
"Hei teman, kita bertemu lagi. Ku kira kalian sudah pergi dari tempat ini, kulihat kalian bertambah banyak dan sedikit lebih gemuk."
"Oo paman yang memberi kalian makan, baguslah. Tinggallah di sini kalau memang itu yang kalian inginkan."
Eiji yang sedang asyik menabur biji-bijian diantara beberapa merpati, ia terlihat berbicara sendiri sambil sesekali terlihat tersenyum.
"Hah keponakan ku yang satu cenderung tegas dan sedikit pemarah, namun yang satu ini. Haiih .. Dia memang lebih tampan, pendiam dan penyabar. Namun kenapa kebiasaan buruknya berbicara sendiri dengan para merpati itu tidak pernah hilang dari dulu."
Zaka menghela nafas panjang, saat melihat Eiji berbicara sendiri dengan dikerumuni banyak merpati.
"Dia tidak berbicara sendiri paman, Ji Ji sejak dulu memang mengerti apa yang para burung itu ucapkan."
Arnius dan Zaka menghentikan langkahnya saat keduanya bertemu dengan Eiji yang masih saja tersenyum saat memberi makan para merpati.
"Eiji sedang menertawakan cerita yang disampaikan oleh merpati tertua itu, sepertinya mereka sudah bersama sejak lama."
Kin Raiden yang tidak pernah jauh dari tuannya menanggapi ucapan Zaka.
"Ya, dulu ibu dan Ji Ji selalu memberi mereka makan setiap hari. Awalnya aku merasa Eiji hanya suka berbicara dengan para burung itu, ternyata dia memang benar-benar mengerti apa yang burung itu ucapkan. Aku selalu melihat kawanan merpati itu mengusir setiap burung kecil yang ingin menganggu tanaman yang hampir panen. Mereka juga membantu beberapa tanaman dan bunga untuk berbuah, jadi setiap hari kami memberi mereka makan."
"Paman, mereka mengucapkan terimakasih kepadamu karena mengijinkan mereka tinggal di tempat ini."
Eiji menyadari kehadiran sang paman dan juga kakaknya.
"Iya sama-sama, sebentar lagi burung-burung itu akan terbang ke dekat pintu dapur."
Zaka melihat ke arah dapur yang sudah mulai mengeluarkan aroma beberapa kue serta masakan yang begitu mengundang selera.
"Kenapa mereka menuju dapur?"
"Lihat saja, mereka akan berjajar kemudian mengeluarkan suara hingga terdengar seperti lagu."
Benar yang dikatakan oleh Zaka, setelah semua biji yang di tabur oleh Eiji habis tak tersisa. Kini para merpati itu terbang ke depan pintu dapur dan berbaris rapi. Mereka bersuara dengan saling bersahutan sesuai dengan hentakan kaki sang merpati terbesar, hingga terdengar alunan nada yang seirama. Tak berselang lama seorang pelayan wanita keluar membawa beberapa kue yang masih hangat, kemudian meletakkannya di atas sebuah meja batu. Setelah selesai dengan paduan suaranya, para merpati berganti mengerumuni kue yang ada di atas meja.
"Ha ha kalian memang burung yang pandai mengambil hati para pelayan itu."
Kin Raiden dan Eiji tertawa lebar saat melihat tingkah para merpati tersebut.
"Bagaimana kalian bisa terbang tinggi, jika tubuh kalian gendut. Selain potongan apel dan biji-bijian, kini kalian juga menyukai kue osmatus yang lezat itu."
Keiko terlihat keluar bersama beberapa pelayan dengan membawa banyak nampan yang berisi makanan, sejenak ia melihat para merpati yang masih sibuk memakan kue osmatus yang ada di atas meja.
"Cantik, boleh aku membantu mu? aku bisa membawa nampan itu."
Genta yang sudah menyelesaikan pembuatan dinding sumur, segera berlari menyusul Arnius dan yang lainnya.
__ADS_1
"Kenapa setiap kali ada Keiko, kau juga selalu terlihat Genta? bukankah kau harus membuat dinding sumur?"
"Sudah selesai paman, sekarang aku disini bersama calon permaisuri ku."
Genta menegaskan kalimat terakhir yang ia ucapkan, sambil melirik ke arah Arnius.
"Paman, tuan muda. Tuan besar menunggu anda di depan, rombongan keluarga tuan Kuroki serta para warga sudah tiba."
Seorang pelayan berjalan mendekat dan berbicara kepada Zaka.
"Baiklah, ayo semua kita bantu mereka."
Zaka mengajak para pelayan serta seluruh rekan Arnius ke halaman rumah. Hari ini Gina ingin membagikan beberapa makanan, buah, serta beberapa keping koin kepada semua warga. Sebagai wujud rasa terimakasihnya atas kepulangan putra putrinya, serta mengenalkan menantu barunya.
Banyak sekali warga yang mendatangi kediaman Tamura, mereka berbaris rapi tanpa saling mendahului. Mereka percaya, keluarga Tamura tidak akan mengecewakan orang yang sudah mereka undang.
