
"Panglima Phoenix, jika tidak ada urusan yang lebih penting. Komandan meminta seluruh panglima untuk menghadiri acara pernikahan putri tunggalnya."
Seekor burung besar turun dari ketinggian, dengan cepat ia mendekati pria tua yang masih berdiri terdiam.
"Baiklah, lanjutkan tugas mu "
Phoenix tersebut kembali melesat ke udara, setelah menerima perintah.
"Bawa aku bersama mu, di sana pasti ada putra kita."
"Baiklah Reina. Dan ada apa dengan kalian berdua, tersenyum tidak jelas seperti itu kepadaku."
Panglima Phoenix terbang tersenyum kecil saat melihat putra dan putrinya tersenyum-senyum kepadanya.
"Ayah... Tolong bawa kami juga. Iya kan ibu."
Aina terus mengerjapkan ke dua kelopak matanya yang indah seraya tersenyum semanis mungkin.
"Kau memiliki sepasang mata yang indah, itulah sebabnya aku memberikan nama Aina kepadamu. Baiklah aku akan membawa kalian berdua. Lagi pula harus ada yang menjaga ibu kalian."
"Terimakasih, ayah panglima yang terbaik."
Aina bergelayutan di sebelah lengan ayahnya.
"Sebagian dari kalian akan berangkat menuju ke perbatasan kota naga. Dan sisanya akan ikut bersama dengan ku."
Panglima Phoenix terbang mulai mengeluarkan perintah kepada seluruh anak buahnya.
"Kalian berdua cepat naiklah, kalian tidak ingin ketinggalan pestanya bukan. Aina, pegang tubuh ibumu dengan baik. Aku akan terbang lebih cepat."
Panglima Phoenix terbang melesat ke angkasa, setelah istri beserta putrinya duduk dengan baik di atas punggungnya.
Sementara di dalam Kediaman komandan tertinggi pasukan the Beast, semua pelayan terlihat begitu sibuk. Mereka membersihkan setiap tempat dan tidak lupa menghias setiap sudut ruangan. Walaupun banyak pekerjaan yang membuat mereka lelah, namun senyum keceriaan selalu menghiasi setiap wajah-wajah para pelayan tersebut.
"Akhirnya nona muda menikah juga."
"Eh kabarnya suami nona muda itu sangat tampan."
"Tampan itu memang harus, bukankah nona Ai juga sangat cantik."
"Calon suami nona Ai katanya bukan berasal dari tempat kita ini."
"Memangnya apa urusanmu, yang penting dia baik, menyayangi nona Ai dan pastinya tampan. Iya kan."
__ADS_1
Berbagai bisikan dan candaan, terselip diantara mereka yang bekerja di dalam Kediaman komandan Sato.
"Ayo cepat bekerja. Bersihkan semua kamar itu. Para pengiring pengantin pria sangat banyak, jadi semua kamar itu akan terpakai. Ayo cepat bersihkan."
Suara kepala pelayan terus terdengar di setiap tempat yang ia lewati. Pria itu tidak ingin membuat keluarga besar Sato dipermalukan hanya karena pelayanan yang kurang baik.
Dari atas Classic pearl kota bulan sudah mulai terlihat. Seperti halnya Yao Yin, kini Keiko dan yang lainnya pun terkejut saat melihat para manusia yang bisa hidup berdampingan dengan kawanan hewan besar.
"Waah.. Ternyata tempat ini menyenangkan. Aku bisa berjalan-jalan di kota dengan tubuh besar ku."
Kuma tersenyum lebar.
"Jangan sampai kalian menjadi pusat perhatian. Pesta pernikahan putri komandan Sato pastilah dihadiri oleh banyak bangsawan besar, serta tokoh terkemuka. Jangan sampai ada perkelahian jika hanya untuk bersenang-senang. Dan harus ada yang menjaga bocah ini di sana nanti."
Arnius sedikit memberi nasehat.
"Ayolah kak. Setidaknya aku bukan anak kecil yang harus selalu bersama pengasuh."
Chio mendengus kesal.
"Ini bukan bumi kita bocah. Jadi tetap bersama, kau mengerti."
Genta mengusap kasar rambut Chio hingga membuatnya menjadi berantakan.
"Kita berhenti di kota itu untuk membeli hadiah bagi pengantin dan keluarganya. Jadi aku yang memimpin, kalian semua harus mengikuti perintah ku. Sekarang akan ku bagikan kepingan koinnya, dan kalian harus membeli semua barang yang aku minta. Mengerti."
Semuanya mengangguk dan menjawab ucapan Keiko secara bersamaan, karena tidak ingin berakhir membeku karena kemarahan gadis kecil itu. Zen membantu Keiko memasukkan kepingan koin emas dari dalam peti ke beberapa kantong kulit yang berukuran cukup besar.
