
Setelah melihat adik perempuannya berhasil membawa pergi Hajime beserta mutiara Black diamond, Eiji tersenyum kecil seraya memberikan serangan terakhir yang menyebabkan tubuh kelabang putih terbelah menjadi dua bagian.
Eiji bergegas mencari keberadaan Keiko, dilihatnya tubuh mungil adik perempuannya itu melayang tak tentu arah. Ia melesat menangkap tubuh Keiko yang mulai menukik tajam dari ketinggian.
"Kei .. kenapa tubuhmu?"
Eiji memeluk erat tubuh Keiko serta mengambil Black diamond dari tangannya.
"Ah ... Batu ini sangat bertolak belakang dengan unsur di tubuhmu, pantas saja."
Eiji semakin mengeratkan pelukannya saat tubuh Keiko mulai tidak sadarkan diri.
Ledakan meriam terdengar membahana bahkan guncangannya sangat terasa oleh Eiji, tanah berlubang mulai terlihat di beberapa tempat setelah suara ledakan besar itu terdengar. Kepulan asap bercampur debu serta tanah dan bebatuan kecil yang mulai terpercik ke berbagai arah menyita perhatian Eiji.
Sejenak ia melihat Megan besar berlari menghindari bidikan tombak serta meriam, pandangan mata keduanya beradu sesaat.
"Maroon." Eiji bergumam pelan.
"Black diamond." Pandangan mata Maroon tertuju pada batu yang ada di tangan kiri Eiji.
Eiji bergegas membawa tubuh Keiko melayang untuk mencari keberadaan Classic pearl, setelah menyadari Megan besar itu berlari mendekati dirinya.
Badan kapal Classic pearl mulai terlihat, Kakek Yao terlihat berdiri bersama Jung Bao serta Memei di anjungan kapal. Kedua hewan besar tersebut nampak membawa sebuah tandu, mereka seolah telah bersiap menerima tubuh Keiko yang berada dalam gendongan Eiji.
"Jaga dia baik-baik." Eiji meletakkan tubuh Keiko perlahan, sebelum kembali melesat ke udara.
Arnius bergegas menghabisi setiap Hibagon yang masih berusaha menyerang dirinya setelah ucapan Keiko terhenti. Dadanya terasa sesak, pikirannya mulai kacau saat panggilannya tidak lagi mendapatkan jawaban dari adik perempuannya.
__ADS_1
"Ji ji kau mendengar ku? apa yang terjadi dengan kalian? dimana Keiko?"
Arnius berusaha menghubungi Eiji setelah sama sekali tidak mendengar suara Keiko.
"Kakak .. Keiko sudah dalam perawatan di Classic pearl, aku akan memberi tanda di langit."
Arnius sedikit lega setelah mendengar suara Eiji dalam pikirannya, tak lama kemudian terlihat bunga api di atas langit. Sesaat Arnius melihat ke asal bunga api tersebut, sebelum kembali mengayunkan pedang apinya ke tubuh Hibagon yang masih tersisa.
Serangan meriam serta tombak mulai berhenti setelah terlihat kedua tangan Maroon terangkat ke atas dan mulai berjongkok, mahkluk besar itu terlihat berdiri bertumpu pada kedua lututnya.
"Aku tidak akan melawan, tolong jangan sakiti aku." Maroon sedikit mengeraskan suaranya.
"Katakan ... Kenapa kau menginginkan batu ini?" Eiji mulai berjalan mendekati tubuh Megan besar tersebut.
Baru saja Eiji mulai melangkah, tanah yang dipijaknya terasa bergetar. Dari dalam tas tua Maroon yang tergeletak di atas tumpukan salju keluar beberapa mahkluk kecil, yang kemudian ukuran tubuhnya mulai terlihat membesar.
"Kau membawa kawanmu."
"Tuan muda tolong serahkan mutiara itu kepadaku, dan kami berjanji akan segera pergi dari tempat ini." Maroon kembali berucap.
"Pergi dari tempat ini? Kau pikir apa yang sedang diperbuat oleh kawanmu itu."
Eiji bergegas mendekati para Megan yang berusaha menyerang beberapa tempat kosong di atas mereka. Kedua tangan mereka terus berayun kencang membelah udara di atas mereka, seolah mencari sesuatu serta ingin menghancurkannya.
"Apa kalian ingin menghancurkan Classic pearl? kalian akan berurusan dengan petir ku."
