
Penjaga di wilayah luar mulai di ganti. Beberapa orang terlihat melompat dari atas gerbang maupun melayang turun hingga melewati batas sungai. Beberapa orang terlatih mulai menggantikan tugas penjagaan di wilayah luar.
Panglima Monki sudah mengatur semuanya demi keamanan klan, jika nantinya akan banyak orang yang mengetahui kedatangan tuan muda Tamura. Mereka bisa saja berbondong-bondong untuk sekedar melihat orang yang telah lama mereka nantikan.
Bahkan saat ini para penjaga yang tadinya berjaga di luar mulai kembali ke rumah peristirahatan di wilayah luar, karena tugas mereka sudah di gantikan. Namun mereka tetap harus bersiaga jika diperlukan.
Kilatan cahaya di atas langit Nagano sempat terlihat oleh banyak orang. Gabungan dari pedang bulan dan black diamond serta ilmu segel pemindah yang dimiliki oleh Eiji, membuat Classic pearl muncul tepat di atas langit pegunungan Nagano.
Seluruh rombongan mulai turun perlahan. Para penjaga serta beberapa pelayan mulai berbaris menyambut kedatangan tuan muda serta nona muda mereka. Yaza dan juga Gina bergegas menuju halaman belakang.
Ingin rasanya kedua orang tua itu berlari secepat mungkin untuk menyambut putra dan putri yang mereka rindukan. Namun apa daya, tubuh tua mereka hanya mampu berjalan perlahan.
"Selamat datang kembali tuan muda."
Ucapan serentak seluruh penjaga serta pelayan, terdengar bergemuruh. Ketiga panglima sudah tertunduk dihadapan tuan muda mereka, dengan sebelah lutut mereka yang menempel di tanah.
"Bangunlah panglima."
Arnius berucap pelan, seraya membantu ketiganya untuk kembali berdiri. Sementara itu terdengar suara teriakan yang begitu serak dari kejauhan.
"Nius ku kembali."
"Cucu ku. Kakek di sini."
Meskipun serak, namun kedua orang tua tersebut masih berusaha berteriak sekeras mungkin. Arnius melesat cepat dan bersimpuh di hadapan ayah serta ibunya. Kepulan asap hitam serta kilatan api emas melesat cepat mendekat ke asal suara.
Kedua tangan Arnius bergerak cepat untuk menangkap lesatan api serta kepulan asap tersebut.
"Kakek dan nenek kalian tidak akan tahan jika kalian berwujud seperti ini di dekat mereka."
Ujung baju Kana dan Ryota sudah berada di genggaman tangan ayah mereka.
"Maaf ayah. Kami hanya ingin bertemu dengan kakek dan nenek secepatnya."
"Bertingkah sewajarnya. Jangan keluarkan kekuatan kalian saat berada di samping kakek dan nenek. Tubuh mereka berbeda dengan kalian."
"Baik ayah."
Kedua bocah kecil itu mulai berdiri dengan sopan di hadapan Yaza dan juga Gina.
"Kana dan Ryota memberi hormat untuk kakek dan juga nenek."
Keduanya mulai sedikit membungkuk.
"Kemarilah cucu ku, ayo peluk kakek."
Ryota dan Kana berhambur memeluk orang tua yang masih duduk di atas kursi rodanya.
"Kazumi juga memberi hormat untuk kakek dan nenek."
Suara cadel Kazumi terdengar begitu menggemaskan. Gina hampir berlari untuk merengkuh tubuh mungil tersebut kedalam pelukannya. Ai Sato, Yao Yin serta Eiji berdiri berjajar di belakang gadis mungil tersebut.
"Yin Yin. Dan gadis cantik ini."
Gina beralih memeluk Yao Yin kemudian mengusap lembut wajah cantik Ai Sato.
"Dia istriku. Menantu ibu."
Eiji menjawab singkat. Gina memeluk erat tubuh Ai Sato.
"Jadi malaikat kecil ini putri kalian?"
Gina beralih menggendong tubuh mungil Kazumi. Eiji dan Ai Sato hanya tersenyum seraya mengangguk perlahan.
"Cantiknya cucu nenek."
Gina terus mencium kedua pipi tembem Kazumi.
