Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Keluar dari Bunin


__ADS_3

Arnius mulai merasakan ada kehidupan lain di dalam giok hitam miliknya. Setelah bertanya kepada beberapa penghuni terakhir giok tersebut, ia mulai mengeluarkan Wu Ling yang masih belum sadarkan diri. Kondisi tubuh pemuda ini begitu lemah, kehilangan sebelah lengannya membuatnya semakin terlihat begitu menyedihkan.


Zora mulai memeriksa keadaan pemuda dari perguruan Angin Utara tersebut, pendarahan pada tubuhnya sudah berhenti seutuhnya. Seluruh organ vitalnya masih berfungsi dengan baik.


"Baiklah akan ku buktikan bahwa kalian akan memanggil ku Zora sensei."


Zora mulai mengeluarkan beberapa bahan ramuan serta menyiapkan periuk miliknya, alkemis muda itu mulai memasukkan beberapa bahan setelah meminta Arnius menyalakan api kecil di bawah tungku obat miliknya.


"Kau tidak akan melakukan percobaan kepada nya bukan?"


Arnius menyentuh pelan pundak Zora yang sudah mulai menyibukkan diri dengan tungku obat miliknya.


"Tenanglah komandan, aku hanya akan mencoba mengurangi sedikit penderitaannya." Zora tersenyum penuh arti.


Setelah Zora menuangkan satu tetes cairan hitam ke dalamnya, tungku obat mulai berdengung hingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.


"Kau tidak akan meledakkan kapal ini kan sensei kecil?"


Zen sedikit khawatir karena bunyi dengungan yang begitu mengganggu pendengarannya tersebut.


Zora tersenyum kecil saat tangannya menangkap sebuah pil yang mulai melayang di atas periuk dan segera memadamkan kembali api di bawah tungku tersebut. Sebuah pil hitam yang tidak begitu besar berada di atas telapak tangan Zora.


"Ar.. Tolong kau bantu tubuh Wu Ling untuk menyerap khasiat pil ini secara perlahan, mungkin butuh waktu beberapa saat."


Zora mulai memasukkan pil hitam tersebut ke dalam mulut Wu Ling setelah Arnius bersiap pada posisinya. Satu dupa pembakaran sudah hampir habis saat Arnius mulai berhenti menyalurkan tenaganya. Wajah pucat Wu Ling mulai terlihat membaik, aliran darah serta organ lainnya mulai menjadi lebih baik.


Senyum tipis Zora tersungging di bibirnya, saat ia mulai melihat dengan jelas ada bagian tubuh yang mulai tumbuh. Arnius dan yang lainnya bahkan tidak mengedipkan matanya, saat mereka melihat lengan Wu Ling yang terputus mulai tumbuh kembali.


"Ada gunanya juga aku mengumpulkan tinta hitam berbau busuk itu." Zora kembali tersenyum puas saat ia mulai memeriksa lengan Wu Ling yang sudah kembali pulih serta dalam keadaan yang baik dan juga normal seperti sedia kala.


Wu Ling sedikit terbatuk saat ia mulai membuka kedua matanya, sebelah tangannya mulai meraba setiap bagian tubuhnya setelah ia menyadari seluruh rekannya yang saat ini memperhatikan dirinya. Wu Ling bergegas mendudukkan tubuhnya setelah menyentuh sebelah lengannya, ia masih mampu mengingat kejadian terakhir yang dialaminya sebelum ia tidak sadarkan diri.


"Tangan ku... "


Wu Ling masih saja meraba lengannya yang tadinya telah terputus karena ulah para Hibagon yang telah mengoyak tubuhnya.


"Kau harus memanggilnya Zora sensei, dia telah membuktikan kemampuannya dengan menumbuhkan kembali lenganmu."


Arnius tersenyum kecil seraya menepuk pelan pundak Wu Ling yang masih terlihat bingung.


Sayuri, Haruka dan juga Azumi juga terlihat duduk diantara mereka. Semuanya terlihat lebih lega, karena seluruh rekan mereka kini mulai membaik.

__ADS_1


Arnius mulai melompat dari atas Classic pearl, setelah ia kembali melihat keberadaan Eiji serta yang lainnya.


"Bagaimana, apa yang kalian temukan?"


"Sepertinya permaisuri ku yang cantik sudah terlebih dulu meninggalkan pulau ini."


"Apa yang kau katakan, bicara dengan benar." Arnius meremas ujung baju Genta dan hampir membakarnya.


"Tenanglah tuan muda." Genta mencoba menenangkan Arnius yang masih belum bisa mengendalikan emosinya saat ada sesuatu yang berhubungan dengan kedua adiknya.


"Keiko menguasai elemen air dan es dengan baik, hingga tanpa sadar hal itu dengan mudah membuatnya keluar dari pulau ini. Batu bercahaya ini sepertinya adalah portal penghubung dengan dunia luar ataupun belahan bumi yang lain. Seperti saat Eiji menemukan portal penghubung antar gerbang."


"Jadi saat ini kita memerlukan orang yang mampu menghubungkan kita dengan Keiko?"


"Benar Ar, namun satu-satunya harapan kita hanyalah nona ikan. Namun sepertinya hal itu tidak mungkin, bukankah dia sudah tewas?"


"Aku akan mencobanya." Sayuri mulai melompat dari atas Classic pearl dibantu oleh Wu Ling dan juga Zen.


