
"Ku harap kalian tidak akan lupa dengan apa yang baru saja kau ucapkan, ayo kakek kita berkemas. Jika perkiraan ku tidak meleset sebentar lagi akan muncul dua bulan dan bayangan gerbang ketiga akan terlihat."
Yao Yin beranjak dari tempatnya setelah mengatakan semuanya. Yao Yin kembali masuk kedalam rumah kemudian keluar setelah beberapa saat.
"Mari tuan muda kita keluar dari tempat ini."
Kakek Yao mempersilahkan semua tamunya keluar dari pekarangan rumahnya. Yao Yin mengibaskan tangannya setelah semua orang keluar dari dalam pekarangan rumah. Rumah, taman bunga, rumput, pepohonan dan bahkan kupu-kupu semua hilang seketika. Hanya menyisakan sebuah gulungan kertas, kemudian ia memasukkannya ke dalam kotak kayu kecil yang tergantung di pinggangnya.
Ukuran gulungan kertas lebih besar daripada kotak kayu yang terikat dengan baik di pinggang Yao Yin, namun hal itu tidak membuat heran Arnius dan rekannya karena kini mereka terbiasa dengan hal aneh sekalipun.
Dua matahari sudah mulai terbenam, suasana sekitar terlihat semakin gelap. Yao Yin terus memperhatikan perubahan langit yang terlihat semakin gelap, tangannya terlihat mengusap kotak kayunya kembali. Sekelebat cahaya terlihat, saat sebuah burung kayu kecil berada di genggaman kedua tangannya.
"Tunggulah Yin Yin bulannya belum terlihat."
Kakek Yao mengusap pelan bahu Yin Yin sambil terus memperhatikan langit.
"Dengarkan aku. Jika bulan sudah terlihat, kita akan terbang dan mencari letak bayangan gerbang dari ketinggian. Kita harus bergerak cepat sebelum bulan bergeser, apabila bulan sudah berpindah, letak bayangan gerbang pun akan berpindah. Dan juga pergerakan kita akan sangat mudah tercium oleh para iblis malam. Jadi ingat dengan janjimu tuan sok kuat."
Yao Yin menatap Arnius sekilas.
"Tentu saja nona. Kin kau bertanggung jawab atas kakek Yao, dan kau Eiji pastikan nona Yin baik-baik saja. Aku dan Genta akan mengurus para iblis yang mendekat. Kau tahu tugasmu Minori?"
Arnius menatap setiap rekannya dan di balas anggukan pelan.
"Aku penasaran memangnya apa tugasmu nyonya cantik?"
Yao Yin menatap Minori heran.
"Aku harus memastikan keselamatan nona Keiko. Jika dia kehilangan sehelai rambutnya saja, maka tubuhku pun tidak akan pernah utuh."
Minori menjawab sambil menatap tajam Arnius.
"Waao... Kau begitu berarti nona muda."
Yao Yin tersenyum kecil kearah Keiko.
"Tenanglah kakak, akan ada seseorang yang lebih berarti dari pada diriku suatu saat nanti."
Keiko menggandeng lengan Yao Yin manja.
"Sudah saatnya, bulan sudah mulai terlihat."
Yao Yin menatap bulan yang sudah mulai terlihat.
__ADS_1
"Sekarang Yin yin."
Kakek Yao menepuk pelan bahu Yao Yin.
"Kilat petir."
Setelah Yao Yin berteriak, burung kayu yang tadinya masih di genggaman tangannya tiba-tiba melesat ke angkasa dan berubah menjadi seekor burung yang begitu besar. Suara pekik burung terdengar setelah burung kayu tersebut terbang sedikit lebih rendah.
"Ayo semua kita naik."
Yao Yin kembali berucap seraya melompat ke atas punggung burung kayu yang sudah terbang lebih rendah dan pelan, disusul oleh kakek Yao, Arnius dan lainnya.
"Cepat cari letak bayangan gerbang ke empat."
Ucapan Yao Yin membuyarkan kekaguman seluruh rekan Arnius. Arnius dan yang lainnya terlihat begitu kagum saat berada di atas punggung seekor burung yang terbuat dari kayu. Burung yang tadinya kecil nyaris tampak seperti hiasan meja, kini berukuran besar dan mereka kini ada di atas punggungnya. Pandangan mereka beralih ke setiap tempat yang ada di bawah mereka untuk mencari letak pintu gerbang berikutnya.
"Di sana."
Genta menunjuk ke satu arah yang terlihat sebuah bayangan hitam berbentuk melengkung seperti sebuah gerbang besar.
Yao Yin yang mengendalikan burung kayunya dengan pikiran dan tenaga dalamnya, berusaha mengarahkan sang burung ke arah bayangan gerbang berada.