__ADS_1
"Ibuuuu... Hik.. Hik.. Kau melupakan aku."
Keiko hampir menangis karena merasa diacuhkan.
"Kau ini sudah besar, kenapa masih saja manja. Dasar tuan putri manja."
Gina memeluk dan memukul pelan kepala putri bungsunya tersebut. Gina beralih menyapa semua orang.
"Kapten Zen, kau terlihat lebih besar. Tuan sensei terimakasih telah menjaga mereka. Nak Wu Ling, ya ampun kamu gagah sekali. Yuki, kau juga semakin tampan. Dan kalian?"
Gina berhenti setelah melihat beberapa orang yang belum dikenalnya.
"Kami adalah adik seperguruan komandan Arnius nyonya besar."
Chio, Shiro, Kuma, Robaki dan Kuro menunduk hampir bersamaan.
"Lalu di mana tuan Phoenix merah?"
"Di sini nyonya besar."
Kin Raiden sedikit menggeser tubuhnya yang tertutup oleh tubuh besar Kuma. Gina kembali tersenyum.
"Siapa gadis ini tuan Raiden?"
Tangan Gina menarik perlahan lengan Seina.
"Se... Seina memberi hormat nyonya besar."
Dengan sedikit gugup, Seina berucap.
"Kau istri dari tuan Phoenix merah?"
"Be.. Benar nyonya besar."
"Ah.. Jangan sungkan kepada ku. Anggap saja kita ini semua saudara. Aku bahkan menganggap tuan Phoenix merah seperti halnya putra ku."
"Selamat siang besan."
Makaira sedikit menunduk di hadapan Gina.
"Besan? Ya ampun maaf sudah mengabaikan kalian."
Gina berulang kali menunduk di hadapan Makaira dan juga komandan Sato.
"Dasar anak nakal. Kenapa kalian tidak mengenalkan kedua mertua mu. Ya ampun."
Gina beralih memukul pelan punggung Eiji yang masih berdiri tidak jauh darinya.
"Dan tuan?"
"Saya Benjiro nyonya. Saya adalah ayah dari Kin Raiden."
"Ya ampun.. Iya selamat datang semuanya. Mari kita masuk dan berbincang di dalam. Ayo silahkan."
Gina mempersilahkan semua tamunya masuk ke rumah utama, sebelum kembali berucap.
"Tunggu... Dimana putra tampan ku yang lain?"
Gina kembali melihat satu persatu semua teman putranya. Kin Raiden pun mengerti siapa yang tengah di cari oleh perempuan tua tersebut.
"Dia di sana nyonya besar."
Raiden menunjuk Genta yang masih berdiri dan berjalan di atas dinding pagar besar yang menutupi seluruh wilayah klan Tamura. Meskipun dengan suara yang sedikit serak dan pelan, namun Gina mencoba untuk berteriak.
"Genta. Apa yang kau lakukan di sana. Apa kau tidak ingin memeluk ibumu ini."
Meskipun pelan, namun Genta mampu mendengar suara wanita tua tersebut. Dia melesat cepat dan berdiri di hadapan Gina.
__ADS_1
"Maaf ibu.. Ayo peluk aku ibu."
Meskipun Genta berucap ingin di peluk, namun justru kedua tangannya saat ini yang memeluk erat tubuh tua Gina.
"Anak nakal. Apa kau ingin ibumu ini kehabisan nafas. ayo lepaskan. Kasian cucu cantik ku terjepit."
Gina menepuk pelan punggung Genta yang masih memeluknya erat.
"Aku kira kau dan tuan Phoenix merah tidak ikut pulang. Karena menurut kakek tua itu, di sanalah tempat kalian berasal. Tapi kalian justru membawa keluarga kalian untuk menengok orang tua ini. Lalu, apa kau sudah bertemu dengan orang tuamu?"
Gina mencubit hidung mancung pemuda tampan dihadapannya itu.
"Iya ibu. Aku bahkan memiliki tiga saudara laki-laki dan satu adik perempuan."
Genta tersenyum manis.
"Terimakasih dewa kau sudah mempertemukan mereka semua. Ayo sekarang kita masuk."
"Jung Jung. Siapkan semua hidangan serta kamar untuk semua orang."