Yuki, Wu Ling, dan juga Zen menunda keberangkatan mereka. Ketiganya membantu membagikan makanan, bingkisan serta beberapa keping koin yang sudah di sediakan kepada seluruh tamu yang datang.
Arnius, Eiji, Keiko dan juga Yao yin berdiri bersama ayah, ibu, paman dan juga Sakura, mereka menyambut setiap tamu yang datang.
"Tuan Tamura ternyata anda memiliki putra yang gagah dan juga seorang putri yang begitu cantik. Sayang sekali, saat ini putraku sedang pergi berdagang ke barat. Bolehkah lain kali aku mengenalkannya kepada nona muda Tamura?"
"Terimakasih tuan Tori, tentu saja tuan. Mereka bisa berkenalan setiap saat. Putra dan putri ku adalah anugerah terindah dari nirwana untuk ku yang sudah menua ini. Silahkan menikmati hidangan yang ada tuan."
Genta mendengar dengan jelas setiap ucapan Yaza, hal itu membuatnya ikut berdiri berjajar di samping Keiko dengan menggeser sedikit tubuh Eiji yang juga berdiri tepat di samping Keiko.
"Ayah, tolong perkenalkan aku sebagai calon suami dari putrimu tercinta."
Genta sedikit berbisik di samping telinga Yaza yang sedang duduk di sebuah kursi tepat di samping tempatnya berdiri. Yaza hanya tersenyum kecil serta menepuk pelan pundak Genta.
Keiko mendengar semua hal yang diucapkan oleh Genta, dia berusaha menghentikannya dengan menginjak kaki sang naga besar tersebut. Namun tindakannya tak kunjung berhasil, akhirnya adik perempuan Arnius dan Eiji itu membekukan separuh tubuh Genta.
"Kau bisa diam atau tidak."
Gemeretak gigi Keiko hampir terdengar, saat ia berbisik tepat di samping Genta yang kakinya sudah membeku seutuhnya. Eiji dan Yaza yang berdiri tepat diantara keduanya hanya menahan tawa mereka.
"Bagaimana kalian akan menjadi pasangan hidup, jika selalu saja bertengkar. Yang satu membekukan yang satu membakar, sungguh berlawanan."
Zaka yang melihat aksi keduanya ikut mendekat dan berkomentar, sementara Genta masih berusaha mencairkan es yang membekukan hampir separuh tubuh bagian bawah miliknya.
"Aaah akhirnya terbebas juga."
Genta menghela nafas panjang setelah berhasil mengembalikan tubuhnya seperti semula.
"Cantik ku, tolong jangan kau ulangi lagi. Ayo kita mencoba akur seperti kakak mu Arnius dan juga nona Yin."
__ADS_1
"Kau belum lihat saja bagaimana kakak Yin kalau marah."
"Memangnya bagaimana?"
"Oo kau mau merasakannya lagi."
"Tidak.. Tidak, terimakasih cantik ku."
Genta memilih bergeser, ia berdiri di belakang Keiko dan kembali diam.
Hampir seluruh tetangga mendatangi kediaman Tamura secara bergantian. Acara itu baru selesai saat tengah hari. Zen, Yuki, serta Wu Ling segera berpamitan setelah semuanya selesai.
"Kirim pesan melalui merpati ataupun yang lainnya jika terjadi sesuatu."
Arnius mengantar ketiga rekannya ke atas Classic pearl.
"Simpan bulu ini, kau hanya perlu mengalirkan tenaga saat memegangnya. Aku akan merasakan keberadaan kalian."
Kin Raiden menyerahkan sebuah bulu kecil miliknya kepada Zen, Yuki, serta Wu Ling.
"Ya, kalian simpan saja bulu itu. Sisik ku sangat berharga jika harus di cabut satu persatu."
Eiji hanya menyenggol pelan lengan Genta, saat melihat keduanya mulai beradu mulut.
"Baiklah, kami berangkat."
Mereka saling melambaikan tangan saat Classic pearl mulai melayang di udara.
"Kin, kau juga harus mengunjungi keluarga mu. Jangan sampai kakak perempuan mu itu datang ke tempat ini dan berteriak-teriak seperti orang gila yang kehilangan adiknya."
Eiji masih mengingat bagaimana kakak perempuan Kin Raiden berteriak saat mereka berjumpa pertama kali.
"Iya baiklah, aku akan segera kembali. Naga besar, tolong kau jaga tuan ku dengan baik selama aku pergi."
"Iya, pergilah."
Kilat petir terlihat sekilas saat tubuh Kin Raiden melesat ke udara.
"Kenapa aku sama sekali tidak melihat Minori?"
Pertanyaan Eiji menyadarkan semuanya, bahwa sejak tadi pagi mereka belum melihat keberadaan Minori.
"Kalian pikir siapa yang membantu memasak, serta menyiapkan semua bingkisan yang harus dibagikan kepada semua orang tadi pagi. Tentu saja ia perlu beristirahat saat ini."
Keiko bergegas berjalan meninggalkan semua rekan serta kakaknya.
__ADS_1