
Eiji menyadari perubahan sikap sang kakak, dengan sigap Eiji mengambil posisi memimpin para burung supaya bergerak lebih cepat menyusul Arnius.
"Kakak, aura ini terasa seperti milik panglima laut timur."
Eiji mencoba berbicara dengan Arnius.
"Benar, namun hanya sedikit aura dari naga merah itu. Mungkin hanya keturunannya. Aura itu bercampur dengan sesuatu yang lebih kuat. Bersiaplah. Kau lindungi yang lain, aku akan mencarinya terlebih dahulu."
"Baik."
Arnius terus melesat bersama Ryu kogane mencari asal dari aura yang mereka rasakan.
"Semakin kuat, Kogane ... "
Teriakkan Arnius tertahan saat merasakan aura pembunuh yang mulai menghadang jalan mereka, api biru keluar dari tubuh Arnius sebagai perisai dari puluhan panah hitam yang melesat kearah mereka.
Arnius membakar puluhan panah yang berasal dari aura membunuh seseorang, atau sesuatu yang juga merasakan kehadirannya.
"Berkumpul."
Eiji melihat ledakan api biru Arnius dari kejauhan, serta puluhan asap hitam yang berbentuk panah. Suara pekik sang Phoenix membahana di langit senja, seketika sekumpulan burung elang yang membawa seluruh anggota classic pearl saling mendekat.
Kilat petir Eiji mulai menutupi seluruh burung pemangsa untuk menghindari lesatan panah yang mungkin lolos dari api Arnius.
"Kogane bertahan."
Suara keras Arnius membuat geraman sang naga emas semakin terdengar mengerikan. Hanya dengan satu kali geraman besar dari sang naga emas, aura hitam itu telah hilang sepenuhnya.
Pekik sang Phoenix terdengar menggema sesaat setelah geraman sang naga emas yang begitu menggelegar.
"Anulata .. Kau akan musnah kali ini."
Suara Ryu kogane terdengar berat namun benar-benar jelas.
"Kau mengenalnya."
Arnius mencoba berbicara dengan sang naga emas.
"Hmm .. Dia termasuk jenis ku, namun sepertinya kali ini dia tidak berpihak padaku."
Arnius mengangguk mengerti kemudian ia kembali mengeluarkan api biru, saat puluhan sisik hitam mendekat dengan kecepatan tinggi. Kembali geraman keras sang naga emas terdengar membahana, suara geraman tersebut terdengar dengan jelas oleh sang Phoenix beserta kawanannya.
Geraman yang membuat gendang telinga bergetar. Eiji mengerahkan tenaganya untuk membantu seluruh anggotanya menekan efek geraman mengerikan sang naga emas. Sekalipun Eiji sudah membantu seluruh rekannya tetap saja ada beberapa rekannya yang terluka. Zen dan Zora terlihat mengeluarkan darah dari hidung mereka. Sementara Sayuri langsung pingsan dan hampir terjatuh dari punggung elang yang dinaikinya, dengan sigap Keiko menangkap tubuh Sayuri yang tergolek lemas.
Seketika seluruh sisik hitam berubah menjadi abu setelah geraman keras sang naga emas. Kepulan asap hitam kembali terlihat oleh Eiji beserta seluruh rekannya, usai suara geraman.
__ADS_1
"Lindungi seluruh indra kalian."
Eiji berusaha mengingatkan teman-temannya.
"Mereka belum saling bertemu namun dampak serangannya begitu mengerikan."
Eiji bergumam pelan.
"Apa kita hanya akan menjadi penonton tuan kecil?"
Kin Raiden bertanya pada Eiji yang masih duduk dengan tenang di atas punggungnya.
"Kita harus memastikan semua anggota kita baik-baik saja sebelum ikut dalam pertempuran."
Eiji menjawab pelan.
"Minori apa kau bisa memastikan keselamatan mereka?"
Kin Raiden mensejajarkan tubuhnya di dekat Keiko yang melayang bersama Minori.
"Jika memang di perlukan akan aku usahakan."
Minori menjawab singkat.
Keiko ikut menambahkan.
"Baiklah, ayo kita selesaikan bersama."
Eiji melesat beriringan dengan Minori tanpa melonggarkan perisai petir yang menutupi seluruh rekannya.
"Maaf mungkin akan sedikit tidak nyaman, namun ini yang terbaik untuk kalian, Zora rawat Sayuri dan Zen dengan baik."
Keiko memasukkan ketiga rekannya kedalam cincin ruang miliknya, setelah mendapat anggukan dari yang bersangkutan. Cincin ruang milik Keiko memang bisa menyimpan benda bernyawa, namun tidak sebanyak dan seluas giok hitam.
Tidak lupa Wu Ling meminta beberapa peledak dari Zora dan menyimpannya, sebelum Keiko memasukkan temannya itu ke dalam cincin ruang miliknya. Saat ini tersisa Ayumi, Naoki, Haruka, Yuki dan Wu Ling yang masih duduk tenang di atas punggung elang mereka.
