Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pintu dimensi


__ADS_3

"Tidak seharusnya kau berada di sini Ai. Kau bisa menunggu kami di rumah. Kakak dan suamimu pasti bisa menyelesaikan semuanya. Awas Ai... Tetap pegang erat-erat cucu ku, jangan sampai kau menjatuhkannya. Dielu, berhati-hatilah. Jangan sampai kau tersandung. Doulu.. Bergeser lah sedikit, jangan sampai kau menyenggol tubuh Dielu. Kalian bisa menjatuhkan cucuku. Berlari dengan benar Dielu."


Makaira terus mengomel. Seraya memperhatikan cucu tersayangnya, yang selalu di dalam dekapan Ai Sato. Sementara Ai Sato hanya diam dan sesekali mengangguk seraya tersenyum kecil kepada sang ibu yang hampir tidak pernah berhenti berucap.


Saat ini keduanya berada di atas bahu Dielu, yang sedang berlari secepat mungkin menuju ke istana naga. Setelah mendapatkan kabar dari panglima Phoenix terbang, mereka semua bergegas menyusul kawanan burung besar tersebut.


Sejak berada di atas bahu Dielu, Ai Sato sudah melilitkan sulur dari tubuhnya ke tubuh putri kecilnya. Sehingga Kazumi selalu menempel dengan tubuhnya. Meskipun sedikit terguncang, namun putri Eiji itu tidak merasa terganggu. Kazumi lebih memilih untuk bermain dengan ujung sulur yang begitu menarik perhatiannya.


Sementara jauh di depan, Boulu terlihat berlari begitu cepat. Gorila batu tersebut sama sekali tidak menghiraukan bebatuan yang berhamburan, maupun pepohonan yang selalu saja tumbang karena hentakkan kakinya.


"Kenapa di saat seperti ini, bahkan ilmu segel pangeran hanya bisa berfungsi sebagian. Bahkan belum sampai pada wilayah perbatasan."


Komandan Sato terus menggerutu selama berada di atas bahu Boulu. Karena kemampuan segel pemindah pangeran Arashi, yang hanya mampu memindahkan mereka semua ke tepi hutan perbatasan.


"Ayo cepatlah Boulu. Kita harus segera sampai. Semoga perkiraan Makaira benar adanya. Baik itu segel pemindah ataupun pintu dimensi. Seharusnya memiliki keterbatasan mahkluk yang bisa melewatinya. Sehingga kemungkinan, hanya berkisar puluhan pasukan iblis yang datang saat pintu dimensi pertama terbuka. Sedangkan untuk kedua kalinya memerlukan jangka waktu yang tidak sebentar."


Komandan Sato terus bergumam, meskipun sama sekali tidak mendapat tanggapan dari Boulu yang masih terus berlari.


Sementara di pos penjagaan perbatasan, terlihat Akira yang masih berusaha mengarahkan ratusan penduduk untuk segera keluar dari kota naga.


"Jika ratu berniat menunggu di perbatasan, maka kami pun akan ikut menunggu di tempat ini hingga keadaan membaik. Jadi jangan paksa kami untuk pergi tuan panglima."


Beberapa orang penduduk terlihat memohon kepada Akira.


"Kalian semua sudah mendengar perintah dari raja naga. Jika memang kalian tidak mau pergi, maka itu terserah kepada kalian. Kami pun akan berusaha melindungi kalian semua semampu kami. Sekarang carilah tempat berlindung di sekitar hutan, Jangan berkerumun di tepi jalan. Beri ruang untuk para penjaga."


Semua orang mulai memindahkan kereta serta semua barang bawaan mereka ke sekitar hutan, setelah mendengar ucapan Akira.


"Ibu ratu, tidak seharusnya anda berada di tempat ini. Kenapa anda tidak memilih untuk ikut bersama dengan paman Nero."


Akira Daisuke tertunduk di hadapan Takara Kairi, yang terlihat duduk dengan tenang di dalam pos penjagaan.

__ADS_1


"Kau adalah putra ku sekarang. Jika kau yang bukan penduduk dari kota ini saja, lebih memilih untuk melindungi kota dari pada kembali ke rumah mu yang damai. Jadi kenapa aku yang memang seorang ratu di tempat ini harus pergi, sementara putra dan rajaku masih berjuang di dalam sana."


