Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Lamaran keluarga Ryu


__ADS_3

Arnius meminta Ryu kogane untuk mendarat di wilayah luar. Terlihat seekor gorila besar yang bertubuh batu di tempat tersebut. Zaka memegang erat lengan keponakannya saat melihat tubuh gorila yang begitu besar serta begitu mengerikan.


"A.. Apa klan kembali di serang. Dan mahkluk apa itu. Dia terlihat begitu mengerikan."


Zaka tergagap saat melihat mahkluk besar tersebut. Arnius hanya menjawab seadanya tentang ucapan pamannya.


"Dia Doulu. Teman bermain anak-anak ku. Cucu paman."


Zaka serta semua pengawal yang mendengar hal itu, serentak menelan ludah mereka dengan susah payah. Tubuh dan kedua kaki mereka terasa bergetar hebat, saat mereka melewati gorila bertubuh batu yang diketahui bernama Doulu.


Dari kejauhan terlihat seorang gadis berjalan mendekat dan memeluk erat tubuh Zaka.


"Keiko. Nona muda Tamura memang pantas untuk di perebutkan. Kau begitu menawan."


Zaka menepuk pelan kepala keponakan cantiknya. Saat hendak menanyakan keadaan sang paman, Arnius bergegas menarik lengan gadis tersebut.


"Siapa yang menyuruhmu keluar?"


"Aku hanya mengikuti keponakan tampan ku yang sok jagoan itu."


Keiko menunjuk keberadaan Ryota yang berdiri di atas bahu Doulu. Arnius hanya menggeleng perlahan, kemudian memerintahkan putranya itu untuk turun.


"Ryo, kemari dan beri salam kepada kakek Zaka."


Ryota menurut dan mulai turun perlahan. Pria kecil itu menunduk hormat dihadapan Zaka.


"Ryota memberi hormat kakek Zaka."


Zaka merengkuh tubuh Ryota ke dalam pelukannya, kemudian berucap pelan seraya mencium kening pria kecil tersebut.


"Kakek besar Yaza begitu merindukan kalian. Jadi sebaiknya kau tetap berada di sisinya."


"Kau dengar ucapan kakek Zaka. Sekarang juga kembali ke rumah bersama bibi Keiko."


"Baik ayah."


Ryota tertunduk lesu dan mulai melangkah gontai bersama sang bibi cantik Keiko. Keduanya menjadi pusat perhatian dari semua mata pengunjung wilayah luar maupun para pengawal mereka sendiri.


Para penjaga itu semakin terpukau saat melihat tuan muda kecil mereka melesat cepat melompati pintu gerbang klan yang cukup besar dan tinggi. Keduanya sama sekali tidak menggunakan kuda maupun kereta untuk sampai di kediaman utama. Mereka berdua hanya melesat dengan sesekali menapak pada dahan pohon ataupun batu. Para pengawal semakin di buat terpana oleh aksi pria yang bertubuh serta berusia lebih muda dari mereka.


Untuk melesat serta menapak pada dahan atau apapun yang ada di sekitar mereka, merupakan salah satu latihan dari semua penjaga. Namun mereka masih belum bisa menyamai kecepatan yang digunakan oleh pria kecil tersebut.


Eiji sudah memberikan pengertian kepada Doulu dan Dielu tentang semua penjaga serta anggota keluarga inti yang harus mereka kenali. Seperti saat ini Doulu sedikit menunduk untuk mengamati serta mengendus aroma tubuh Zaka.


Sementara Zaka semakin merinding dan bergetar hebat saat wajah gorila bertubuh batu tersebut semakin dekat dengannya. Arnius menyentuh bahu sang paman, untuk sekedar membuatnya lebih tenang.


"Sepertinya Doulu hanya ingin melihat wajah paman lebih dekat. Karena dia ingin memastikan siapa yang harus ia lindungi."


"Hai Doulu. A.. Aku Zaka. Paman Arnius dan Eiji serta Keiko."


Sejenak Zaka berhenti berbicara. Ia sedikit berbisik pada Arnius.

__ADS_1


"Apakah dia mengerti apa yang aku ucapkan?"


"Entahlah paman. Eiji yang lebih memahami mereka. Karena keduanya adalah milik adik ipar. Istri Eiji."


"Mereka? maksud mu dia mempunyai teman? Jadi ada beberapa mahkluk seperti dia?"


"Benar paman. Binatang seperti Doulu ini ada beberapa kawanan. Namun adik ipar, hanya memiliki Doulu dan Dielu."


"Lalu dimana yang satunya?"


"Aku memintanya untuk menjaga di wilayah dalam."


Zaka mengangguk mengerti. Arnius beralih menatap Harimau putih yang setia berjaga di samping jembatan penghubung yang sudah terangkat.


"Nara. Apakah kau sudah bertemu dengan saudara mu?"


"Saya sempat melihatnya sejenak sebelum berangkat ke tempat ini bersama dengan Doulu tuan muda."


"Aku akan meminta Jung Bao menemui dirimu jika dia sudah tidak lagi sibuk."


"Terimakasih tuan muda."


