Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kembali


__ADS_3

Kin Raiden menurunkan seluruh rekannya di antara bebatuan di sekitar oasis. Zora , Wu Ling dan juga Chio memapah satu persatu rekannya, membawa mereka ke tempat yang lebih teduh. Zora memberikan beberapa pil kepada mereka semua, untuk membantu memulihkan kondisi tubuh masing-masing.


Entah berapa lama mereka memulihkan kondisi tubuhnya. Karena matahari tidak pernah tergantikan oleh rembulan, sehingga mereka pun tidak pernah tahu berapa lama mereka ditempat ini.


Meskipun guncangan masih begitu terasa hingga di tempat ini, namun tidak berakibat fatal bagi kondisi di sekitar tempat itu.


"Apakah tempat itu benar-benar sudah hancur?"


Kin Raiden bergumam perlahan setelah ia telah membuka matanya kembali.


"Terimakasih atas bantuan kalian semua."


Arnius berucap lirih, kemudian memandang satu persatu rekannya.


"Hei.. Sebaiknya tidak ada kalimat terimakasih diantara kita. Bukankah kita akan selalu saling membantu."


Zora menyentuh pundak komandannya tersebut.


"Entah sudah berapa lama kita menghabiskan waktu di tempat ini. Tempat ini sama sekali tidak mengalami perubahan waktu."


Zora mencoba menghitung waktu yang telah mereka habiskan di tempat ini, namun sepertinya sia-sia. Karena memang tidak terlihat jika ada perubahan waktu di tempat itu.


"Terakhir kali aku berbicara dengan gadis kecil ku, dia bilang kalian baru saja merayakan hari kelahirannya. Apa itu benar?"


Arnius tersenyum kecil.


"Benar. Kana dan Ryota sudah berusia tiga tahun saat itu, namun entah saat ini."


Wu Ling ikut dalam perbincangan mereka. Di antara perbincangan singkat tersebut, terdengar Eiji menghela nafas panjang seraya bergumam perlahan.


"Haah... Semoga dia baik-baik saja."


"Siapa? apa adik ipar, ada apa dengannya?"


Arnius mendengar gumaman pelan dari bibir adik lelakinya itu.


"Nona Ai sedang hamil tua, saat kami pergi dari tempat itu."


Shiro yang juga sudah kembali memperoleh tenaganya ikut menjawab.


"Tenanglah, Yin Yin bersama dengannya. Lagi pula kalian masih berada di dalam markas pasukan the Beast bukan, jadi masih ada kedua mertuamu. Ayah dan ibunya pasti membantu menjaga istri mu."


Arnius tersenyum kecil seraya menepuk pelan bahu adik lelakinya. Eiji hanya membalas dengan anggukan singkat. Kini pandangan mereka semua tertuju pada dua buah batu yang tergeletak di pangkuan Arnius.


"Bagaimana dengan batu itu? apa benar benda itu yang kita cari?"


Kin Raiden menunjuk batu yang ada di hadapan Arnius.


"Aku mencoba sedikit memberikan jarak diantara dua batu itu, namun panas keduanya seolah semakin meningkat."


"Jadi batu itu menang harus saling berdekatan."


"Hm."


Arnius menjawab singkat.


"Masukan saja kedua batu itu ke dalam cincin ruang, supaya tidak menarik perhatian."

__ADS_1


Eiji sedikit memberikan saran.


"Selain giok hitam, aku tidak memiliki cincin ruang lainnya. Dan bahkan Fudo pun tidak lagi bersama dengan ku."


Arnius teringat dua benda yang selalu berada di dalam tubuhnya.


"Beberapa pasukan the Beast dibuat kalang kabut, saat gadis kecil itu menggenggam Fudo di tangannya. Hanya harimau merah itu yang mau menemaninya bermain, itupun saat dia sedang tidak bertugas. Sementara yang lainnya memilih untuk menghindar dan bahkan bersembunyi saat baru melihat bayangan putri kecil mu itu."


Kin Raiden menceritakan sedikit tentang tingkah keponakan cantiknya yang juga putri kecil Arnius.


"Aku melewatkan tumbuh kembang mereka."


Arnius tersenyum getir.


"Tenanglah, naga besar itu benar-benar menjadi paman yang baik untuk mereka. Kau tahu apa yang selalu mereka ucapkan saat keduanya berbicara dengan ku?"


Eiji tersenyum kecil sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Paman membosankan. Itu adalah julukan mereka untuk ku."


Eiji kembali menepuk pundak kakak lelakinya.


"Kau harus belajar untuk lebih banyak berbicara saat bersama dengan kedua monster kecil itu."


Zora ikut berbicara.


"Monster?"


Arnius mengerutkan keningnya dan menatap tajam wajah sensei muda tersebut.


Zora mengingatkan mereka untuk kembali ke dunia bulan.


"Tolong simpan batu ini ke dalam cincin ruang milik mu."


Arnius menyerahkan dua batu miliknya kepada Zora.


