
Makaira sudah berhasil mengeluarkan seluruh racun di dalam tubuh Eiji. Kini tubuh Eiji terbaring di atas dipan kayu di dekat ruang kemudi Classic pearl.
Kin Raiden selalu berada di dekatnya, serta senantiasa menyalurkan energinya secara perlahan ke tubuh tuan mudanya. Phoenix merah itu benar-benar tidak ingin ada hal buruk yang bisa mengancam jiwa pemuda tampan tersebut.
Di dalam sebuah ruangan terlihat Genta yang begitu sibuk menata sebuah ranjang atas permintaan Keiko.
"Jangan sampai bersuara, angkat secara perlahan dan letakkan di sudut sebelah sana."
"Singkirkan kursi ini. Bawa juga mejanya."
"Minta Mei mei membawa beberapa selimut tebal kemari."
Genta mengerjakan setiap perintah Keiko tanpa mengeluh sedikitpun. Ia tahu bahwa gadis cantik itu masih sangat kesal dengan tingkah Sinziku yang telah berulang kali memeluk erat tubuhnya. Sekalipun Keiko berucap dengan ketus, namun Genta selalu berusaha tersenyum saat wajah keduanya saling bertatapan.
Genta selalu menghalau siapapun yang berusaha mendekati dirinya maupun Keiko. Tak jarang Sinziku begitu kesal karena ulah kakak pertamanya ini. Setiap kali ia berusaha mendekati Keiko, pasti Genta selalu menghempaskan tangannya untuk menjauhkannya.
"Tuan putri duduklah."
Seina menarik tubuh Sinziku yang sudah terhempas beberapa kali.
"Aku hanya ingin ikut membantu mereka."
Sinziku menghempaskan tubuhnya dengan kasar di atas kursi.
"Percuma nona, biarkan saja kakak lelakimu itu menjadi budak dari cintanya."
Wu Ling tersenyum kecil saat melihat wajah cemberut Sinziku.
"Setelah sekian lama, baru kali ini keduanya terlihat akur dan tidak bertengkar. Haaah..... Kapal ini pun terasa damai."
Zora menghela nafas panjang sambil tersenyum kecil.
"Apa mereka selalu bertengkar?"
Wu Ling hampir terjatuh dari atas tiang layar yang didudukinya, saat tubuh mungil Sinziku tiba-tiba muncul di sampingnya.
"Kapal ini bisa hancur jika mereka kembali bertengkar di tempat ini. Kau tahu kan mereka itu yang satu membakar dan yang satunya lagi membekukan. Tapi untunglah mereka masih merasa segan dan juga takut dengannya."
Wu Ling menunjuk Arnius yang hanya terdiam di anjungan kapal.
"Jadi dia komandan kalian."
Sinziku memperhatikan sosok Arnius yang sedang berdiri tegap.
"Dia yang terhebat."
Sinziku hanya mengangguk perlahan setelah mendengar penjelasan dari Wu Ling. Kini keduanya duduk di atas tiang layar.
Tangan Arnius terangkat untuk menangkap sesuatu yang terlempar ke arahnya.
"Berikan pil itu kepada istrimu setiap empat jam atau setelah ia makan. Jangan sampai ia lemas dan kekurangan darah. Sekarang pergi ke dalam dan temani istrimu."
Zora berucap keras setelah melempar sebuah botol berisi beberapa pil obat.
"Haah... Kalian ini, yang satu sama sekali polos soal wanita. Yang satu lagi menjadi budak cinta. Untunglah kalian memiliki teman seperti diriku."
Zora kembali bergumam.
"Memangnya kau bisa mendapatkan hati putri Azumi."
Sebuah apel melesat cepat hingga mengenai punggung Zora. Yuki yang hanya sibuk menghabiskan buah yang telah tertata di atas meja, ikut memberi tanggapan.
__ADS_1
"Haaah..."
Zora hanya menghembuskan nafas kasar serta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian seharusnya menghargai perjuangan Genta. Sekalipun mereka sering bertengkar, namun hati keduanya tidak pernah berubah."
Semuanya serentak menoleh ke arah Eiji yang masih terbaring.
"Kau sudah sadar."
Kin Raiden membantu Eiji untuk duduk.
"Kalian begitu berisik, bagaimana aku bisa tidur nyenyak."
Eiji duduk bersila dan mulai mengatur nafasnya. Zora bergegas mendekat dan memeriksa denyut nadi Eiji.
"Kau sudah membaik, hanya perlu beristirahat. Sebelum kau tidur lagi, sebaiknya kau lihat perempuan yang ada di dalam ruangan itu. Kata Arnius, kau akan menikah dengannya besok."
"Apa...."
Eiji begitu terkejut dengan ucapan Zora. Ia segera melesat mendekati kakak lelakinya.
"Kakak."
"Lihatlah wanita itu dan bangunkan dia. Katanya dia hanya akan bangun jika kau juga sudah sadarkan diri."
Arnius menepuk pelan pundak adik lelakinya.
"Lalu kenapa aku harus menikahinya, apa yang telah aku perbuat."
Eiji masih terlihat bingung, namun Arnius tetap melangkahkan kakinya menuju ke kamar Yao Yin.
Ucapan Seina membuat Eiji semakin tidak mengerti. Namun ia tetap melangkah mengikuti wanita muda itu, hingga memasuki sebuah ruangan dan terlihat seorang gadis cantik yang masih terbaring tidak sadarkan diri.