"Tugas kalian dimulai tuan-tuan."
Arnius dan Genta mulai melayang dan melancarkan serangannya ke setiap bayangan hitam, sementara Kin Raiden melayang tidak jauh dari burung kayu. Eiji tetap setia berdiri didekat Yao Yin serta senantiasa memperhatikan pergerakan di sekelilingnya.
Aroma daging bakar merebak di udara malam, saat Arnius dan Genta tak hentinya membakar setiap iblis yang berusaha mendekati mereka. Semakin dekat mereka dengan bayangan gerbang, semakin banyak iblis yang berusaha mendekati mereka. Kin Raiden ikut melayangkan kilatan petir saat puluhan iblis mendatangi mereka dari berbagai sisi.
Dengan sigap Minori memasang segel pelindung yang menutupi seluruh bagian tubuh burung kayu yang mereka naiki. Eiji melayang di sisi lainnya saat begitu banyak iblis yang lolos dari serangan api Arnius dan Genta.
"Kita sudah dekat, bersiaplah untuk turun kakek."
Yao Yin mulai melambatkan laju terbang burung kayu miliknya dan mulai terbang lebih rendah.
Yao Yin bersiul ringan setelah mereka semua turun dari punggung burung kayu, dengan sekejap burung kayu yang tadinya berukuran begitu besar berubah kembali menjadi seekor burung hias. Yao Yin kembali memasukkannya ke dalam kotak kayu kecil di pinggangnya.
"Suruh mereka cepat kemari sebelum gerbangnya menghilang."
Yao Yin menatap Eiji dan Kin Raiden bergantian.
"Kakak cepatlah."
Suara Eiji terdengar di kepala Arnius.
__ADS_1
Setelah membakar beberapa iblis, Arnius dan Genta memiliki kesempatan untuk segera melesat mendekati Eiji dan lainnya. Semua bergegas memasuki bayangan gerbang setelah Arnius dan Genta sudah bersama mereka.
"Minori tangkap kakek Yao."
Keiko berteriak keras saat ia merasakan tubuhnya hampir terjun bebas, ia baru menyadari bahwa saat ini mereka berada di atas tebing yang cukup tinggi. Eiji menyambar tubuh Keiko meskipun adik perempuannya sudah mampu melayang dengan sendirinya.
Yao Yin yang juga menyadari teriakan Keiko segera menyeimbangkan tubuhnya, walau tak berselang lama Arnius sudah lebih dulu menyambar tubuhnya dan membawanya terbang menuruni tebing.
Kakek Yao terlihat tenang saat duduk di atas punggung Minori yang sudah berubah menjadi kuda bersayap dan membawanya terbang menuruni tebing.
Keiko bersama Eiji tiba terlebih dahulu di dasar tebing. Saat ini wajah Keiko begitu berseri-seri, ia melihat kakak tertuanya memeluk pinggang ramping Yao Yin untuk membawanya turun. Senyum tak pernah hilang dari wajah keduanya.
"Semoga kau mampu menaklukkan hati kakakku."
Keiko mengucapkan keinginannya seraya menyatukan kedua tangannya dan memejamkan matanya.
"Doa mu akan terkabul adik kecil, kita akan membantu menyatukan keduanya."
Eiji tersenyum dan mengusap pelan rambut putih Keiko.
"Kau tidak lihat, wajahnya begitu buruk. Bagaimana mungkin Arnius menyukainya."
Genta yang baru saja tiba mendengar ucapan keduanya.
"Kau yang buta naga besar, itu hanyalah topeng untuk menutupi wajah giok nya. Kecantikannya bagai dewi surgawi, buka mata mu itu."
Keiko meninju pelan pundak Genta.
"Tubuh wanita itu selalu memancarkan hawa dingin ataupun panas yang begitu menyengat, aku mungkin tidak tahan bila harus selalu di sampingnya."
Kin Raiden ikut berkomentar.
"Itu dia sengaja karena tidak mau dekat dengan laki-laki seperti kalian, kami wanita berhak memilih siapa yang pantas untuk hidup kami dan tidak ada paksaan tentunya."
Keiko kembali berucap.
"Aku akan mendukung kalian, semoga mereka berjodoh. Aku sudah tua dan harus ada yang menjaga Yin Yin, dia hanya memiliki diriku saat ini. Nona muda penglihatan mu begitu tajam, tapi aku tidak akan mengatakan apapun biarkan Yin Yin yang mengatakan semuanya kepada kalian."
Kakek Yao tersenyum setelah turun dari punggung Minori.
"Terimakasih kakek aku akan berusaha."
"Iya nona kecil. Aku tahu kakakmu orang yang baik, dibalik semua sikap kerasnya."
__ADS_1
Yao Lian menepuk pelan pucuk kepala Keiko.