
"Tidak mungkin, mahkluk itu adalah ... Tidak kita harus pergi, jika benar dugaan ku. Kemungkinan untuk bisa selamat sangat kecil, jika kita harus berhadapan dengan mahkluk itu. Pergi, ayo cepat kita pergi dari tempat ini sebelum terlambat."
Tubuh Yao yin bergetar hebat saat melihat mahkluk besar yang ada di bawahnya, selain karena menahan rasa sakit karena tulangnya yang patah dan juga memar akibat benturan pada kakinya, saat ini gadis cantik itu merasa sedikit ketakutan.
Arnius memberi tanda untuk melanjutkan perjalanan mereka, namun belum jauh mereka dari tempat tersebut tubuh ketiga binatang ilahi yang menjadi tunggangan mereka membeku tanpa alasan.
"Tidak tubuh ku kenapa, kalian cepat lakukan sesuatu."
Kin Raiden berteriak saat tubuhnya tiba-tiba terjun dari ketinggian dengan sendirinya.
Raiden masih tetap membentangkan kedua sayapnya untuk mencoba memperlambat laju jatuhnya. Phoenix merah tersebut menyadari bahwa sang naga emas juga mengalami hal sama seperti dirinya.
Geraman sang naga emas terdengar begitu menggelegar saat tubuh naga besar tersebut terjun tanpa memperdulikan seluruh penunggangnya yang terjatuh. Arnius sama sekali tidak mengerti cara mengendalikan udara di sekitar tubuh naga emas tersebut sehingga tubuh naga yang begitu besar lebih cepat turun dari pada sang Phoenix.
Eiji, Wu Ling serta Naoki berusaha keras memadatkan udara di sekitar mereka. Ukuran tubuh para binatang ilahi yang begitu besar membuat ketiganya harus mengeluarkan hampir seluruh tenaganya untuk memadatkan udara dalam jarak yang begitu luas. Kecepatan terjun sang naga mulai melambat setelah Eiji dan lainnya mulai berusaha keras mengendalikan udara di sekitar mereka.
Raiden terus berusaha mempertahankan tubuhnya untuk melayang lebih lama, serta tidak bergerak sedikitpun supaya tidak ada satupun penunggangnya yang terjatuh. Mata besar sang Phoenix terus memperhatikan pergerakan Arnius yang mulai menyelamatkan satu persatu rekannya.
"Kei."
Arnius berteriak kencang sambil menatap tajam adik perempuannya saat ia mulai menyambar tubuh tua Kakek Yao serta mereka yang berjarak lebih dekat dengannya ke dalam giok hitam. Setelahnya Arnius bergegas mendekati tubuh Maroon yang juga mulai terjun dari ketinggian.
__ADS_1
Tubuh Zen yang cukup besar nampak terus berguling bersalto bebas, suara teriakannya begitu memekakkan telinga. Arnius memukul pelan punggung pria besar tersebut hingga tersadar dari kepanikannya, sayap kecil elang perak di punggungnya mulai keluar serta membuat tubuhnya melayang dengan baik di udara.
Arnius bergerak secepat mungkin memasukkan satu persatu anggotanya ke dalam giok hitam, namun tidak dengan ke tiga binatang ilahi tersebut. Menurutnya akan sangat berbahaya jika memasukkan mereka serta. Ketiganya saat ini tidak mampu mengendalikan tubuh mereka sendiri sehingga mungkin saja akan membahayakan nyawa yang lainnya karena ukuran mereka saat ini begitu besar.
Minori membentangkan kedua sayapnya lebar-lebar saat menyadari tubuhnya yang tidak dapat ia kendalikan. Ke empat kaki Minori berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang masih saja meluncur. Teriakan Arnius menyadarkan Keiko untuk segera membantu menyelamatkan Zora, Haruka, serta Azumi yang juga masih saja meluncur ke bawah. Keiko berusaha menangkap tangan mereka satu persatu untuk membuat ketiganya saling bergandengan membentuk lingkaran bersama dengan dirinya agar tetap bertahan lebih lama di udara serta menunggu kedatangan Arnius untuk memasukkan mereka ke dalam giok hitam.
