan jika kemungkinan akan ada penyerangan kembali oleh para iblis yang auranya masih terasa hingga saat ini.
Semua Classic team ingin bertanya dimana dan bagaimana keadaan komandan mereka saat ini, namun mereka cukup tahu diri untuk tidak semakin memperkeruh suasana hati panglima mereka yang masih selalu berusaha mencari keberadaan tuannya itu.
Sesekali Genta masih terlihat memusatkan perhatiannya untuk kembali mencari keberadaan tuan serta sahabatnya itu. Namun berulang kali ia mencoba, hanya helaan nafas panjang yang terdengar dari mulutnya setelah menyelesaikannya.
"Tenanglah, dia hebat. Dia pasti akan memberikan sedikit tanda untukmu."
Kin Raiden menepuk pelan pundak sang naga emas setelah ia menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Untuk saat ini kemungkinan kakak beristirahat sejenak untuk memulihkan kembali kekuatannya. Karena para iblis tidak akan beraksi pada saat matahari masih bersinar seperti saat ini."
Eiji yang juga mengkhawatirkan keadaan kakak lelakinya, mencoba untuk berpikir positif atas semua hal yang sudah mereka alami.
"Letakkan seluruh botol ramuan mata iblis kalian di atas meja ini. Aku akan menambahkan sesuatu yang ku dapat dari pertempuran semalam."
Ucapan Zora sedikit memecahkan keheningan. Seluruh rekannya hanya menurutinya dan segera meletakkan botol kecil tersebut di atas sebuah meja.
Zora mulai menuangkan beberapa cairan ke dalam setiap botol tersebut.
"Semakin kuat iblis tersebut, maka darahnya pun semakin efektif untuk ramuan ini. Ku harap ini bisa membantu kita untuk semakin jelas melihat keberadaan mereka."
Zora kembali memberikan botol tersebut kepada seluruh rekannya.
"Kita memerlukan sebuah rencana untuk menghadapi para iblis itu seandainya mereka kembali terlihat."
Kapten Zen berdiri dan menerima botol kecil dari sensei muda tersebut.
"Sekalipun kami bukanlah manusia terkuat, namun kami juga tidak ingin komandan terluka ataupun menjadi tawanan para iblis itu."
Yuki ikut mengutarakan pendapatnya.
"Pedang biasa tidak akan bisa melukai para iblis itu, lalu benda apa yang bisa melakukannya."
Wu Ling ikut mengutarakan satu persatu pertanyaan yang juga ada dalam pikiran setiap rekannya.
"Mereka hanya bisa di bunuh dengan benda khusus ataupun di bakar oleh api abadi seperti yang komandan ataupun panglima kalian miliki."
Suara lembut seorang gadis terdengar memasuki ruangan tersebut.
"Tolong katakan nona Ai, benda seperti apa itu."
Chio yang terlebih dahulu menyadari kedatangan nona baru mereka, mencoba untuk mengajukan pertanyaan.
"Tentu saja sebuah benda yang memiliki unsur kekuatan yang besar."
Ai Sato menatap wajah anak muda yang masih di selimuti kecemasan itu.
__ADS_1
"Apakah benda ini bisa nona?"
Chio mengeluarkan sebuah tali yang masih sedikit transparan dari dalam tubuhnya.
"Tentu saja anak muda. Ekor mu akan semakin kuat jika kau selalu melatihnya. Namun bagaimana itu bisa terlepas dari tubuh mu?"
Ai Sato memperhatikan tali yang ada dalam genggaman tangan Chio. Namun rekannya yang lain hanya menampilkan wajah herannya karena tidak bisa melihat benda tersebut.
"Tidak perlu membahas hal itu untuk saat ini nona."
Chio mulai beranjak untuk keluar dari dalam ruangan tersebut, ia berniat untuk kembali berlatih dengan ekornya. Namun ucapan Ai Sato menghentikan langkahnya sejenak.
"Pergilah ke dalam hutan the Beast, carilah tuan kadal besar. Dan katakan jika aku memintanya untuk mengajarkan sesuatu tentang ekor itu."
Chio sedikit mengangguk kemudian kembali melanjutkan langkahnya.
"Nona Ai, apakah ada salah satu teman mu yang juga bisa mengajari kami sesuatu?"
Shiro, Kuro, Mon Mon, Robaki dan juga Kuma serentak berdiri dan berjalan mendekati Ai Sato.
"Aku tahu kalian pasti memiliki sesuatu yang luar biasa. Pergilah ke hutan the Beast, pasti ada seseorang yang bisa membantu kalian."
