Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Tas tua Maroon


__ADS_3

"Kakak hati-hati."


Keiko sedikit terbata saat melihat kakak tertuanya berdiri di atas telapak tangan troll botak tersebut.


"Namaku Maroon siapa kau dan untuk apa kalian di tempat ini?"


Maroon mengangkat tubuh Arnius yang ada di telapak tangannya.


"Aku ingin keluar dari pulau terkutuk ini bersama dengan seluruh temanku, jika kau memang troll yang baik bisakah kau memberi tahu kemana kami harus pergi?"


Arnius sedikit mengeraskan suaranya.


"Aku mungkin bisa membantu kalian, tapi sekarang sebaiknya kalian masuk kedalam tas ku. Ada yang mengikuti diriku, dan sebaiknya kalian bergegas jika tidak ingin berakhir sebagai makanan."


Maroon memasukkan Arnius kedalam tas tua miliknya.


"Sudah kuduga. Kau hanya akan berdiri di tempat ini, sebaiknya kau segera mencari bahan yang kau butuhkan untuk membuat minuman itu."


Teriakan keras terdengar semakin mendekat.


Tubuh Maroon terjungkal ke tanah saat seorang troll mendorong tubuhnya, tongkat serta tas tuanya terlempar jauh darinya.


"Kane, apa kau tidak lihat aku sedang mengawasi tempat ini untuk mencari bahan ramuan tersebut."


Maroon mencoba berdiri kembali, ujung matanya sedikit melirik ke arah tas tua miliknya yang hampir terjun ke sungai.


"Tolong bersabarlah."


Maroon kembali berucap seraya mengambil kembali tas tua tersebut.


"Baiklah. Tapi ingat besok saat matahari kembali muncul, minuman itu sudah harus tersedia."


Kane berlalu pergi meninggalkan bukit kecil tersebut.


Setelah kepergian Kane, Maroon kembali membuka tas tua miliknya. Dia sedikit tertawa saat melihat Arnius beserta seluruh rekannya saling tumpang tindih karena terguncang saat tas tersebut terlempar.


"Maaf tuan kecil, mereka para troll memang tidak memiliki kesabaran. Sekarang aku harus membuat minuman itu sebelum mereka mencincang tubuh kurus ini, sebaiknya kalian ikut bersama dengan ku untuk sementara."


Maroon kembali menutup tas miliknya.


Setelah ia mengambil bahan yang ia butuhkan, troll botak tersebut berjalan kembali ke rumahnya.


"Hei Maroon, apa aku benar-benar bisa mempercayai dirimu."


Arnius terbang menuju ujung tas yang sedikit terbuka kemudian berkata sekeras-kerasnya.


"Tenanglah tuan kecil, aku tidak akan menyakiti kalian. Lagi pula tidak ada troll lain yang bisa kalian percaya, mereka hanya akan menjadikan kalian hidangan di atas meja makan."


Maroon semakin mempercepat langkahnya, ia takut jika harus bertemu dengan troll lainnya.


Sesampainya di rumah ia meletakkan tas miliknya di atas meja kemudian membukanya.


"Aku harus membuat minuman atau mereka akan mencincang tubuh tua ini."

__ADS_1


Maroon bergegas memasuki sebuah ruangan yang lebih terlihat seperti ruang penelitian.


Arnius dan yang lainnya selalu mengikuti setiap hal yang dilakukan oleh Maroon. Di ruangan tersebut terdapat banyak sekali botol kaca yang berisi cairan bening dengan warna yang berbeda. Ada pula botol yang berisi asap dengan warna yang berbeda pula.


"Jangan sentuh apapun, ingat jangan sentuh apapun."


Maroon terus mengulangi kalimatnya.


Maroon terlihat begitu sibuk, troll botak tersebut terlihat sedang mencampur beberapa cairan kedalam satu botol kosong. Ia terus melakukannya hingga kurang lebih terdapat sepuluh botol kaca yang berisi cairan yang sama. Kemudian ia mulai merebus beberapa bahan kemudian melakukan penyulingan dengan peralatan seadanya yang dimilikinya, hingga menghasilkan beberapa cairan. Kemudian ia memasukkannya ke dalam botol kaca. Ia terus melakukannya hingga larut malam. Rasa kantuk mulai mendera kedua mata troll botak tersebut, mulutnya tak berhenti menguap.


"Sebaiknya aku tidur, dan kalian cari sendiri tempat untuk kalian beristirahat."


Maroon berkata seraya berjalan ke sebuah kursi panjang, kemudian mendudukkan tubuhnya serta bersandar dengan nyaman, tak lama kemudian terdengar dengkuran dari mulutnya.


"Hais... Troll botak itu menyuruh kita beristirahat. Namun dia sendiri menimbulkan suara berisik yang tidak karuan. Lagi pula sepertinya sebentar lagi matahari akan terbit."