Kilat petir Eiji mulai menyambar beberapa Megan, namun mereka seolah tidak menghiraukan beberapa luka bakar yang mulai menghiasi tubuh mereka. Para Megan besar tersebut masih berusaha mencari keberadaan Classic pearl, berbagai jenis senjata yang mereka gunakan terlempar kuat ke udara.
__ADS_1
"Zen jangan lakukan apapun, cepat bawa Classic pearl menjauh."
Eiji berkata dengan sedikit berteriak, ia tahu benar keberadaan Classic pearl memang di sekitar tempat tersebut. Eiji terlihat sedikit kesulitan untuk membantai para Megan yang berjumlah cukup banyak, tubuh Eiji saat ini hanya sebesar jari tangan para Megan tersebut. Sungguh perbandingan yang begitu jauh.
Hanya dua Megan besar yang saat ini sedang bertarung dengan Eiji, sementara yang lainnya masih berusaha mencari keberadaan Classic pearl dan menghancurkannya.
Zen mulai menggerakkan Classic pearl secara perlahan, karena posisi kapal itu saat ini berada tepat di antara kumpulan para Megan. Hanya dengan satu kibasan tangan mereka saja, kapal tua itu pasti akan mengalami kerusakan yang cukup parah.
"Teman-teman kita sudah sepakat untuk tidak menyakiti mereka, jika mereka menyerahkan batu itu dengan sukarela. Jadi hentikan perbuatan kalian, batu itu ada pada pemuda tampan yang sedang terbang itu."
Maroon mencoba memperingatkan para kawanannya, karena pada awalnya setelah manusia terakhir yang menceburkan diri ke dalam aliran sungai yaitu Arnius. Para Megan sepakat untuk menuruti ucapan Maroon jika Megan botak tersebut bersedia membawa mereka untuk mencari keberadaan Black diamond.
Tidak ada satupun Megan yang mengindahkan ucapan Maroon, justru mereka semakin beringas. Semakin banyak senjata yang mereka ayunkan dan juga mereka lemparkan ke udara, hingga terdengar suara debaman keras saat sebuah pemukul besar mengenai badan kapal Classic pearl. Suara teriakan seluruh penghuni Classic pearl yang terlempar dari ketinggian terdengar begitu mengagetkan. Tubuh Keiko yang masih terbaring tidak sadarkan diri pun ikut terlempar hingga terkapar di atas tumpukan salju.
Para Megan mulai mendekati tubuh kecil yang berserakan di atas tumpukan salju. Mereka tak segan menginjak hingga melempar mereka bersama dengan kepalan salju yang telah mereka bentuk dengan tangan besar yang mereka miliki. Sementara badan kapal Classic pearl terhempas jauh entah kemana.
Arnius telah melihat bunga api yang muncul di langit, Ia menyadari itu adalah tanda yang dibuat oleh adik lelakinya. Pemuda tampan itu masih saja melesatkan api untuk membakar setiap Hibagon yang juga ingin melukai dirinya. Ledakan meriam kembali terdengar berulang kali di telinga Arnius, getaran tanah juga begitu dirasakan olehnya. Semua itu menyebabkan pikiran pemuda itu semakin kalut.
"Ji ji ada apa? siapa yang menyerang kalian?"
Di sela-sela pertarungannya, Arnius berusaha berbicara dengan Eiji.
"Kakak saat ini para Megan besar itu berusaha merebut Black diamond serta menghancurkan Classic pearl."
Mendengar jawaban dari adik lelakinya, tubuh Arnius sedikit menegang. Rahangnya mengeras, tangannya yang masih menggenggam Fudo terlihat semakin mencengkram erat.
"Naga bayangan."
__ADS_1
Terdengar geraman keras sang naga saat tubuh Arnius kembali di selimuti api keemasan. Muncul bayangan kepala sang naga emas yang bergerak lincah membakar setiap tubuh Hibagon yang tersisa. Sebuah teknik yang memerlukan banyak tenaga jika ia ingin melakukannya, namun hal itu tidaklah berarti bagi Arnius. Pemuda itu telah sepenuhnya mampu mengontrol setiap tenaga yang ia serap dari tubuh Ryu kogane.
Begitu banyak tubuh para Hibagon yang sudah hilang tak berbekas karena serangan terakhir sang pemilik naga emas tersebut. Kembali terlihat kilat emas melesat di udara dengan cepat saat Arnius mulai melayang menuju tempat bunga api yang telah menyala sebelumnya.