
Malam semakin larut, udara dingin mulai menusuk tulang. Seluruh anggota Classic pearl sudah berada di bawah selimutnya. Suara dengkuran mulai terdengar bersahutan. Kembali bermalam di rumah Kakek pertapa, membuat Genta seolah tidur di rumah sendiri.
Sejak ia diserahkan kepada kakek pertapa oleh pasangan suami istri yang telah merawatnya, Kitaro masih mengijinkannya mengunjungi pasangan suami istri tersebut. Sehingga ia terbiasa keluar masuk hutan kematian untuk mengunjungi pasangan kakek nenek yang telah mengasuh dirinya sejak lahir.
Genta sendiri tidak pernah tahu siapa orang tuanya, dan di mana keluarganya berada. Setiap ia menanyakan hal itu kepada Kitaro, selalu saja ia mendapat jawaban yang sama.
"Kau akan mengetahuinya sendiri jika waktunya tiba, takdir yang akan membawamu bertemu dengan seluruh keluarga mu."
Kalimat itulah yang selalu ia dengar setiap kali bertanya tentang keluarganya.
Dengkuran Genta terdengar jelas di telinga Arnius yang kini duduk di atas sebuah batang pohon, yang tidak jauh dari air terjun sambil membawa batu cermin. Pemilik naga emas tersebut hanya tersenyum kecil, saat mendengar keributan yang di buat oleh adik perempuannya.
"Setidaknya biarkan aku tertidur, sebelum kau mendengkur naga besar."
Beberapa bantal dan juga selimut melayang dan menimpa tubuh Genta.
"Iya cantikku, aku tidak akan mendengkur. Tidurlah yang nyenyak, kau bisa tidur di samping ku jika mau."
"Dalam mimpimu."
Keiko begitu kesal, sementara Genta hanya menguap setelah mengubah posisi tidurnya kemudian kembali mendengkur.
Kedua mata Keiko mulai terpejam saat suasana di dalam ruangan tersebut sudah mulai tenang. Eiji yang selalu tidur tidak jauh dari adik kecilnya pun mulai hanyut ke alam mimpi.
"Kau kenapa Yin Yin?"
Arnius mengguratkan jari telunjuknya pada lengannya, saat melihat Yao Yin yang hanya terbaring di sisi Fudo.
Setelah melihat tulisan pada bilah Fudo, Yao Yin mengambil bulu merak yang ada di dalam jubahnya dan mulai mengguratkan tulisan dengan jarinya.
"Terkadang sangat susah untuk tidur jika teringat dirimu."
"Aku memperhatikanmu dari sini, simpan kembali pedang itu dan tidurlah."
"Apa kau belum menemukan cara untuk pergi ke tempat ini?"
"Aku pasti menyusul mu, bagaimanapun caranya. Yang terpenting kau tetap jaga kesehatan tubuh mu. Menurut kakek guru, untuk mencegah hal yang buruk, sebaiknya kau melahirkan di tempat itu. Ku mohon bersabarlah, aku pasti menyusul mu. Sekarang tidurlah."
Perlahan Fudo mulai mengecil dengan sendirinya, kemudian kembali melekat di antara jepit rambut Yao Yin, kemudian istri Arnius tersebut mulai tertidur.
__ADS_1
Arnius menyelipkan batu cermin di pinggangnya, setelah ia kembali masuk ke dalam sebuah ruangan besar yang juga terdapat adik serta semua rekannya yang sudah tertidur pulas. Sejenak ia melihat seluruh rekan dan juga ke dua adiknya yang telah tertidur, ia pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang masih kosong.
Matahari belum seutuhnya terbit, saat Zen keluar dari dalam kamar. Kapten Classic pearl tersebut melihat Kitaro pun keluar dari dalam ruangannya.
"Selamat pagi kakek pertapa."
Zen menyapa Kitaro dengan sedikit membungkuk.
"Kau bangun paling awal Zen."
"Dari semua rekan kami, aku lah yang paling lemah dan yang lebih sering istirahat. Aku akan mencari beberapa buah untuk mereka."
"Iya cepatlah, aku punya beberapa pekerjaan untuk mu jika kau mau."
"Tentu saja kakek, aku akan berusaha mengerjakannya."
Zen bergegas memasuki hutan di tepi air terjun. Ia mengambil apapun yang ditemuinya, asalkan benda tersebut bisa di makan. Buah, sayur dan bahkan ayam yang masih tertidur di atas batang pohon pun diambilnya. Setelah ke dua tangan serta pundaknya penuh dengan bahan makanan, ia segera kembali ke atas air terjun dan mulai membersihkan buah serta sayuran, kemudian memasak ayam yang juga telah didapatkannya.
Setelah selesai menyiapkan makanan, ia kembali menemui Kitaro yang masih berdiri di atas bebatuan.
"Apa yang harus aku lakukan kakek."
