
"Kogane, Raiden, Minori bersiap."
Teriakan Arnius membuat ketiga binatang ilahi tersebut segera merubah tubuh mereka menjadi tiga binatang yang besar, gagah dan indah.
"Tunggu, putri Azumi dan nona Yao yin belum terlihat."
Haruka berteriak kencang.
Tak berselang lama tanah kembali bergetar, namun getaran kali ini tidak sedahsyat sebelumnya. Terdengar suara menderu dari dalam gundukan salju, terlihat ujung lancip kayu yang terus berputar dari dalam gundukan tersebut. Semakin lama ujung kayu yang berputar tersebut terlihat semakin besar.
"Alat penggali."
Zora berdecak kagum.
Setelah melihat benda kayu yang terus berputar tersebut, Arnius dan yang lainnya mulai menyadari bahwa itu adalah salah satu perkakas buatan Yao yin. Mereka semua segera menjauh untuk memberi ruang benda kayu yang masih saja bergerak.
"Jangan lakukan apapun kita belum tahu pasti keberadaan mereka, tindakan kita bisa saja melukai keduanya."
Eiji mencoba mencegah Arnius yang mulai mendekati benda berputar tersebut.
Semakin lama kayu yang senantiasa berputar tersebut mulai terlihat semakin besar serta memperlihatkan pahatan berulir dan sedikit bergerigi. Setelah ujung lancip kayu penggali tersebut terlihat seluruhnya, getaran pada tanah mulai tidak terasa. Benda berputar itu kini telah berhenti seutuhnya, ada sedikit celah terbuka di sisi sebelah kiri.
"Disini tolong, cepatlah nona Yin terluka."
Terdengar teriakan Azumi yang sontak mengagetkan semuanya.
Tangan Azumi terlihat melambai pada celah kecil tersebut. Arnius segera mendekat kemudian menyisir perlahan butiran salju untuk memperlebar celah tersebut. Setelah celah tersebut sedikit lebih lebar, Arnius mulai melihat Yao yin yang terduduk sambil terus mendekap sebelah tangannya.
"Setelah kita keluar tolong tekan tuas putih untuk mengembalikan benda itu ke wujud semula."
Suara Yao yin terdengar sedikit bergetar, lengannya yang sebelah kanan terlihat berlumuran darah. Sementara kakinya terlihat sedikit membiru.
Dengan di bantu oleh Eiji, Arnius mulai mengikis seluruh salju di sekitar tempat itu. Sementara Haruka bersama Keiko membantu mengeluarkan Azumi dan juga Yao yin.
"Kakak tolong gendong kakak Yin, sepertinya tulang tangannya patah dan juga kakinya memar."
Keiko memeriksa tubuh Yao yin yang mulai terlihat lemas.
Arnius bergegas mendekati tubuh Yao yin yang sedikit bergetar karena menahan rasa sakit. Perlahan Arnius mengangkat tubuh Yao yin untuk membawanya menyingkir dari tempat tersebut. Setelah semuanya menjauh, Eiji mulai menekan tuas yang berwarna putih sesuai instruksi dari Yao yin sebelumnya. Benda besar berulir tersebut kini sudah berubah mengecil seperti gunung kecil yang berundak.
"Terimakasih atas bantuannya, maaf sudah merepotkan anda berkali-kali tuan."
__ADS_1
"Zora."
Arnius tidak menghiraukan ucapan Yao yin, pemuda tampan tersebut segera meminta Zora untuk mengobati luka Yao yin.
"Ar, nona Yin akan membunuhku jika harus aku yang membuka bajunya dan mengobati lengannya."
Zora mendekati Arnius serta sedikit memelankan suaranya.
Tidak ada jawaban dari Arnius, hanya tatapan tajam mata pemuda tampan tersebut seakan siap menggorok leher sang alkemis muda.
"Melihat tatapan matamu saja jantungku berhenti berdetak."
Zora kembali bergumam.
"Aku yang akan membantu kakak Yin, berikan obatnya."
Keiko bergegas mendekati Yao yin setelah menerima botol obat dari Zora.
Keiko mulai membantu Yao yin membuka pakaiannya kemudian membersihkan luka serta mengoleskan obat, setelah Minori menutup keberadaan keduanya dengan segel kabut.
"Harus ada yang menggendong kakak Yin, luka memar di kakinya membuatnya sulit untuk berjalan."
Keiko berkata setelah membuka kembali segel kabut buatan Minori.
Genta berdehem serta menepuk pelan pundak Arnius.
"Ayo kalian bersiap, kita harus segera menemukan tempat yang lebih hangat. Bagaimana dengan mu tuan Megan?"
Maroon tidak menjawab pertanyaan Arnius, melainkan mengeluarkan sebotol cairan kemudian meminumnya satu tegukan.