Keiko mengumpat kesal.


"Ar apa benar troll botak itu bisa membantu kita?"


Naoki mendekati Arnius yang tengah duduk di atas sebuah pisau dapur.


"Dia tadi berkata demikian, jadi sebaiknya kita menunggunya. Istirahatlah pangeran."


Arnius memperhatikan satu persatu rekannya yang mulai mengambil tempat untuk sekedar merebahkan tubuhnya.


Keiko terlihat merebahkan tubuhnya di dalam sebuah sendok makan yang masih bersih, dengan ditemani Minori yang selalu berada di sampingnya. Terlihat Azumi, Sayuri dan Haruka, tertidur tepat di tengah sebuah piring yang begitu besar. Zen, Yuki, Zora, Naoki serta Wu Ling nampak tertidur melingkar di pinggiran piring besar tersebut. Sementara para panglima hanya merebahkan tubuh di atas meja besar tersebut.


"Siaga dan bangunkan yang lainnya."


Arnius berkata pelan.


Eiji yang juga merasakan getaran tersebut, segera membangunkan rekannya yang lain.


"Bersembunyi, sepertinya ada yang datang ke tempat ini."


Arnius kembali berucap.


"Masuk ke dalam tas itu."


Genta mulai memberikan aba-aba.


Seluruh anggota classic pearl kembali masuk ke dalam tas tua milik Maroon termasuk Arnius.


"Tetap bersama, aku akan masukkan kalian ke dalam giok hitam jika keadaan begitu mendesak."


Ucapan Arnius di balas dengan anggukkan oleh setiap rekannya.


Guncangan semakin terasa saat seseorang membuka pintu rumah dan mulai melangkah


memasuki ruangan tersebut.


"Maroon berikan minuman itu kepada ku."

__ADS_1


Teriak troll besar yang menghadang Maroon semalam.


Maroon yang masih tertidur begitu nyenyak, terbangun ketika suara menggelegar itu kembali terdengar.


"Iya, ini ambillah. Sekarang silahkan pergi dan jangan lagi menggangguku."


Maroon menyerahkan sebotol cairan dan berharap tetangganya itu segera keluar dari rumahnya.


"Tidak, aku mencium sesuatu. Apa yang kau sembunyikan Maroon?"


Kane mengendus tubuh Maroon serta beberapa tempat di sekitarnya.


"Tidak ada apapun di sini, apa yang kau cari?"


Maroon berusaha mendorong tubuh Kane untuk segera keluar dari dalam rumah.


Tubuh Kane yang lebih besar dan tinggi membuat Maroon kewalahan. Kini tubuh Maroon yang terjungkal menimpa kursi serta perabot rumah lainnya saat Kane sedikit mendorong balik tubuh kurus tersebut.


"Aku mencium bau harum, apa yang kau sembunyikan di sini?"


Kane terus mengendus setiap sudut ruangan tersebut.


"Manusia, kau mencoba menyembunyikannya dengan harum wewangian ini."


Kane semakin mengobrak-abrik seluruh isi ruangan tersebut.


"Kau tidak lihat tanaman bungaku tumbuh subur di luar, bunganya bermekaran jadi harum baunya sampai ke dalam rumah."


Maroon membuka jendela yang menempel pada dinding ruangan, dan benar saja terlihat berbagai bunga bermekaran di samping rumah.


"Haaah.... Kau membuatku kecewa Maroon. Awas saja jika kau benar-benar menyembunyikan manusia, maka habis riwayatmu."


Kane sempat mengancam sebelum keluar dari dalam rumah.


"Lalu siapa yang akan membuat minuman itu untukmu jika kau membunuh peraciknya."


Maroon tersenyum kecil kemudian segera menutup kembali pintu rumahnya.


"Aku akan mengantar kalian menuju gerbang untuk keluar dari tempat ini setelah keadaan sedikit membaik, namun bisakah seseorang yang bertubuh besar seperti ku ikut keluar dari tempat ini?"


Maroon memandang Arnius yang sudah berdiri di atas tas tua miliknya.


"Jika itu mungkin, kau bisa tinggal di gerbang selanjutnya. Tapi kenapa kau ingin pergi? bukankah semua temanmu ada di sini?"


Genta yang berdiri di samping Arnius ikut bertanya.


"Mereka hanya menindas ku karena tubuhku lebih kecil dari pada mereka, namun aku memiliki otak sedikit lebih cerdas dari pada para troll bodoh itu."


Maroon mulai membereskan rumahnya yang berantakan.


"Baiklah aku akan mencoba untuk hidup di gerbang selanjutnya, aku akan berkemas."


Maroon tersenyum kecil kemudian segera mengemasi beberapa barangnya.

__ADS_1


__ADS_2