Ai Sato tersenyum kecil dan menyerahkan selembar daun kepada masing-masing dari mereka. Ke lima murid Kitaro tersebut bergegas berlari menyusul Chio yang telah terlebih dahulu pergi.
"Aku memang tidak memiliki sesuatu yang hebat seperti mereka, tapi aku bisa merasakan keberadaan mereka melalui tanah."
Yuki mulai melatih ketajaman pengendalian tanahnya begitupun Wu Ling dengan pengendalian udara yang dimilikinya.
Ai Sato bergumam perlahan.
"Apa kau mengatakan sesuatu tentang giok hitam kepada ibumu nona."
Genta melesat mendekati Ai Sato yang masih berdiri diam. Namun dengan secepat kilat, Eiji pun kini sudah berada di antara keduanya.
"Hati-hati dengan tindakan mu naga besar."
Eiji tersenyum kecil kepada sahabat kakaknya itu.
"A.. Aku tidak berani mengatakan apapun tuan pangeran."
Ai Sato berucap dengan sedikit terbata, kedua tangannya menggenggam erat jubah suaminya yang kini berdiri memunggunginya.
"Kakak jaga ucapan mu. Sahabat ku tidak akan mengkhianati kalian, sekalipun itu ibunya."
Sinziku yang sedari tadi hanya diam, kini berusaha menenangkan kakak tertuanya. Sementara itu terlihat senyum kebahagiaan pada wajah Ai Sato yang masih menggenggam erat jubah suaminya.
Walaupun itu berhubungan dengan rekannya, namun suaminya masih tetap berusaha untuk melindungi dirinya.
"Kau tidak boleh mencurigai kakak ku naga besar."
Seketika tubuh Genta membeku hampir seutuhnya, setelah Keiko mengepalkan tangannya.
__ADS_1
"Tidak... Tidak lagi cantik ku. Aku tidak akan lagi meragukannya sedikitpun, tolong lepaskan aku sayang. Ini semakin menyakitkan."
Genta sedikit terbata dan wajahnya semakin memucat saat kepalan tangan Keiko seolah menghentikan detak jantungnya.
"Ha.. Ha.. Ternyata selain komandan Arnius, ada juga yang bisa mengendalikan dirimu."
Kin Raiden tertawa lebar melihat keadaan sang naga emas saat ini. Namun seketika tawanya terhenti saat pandangan mata Keiko beralih kepada dirinya.
"Ti.. Tidak.. Aku hanya bercanda nona Kei."
Genta sedikit tersenyum melihat ketakutan pada wajah Phoenix merah tersebut, walaupun ia sendiri masih dalam keadaan yang tidak baik-baik saja saat ini.
"Sekarang rencana apa yang sebaiknya kita lakukan jika pasukan iblis itu kembali menyerang?"
Keiko mulai melepaskan kepalan tangannya, dan Genta pun mulai bisa bernafas lebih lega.
"Jika para iblis itu sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan, seharusnya mereka tidak akan menyerang kembali. Namun hingga saat ini, aku masih bisa merasakan keberadaan mereka di sekitar tempat ini."
Ucapan Ai Sato kembali membuat mereka berpikir sejenak.
"Benar juga. Jika mereka sudah mendapatkan black diamond yang ada bersama dengan Arnius, kenapa mereka masih ada."
Genta kembali memulihkan kondisi tubuhnya.
"Kana. Apakah kakak ipar melakukannya?"
Ucapan Ai Sato kembali mengejutkan semuanya.
"Apa maksud mu nona?"
Genta sedikit bingung.
"Tolong tunjukkan bayi perempuan itu kepada ku."
Genta mengeluarkan Yao Yin bersama ke dua bayinya yang juga dalam gendongan Jaku, setelah mendapat persetujuan darinya. Yao Yin menyerahkan Kana yang berada di dalam gendongannya kepada Ai Sato.
"Bahkan Jaku tidak berani mendekati bayi ini, setelah ayahnya meninggalkan giok hitam."
Ucapan Yao Yin sedikit menarik perhatian sang naga emas.
"Benar dugaan ku. Kakak ipar meninggalkan batu itu di dalam tubuh putrinya."
Ai Sato kembali menyerahkan bayi mungil itu ke dalam gendongan ibunya.
"Sebelum dia pergi. Dia sempat berpesan untuk menyerahkan giok hitam kepada Ryota pada saatnya nanti. Namun aku tidak pernah berpikir jika dia akan meninggalkan black diamond di dalam tubuh Kana."
Yao Yin mulai mengerti arah pembicaraan mereka.
"Apa sebenarnya yang kau rencanakan tuan muda."
Genta bergumam perlahan.
__ADS_1