
"Kita sudah sampai di bukit Konotori, ada segel penghalang di atas hutan kematian. Jadi kita hanya bisa berjalan untuk memasuki hutan."
Suara Zen memecahkan keheningan, saat seluruh penghuni Classic pearl berusaha memahami setiap tulisan yang muncul dari cermin batu.
"Iya, berhenti saja di tempat biasa."
Genta menyahut tanpa menoleh sedikitpun.
Bukit Konotori adalah awal mula pertemuan ketiganya, hingga saat ini mereka masih terus bersama. Bahkan jauh di dalam hati, mereka menganggap semua adalah saudara. Semuanya melompat turun dari atas Classic pearl, hamparan sawah dan perkebunan penduduk terlihat begitu subur.
"Kau tidak ingin mengunjungi mereka?"
Arnius menepuk pelan bahu sahabatnya yang masih termenung menatap pemukiman penduduk yang ada di kejauhan.
"Aku bisa mengunjungi mereka kapan saja, ayo semua naik. Akan ku bawa kalian semua."
sosok naga emas mulai terlihat, semuanya melompat ke atas punggungnya.
"Kei, jaga cermin itu dengan baik. Kin, tetap di punggungnya. Jangan terbang sendiri, kita bisa terpisah. Hutan ini penuh dengan ilusi. Eiji kau di belakang bersama Phoenix itu. Sensei kecil jangan terlalu jauh dari Keiko dan peluk erat punggungnya jangan sampai terjatuh."
Arnius memberikan sedikit peringatan, semua mengangguk mengerti. Setelah menyimpan Classic pearl ke dalam giok hitam, Ryu kogane mulai bergerak.
Tubuh naga emas mulai meliuk di antara pepohonan dengan perlahan. Beberapa hewan besar hanya terdiam saat tubuh naga emas tersebut melewati mereka. Kedua mata Ryu kogane mulai terlihat menyorotkan cahaya merah, saat mereka mulai memasuki wilayah hutan bagian dalam.
Zen, Zora dan juga Yuki berpegangan erat pada punggung naga. Bahkan Zen yang sudah memeluk erat tubuh teman besarnya itu, merasa tubuhnya sedikit bergetar karena begitu takut dengan kegelapan yang menyelimuti mereka. Kapten kapal Classic pearl tersebut kini sepenuhnya membenamkan wajahnya diantara surai naga yang sedikit berkibar.
"Bagaimana tempat ini bisa begitu gelap?"
Eiji yang juga pertama kalinya memasuki tempat tersebut merasa begitu takjub dengan kesunyian dan kegelapan yang begitu pekat meskipun di luar sana matahari belum begitu tinggi.
"Kaum naga memang yang terbaik jika harus mengandalkan setiap Indra yang di milikinya."
Kin Raiden menyahut ucapan Eiji. Mata birunya mulai terlihat bersinar di antara kegelapan.
"Grrr."
"Akan ku atasi."
Kin Raiden menyahut geraman sang naga besar. Tangan kirinya berubah menjadi sayap Phoenix yang berhiaskan petir saat ada sesuatu yang mencoba mendekat.
Tubuh Arnius menyala seutuhnya untuk membantu menerangi sekitarnya. Sambaran api mulai muncul dari kibasan lengan kanannya. Sekilas terlihat sekumpulan serigala hitam bermata merah di sekeliling mereka.
Terdengar jerit para serigala setelah sambaran petir beruntun dari sang Phoenix mengenai mereka. Ryu kogane bergegas kembali melesat sebelum datang kumpulan serigala lainnya.
__ADS_1
Setelah serangan dari para serigala, Zen semakin mengeratkan pelukannya pada punggung naga emas. Yuki yang selalu berkonsentrasi memperhatikan getaran pada permukaan tanah, bahkan tidak merasakan apapun. Para hewan tersebut seolah tidak menampakkan kakinya di atas permukaan tanah.
Sesaat setelah keheningan kembali tercipta, Yuki merasakan ada pergerakan dari dalam tanah. Ia mencoba menghentikan pergerakan tersebut dengan melilitkan tanah yang lebih keras untuk menghentikan pergerakan hewan tersebut.
Beberapa ledakkan kecil terdengar dari dalam tanah, saat tanah yang dikendalikan oleh Yuki berbenturan dengan sesuatu yang bergerak di bawah mereka.
"Bertahanlah Yuki, kita akan segera sampai."
Yuki mengerti ucapan Arnius, api yang masih menyala dari tubuhnya membuat tempat yang mereka lewati sedikit terlihat. Begitu banyak pohon berjajar di sepanjang jalan yang mereka lalui. Beberapa batang dan juga akar pohon terlihat melilit di atas serta di bawah mereka.
Akar-akar pohon itu seolah berlari mengejar mereka. Eiji dan Wu Ling bekerja sama membuat segel pelindung di sekeliling tubuh naga emas, untuk menghindari serangan dari beberapa batang pohon yang berada di atas mereka.
Yuki masih terus di sibukkan dengan akar pohon yang berusaha keluar dari dalam tanah. Keringat mulai terlihat di wajahnya, sudah hampir satu jam ia berusaha menahan akar-akar tersebut.
