
Beberapa kantung besar berisi bubuk peledak sudah terikat rapi, Zora menyimpan semua ke dalam cincin ruangnya termasuk semua benda yang berada dalam keranjang hijau yang di bawa oleh Kin Raiden.
Yuki sudah berhasil membuat sebuah jalan yang cukup luas untuk mereka lalui melewati lautan lumpur hitam yang masih saja meletup.
Zora seakan menangis saat harus meninggalkan lautan lumpur yang nyatanya adalah bahan utama untuk membuat peledak Kerajinan tangan yang begitu disukainya.
"Kau sudah mengambil beberapa karung, apa masih kurang, bahkan Yuki membantumu menyimpan semua lumpur yang masih basah itu ke dalam cincin ruangnya."
Kin Raiden terus menarik tangan Zora yang masih saja tidak rela meninggalkan tempat itu.
Setelah beberapa kali melewati pepohonan yang cukup lebat, kini mereka di hadapkan dengan beberapa bebatuan. Arnius yang selalu berjalan paling depan, tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya dan memberi tanda untuk menyebar.
Seluruh anggota classic pearl mengetahui setiap aba-aba yang diberikan oleh Arnius ataupun yang lainnya, karena mereka sudah membahas tentang cara memberi tanda apabila dalam keadaan yang berbahaya.
Arnius kembali memberi tanda setelah semua mengambil posisi aman. Tanda yang diberikan oleh Arnius mengenai seekor laba-laba besar yang dilihatnya sedang membuat sarang pada tumpukan batu yang masih cukup jauh dari tempat mereka.
Letak bebatuan itu memang masih cukup jauh dari mereka, namun ukuran tubuh laba-laba yang begitu besar membuat jarak diantara mereka tidak terlalu jauh.
"Laba-laba itu memiliki ekor kalajengking hitam. Waaaa... Sungguh mahkluk yang langka."
Zora bergumam pelan saat melihat binatang iblis yang berada di hadapannya.
"Kau juga mau membungkus monster itu?"
Kin Raiden berucap sedikit berbisik.
"Tentu saja, aku mau ekor kalajengking itu. Bisakah kau potong bagian itu untukku tuan Phoenix?"
Zora memasang wajah imut dan penuh harap, tak lupa dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada serta mengedipkan kedua kelopak matanya beberapa kali. Kin Raiden hanya mendengus perlahan serta menggelengkan kepalanya.
Arnius mengamati sekelilingnya, berusaha mencari jalan lain untuk menghindari monster itu demi keselamatan anggotanya. Karena ukuran monster yang begitu besar serta Medan yang tidak mendukung, tetap saja pergerakan mereka akan tetap di sadari oleh sang monster.
Arnius hanya menghela nafas pelan, ia menyadari monster di hadapannya memiliki racun mematikan serta benang-benang hitamnya yang berukuran cukup besar pasti sangat merepotkan.
Arnius mendekati Eiji yang berada di balik batu besar bersama Keiko dan sebagian anggota lainnya, Arnius menatap heran pada Zora yang berkali-kali mengedipkan kedua kelopak matanya.
"Ada apa dengan nya?"
"Dia menginginkan ekor kalajengking hitam itu."
__ADS_1
Kin Raiden menjawab singkat.
"Kalau begitu potong sendiri sana."
Arnius menjawab asal.
"Baiklah walau ini akan menjadi akhir perjalanan hidupku, akan ku lakukan semampuku. Bawa semua teman-teman melewati bebatuan saat aku melawan monster laba-laba itu."
Dengan penuh tekad dan keyakinan, Zora berniat melangkah mendekati monster laba-laba.
"Kau sudah siap menjadi hidangan pembuka?"
Kin Raiden kembali menarik kerah baju Zora, dengan mudah Kin sedikit mengangkat tubuh kurus Zora dan meletakkannya kembali ke tempat semula.
"Aku tahu kalian begitu kuat, tapi jangan perlakukan aku seperti anak kucing."
Mata Zora melebar dan hampir mencuat dari tempatnya.
"Dengarkan aku Zora, kau bawa pangeran, putri dan yang lainnya keatas bebatuan itu saat kami menyerang. Gunakan mainan mu itu jika diperlukan , kau mengerti."
Arnius menatap tajam Zora dan dibalas dengan anggukan penuh keyakinan.
Awalnya Arnius hanya melempar batu kearah yang berlainan dari jalur mereka, seketika laba-laba besar itupun melempar benang-benang hitam ke arah yang sama.
Eiji menunjuk ke salah satu jaring hitam yang menempel di antara pepohonan.