"Tidak, sebaiknya kau simpan sendiri. Pakai ini. Walaupun tidak seperti giok hitam, namun ini bisa menyimpan beberapa benda mati. Aku akan menjelaskan tentang berbagai kegunaan benda ini, jika nanti kita sudah tiba di dunia bulan."


Zora melingkarkan sebuah benda berwarna hitam, di salah satu pergelangan tangan Arnius.


"Kau cukup mengayunkan lengan mu, untuk memasukan atau mengeluarkan benda. Seperti halnya giok hitam."


Zora kembali menjelaskan. Arnius hanya mengangguk dan mulai memasukkan kedua batu yang baru saja mereka dapatkan.


"Baiklah sekarang bagaimana caranya kita akan kembali."


Arnius menatap wajah adik lelakinya.


"Tolong kakak hubungi kembali keponakan cantik ku itu. Dengan bantuannya, bisa memastikan kita tidak akan tersesat karena perbedaan dimensi."


Arnius melakukan apa yang diminta oleh Eiji. Pria itu sejenak memusatkan perhatiannya dan mulai bergumam.


"Kana... Apa kau mendengar suara ayah?"


Hening sejenak sebelum Arnius kembali berucap setelah mendengar sahutan dari putri kecilnya.


"Ayah, kenapa kalian lama sekali."

__ADS_1


"Memangnya berapa lama?"


"Mm... Berbulan-bulan, mungkin hampir satu tahun. Paman Ryu hampir berjanggut, jika dia tidak menghentikan kontak dari ayah beberapa bulan yang lalu karena sakit perut."


"Baiklah, sekarang pusatkan perhatian mu. Ayah akan mencoba untuk kembali."


"Yeeaay."


Kana melonjak kegirangan dan hal itu menjadi perhatian Yin Yin, Ryu kogane dan juga yang lainnya.


"Ayo cepat Kana."


Ryota yang sejak tadi bermain dengan adik perempuannya itu mulai saling menggenggam erat dan memejamkan matanya. Ryu kogane bergegas mendekati keduanya dan ikut menyalurkan energinya untuk menjaga kondisi tubuh kedua bocah itu.


"Formasi."


Kuma bergegas berdiri dan menyiapkan tubuhnya, semua Classic team bergegas menempati posisi masing-masing. Kali ini Kin Raiden tidak menyatu ke dalam tubuh Eiji, melainkan saling bergandengan tangan dengan Arnius. Sementara tangan yang lainnya memegang lengan besar Kuma.


"Sekarang Eiji."


Wu Ling sedikit berteriak setelah mendapatkan titik keberadaan Kana dan Ryota. Eiji pun juga bisa memastikan titik tersebut. Cahaya terang menyelimuti seluruh tubuh mereka hingga menghilang dalam sekejap.


Tidak jauh dari tempat Kana dan Ryota duduk, kilatan cahaya mulai tampak di sana. Terlihat beberapa sosok tubuh mulai tampak dengan jelas.


"Paman."


Ryota bergumam perlahan sebelum pria kecil itu jatuh ke pelukan sang paman karena tidak sadarkan diri. Begitupun Kana yang sudah pingsan terlebih dahulu tanpa berucap apapun. Keduanya tergolek lemas dalam pangkuan sang naga emas Ryu kogane.


Yin Yin dan Keiko mendekat serta mencoba untuk menggendong tubuh ke dua anak itu. Tubuh Ryota sudah tumbuh semakin besar dan tinggi, sehingga ibunya hanya bisa menggeser kepala putranya untuk dipindahkan ke pangkuannya. Begitupun dengan Kana yang kini sudah berpindah ke pangkuan bibinya.


Yin Yin memasukkan sebutir pil ke dalam mulut putra dan putrinya, kemudian Ryu kogane mulai membantu kedua keponakannya untuk mencerna pil tersebut.


"Komandan."


Tubuh Arnius dan seluruh rekannya mulai terlihat. Zen berlari mendekat, diikuti oleh Kuro dan Robaki.


Eiji langsung duduk bersila untuk memulihkan kembali energinya yang kembali terkuras, setelah menelan satu butir pil pemberian Zora. Begitupun dengan Kin Raiden, Phoenix merah itu membantu tuanya memulihkan kondisi tubuhnya.


"Anak ku."


Arnius mengusap lembut wajah Kana dan Ryota yang masih terpejam. Pandangannya beralih menatap wajah Yin Yin kemudian merengkuh tubuhnya.


Wanita bercadar itu sedikit terisak di dalam pelukan suaminya.


"Terimakasih sudah menjaga mereka."


"Hm. Mereka anak ku."


Arnius beralih memeluk tubuh adik perempuannya.


"Kakak terlihat lebih kurus."


Keiko mengusap air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Ya, sebaiknya kau memasak banyak makanan. Aku akan menghabiskannya."


Arnius tersenyum dan mengusap lembut rambut putih adiknya.

__ADS_1


__ADS_2