Keiko melihat temannya tersebut sudah melampaui batas waktu pengendalian yang ia latih sebelumnya. Gadis kecil itu sengaja tidak membantu pria yang saat ini duduk di hadapannya. Ia ingin memastikan kemampuan Yuki untuk mengendalikan tanah bisa bertambah.
Telapak tangan Keiko sudah di penuhi kepulan asap dingin. Ia bersiap jika temannya tersebut sudah mencapai batasnya. Namun ia mengurungkan niatnya saat cahaya yang mereka lihat mulai tampak jelas. Tubuh Ryu kogane berhenti di atas bebatuan yang lebih mirip seperti mulut goa.
"Terima Kei, kau sudah percaya padaku untuk bisa melewati batasan ku sendiri."
Nafas Yuki sedikit memburu, saat mereka turun dari atas punggung naga besar.
"Kau hebat kak Yuki."
Keiko menyalurkan tenaganya pada punggung Yuki yang sudah terduduk untuk mengatur nafasnya dan juga mengembalikan energi tubuhnya.
"Kei berikan aku tali."
Keiko mengeluarkan tongkat emas miliknya dan mengubahnya menjadi tali. Gadis kecil itu menyerahkan ujung tali yang satu kepada kakak tertuanya.
Hanya dengan beberapa kali menghentakkan kakinya, Arnius sudah sampai pada tempat yang sedikit lebih luas.
"Berjalan perlahan dan jangan lepaskan pegangan tangan kalian dari tali Keiko."
Zora dan lainnya mengangguk mengerti.
Jalan yang harus mereka lalui kali ini adalah jalan setapak yang hanya muat jika berjalan dengan menyamping. Arnius dan juga Keiko yang memegang ujung dari masing-masing tali tersebut, berusaha supaya seluruh rekannya tidak ada yang terjatuh ke dalam jurang di bawah mereka.
Zora melangkah perlahan, ia tidak pernah sedikitpun melepaskan pegangannya hingga tiba di sisi Arnius.
Saat Zen memegang erat tali Keiko. Tali tersebut sedikit bergetar.
"Tenanglah paman, aku pasti menjagamu. Tarik napas panjang dan hembuskan. Jangan melihat ke bawah kemudian melangkah lah dengan perlahan."
__ADS_1
Keiko mengerti arti tatapan kapten Classic pearl itu terhadapnya. Pria setengah baya tersebut mulai menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Zen melakukan semua perkataan Keiko, dan mulai melangkah perlahan.
Eiji mengendalikan udara di sekitar tubuh kapten Classic pearl tersebut untuk berjaga bila mana ada batu yang tergelincir karena tubuh besarnya.
Setelah semuanya berhasil melewati tepi jurang, kini mereka harus merangkak melewati terowongan sempit. Dinding goa yang mereka lewati semakin rendah dan menyempit, sehingga mereka harus menunduk dan bahkan merangkak.
Badan Zen yang lebih besar dari pada yang lain membuatnya benar-benar harus bersabar. Beberapa kali kapten Classic pearl tersebut menghela nafas panjang. Keiko senantiasa berada di belakang pria bertubuh besar tersebut, dan berusaha untuk menyemangatinya.
Sementara Wu Ling, Zora dan juga Yuki yang memiliki tubuh lebih kecil, sudah terlebih dahulu sampai di ujung lorong bersama Arnius.
"Semangat kapten, kamu pasti bisa."
Zora ikut memberikan semangat, karena melihat tubuh besar Zen yang sedikit kesulitan jika harus merangkak di tempat sempit seperti itu.
"Ayo kapten, aku melihat hutan buah yang begitu lebat di depan. Cepatlah."
Yuki ikut berteriak.
"Haaah... Bagaimana kalian bisa menemukan tempat yang begitu terpencil seperti ini."
Tubuh Zen terkapar di lantai goa, setelah ia sampai di ujung lorong. Nafasnya begitu tidak beraturan.
"Apa kita harus melewati lorong ini lagi jika harus keluar dari tempat ini."
Zen kembali bergumam.
"Bersiaplah untuk mengecilkan ukuran tubuh mu."
Keiko yang muncul di belakangnya tersenyum kecil.
Setelah semua melewati lorong tersebut, pemandangan hutan yang asri serta air terjun yang begitu indah menyambut mereka. Arnius terlihat muncul dari balik batu setelah selesai mengenakan kembali pakaiannya. Rambutnya yang hitam terlihat basah.
"Kakak mandi?"
Keiko menyentuh ujung rambut Arnius yang basah.
"Ya, air ini akan mengembalikan tenaga dan kesegaran tubuh kalian."
Tanpa memperdulikan semua rekannya, Genta yang berada di paling belakang segera berlari dan menceburkan diri ke dalam sungai.
"Ha.. Ha.. Sudah lama tidak ke tempat ini... Aahh segarnya. Ayo kalian mandilah."
Muka Keiko merah padam karena kelakuan sahabat kakak nya tersebut. Saat Genta menceburkan dirinya ke dalam sungai, membuat airnya terpercik sehingga membasahi muka dan juga pakaiannya.
__ADS_1
"Nagaaaaa besaaar."
Keiko berteriak hingga membuat beberapa bagian sungai membeku seketika.