Arnius beralih menatap semua pengawal yang ada di tempat tersebut.


"Terimakasih atas kerja keras kalian. Tetap waspada dan jangan lupa bergantian untuk beristirahat."


"Siap tuan muda."


"Itu pil terbaik. Kalian bisa meminum pil itu pada saat terluka. Asalkan kalian masih memiliki satu nafas, kalian pasti masih tetap bisa bertahan. Dan untuk semua teman binatang ilahi ku. Kalian bisa meminta kembali air kehidupan ini kepada Jung Bao."


Semua serentak menunduk sesaat, sebelum Arnius melesat meninggalkan tempat tersebut. Semua pandangan beralih kepada seorang pria tampan yang tadinya masih berwujud seekor naga.


"Laporkan padaku atau pada semua panglima kalian, jika ada hal yang terlihat mencurigakan."


Genta sedikit tersenyum untuk sekedar mencairkan suasana yang terkesan begitu tegang, sebelum dia berucap kembali.


"Kalian tidak perlu takut dengan dia gorila bertubuh batu ini. Jika mereka berulah, kalian bisa mengatakannya padaku atau ke tiga bocah kecil itu. Ee.. Maksudku ke tiga cucu tuan besar kalian. Santai saja bung. Semua akan tetap aman selama ada Ryu kogane."


Genta kembali tersenyum serta menepuk dadanya bangga. Namun tiba-tiba tubuhnya melayang terbalik dengan kaki berada di atas. Pria itu mengumpat panjang lebar saat mengetahui bahwa Doulu yang mengangkat sebelah kakinya hanya dengan menggunakan dua pasang jarinya.


"Doulu turunkan aku. Dasar monyet besar tidak tahu aturan. Kau menghancurkan harga diriku di hadapan mereka semua. Gorila batu sialan. Kau mau ku lahap habis haaa.."


Doulu melepaskan kedua jarinya, hingga menjatuhkan tubuh Genta. Pria itu berhasil menguasai kembali tubuhnya, hingga melayang tepat di depan wajah Doulu.


"Siapa yang menyuruhmu berbuat seperti itu kepada ku?"


Wajah Genta terlihat merah padam. Sudut mata Doulu melirik ke satu arah. Genta mengikuti pandangan itu dan mulai menyadari keberadaan Keiko di sana.


"Bukankah dia sudah pergi bersama dengan Ryota tadi? kapan dia kembali ke tempat ini lagi?"


Genta bergumam perlahan seraya turun dari ketinggian.

__ADS_1


"Hai cantik. Kenapa kau masih ada di sini?"


Genta tersenyum kecil saat melihat Keiko yang sudah berdiri di depan gerbang.


"Untuk memastikan kau tidak berulah."


Keiko berucap ketus, seraya melipat ke dua tangannya di depan dada.


"Aku hanya memastikan tidak akan ada yang melamar dirimu, selain diri ku nantinya."


"Lalu kapan?"


Genta benar-benar terkejut dengan ucapan Keiko barusan.


"Ba.. Baiklah. Aku akan melamar mu sekarang cantik ku."


Genta hampir terjatuh, saat melihat sedikit senyum dari sudut bibir gadis cantik yang begitu dipujanya.


"Pangeran. Kau harus mempersiapkan semuanya, sebelum melamar nona Kei."


Ucapan seseorang membuyarkan senyuman Genta. Komandan Sato terlihat berdiri tidak jauh darinya. Sementara Keiko sudah tidak terlihat kembali.


"Maksud komandan?"


"Tenanglah pangeran. Kami sudah mengatur semuanya."


Genta hampir melompat, saat komandan Sato mengedipkan sebelah matanya.


"Lamaran seorang pangeran dari kerajaan naga haruslah meriah dan berkesan."


Genta masih saja diam, saat mendengar komandan Sato yang masih saja mengucapkan hal yang tidak ia mengerti. Komandan Sato mulai mengarahkan energinya ke atas selama beberapa saat. Sebuah kilatan cahaya mulai terlihat di atas sana.


"Pintu dimensi."


Genta bergumam perlahan. Komandan Sato hanya mengangguk perlahan. Sebuah kereta kencana mulai terlihat melayang turun dari ketinggian. Beberapa orang pun terlihat melayang turun dengan perlahan.


"Kalian."


Genta terkejut bukan main, saat melihat ke empat saudaranya dan juga Akira Daisuke.


"Ayolah kak. Berpakaian lah sedikit lebih baik. Kita akan melamar kakak ipar."


Sinziku sedikit mengibaskan tangannya hingga membuat pakaian yang dikenakan oleh pria yang ada di hadapannya itu berubah.


"Hei.. Sejak kapan kau bisa ilmu sihir."


Genta menggeleng tidak percaya. Sementara Sinziku tersenyum kecil seraya melirik ke arah suaminya. Akira hanya berdehem pelan dan mulai mendekati seorang penjaga.


"Penjaga tolong sampaikan kepada tuan besar Tamura. Bahwa keluarga Ryu ingin mengajukan lamaran untuk nona muda Tamura."


"Baik tuan."

__ADS_1


__ADS_2