Gina beralih menatap Jung Bao dan yang lainnya.
"Siap nyonya."
Gina melakukan semua itu tanpa meletakkan Kazumi. Putri kecil Eiji itu masih terus dalam gendongan neneknya.
"Nenek... Aku juga mau di gendong."
Kana dan Ryota menarik-narik ujung baju Gina.
"Ya ampun. Jika tubuh nenek ini bisa menggendong kalian bertiga, pasti nenek akan melakukannya."
Gina mencium pucuk kepala satu persatu semua cucunya.
"Ayo sini semua ikut kakek. Berikan yang kecil itu padaku nenek, letakkan di pangkuanku. Dan kalian berdua dorong kursi ini. Ayo kita bergulat di kamar nanti. Kakek akan bercerita banyak."
Yaza pun tidak ingin ketinggalan untuk bisa menggendong cucu-cucu mereka, meskipun hanya bisa bermain dengan Kazumi yang masih bertubuh mungil dalam pangkuannya. Kakek tua itu hampir tidak pernah berhenti menciumi ketiga cucunya.
"Kaki kakek sakit?"
Ryota mengusap kedua lutut kakeknya, setelah mereka semua masuk ke dalam sebuah ruangan besar.
"Iya tampan. Ingat kau harus menjaga dua bidadari ini. Jadi berlatihlah sekuat mungkin."
Yaza mengusap kepala Ryota yang masih berjongkok di hadapannya.
"Siapa yang telah menyakiti kakek?"
Ryota kembali bertanya.
"Tenanglah Ryota. Bibi mu yang cantik ini sudah mencincang habis manusia laknat itu."
Keiko ikut bergabung bersama mereka. Yaza yang merasa sedikit tidak menyukai ucapan Keiko, segera menyahut ucapan putri satu satunya itu.
"Tidak cucuku. Dengarkan kakek. Tanamkan di hati kalian bahwa menyimpan dendam itu tidaklah baik. Semua itu hanya akan membuat hidup kalian dipenuhi dengan kesengsaraan. Diantara yang kuat masih ada yang terkuat. Di atas langit masih ada langit. Semuanya sudah di atur oleh yang memiliki hidup dan dia jugalah yang berhak mematikan seseorang melalui cara apapun. Tanamkan sifat untuk lebih sering memaafkan setiap tindakan orang lain yang mungkin merugikan kita. Kalian mengerti?"
"Terlalu panjang kakek. Zumi susah menghapalkannya."
Serentak semua tertawa lepas, setelah mendengar suara cadel Kazumi. Para pelayan mulai menyiapkan berbagai jenis hidangan. Mereka makan sambil bercerita apapun. Yaza mulai teringat akan permintaan beberapa bangsawan, mengenai putra putri mereka.
"Sekian lama kalian pergi. Aku menerima berbagai hadiah dan permintaan beberapa bangsawan untuk meminang putri ku serta putra kedua ku. Bahkan ada yang menyerahkan putri mereka sebagai selir dari putra pertama ku."
Semua yang ada di ruangan itu begitu terkejut dengan ucapan pria tua yang selalu saja berusaha menyuapi cucu-cucunya makan. Tuan besar Tamura kembali berucap.
"Aku tidak pernah menerima maupun menolak permintaan mereka. Aku bahkan meminta mereka untuk membawa kembali semua hadiah yang telah diberikan. Aku pun meminta Jung Bao untuk menyiapkan bingkisan yang tentunya tidak akan membuat mereka kecewa. Jadi bagaimana menurut kalian?"
Yaza meminta Jung Bao untuk mengeluarkan semua data para bangsawan yang telah mengirimkan permintaan mereka. Jung Bao mengeluarkan sebuah cincin ruang dan mulai mengeluarkan semua isinya. Tumpukan kertas yang menggunung tinggi hampir memenuhi sudut ruangan.
__ADS_1
Arnius dan Eiji hanya bisa menggeleng tidak percaya. Keduanya hampir bersamaan menepuk pelan kepala masing-masing. Sementara Ai Sato dan juga Yao Yin memperlihatkan wajah masam, seolah siap untuk memutar balikkan dunia ini. Bahkan kepalan tangan Genta hampir saja mengeluarkan api, jika pria itu tidak segera menahannya.