Akira hanya terdiam dan sejenak menatap gadis cantik yang masih berdiri di atas menara pengawas. Sinziku masih terus melihat kondisi istana, serta sesekali memandang jauh ke sisi yang berbeda. Berharap akan ada yang datang untuk membantu mereka.


Setelah para penduduk mulai tertib dan bisa dikendalikan, Akira beralih melesat ke atas menara pengawas. Mendekati seorang gadis yang sejak tadi hanya berdiri diam di tempat itu.


"Duduklah tuan putri, istirahatkan tubuh anda. Pulihkan kondisi tubuh mu untuk kembali bertarung nantinya."


Akira meletakkan sebuah bangku kecil di samping Sinziku, kemudian kembali berucap.


"Seharusnya tuan putri dan ibu ratu ikut pergi ke negeri Awan. Setidaknya tempat itu sedikit lebih aman saat ini."


"Lalu kau?"


Sinziku menatap wajah pria yang masih berdiri di sampingnya.


"Sejak dulu, Akira hanyalah seorang penjaga perbatasan. Jadi memang disinilah tempat ku berada."


"Jika suamiku saja berada di tempat ini. Bagaimana aku bisa pergi ke tempat lain tanpa dirinya."


"Baiklah tuan putri. I.. Itu terserah padamu."


"Bisakah kau berhenti memanggilku tuan putri?"


"A... Aku harus memanggil anda dengan apa?"


Akira terlihat begitu gugup saat ini. Bahkan wajahnya sudah benar-benar memucat.


"Kita sudah menikah. Bukankah seharusnya kau memanggilku istri?"


"Ta... Tapi tuan pu.."

__ADS_1


Akira tidak melanjutkan ucapannya. Saat bibir Sinziku sudah terlebih dahulu menempel pada bibirnya.


"Sejak upacara tadi, kau sama sekali belum mencium ku. Jadi kuambil ciuman pertamaku."


Sinziku melangkah pergi meninggalkan Akira Daisuke yang masih terdiam.


"Ternyata kau tidak sepolos dugaan ku. Kau begitu agresif tuan putri. Tapi itu bagus."


Akira Daisuke bergumam sendiri, seraya menyentuh bibirnya yang terasa sedikit berkedut. Akira bergegas melesat ke udara, setelah merasakan ada sedikit getaran pada tiang penyangga menara tersebut.


"Akhirnya. Semoga belum terlambat."


Akira melihat kepulan debu di kejauhan. Ia yakin, itu adalah pergerakan dari gorila batu. Anggota terkuat dari pasukan the beast.


Di belakang istana naga, pertarungan semakin sengit. Setelah kilatan api terlihat sesaat. Kepulan asap hitam semakin bertambah banyak, jumlahnya mungkin mencapai ratusan saat ini. Suara ledakan keras pun terdengar di atas istana.


"Pintu dimensi api terbuka kembali. Bahkan segel pelindung pun kini telah benar-benar hancur. Berapa pasukan iblis yang mereka kirimkan? Bagaimana cara mengalahkan mereka semua. Kakak dan juga rekannya tidak mungkin bisa bertahan."


Hitoshi bergumam perlahan, saat kedua matanya menangkap percikan aneh di atas langit istana. Kedua tangannya masih terus melakukan gerakan aneh untuk mengunci pergerakan kepulan asap hitam yang ada pada jangkauannya.


Yao Yin masih terus melesatkan api putih, pada kepulan asap hitam yang sudah terdiam karena segel dari Hitoshi.


"Pintu dimensi api? Apakah ada pintu lain yang bisa terbuka, selain api?"


Meskipun berkonsentrasi membidik lawannya. Namun pendengaran Yao Yin masih bisa mendengar dengan jelas, ucapan pria yang selalu duduk di atas kursi berodanya itu.


"Benar nona. Ada beberapa jenis pintu dimensi yang bisa di buka oleh mereka yang telah memiliki ilmu yang luar biasa hebat, selain pengguna segel. Bahkan ruang dimensi pun bisa mereka buat."


"Kau dengar itu Minori?"


Yao Yin melirik sekilas ke arah kuda air Keiko yang juga mendengar ucapan dari putra mahkota kerajaan naga.

__ADS_1


"Iya nona. Ruang dimensi. Aku akan membuat neraka untuk kalian para mahkluk api."


Minori mulai mengerti apa harus ia lakukan.


__ADS_2