Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Penyebaran undangan


__ADS_3

Sesuai perintah panglima Monki, Jembatan kembali di turunkan. Pintu gerbang pun mulai terbuka. Sebuah kereta kencana megah beserta beberapa pemuda tampan nampak berkuda mengiringi kereta tersebut.


Para penduduk wilayah luar kembali berkumpul untuk sekedar melihat iring-iringan.


"Indah."


"Tampan."


"Bagus sekali."


Beberapa ungkapan terlontar dari setiap pasang mata yang melihatnya. Sementara itu, terjadi sedikit keributan di dalam rumah utama keluarga Tamura. Para pelayan sibuk menyiapkan berbagai hidangan. Bahkan beberapa penjaga diminta untuk membantu mempersiapkan ruang perjamuan.


Eiji terlihat ikut memastikan mereka semua mengerjakan semuanya dengan benar. Arnius sudah menambahkan beberapa binatang ilahi untuk membantu menjaga keamanan.


Ai Sato dan Yao Yin begitu sibuk di dapur. Kedua menantu keluarga Tamura tersebut harus memastikan jamuan bisa secepatnya di hidangkan. Tak jarang keduanya turun tangan langsung untuk memasak beberapa makanan. Minuman serta buah-buahan dan beberapa kue adalah hidangan yang pertama kali disajikan.


Minori di minta oleh Yao Yin untuk merias wajah nona muda nya. Sebenarnya tanpa dirias pun, wajah Keiko tetap terlihat cantik. Minori hanya membantu nona mudanya untuk menyisir rambut, serta memasang beberapa hiasan rambut.


Selesai dengan nona mudanya. Minori beralih untuk mengawasi tiga cucu tuan besar Tamura. Dia harus memastikan bahwa ketiganya tidak melakukan keributan saat perjamuan sedang berlangsung. Ketiga bocah kecil tersebut masih diam bersama dengan sang kakek, begitupun dengan Yuzar.


Keberadaan putra dari paman Arnius tersebut, begitu membantu untuk bisa membuat ke tiga monster kecil itu untuk tetap tenang. Yuzar terlihat lebih dewasa dari pada Ryota maupun Kana. Meskipun umur mereka terpaut jauh. Jika Ryota dan Kana tetap tinggal di bumi, umurnya pasti lebih muda dari pada Yuzar.


Namun karena perbedaan waktu yang begitu besar antara bumi dan dunia bulan. Membuat usia Ryota dan Kana lebih tua tiga tahun dari pada Yuzar. Namun dalam berpikir dan bertindak, Yuzar terlihat lebih bertanggung jawab dan lebih cepat berpikir jernih.


Iring-iringan rombongan kereta tersebut kini telah sampai di depan kediaman utama. Tuan besar Tamura beserta seluruh keluarganya berbaris rapi untuk menyambut kedatangan sang kaisar dari kerajaan naga beserta permaisuri serta seluruh pangeran dan juga sang tuan putri.


"Terimakasih atas kunjungan dari maha raja kaisar. Kami begitu tersanjung dengan kunjungan ini. Mari silahkan masuk yang mulia."


Yaza mempersilahkan seluruh tamunya untuk masuk ke rumah utama. Para pelayan mulai sibuk menyajikan beberapa minuman serta makanan. Yao Yin tetap berdiri tenang di samping Arnius, untuk memastikan semuanya terlayani dengan baik. Gina benar-benar mempercayakan semua urusan rumah dan juga dapur, kepada kedua menantunya.

__ADS_1


Sementara istri Zaka hanya duduk tenang, karena usia kandungannya sudah mencapai delapan bulan. Sehingga perutnya sudah terlihat begitu besar.


Kaisar kerajaan naga mulai mengutarakan maksud kedatangannya untuk melamar nona muda Tamura sebagai permaisuri dari putra pertamanya, Ryu kogane. Wajah Genta yang biasanya terkesan tidak tahu malu, saat ini terlihat begitu tegang. Bulir-bulir keringat dingin masih terus membasahi wajahnya. Sinziku bahkan berulang kali mengusap setiap bulir keringat yang menetes pada wajah tampan kakak pertamanya.


"Tenanglah kak. Kenapa kau begitu tegang."


Dengan sedikit berbisik, Sinziku menyentuh kepalan tangan Genta. Tangan tersebut terasa begitu dingin. Sangat berbanding terbalik dengan kebiasaannya yang mengobarkan api melalui tangannya. Arnius yang lebih sering berwajah garang, kali ini pria itu benar-benar ingin tertawa. Saat melihat wajah tegang dari sahabatnya tersebut. Genta bahkan tidak mendengarkan semua percakapan antara ayahnya dan juga tuan besar Tamura.


Setelah terdengar kata, bahwa lamaran mereka diterima dan pernikahan akan berlangsung dua hari ke depan. Genta terlihat bernafas lega. Sebelah tangannya mengelus dada, saat para pelayan sudah kembali menyajikan makanan. Dalam hati ia berkata.