"Nona ikan, Wu Ling kalian baik-baik saja?"


"Iya tuan naga, sekarang biarkan aku mencoba menghubungi nona Kei."


"Aku bisa menghubungi kuda bersayap itu, namun dia tidak bisa menjadi penghubung untuk mengeluarkan kita dari tempat ini."


Genta mulai meletakkan ujung telunjuknya pada kening Sayuri, setelah gadis kecil itu mendekati dirinya.


"Yuri, aku senang kau baik-baik saja. Kau bisa mendengar suara ku dengan jelas bukan?" Suara Keiko terdengar di dalam pikiran Sayuri.


"Iya nona."


"Sekarang sentuh batu itu dan coba rasakan keberadaan ku, aku tahu kau bisa Yuri." Tangan Sayuri mulai bergerak untuk menyentuh batu bercahaya di hadapannya, dan mulai mencari keberadaan Keiko.


"Nona kei, aku bisa melihatmu."


"Bagus, sekarang sentuh mereka satu persatu hingga masuk ke dalam batu cahaya ini."


"Aku mengerti."


Sayuri mengulurkan tangannya dan mulai memasukkan satu persatu rekannya. Arnius memasukkan Classic pearl dan juga para binatang ke dalam giok hitam sebelum ia mulai memasuki batu bercahaya tersebut. Sayuri sedikit terbatuk dan hampir tersungkur ke tanah setelah Keiko menarik tangannya.


"Kerja bagus Yuri."

__ADS_1


Keiko menyalurkan sedikit tenaganya untuk mengembalikan kondisi Sayuri yang mulai melemah, berkonsentrasi dalam waktu yang cukup lama untuk memastikan para rekannya berada pada tempat yang benar adalah hal besar bagi Sayuri. Saat ini ia bisa merasa sedikit tersenyum karena masih berguna bagi para rekannya.


Suara deburan ombak memecah kesunyian malam, sekalipun malam hari namun sinar rembulan mampu menyinari seluruh permukaan pantai hingga terlihat beberapa batu karang terjal. Arnius berdiri diantara batu karang, memperhatikan deburan ombak yang menurutnya begitu menenangkan.


"Aku merasa ini bukan lagi the dead ocean." Eiji berjalan mendekati kakak lelakinya.


"Aku rasa juga begitu, lalu di mana kita saat ini dan kemana tujuan kita berikutnya?"


Arnius menoleh ke arah Eiji yang masih berdiri di sampingnya.


"Keluarkan Classic pearl, di sana ada beberapa diagram yang bisa membantu kita menemukan tujuan berikutnya." Yao yin mendekati kedua kakak beradik yang hanya berbeda warna rambut itu.


Classic pearl mulai terlihat melayang di udara setelah Arnius mengibaskan tangannya.


"Semuanya naik, kita akan beristirahat di atas Classic pearl dan mencari tujuan berikutnya."


Arnius dan Eiji mulai membantu beberapa rekannya untuk naik ke atas Classic pearl. Arnius memperhatikan satu persatu setiap anggotanya, untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Setelah memastikan semuanya ada dan baik-baik saja, ia mulai memasuki ruang kemudi untuk mencari keberadaan Yao yin dan juga sang kapten.


"Bagaimana, apa kalian tahu sesuatu?"


"Kita berada di sisi barat Bunin, akan sangat jauh jika kita harus berputar untuk kembali ke the dead ocean. Lagi pula jalur itu pasti sangat sulit untuk dilalaui."


"Benar yang dikatakan nona Yin, selain kita harus mengisi perbekalan, keadaan mereka saat ini masih belum begitu siap untuk kembali bertempur jika terjadi serangan. Keselamatan kita lebih penting Ar."


"Baiklah, cari jalur terdekat dengan sedikit resiko yang bisa mengancam keselamatan kita."


"Kita akan ke selatan, tepatnya benua selatan. Baru setelahnya kita akan kembali ke benua timur untuk menghindari angin laut yang tidak bersahabat."


"Lakukan."


"Siap komandan, dan sepertinya akan ada perpisahan jika kau tidak melakukan sesuatu Ar." Zen sedikit berbisik di samping Arnius serta mengedipkan sebelah matanya.


"Ahh Ji Ji, Keiko, dan kau teman besar. Sebaiknya kalian segera melakukan sesuatu untuk rencana besar kalian." Zen tersenyum penuh arti saat ia sejenak melihat keberadaan Eiji yang masih berdiri bersama Genta dan juga Raiden.


"Kalian punya rencana besar apa?" Arnius mendekati adik serta kedua binatang ilahi tersebut.


"Tidak perlu tegang seperti itu, tenanglah Ar. Kita sudah aman sekarang. Kau hanya perlu memikirkan masa depanmu saja teman. Tenang saja, kami semua akan membantu."


Genta berjalan mendekati Kakek Yao yang sedang duduk beristirahat sambil memijit kedua kakinya yang sedikit pegal.


"Kakek Yao, mari aku bantu memijit punggung mu supaya lebih enak."

__ADS_1


"Iya Kakek, biar aku yang memijit kakimu. Nona kei tolong kau buatkan beberapa masakan yang lezat untuk Kakek kita." Kin Raiden ikut berjalan mendekati Kakek Yao.


"Baik, akan siap secepatnya." Keiko tersenyum kecil serta bergegas menyiapkan makanan.


__ADS_2