Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Oasis


__ADS_3

Kin Raiden ingin sekali menggantikan Eiji untuk menggendong tubuh Arnius. Sudah berulang kali Phoenix merah itu meminta kepada tuan mudanya, namun jawaban yang didengarnya pun selalu sama.


"Kau tahu, sejak dulu kakak ku ini hampir tidak pernah membiarkan aku terlalu lelah berjalan. Dia selalu saja mengendong tubuh ku di punggungnya. Bahkan dia juga membuat sebuah keranjang anyaman untuk membuat ku tetap nyaman di punggungnya. Namun terkadang dia juga membuat ku selalu terguncang di dalam keranjang tersebut, karena dia selalu saja berlari."


Senyum kecil tersungging di wajah Eiji, saat ia kembali mengingat masa kecil mereka.


"Menggendong tubuhnya saat ini bukanlah apa-apa dibandingkan dengan apa yang sudah dia berikan kepada ku dulu."


Bulir bening sedikit menggumpal di ujung matanya, saat dia kembali melanjutkan ucapannya.


"Dia sering memarahiku, namun semua itu untuk kebaikan ku. Dia benar-benar seorang kakak yang begitu menyayangi adiknya. Arnius kecil bahkan berani mempertaruhkan selembar nyawa miliknya hanya untuk menyelamatkan adiknya ini. Aku, Eiji Tamura. Seorang adik yang bahkan tidak bisa menjaga kakaknya sendiri."


Gumpalan air mata itu, kini benar-benar menetes. Eiji segera menyekanya, kemudian kembali mengeratkan tangannya supaya tubuh kakak lelakinya tidak terjatuh.


Semua rekannya mendengar kisah yang diceritakan oleh pemuda tampan yang berjalan beriringan bersama dengan mereka.


"Saat ini bukan hanya dirimu yang merasakan kasih sayang serta perlindungan darinya. Aku pun menganggapnya kakak, teman dan juga orang tua ku. Yang jelas kalian semua berarti untuk ku."


Chio berucap pelan seraya mengusap wajahnya yang dipenuhi keringat.


"Ayolah, sampai kapan lagi kita harus berjalan. Aku bisa kehilangan seluruh berat badan ku jika harus berjalan terus."


Kuma mulai mengeluh.


"Bukannya kau melihat sungai yang jernih di sana?"


Wu Ling tersenyum kecil seraya kembali menunjuk tempat yang menjadi tujuan mereka.


"Haah... Jangan mengelabui ku Wu Ling."


Kuma mendengus kesal.


"Ha... Ha... Tadi bukannya kau sendiri yang bilang bahwa di sana ada sungai."


Seluruh rekannya tertawa lepas.


Setelah melewati beberapa batu besar, terlihat beberapa rumput dan juga pohon tumbuh di tempat itu. Kuma bergegas berlari untuk berteduh di bawah pohon yang dilihatnya.


"Ayo berjalan lebih ke dalam, mungkin kita bisa menemukan sungai untuk berendam."


Kin Raiden sedikit mengeraskan suaranya, saat berjalan melintasi tubuh Kuma yang sudah terkapar di bawah pohon. Mendengar kata berendam, beruang besar itu bergegas bangkit dan hampir berlari mendahului seluruh rekannya. Semuanya kembali tertawa melihat tingkah beruang besar tersebut.


Setelah cukup lama berjalan menyusuri hutan kecil itu, mereka melihat aliran sungai kecil di depan mereka. Terlihat tubuh Kuma sudah berendam di tengah aliran sungai yang tidak begitu deras. Kuma terus saja menyiramkan air ke seluruh tubuhnya yang memang tidak semua terendam oleh air. Sungai itu tidaklah lebar dan juga tidak dalam, namun airnya terlihat begitu jernih dan menyegarkan.


Zora kembali mengeluarkan ranjang kayu miliknya dan meletakkannya di bawah pohon yang rindang. Eiji meletakkan tubuh Arnius di atas ranjang tersebut, kemudian ia mulai membersihkan wajah dan tubuh kakak lelakinya dengan menggunakan kain basah. Pria tampan itu juga mengganti pakaian Arnius yang sudah kotor.


Chio datang dengan membawa satu janjang buah kelapa yang masih muda. Pria muda itu bergegas mengupasnya dan meminta Eiji untuk meminumnya, tak lupa ia menyimpan beberapa lagi untuk kakak seperguruannya yang masih tidak sadarkan diri.