"Satu kantong ini berisi puluhan keping emas, mungkin cukup untuk membeli seluruh barang yang ada dalam satu kios."
Zora, Robaki, Chio, Kuma, Yuki, Shiro, Mon Mon, dan juga Kuro, masing-masing menerima sekantong keping emas dari Keiko.
"Berbanggalah, karena Classic pearl bukanlah kapal miskin yang harus merampok hanya untuk mengisi perut. Komandan kita akan memberikan semua yang kalian minta jadi jangan sungkan untuk mengatakannya."
Zen menepuk pelan pundak Chio.
"Jadi kapten, bolehkah aku membeli semua barang yang aku inginkan."
Chio tersenyum penuh harap.
"Selama hal itu tidak berlebihan, tentu saja kau boleh membelinya. Tapi ingat, kau tidak boleh membeli ataupun melihat hal yang tidak boleh di lihat ataupun di miliki oleh remaja tanggung sepertimu."
Arnius sedikit mengeraskan suaranya, untuk memastikan adik seperguruannya tidak melihat ataupun membeli sesuatu di luar batas umurnya. Sementara Chio hanya mengangguk perlahan setelah mendengar ucapan Arnius.
__ADS_1
"Kau sepertinya benar-benar memerlukan pengawasan anak muda. Aku penasaran, apa yang sebenarnya ingin kau beli."
Genta berbisik pelan di samping telinga Chio.
"Dengarkan semua. Aku ingin barang-barang yang berkualitas tinggi, bisa berwujud makanan, daging, buah, perhiasan, kain ataupun perkakas. Semua jenis barang apapun yang kalian jumpai di tempat ini, beli saja semuanya asalkan itu bagus sebagai hadiah untuk keluarga baru kita."
"Dan untuk kedua calon pengantin. Aku ingin kalian membeli banyak barang kebutuhan Kana dan Ryota. Ku harap kalian bisa mempelajarinya, jika kelak kalian juga memiliki bayi."
Keiko ingin memberikan kebebasan bagi kakak keduanya untuk lebih saling mengenal pasangannya. Sehingga ia meminta keduanya untuk membeli barang bagi keponakan baru mereka.
"Ayo semua kita berangkat. Kuro, pastikan kau membantu mereka yang tidak bisa membawa barang yang sudah di beli."
Keiko memasangkan sepasang keranjang pada tubuh Kuro yang sudah gagah berdiri sebagai seekor kuda hitam.
"Minori, kau disi menggantikan ku menjaga si kembar imut ini. Jangan sampai mereka membuat ibunya terlalu lelah."
Keiko melepaskan Minori dari pergelangan tangannya.
"Yin Yin, apa kau memerlukan sesuatu?"
Sepeninggal seluruh rekannya, Arnius berucap manis kepada Yao Yin.
"Apa lagi yang aku inginkan, aku sudah mendapatkan apapun yang aku mau."
Yao Yin tersenyum manis di balik cadarnya. Ia meletakkan Kana di sisi Ryota dan membiarkan Minori menjaga keduanya. Ia kemudian berjalan perlahan mendekati Arnius yang masih berdiri memandangi seluruh rekannya yang sudah mulai menjauh.
"Aku sudah bersama dengan mu, apa lagi yang ku butuhkan."
Yao Yin memeluk erat lengan kanan Arnius dan menyandarkan kepalanya pada tubuh tegap suaminya.
"Lalu kenapa sejak kemari kau masih mengenakan baju yang bermodel sama. Apa kau tidak punya baju lainnya?"
"Sudahlah, aku masih punya banyak baju. Jangan permasalahkan hal itu, aku sudah meminta Sinziku untuk mengurus semuanya. Termasuk baju yang nantinya akan kalian pakai pada saat pernikahan Eiji."
Yao Yin semakin mengeratkan pelukannya.
"Kau memang selalu mengerti apa yang aku maksudkan. Aku tidak ingin keluarga kita di pandang sebelah mata oleh mereka yang hanya menilai penampilan."
Arnius mengusap lembut tangan istrinya.
Zen dan juga Minori begitu terkesima akan kejadian yang baru saja mereka lihat. Keduanya seolah tidak percaya, bahwa ada sisi lembut pada seorang Arnius. Komandan yang begitu tegas serta selalu mengedepankan kepentingan seluruh rekannya itu, kini berpelukan di hadapan keduanya. Walaupun sebenarnya posisi mereka membelakangi keduanya.
Sekarang Zen baru menyadari kenapa Arnius hampir tidak pernah tertidur, setelah Yao Yin di bawa pergi oleh pangeran dari negeri bulan. Dia begitu menyayangi dan mencintai istrinya, meskipun tidak pernah ia ungkapkan.
__ADS_1
"Betapa menderitanya hatimu saat itu komandan, hingga terpejam pun kau tidak bisa. Namun kau tetap kuat di hadapan kami semua."
Zen bergumam perlahan.