"Syukurlah sudah selesai. Aah... Lebih baik kalian menyuruhku membunuh puluhan monster, dari pada harus melalui proses seperti ini. Sungguh menegangkan."


Seseorang yang duduk jauh di hadapannya menyahut ucapan tersebut. Suara Arnius terdengar di dalam kepala sahabatnya itu.


"Ini baru proses lamaran. Kau masih harus melewati proses pernikahan yang panjang dan rumit."


"Ya dewa sembunyikan aku."


Pandangan Arnius berubah tajam seolah ingin menerkam pria tersebut.


"Tentu saja aku mau. Itu impian ku. Dia harus jadi permaisuri ku."


Tangan Genta terkepal erat. Pandangannya tertuju kepada seorang gadis yang baru saja menuangkan minuman ke dalam cangkirnya. Bagi Genta, gadis itu terlihat seperti Dewi kayangan yang baru turun dari surga. Mulut Genta terbuka lebar, ke dua matanya membulat sempurna. Bahkan air liurnya hampir menetes jika Sinziku tidak menyentuh bahunya. Genta kembali tersadar. Keiko terlihat begitu cantik di depan matanya.


"Dasar budak cinta."


Pangeran Shoji yang duduk di belakangnya, berucap lirih. Sinziku sedikit geram mendengar ucapan kakak ke tiganya.


"Kakak pertama lebih baik dari mu. Dia hanya mengejar seorang gadis yaitu kakak ipar. Sedangkan dirimu. Berapa banyak gadis yang sudah kau peluk kesana ke mari."

__ADS_1


"Mereka yang mengejar cinta dari kakak tampan mu ini. Jadi bukan salahku."


Pangeran Shoji beralih menyenggol lengan Akira Daisuke yang duduk tidak jauh darinya.


"Eh .. Adik ipar. Kau juga terlihat begitu tampan. Apakah tidak banyak gadis yang mengejar mu dan meminta ciuman dari mu?"


Wajah Akira berubah tegang, selain teringat ciuman pertama yang didapatnya dari sang istri. Saat ini lirikan mata Sinziku terlihat begitu mengerikan.


"Kakak tolong kondisikan ucapan mu. Dia bisa menghabisi ku."


Akira Daisuke berucap lirih.


"Jangan takut dengannya. Bukankah kau sudah menaklukannya di dalam kamar?"


"Ka..."


Belum sempat Akira menjawab ucapan sang kakak ipar. Cangkir kecil yang berisikan minuman, sudah tersiram tepat mengenai tubuh pria tersebut. Dan berhasil menghentikan perbincangan mereka. Akira hanya menggelengkan kepalanya, begitupun dengan Masaru dan Hitoshi. Sementara Genta berucap tegas meskipun sedikit lebih pelan.


"Jangan sampai kalian mengacaukan acara ini."


Genta kembali tersenyum manis, saat Keiko kembali menyajikan beberapa buah dan makanan di meja yang ada di hadapannya.


Ai Sato dan Eiji menahan senyum mereka, saat mendengar dan melihat semua perdebatan yang dilakukan oleh ke lima saudara tersebut. Sementara Arnius hanya menggeleng tidak percaya dengan tingkah para pangeran dari kerajaan naga tersebut.


Perjamuan selesai. Para tamu dipersilahkan beristirahat di kamar yang sudah di sediakan. Kesibukan kembali terjadi di dalam rumah utama. Semua bergegas menyiapkan berbagai persiapan untuk acara pernikahan yang akan di gelar dua hari lagi.


Beberapa burung pengantar undangan sudah di diterbangkan. Bahkan Kin Raiden juga pergi sendiri untuk menyampaikan beberapa undangan pernikahan ke istana serta ke eagle rock.


Kabar kedatangan sang naga emas yang sempat terlihat oleh banyak orang, telah terdengar hingga ke kota kekaisaran. Putri Azumi dan pangeran mahkota sudah bersiap untuk berangkat menuju ke pegunungan Nagano. Mereka terlihat begitu senang, saat mendengar semua sahabat mereka telah kembali.

__ADS_1


Kabar menggembirakan kembali mereka dengar saat keduanya masih dalam perjalanan menuju ke tempat itu. Semua orang sudah mendengar bahwa nona muda dari keluarga Tamura akan menikah dengan seorang pangeran dari istana naga. Pupus sudah harapan para bangsawan untuk mempererat hubungan mereka dengan klan Tamura yang terkenal kuat dengan armada tempur mereka.


Seluruh bangsawan yang tadinya mengirimkan permintaan untuk meminang nona muda Tamura, saat ini telah menerima undangan pernikahan dari nona muda yang terkenal dengan kecantikannya. Ada yang terlihat begitu geram dan ada pula yang hanya terlihat pasrah.


__ADS_2