__ADS_1


Eiji menuruti keinginan remaja tanggung tersebut. Semua rekannya pun ikut menikmati air kelapa muda itu untuk sekedar membasahi tenggorokan mereka. Bahkan Kuma tak cukup hanya dengan meminum satu buah kelapa saja, beruang besar itu menghabiskan semua kelapa yang tersisa. Namun Chio tetap menyimpan dua buah kelapa yang akan ia berikan kepada Arnius.


"Kenapa kau tidak memanjat sendiri pohon kelapa itu. Kau hanya tahu menghabiskan saja."


Kuma tidak menghiraukan semua umpatan Chio, karena beruang itu tahu bahwa mereka tidak perlu repot memanjat sebuah pohon jika ada Yuki di antara mereka. Pengendali tanah itu selalu bisa menggoyangkan pepohonan untuk menggugurkan semua buahnya.


"Kenapa tidak ada malam di tempat ini?"


Eiji bergumam sesaat. Namun suaranya terdengar jelas oleh semua rekannya.


"Mungkin hal itulah yang menyebabkan kakak mu tidak tahu berapa lama dia pergi meninggalkan putra dan putrinya."


Kin Raiden memberikan sedikit tanggapan.


"Benar juga."


Eiji mengangguk mengerti.


"Jadi bagaimana sekarang, kapan kita bisa kembali lagi ke dunia bulan itu."


Kuma ikut berbicara.


"Apa perut besar mu sudah mulai lapar?"


Chio tersenyum sinis.


Baru saja kuma selesai berucap, terdengar suara khas perutnya yang sudah minta di isi.


"Kita tunggu sampai tubuh Arnius kembali pulih."


Zora kembali memeriksa kondisi tubuh Arnius.


"Suara perut mu membuat ku bangun beruang besar."


Arnius mulai membuka kedua matanya.


"Kakak syukurlah kau sudah sadar."


Eiji bergegas mendekati tubuh kakak lelakinya dan membantunya untuk bangun.


"Terimakasih semuanya, aku akan memulihkan tenaga ku terlebih dahulu."


Arnius kembali memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk memulihkan kondisi tubuhnya.


Chio dan Yuki memutuskan untuk kembali berkeliling, mereka berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa di makan. Tubuh Arnius begitu lemah, mereka sadar jika komandan mereka itu memerlukan asupan makanan.


Cukup lama Arnius memejamkan matanya, hingga akhirnya mata itu kembali terbuka. Eiji menyadari hal itu, kemudian ia menyodorkan satu buah kelapa muda kepada kakak lelakinya.

__ADS_1


"Terimakasih, apa kau sudah makan?"


"Sudah. Itu bagian mu, minumlah kak."


Arnius tersenyum kecil seraya menenggak habis satu buah kelapa muda pemberian Eiji.


"Kami tidak menemukan makanan, hanya ada beberapa buah. Makanlah, cuma ini yang tersisa. Kuma memakan semuanya."


Yuki menyerahkan beberapa buah kepada setiap rekannya.


"Ini untuk mu, habiskan sekalian."


Eiji melemparkan satu kelapa muda yang tersisa kepada beruang besar tersebut.


"Terimakasih."


Wajah Kuma kembali cerah. Sementara semuanya hanya bisa tertawa, melihat kelakuan beruang besar tersebut.


"Jika kakak sudah merasa lebih baik, bagaimana kalau kita kembali sekarang."


Eiji berusaha membujuk kakak lelakinya.


"Tidak, aku masih belum menemukan yang aku cari."


Arnius menjawab singkat.


"Baiklah, ayo kita mencarinya. Bagaimana bentuk benda itu?"


"Entahlah, namun para mahkluk iblis itu pernah berkata bahwa batu mutiara api neraka ada di sekitar tempat ini."


"Sejak kita mengalahkan mahkluk itu hingga tiba di tempat ini, kami belum berjumpa lagi dengan mereka di tempat ini. Bahkan sepertinya tempat ini tidak berpenghuni."


Yuki yang sedari tadi terus mengamati lingkungan di sekitar tempat tersebut ikut berucap.


"Bagaimana kalian bisa menemukan tempat ini?"


Arnius kembali berkata.


"Aku mendeteksi tempat di sekitar sini dan memang hanya tempat inilah yang sedikit teduh. Sementara tempat yang lainnya begitu panas."


Kin Raiden menghentikan sejenak ucapannya dan kembali berkonsentrasi untuk memeriksa seluruh tempat di sekitarnya.


"Aku rasa tempat ini adalah oasis."


Eiji mencoba menerka.


"Aku rasa kau benar, karena tempat ini tidak begitu luas."

__ADS_1


Kin Raiden kembali membuka ke dua matanya.


__ADS_2