Seharusnya Eiji membawa seluruh rekannya menjauh dari pertempuran, namun kali ini mereka tidak akan membiarkan Arnius berjuang seorang diri.
"Kami memutuskan untuk berjuang bersama dengan dirimu kak. Mereka terlalu kuat jika harus kau lawan seorang diri."
Eiji mengirim pesannya pada Arnius melalui pikiran.
"Baiklah."
Arnius hanya menjawab singkat pesan dari Eiji tanpa melonggarkan sedikitpun kewaspadaannya.
__ADS_1
Arnius semakin dekat dengan Anulata, sosok ular besar berkepala tiga mulai terlihat. Semburan asap hitam menyambut kedatangan Arnius bersama Ryu kogane. Namun hanya dengan kibasan ekor sang naga emas, kepulan asap hitam tersebut hilang sepenuhnya.
"Anulata .. Akan ku musnahkan kau hingga tidak akan pernah terlahir kembali."
Geraman Ryu kogane kembali membahana, kali ini puluhan panah api biru melesat menghujani hampir sebagian anak buah pangeran Yosi. Mereka yang tidak sempat menghindar langsung terbakar hingga tak bersisa.
"Naga emas sang legenda terlahir kembali, dan berhasil selamat dari kudeta para pendahulu. Itu hanyalah sebuah keberuntungan."
Anulata menyemburkan cairan hitam pekat dari ketiga mulutnya hingga menyebabkan hujan bisa ular yang mematikan.
Ryu kogane kembali mengibaskan ekornya hingga merubah arah angin, bisa ular kini berbalik arah dan menghujani beberapa anak buah pangeran Yosi. Pangeran Yosi sendiri terlihat berdiri tenang di atas punggung Anulata yang sudah membuat segel pelindung sehingga mereka terhindar dari bisa ular yang sudah dihempaskan kembali oleh Ryu kogane.
"Kau masih saja bermain dengan racun tidak berguna itu Anulata, kau tidak mengukur kemampuan mu hingga berani melawan diriku. Bersiaplah untuk musnah dari dunia ini." Ryu kogane melesatkan api biru hingga mengikat dua kepala Anulata.
Anulata mengibaskan ekornya untuk melepaskan jeratan api Ryu kogane, ular berkepala tiga itu mampu melepaskan diri namun luka yang di dapatnya tidaklah ringan. Pangeran Yosi menempelkan sebuah mutiara roh berwarna merah pada luka Anulata, hanya dalam beberapa tarikan nafas luka itu kembali menutup.
"Pantas saja ada aura keberadaan panglima naga laut timur, kau mengambil mustika miliknya dasar pangeran sesat."
Arnius bergumam pelan.
"Berikan mutiara itu kepada ku pangeran, aku akan bertambah kuat dan akan mudah mengalahkan naga emas itu."
Anulata terlihat berbicara dengan pangeran Yosi.
"Dan kau akan membuang ku atau bahkan membunuh diriku. Tidak Anulata, aku tahu kau benar-benar ular berbisa. Jika masih ada paman naga laut timur aku tidak akan pernah bergantung padamu untuk membunuh naga itu."
Pangeran Yosi kembali menyimpan mutiara naga laut timur.
"Sekalipun aku mampu mengalahkan naga emas itu kau belum tentu hidup pangeran dan begitupun sebaliknya, jika naga itu berhasil membunuhku maka tidak ada tempat untuk dirimu lari dari tempat ini. Maka tidak ada pilihan untukmu pangeran."
Anulata kembali bernegosiasi dengan pangeran Yosi.
"Kau tampaknya juga tidak begitu pintar pangeran. Kau tahu naga laut timur musnah di tanganku dan sekarang kau mengandalkan ular berbisa yang bahkan lebih rendah dari sang naga laut timur."
Terlihat mulut Ryu kogane terbuka lebar dan muncul semburan api yang besar melesat cepat menuju tempat Anulata dan Yosi berdiri.
Gerakan Anulata begitu cepat, dengan mudah dia menghindari setiap semburan api sang naga emas.
"Berikan mutiara itu padaku sekarang atau kita akan musnah di tangan naga emas."
Anulata kembali berteriak.
Semburan api biru sang naga emas semakin cepat dan bervariasi. Ryu kogane sama sekali tidak membiarkan lawannya menarik nafas sejenak. Ryu kogane mengetahui dengan jelas, bahwa tidak mudah melawan sosok ular berkepala tiga ini. Jika hanya mengandalkan pukulan serta serangan jarak dekat. Hal itu hanya akan menguntungkan bagi Anulata, yang memang terkenal karena kekuatan bisa ular yang mematikan.
Anulata yang merupakan keturunan dari sang dewa ular dari negeri barat. Memiliki ribuan racun mematikan pada setiap patukannya, ataupun semburan bisa dari ketiga mulutnya.
__ADS_1