Pekik burung terdengar mendekat, nampak burung kayu Yao yin melayang perlahan ke arah mereka. Yao yin bergegas menaiki burung tersebut kemudian mulai menghampiri Keiko yang tengah melayang bersama ketiga rekannya. Setelah ketiganya duduk dengan benar, burung kayu tersebut kembali bergerak mensejajarkan tubuhnya dengan sang Phoenix.
Arnius bersama Keiko memindahkan satu persatu rekan mereka dari punggung Phoenix tersebut ke atas burung kayu Yao yin. Yuki, Sayuri, Wu Ling, Zora, Haruka, Azumi dan juga Naoki telah berada di atas burung kayu.
"Segera menjauh dari tempat ini."
"Zen kau ikuti mereka."
Arnius bergegas mendekati Zen yang masih melayang dengan baik. Pria setengah baya tersebut hanya mengangguk perlahan kemudian bergegas mengikuti arah terbang burung kayu Yao yin.
Hanya Eiji, Keiko serta Arnius yang saat ini masih bertahan di udara untuk membantu para hewan besar tersebut supaya tubuh mereka tidak hancur saat menghantam daratan.
"Bagaimana bisa terjadi, apa yang mahkluk aneh itu lakukan dan bagaimana mendaratkan mereka tanpa terluka."
Arnius bergumam saat pikirannya berusaha menemukan cara menyelamatkan teman setianya.
__ADS_1
Terlintas sebuah gagasan di kepala Arnius saat ia mulai kesulitan mengendalikan tubuh besar sang naga emas yang masih saja meluncur ke bawah walau sedikit lambat karena Eiji masih berusaha memadatkan udara di sekitar mereka.
"Kogane bersatu."
Arnius berteriak kemudian mulai merapalkan mantra setelah kedua matanya terpejam. Tubuh pemuda tampan tersebut mulai diselimuti api biru yang benar-benar panas. Giok hijau mulai terlihat di depan dada bidangnya, saat kedua matanya kembali terbuka sinar hijau terpancar dari batu tersebut serta menarik tubuh sang naga emas ke dalamnya.
Apa yang telah di lakukan oleh Arnius diikuti oleh Eiji dan juga Keiko. Eiji mulai merapalkan mantra setelah muncul batu biru miliknya, cahaya terang keluar serta menarik tubuh Kin Raiden. Keiko pun demikian, ia mengeluarkan mutiara putih dan memasukkan Minori kedalamnya. Setelah itu mereka kembali memasukkan batu serta mutiara ke dalam tubuhnya, membuat para hewan ilahi tersebut menyatu dengan tubuh mereka. Ketiganya mulai menapak pelan di atas tumpukan salju.
Api biru benar-benar berkobar menyelimuti seluruh tubuh Arnius, Gundukan salju di sekitar tempatnya berdiri seketika meleleh. Salju yang mencair mulai mengalir hingga membuat anak sungai yang cukup lebar. Namun anak sungai tersebut seketika kembali membeku setelah Keiko menapakkan kakinya dengan lembut. Hawa dingin semakin menusuk hingga ke sumsum tulang, badai salju semakin tebal. Kehadiran Keiko membuat seluruh gundukan salju di sekitar tempatnya berdiri berubah menjadi bongkahan es.
Sementara tubuh Eiji tak pernah berhenti mengeluarkan kilat petir serta lesatan api hitam. Disekitar tempatnya berdiri pun terlihat salju yang mencair karena terkena kilatan petir dari tubuhnya.
Tubuh ketiganya terlihat biasa namun aura yang keluar begitu mengerikan. Tatapan tajam mata ketiganya terarah ke satu titik, yaitu hewan besar yang di penuhi bulu di setiap tubuhnya. Tubuh yang benar-benar besar, tampak beberapa rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
"Wajahnya begitu mengerikan, mahkluk aneh apa itu. Baru kali ini aku melihat monster yang menyeramkan seperti itu."
Keiko bergumam serta mulai membekukan kaki serta seluruh tubuh monster besar yang ada di hadapan mereka. Tubuh monster yang hampir mirip dengan seekor gorila besar, hanya saja seluruh bulu di tubuhnya berwarna putih.
"Benarkah mahkluk itu yang disebut dengan Hibagon, monster ganas yang mendiami gunung bersalju sepanjang musim."
Keiko kembali bergumam.
__ADS_1