Wu Ling mulai memimpin teman-temannya untuk segera berlari diantara pepohonan dan bebatuan besar, setelah Arnius mulai menarik perhatian Laba-laba berekor kalajengking tersebut. Zora dan Yuki berlari paling akhir sebagai pengalih perhatian jika diperlukan.
Arnius, Eiji dan Genta menyerang laba-laba secara bersamaan. Kin tetap mengawasi pergerakan teman-teman mereka, sementara Keiko bersikeras ingin ikut melawan monster. Namun akhirnya Arnius hanya menyuruhnya mengamati pertarungan mereka dan hanya menyerang jika diperlukan.
Mereka memutuskan untuk berbagi tugas, Arnius menebas kepala monster dan sebagai umpan utama, sementara Eiji dan Genta menebas kaki dan bagian tubuh lainnya.
Arnius terus bergerak untuk menghindari semburan benang hitam yang bisa meleburkan apapun termasuk dirinya.
"Kau lambat, makanya jangan terlalu banyak makan."
Arnius berucap seolah monster itu mengerti dengan apa yang diucapkannya.
Eiji dan Genta berusaha mencari kesempatan untuk menebas setiap bagian tubuh laba-laba, namun laba-laba itu seolah memiliki mata di setiap bagian tubuhnya.
__ADS_1
"Tebasan beruntun."
Lagi-lagi serangan Arnius hanya mengenai ruang kosong, saat ia melompat mencoba untuk menebas kepala laba-laba.
"Menghilang .. Bagaimana bisa? kau aaaargh .."
Teriakan Arnius mengejutkan seluruh rekannya, tubuh Arnius terlempar keras dan menghantam pada sebuah batang pohon. Ia terkena sabetan ekor kalajengking dan bila ia tidak segera kembali bergerak, ekor yang kini sudah menancap pada batang pohon tersebut akan menancap pula pada tubuhnya.
Arnius kembali melancarkan serangannya begitupun Eiji dan Genta. Tubuh laba-laba yang begitu besar serta seolah memiliki mata pada setiap bagian tubuhnya, dengan gesit mampu menghindari setiap tebasan mereka.
"Eiji kunci pergerakannya .. Sekarang."
Arnius berucap lantang, sesaat kemudian Eiji menghentikan pergerakan udara disekitar mereka. Tubuh laba-laba besar itu mulai kesulitan bergerak, namun tidak untuk Arnius dan rekannya. Sesekali mereka berlatih disela waktu istirahat mereka, untuk menggabungkan kekuatan mereka hingga terbentuklah beberapa formasi walau belum begitu sempurna.
"Kei .."
Teriakan Arnius dibalas anggukan oleh Keiko, ia sudah mengetahui bagiannya. Sekarang seluruh kaki laba-laba itu membeku sepenuhnya.
Tanpa menunda lagi Arnius bergerak menebas kepala laba-laba begitupun Genta yang mulai menebas setiap kaki monster dengan gerakan cepatnya. Kin Raiden sudah berhasil menebas perut monster menjadi beberapa potongan, tak lupa ia pun menebas ekor kalajengking sesuai permintaan Zora.
SLAAAZZ
Kilatan pedang, pisau api serta petir yang bergerak menebas hampir secara bersamaan, menimbulkan suara menggelegar. Asap hitam pekat keluar dari dalam tubuh laba-laba yang sudah terbelah beberapa bagian, dengan cepat Eiji kembali memperkuat segel udara disekitar monster laba-laba yang sudah menjadi potongan.
"Menyingkir, kemungkinan asap ini mengandung racun."
Eiji berteriak keras.
Dengan cepat Arnius dan lainnya melesat menjauh, Wu Ling sudah memasang segel udara diantara para rekan lainnya untuk menghindari asap beracun yang keluar dari tubuh laba-laba.
Keiko sudah bersiap dengan gelembung airnya, ia mengira kakak keduanya akan kesulitan untuk menetralisir racun di dalam kepulan asap hitam.
Namun yang terjadi berikutnya membuat seluruh mata terpana. Eiji memutar asap hitam yang masih berada di dalam lingkaran segel udara yang dibuatnya. Pusaran angin yang begitu besar perlahan mengikis asap hitam hingga menghilang sepenuhnya.
"Kita harus terus melatih formasi tempur kita."
Arnius tersenyum kecil dan kembali memimpin kelompoknya melanjutkan perjalanan.
Zora dibantu oleh Kin Raiden membungkus ekor kalajengking yang begitu besar kemudian memasukkannya kedalam cincin ruang miliknya dengan senyum yang terus mengembang.
__ADS_1
"Tutup kembali mulut mu itu, jangan sampai ada lebah racun yang masuk. Gigi mu bisa kering kalau terus tersenyum."
Genta berucap pelan setelah membakar habis potongan tubuh laba-laba yang tersisa.