Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Black diamond


__ADS_3

Black diamond melayang menghampiri Arnius, batu hitam tersebut berusaha mensejajarkan dirinya dengan gerakan cepat bayangan sang naga emas. Sesaat Arnius tidak menghiraukan kehadiran batu hitam yang selalu mengikuti setiap gerakannya. Lama kelamaan ia merasa risih karena ada yang menghantui dirinya.


"Apa yang kau inginkan?"


Arnius menebaskan Fudo ke arah black diamond yang masih saja mengikuti setiap gerakan tubuhnya. Black diamond masih menghindari tebasan Fudo selama beberapa kali untuk menjauhkan sang pemilik pedang ke tempat yang lebih luas.


Dua Megan troll yang tersisa masih berusaha untuk berdiri setelah terkena tebasan Fudo yang tidak terlalu dalam. Konsentrasi Arnius beralih ke batu hitam yang selalu mengikuti setiap gerakannya, ia berfikir adik lelakinya akan menyelesaikan pertempurannya. Eiji juga menyadari hal itu, ia segera melesatkan panah petir ke beberapa titik vital pada tubuh kedua Megan troll tersebut hingga tidak mampu lagi untuk menegakkan tubuhnya.


Eiji sejenak melihat Arnius yang masih mengayunkan Fudo ke arah black diamond. Ia bergegas mencari keberadaan Keiko serta seluruh rekannya.


"Tuan muda di sini." Suara Jaku terdengar perlahan.


Eiji bergegas menghampiri seekor merak hijau yang tengah berusaha menyingkirkan tumpukan salju bersama Memei. Sekalipun lengan mereka berdua terluka, namun tidak menyurutkan niatnya untuk menyingkirkan beberapa tumpukan salju tebal.


"Lengan kalian terluka, siapa yang terkubur di sini?" Eiji bergegas ikut menyingkirkan tumpukan salju bersama kedua binatang tersebut.


"Nona muda, tubuh nona Kei terlempar ke dalam tumpukan salju ini." Suara Jaku sedikit bergetar.


Eiji bergegas mengibaskan kedua tangannya untuk membuat angin yang besar hingga menerbangkan tumpukan salju tersebut.


"Nona muda." Memei dan Jaku berteriak hampir bersamaan saat mereka mulai melihat cahaya terang yang keluar dari dalam sebuah batu es yang besar.

__ADS_1


Eiji bersama keduanya mulai berjalan mendekati batu besar yang mengeluarkan cahaya kebiruan. Eiji meraba setiap bagian dari batu tersebut namun tidak terjadi apapun.


"Katakan apa yang kalian ketahui." Eiji berkata tanpa mengalihkan pandangannya dari batu besar yang ada di hadapannya saat ini.


"Kami sedang berusaha menyadarkan nona muda sebelum kami semua terlempar dari Classic pearl, aku dan Jaku mendekap tubuh nona muda saat kami terlempar. Tubuh nona terlepas dari dekapan kami dan meluncur ke arah batu ini, kemudian tumpukan salju menimpa tempat ini. Mungkin batu itu yang mengambil tubuh nona muda." Memei berusaha menjelaskan situasi yang terjadi sebelum mereka berpisah dengan Keiko.


"Tandai setiap jalan yang kalian lewati untuk mempermudah kalian kembali ke tempat ini, berpencar dan temukan rekan kita yang lain, bawa mereka yang kalian temukan kembali ke tempat ini."


Jaku dan Memei mengangguk mengerti setelah mendengar perintah Eiji, mereka mulai berpencar untuk mencari keberadaan rekan lainnya.


Eiji mulai memeriksa setiap tempat di sekitar batu tersebut, untuk menemukan petunjuk tentang keberadaan adik perempuannya.


"Kakak cepatlah, Keiko menghilang."


Tangan Arnius sedikit bergetar saat batu hitam itu mulai melebur bersama Fudo yang masih berada di dalam genggaman tangannya. Ia mencoba melepaskan pedang tersebut dari genggamannya saat tangannya mulai merasakan panas yang begitu hebat dan mulai merambat ke seluruh tubuhnya. Namun pedang itu seolah menempel pada telapak tangannya, tanpa bisa terlepas. Tetesan keringat mulai terlihat pada wajah tampannya, ia berusaha menahan panas yang begitu hebat yang telah mendera di sekujur tubuhnya.