"Kau sudah makan?"
"Bisakah aku meminta mu memotong pohon itu untuk membuat beberapa kayu bakar dan juga kayu pengganti tiang penyangga rumah ini?"
"Akan aku lakukan kakek."
Zen mengambil pedang besar miliknya yang tergantung di pinggangnya.
"Pedang yang bagus, boleh aku melihatnya sebentar?"
Zen menyerahkan pedang besarnya kepada Kitaro.
"Itu adalah pohon yang harus kau tebang. Ambil pedang mu dan lakukan tugasmu."
Kitaro melempar pedang besar Zen, hingga menancap tepat di depan pohon yang harus ia tebang.
Zen mulai berjalan mendekati pedang besarnya. Betapa terkejutnya dia saat ingin mengambil pedang besarnya dari tempatnya tertancap, pedang tersebut terasa begitu berat dan bahkan menjadi benar-benar berat saat ia ingin mengangkatnya.
__ADS_1
Zen mengerahkan seluruh tenaganya hanya untuk mengangkat pedang besarnya. Teriakkan kecil keluar dari mulutnya saat ia berhasil mengambil pedangnya.
"Aaa... Bagaimana pedang ini bisa menjadi begitu berat, apa yang telah kakek lakukan sebenarnya?"
Nafas Zen tersengal sesaat. Setelah ia kembali mampu menyeimbangkan tubuhnya, kapten Classic pearl tersebut mulai mengayunkan pedang besarnya untuk menebas pohon besar dan juga cukup tinggi yang ada di hadapannya.
Setelah beberapa kali tebasan, Zen berhenti mengayunkan pedangnya untuk kembali mengatur nafas serta mengembalikan kekuatan tubuhnya.
"Pijak tanah dengan benar, kaki mu adalah paku yang siap menembus bumi. Siapkan lenganmu, ayunkan dengan benar. Pinggang mu adalah pusat pertahanan, ayunkan lenganmu bersamaan dengan detak jantung mu. Kau tahu di mana jantung mu di saat bertahan?... Di sini, kuat kan otot betis mu. Lakukan semuanya dengan benar."
Kitaro memukul kaki, betis, pinggang dan juga lengan Zen dengan menggunakan tongkat bambu yang dipegangnya. Kapten kapal Classic pearl tersebut mengangguk mengerti.
Arnius yang sudah terbangun, memperhatikan Zen yang sudah terpukul oleh tongkat bambu gurunya berulang kali, sambil menikmati makanan yang sudah di siapkan oleh rekannya tersebut di atas meja.
"Apa yang kau lihat, habiskan makanan mu dan cepat kemari."
Arnius hampir tersedak saat mendengar teriakkan gurunya. Ia segera menelan habis makanan yang ada di mulutnya dan meminum segelas air.
Akhirnya setelah beberapa kali menebas batang pohon yang cukup besar tersebut, mulai terdengar suara retakan pohon. Sedikit demi sedikit pohon besar tersebut mulai tumbang.
"Braaak.."
Dentuman keras terdengar menggema hampir di seluruh lembah. Suara dentuman keras tersebut membangunkan seluruh penghuni bangunan yang berada tidak jauh dari jatuhnya pohon. Hanya Genta yang masih meringkuk di bawah selimutnya.
"Akhirnya.."
Zen menghela nafas lega, setelah berhasil menebang satu pohon tersebut.
"Selamat kapten, kau berhasil menebang satu pohon. Ku harap kau tidak senang terlebih dahulu. Kau harus bisa menebas setiap pohon yang tumbuh kembali, hingga kau bisa merobohkan pohon tersebut hanya dengan satu kali tebasan. Apa kau mengerti kapten Zen?"
Ucapan lembut Kitaro hanya di balas dengan anggukan perlahan oleh kapten Classic pearl tersebut, saat kedua matanya terpana melihat batang pohon yang sudah di tebang nya kini tumbuh kembali seperti semula.
Kitaro tersenyum kecil melihat Zen yang masih terpaku melihat pohon yang ada di hadapannya kembali tumbuh menjulang tinggi.
"Ar, sekarang gunakan pisau api untuk membelah batang pohon tersebut. Lakukan secepatnya, kau mengerti?"
"Murid mengerti guru."
Semua anggota Classic team menyaksikan semua yang dilakukan oleh Zen dan juga Arnius. Keiko menarik paksa tubuh Genta yang masih tertidur pulas, hingga membuatnya harus sedikit menahan rasa sakit karena terjatuh dari atas tempat tidur.
__ADS_1
"Segera bersihkan diri dan juga isi perut kalian, jika ingin ikut bergabung dengan ke dua teman kalian ini."
Kitaro menatap semua rekan Arnius, yang hanya di balas dengan anggukan. Mereka bergegas menghabiskan makanan yang sudah tersedia dan bergegas menuju ke air terjun untuk membersihkan diri.