"Kenapa harus aku yang menyadarkannya, apa kau tidak bisa melakukannya. Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Sentuh dia dan berikan sedikit tenaga anda tuan muda."
"Kenapa harus menyentuhnya. Bagaimana kalau ada yang marah atau dia sendiri yang akan membunuh ku nantinya."
"Tolong lakukan saja."
Eiji hanya bisa menuruti permintaan Seina. Ia mulai menyentuh tangan Ai Sato, kemudian menyalurkan sedikit energinya. Gemerincing rantai mulai terdengar. Terlihat sebuah rantai putih berkilauan mengikat tubuh keduanya. Eiji menyentuh rantai yang kini terikat pada lengannya. Begitupun ujung rantai yang lain, yang juga telah terikat pada pinggang ramping seorang gadis cantik yang masih terbaring di hadapannya.
"Nona, duduklah. Ini minumlah nona."
Seina memberikan segelas air kepada Ai Sato yang sudah terbangun. Ai Sato memperhatikan sosok pemuda yang masih diam tertunduk memandangi rantai putih yang ada di dalam genggaman tangannya.
"Terimakasih kakak sudah menyadarkan aku."
Eiji beralih memandang wajah gadis yang ada di hadapannya.
"Bagaimana cara melepaskan rantai ini?"
Eiji menunjukkan rantai putih yang ada di genggaman tangannya.
"Jika hatimu memang tidak menginginkan rantai tersebut. Maka hanya dengan mengalirkan sedikit tenaga, rantai itu akan terlepas dengan sendirinya. Bisa juga jika ada seseorang yang membunuhmu atau menebas lengan mu, seperti yang kau lakukan pada pamanku. Maka rantai itu pun akan berpindah. Maaf jika harus merepotkan kakak karena rantai ini. Seina, aku ingin keluar menghirup udara segar."
Ai Sato turun dari atas ranjang, kemudian menyentuh rantai putih itu hingga menghilang dengan sendirinya. Ai Sato berjalan keluar dan melihat gumpalan awan yang terbelah saat dilewati oleh Classic pearl.
"Ai kau sudah sadar."
__ADS_1
Sinziku melayang dari ketinggian dan mendekati sahabatnya.
"Tuan putri juga ada di sini."
"Aku beralasan ingin menjagamu, namun sebenarnya aku ingin bersama dengan kakak pertama dan juga kakak ipar ku."
Sinziku tersenyum kecil seraya menunjuk Keiko yang duduk sambil terus memandangi dua keponakannya.
"Bagaimana dengan kakak cantik?"
"Dia baik-baik saja. Dia ada di dalam bersama dengan suaminya. Ai... Bisa kau perkenalkan dia kepada ku?"
Sinziku menunjuk seorang pemuda yang berdiri di belakang Ai Sato.
"Aku juga belum mengenalnya."
"Nama ku Ai Sato, maaf baru memperkenalkan diri."
Ai Sato sedikit menunduk di hadapan Eiji.
"Panggil saja aku Eiji."
Eiji berlalu dari hadapan Ai Sato.
"Seina, dimana mereka?"
Ai Sato beralih menatap ke bawah Classic pearl.
"Mereka selalu mengikuti kita nona."
Seina menunjuk gundukan batu di bawah mereka.
"Haah... Mereka bisa merusak apapun."
"Sekalipun harus menyebrangi lautan, mereka pasti akan mengikuti nona. Hanya nona yang bisa membuat mereka mengecil."
Ai Sato menempelkan jari kelingkingnya pada bibirnya, kemudian meniupnya. Suara siulan panjang yang di ikuti bayang-bayang dedaunan, muncul dari bibir Ai Sato. Sepasang batu kecil melesat ke atas telapak tangan Ai Sato.
"Diam dan jangan lakukan apapun."
Ai Sato berucap pada Dielu dan Doulu yang sudah berubah mengecil dari ukuran sebenarnya.
"Hati-hati nona, mereka bisa menghancurkan kapal ku."
Zen sedikit berteriak, saat melihat dua gorila batu yang kini berada di atas telapak tangan gadis muda yang baru dilihatnya.
"Maaf kapten, mereka tidak akan melakukannya. Semua perkenalkan, namaku Ai Sato. Dan dia Seina, temanku. Sementara mereka berdua adalah Doulu dan Dielu, sahabatku."
Ai Sato sedikit menundukkan kepalanya saat semua orang memperhatikan dirinya. Ia melihat seorang laki-laki berbadan besar keluar dari dalam ruang kemudi kapal bersama seorang gadis kecil.
"Terimakasih nona cantik, akan ku perkenalkan satu persatu anggota kami. Mungkin kelak kau adalah anggota baru kami. Seperti yang kau tahu, aku adalah Zen sang kapten Classic pearl. Dia Wu Ling, Yuki, Zora sensei, calon suami mu Eiji, Kin Raiden sang Phoenix merah serta kedua kakak ipar mu yang sedang berada di dalam. Dan mereka Genta serta calon adik ipar mu Keiko. Yang bersama dengan ku ini adalah Shiro Kame, dia chio, Robaki dan Mon Mon. Sementara yang gendut dan bulat itu adalah Kuma."
Zen menunjuk satu persatu setiap orang yang disebutkannya.
"Terimakasih semuanya."
Ai Sato kembali menunduk.
"Kita akan mengunjungi kedua orang tua Genta dan semua saudaranya. Setelah itu kita akan ke rumah komandan Sato untuk melangsungkan pernikahan Eiji."
Arnius berkata setelah keluar dari dalam ruangan bersama dengan Yao Yin.
__ADS_1