Arnius sedikit mengerang saat seluruh titik meridian di dalam tubuhnya seakan meledak, hawa panas yang semula hanya menyerang seluruh kulit di tubuhnya kini terasa masuk ke setiap urat nadi serta tulangnya. Kepulan asap hitam keluar dari telinga, hidung, mata dan bahkan mulutnya. Suaranya seolah tercekat di tenggorokan saat rasa sakit itu benar-benar mengguncang tubuhnya. Kedua matanya seolah tak bisa terpejam, darah hitam mulai keluar dari dalam kelopak matanya saat Fudo benar-benar menyatu dengan black diamond.


Sebuah pedang besar berwarna hitam pekat kini terlihat di genggaman Arnius. Ia mulai menurunkan tubuhnya dari ketinggian dengan perlahan, nafasnya yang semula memburu kini sudah lebih baik.


"Kau.. Apa yang kau lakukan dengan Fudo?"

__ADS_1


Arnius berkata dengan sedikit terbata saat kedua matanya melihat dengan jelas perubahan yang terjadi pada Fudo, pedang yang selalu menemani dirinya. Arnius mengibaskan tangannya untuk membuang pedang hitam yang masih ada dalam genggamannya, namun anehnya pedang tersebut bukannya terjatuh melainkan berubah menjadi sebuah cambuk hitam yang panjang serta mengeluarkan api keemasan.


Arnius tidak berniat untuk menyimpan kembali cambuk hitam yang kini sudah kembali berubah ke wujudnya semula ke dalam tubuhnya. Namun pada saat ia melepaskan genggamannya, pedang itu melayang kemudian mendekati tubuh Arnius dan mulai menyatu ke dalam tubuh pemuda tampan tersebut. Ia mulai memejamkan matanya untuk merasakan perubahan yang terjadi di dalam tubuhnya.


"Tenanglah Ar, batu ini sama sekali tidak berdampak buruk pada tubuhmu. Pada awalnya aku merasa dia ingin menyatu dengan tubuhmu, namun tidak bisa. Karena ada aku di dalam tubuhmu. Kemudian dia mulai mencoba menyatu dengan Fudo dan berhasil, black diamond ingin kau memilikinya. Dengan melebur bersama Fudo sama saja ia menyatu dengan tubuhmu walau dalam bentuk yang bisa berubah-ubah sesuai keinginanmu. Haha... Selamat tuan muda kau bertambah kuat." Tawa Genta terdengar menggema di kepala Arnius.


"Sebaiknya kau mulai memberikan nama baru untuk perubahan Fudo." Genta ingin menunjukkan deretan gigi putihnya, namun lagi-lagi hal itu hanya akan sia-sia saja.


Kali ini Arnius tidak menghiraukan ucapan Genta, ia mulai melesat mencari keberadaan Eiji.


Classic pearl.


Setelah terhempas karena terkena hantaman dari beberapa senjata milik para Megan, kini kapal besar itu terjatuh pada rerumputan yang masih sedikit tertutup salju.


Yao yin dan Zen yang pada saat itu berada di dalam ruang kemudi, sontak berpegangan erat pada pilar yang ada di tempat tersebut. Sementara Zora dan Yuki memeluk erat tiang layar saat tubuh mereka terhempas tepat mengenai tiang layar. Tubuh Hajime yang berada di dalam ruangan terhantam ke dinding ruangan hingga membuat kepalanya terbentur dengan keras hingga menyebabkan kematian.


Hanya Jung Bao, Zooi dan beberapa hewan saja tampak mencengkram erat badan kapal, sementara yang lainnya entah terlempar ke mana.


"Aargh.. Tubuhku. Nona Yin, apa anda baik-baik saja?"


Zen merasakan tubuhnya serasa remuk saat puluhan batu yang semula tertata rapi di atas meja kemudi kini menumpuk di atas tubuhnya. Kapten kapal Classic pearl itu segera berdiri saat melihat tubuh Yao yin yang masih memegang erat pilar penyangga. Dengan perlahan Zen mengangkat tubuh Yao yin yang juga tertimpa beberapa batu mustika. Posisi kapal yang sedikit miring membuat mereka kesulitan untuk bisa berdiri tegak. Mantra pelindung yang tadinya menutupi seluruh kapal kini tidak ada lagi.

__ADS_1


Setelah mengatur kembali nafasnya, Yao yin melayang di atas Classic pearl begitupun sang kapten kapal. Keduanya memeriksa sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada hal yang akan menyerang mereka.


__ADS_2