"Apa yang kau minum?"
Belum sempat Maroon menjawab pertanyaan Arnius, tubuhnya sudah bereaksi terlebih dahulu. Megan botak yang tadinya bertubuh besar, kini tubuh itu sedikit menyusut. Tinggi badan serta ukuran tubuhnya hanya sebesar manusia pada umumnya.
"Sampai kapan obat itu akan bereaksi?"
"Bisa sampai satu hari, aku hanya perlu meminum kembali ramuan ku."
"Hitung dengan benar waktunya setiap kali kau meminum ramuan itu, jangan sampai terlalu sering jika itu bisa membahayakan kesehatan tubuh mu. Atau jangan sampai terlewat karena saat tubuh mu membesar, kau bisa membahayakan kami semua."
"Siap tuan kecil."
__ADS_1
"Ayo Genta kita berangkat, mereka bisa mati beku di tempat ini."
Arnius bergegas membopong tubuh Yao yin ke atas punggung Genta yang kini sudah kembali menjadi sosok naga emas. Hampir sebagian dari anggota classic pearl menaiki tubuh Ryu kogane yang lebih panjang serta lebih lebar dari pada Minori dan juga Kin Raiden. Minori hanya membawa Keiko, Azumi, Haruka serta Sayuri. Sedangkan Raiden membawa Eiji, Kakek Yao, Naoki, dan Wu Ling. Tersisa Zora, Zen, Yao yin, Yuki, Maroon serta Arnius yang kini duduk tenang di atas punggung Ryu kogane.
Mereka terus bergerak di antara hujan salju yang semakin tebal. Minori yang tengah membawa Keiko di atas punggungnya terlihat bergerak lebih dahulu mendekati sebuah batu es yang memancarkan sedikit cahaya kemudian berhenti tidak jauh dari tempat tersebut.
"Tuan tampan tolong kau salurkan sedikit hawa panas mu untuk ketiga nona ini. Aku dan nona kecil mampu bertahan dari dinginnya tempat ini, tapi tidak untuk mereka. Tuan naga serta tuan Phoenix bisa menyalurkan panas dari tubuhnya tetapi aku tidak. Mereka bisa mati kedinginan."
Minori menurunkan tubuhnya ke tanah yang masih tertutup tumpukan salju tebal. Azumi, Haruka, dan juga Sayuri terlihat sedikit pucat karena menahan dingin yang begitu menusuk tulang. Arnius memegang lengan ketiganya untuk menyalurkan sedikit energi panas ke tubuh mereka.
"Sekarang apa ini Kei?"
Arnius menunjuk batu es yang ada di hadapannya. Batu tersebut sedikit mengeluarkan cahaya redup dari dalam bongkahan batu tersebut. Keiko mulai menempelkan telapak tangannya pada permukaan batu untuk mencari tahu kenapa batu tersebut mengeluarkan cahaya.
"Jangan sentuh batu itu nona."
Minori segera menarik paksa tangan Keiko yang hampir menyentuh permukaan batu.
"Kenapa?"
Eiji bergegas berdiri di depan Keiko serta memasang tameng udaranya untuk mencegah sesuatu yang mungkin saja terjadi.
"Tunggu, kau benar. Ada sesuatu yang aneh dengan batu ini."
Tameng udara Eiji semakin tebal dan menguat, semuanya mulai bergerak menjauh serta bersikap lebih waspada.
"Ada sesuatu di dalamnya."
Yuki berkata setelah memeriksa lapisan tanah yang tertutup salju tebal.
"Sebaiknya kita tidak membuat masalah, karena kita tidak tahu seberapa kuat para mahkluk penghuni dunia ini."
Arnius menyuruh semuanya menjauhi batu besar tersebut.
"Salah satu dari kalian naik punggung Raiden, dua lainnya bersama dengan ku."
Arnius kembali memberikan perintah dikarenakan tubuh Minori tidak mampu menyalurkan energi panas kepada para nona tersebut.
Seluruh rombongan mulai meninggalkan tempat tersebut, Keiko bersama Minori yang memimpin. Dikarenakan mereka lebih menguasai medan saat ini. Belum jauh mereka melayang dari tempat tersebut, batu besar yang tadinya tidak bergerak sedikitpun kini retak di berbagai sisinya.
"Batu itu akan pecah, semua menjauh."
__ADS_1
Seluruh anggota classic pearl terbang lebih tinggi setelah melihat batu yang baru saja mereka lewati penuh dengan retakan. Suara gemuruh kecil benar-benar terdengar setelah batu tersebut hancur hingga menyebabkan sedikit getaran yang menyebabkan salju di sekitarnya longsor.
"Mahkluk apa itu?"