Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Di mana rekan kalian?


__ADS_3

Sisa kumpulan asap tebal mulai menghilang perlahan, tubuh Arnius pun tidak lagi terlihat. Yao Yin dan Keiko yang menyaksikan semua kejadian itu dari batu mutiara di dalam giok hitam hanya bisa terisak dan saling berpelukan.


"Kalian benar-benar membuat ku kesal. Akan aku pastikan alam kalian hancur hingga tak bersisa, jika kalian menyakiti kakak ipar."


Teriakkan Ai Sato menggelegar hingga lesatan petir dan api masuk diantara sisa kepulan asap tebal.


"Doulu, Dielu menyatu."


Ai Sato kembali berteriak keras. Dua gorila batu yang tadinya terpisah, kini melayang saling berdekatan.


"Pangeran naga, cepat bawa kapal itu menjauh."


Makaira menatap tajam wajah Ryu kogane, setelah mendengar teriakkan putri kecilnya. Genta bergegas memasukkan Classic pearl beserta seluruh rekannya ke dalam giok hitam. Makaira melesat membawa tubuh Sinziku menjauh dari tempat tersebut bersama dengan Ryu kogane.


Meskipun Eiji sama sekali tidak tahu akan tindakan yang dilakukan oleh istri cantiknya, ia sempat menarik Kin Raiden untuk menyatu ke dalam tubuhnya. Pekik sang Phoenix sempat terdengar membahana, sebelum burung besar itu menyatu dengan tubuh tuanya.


Komandan tertinggi pasukan the Beast bersama dengan beberapa panglimanya menyaksikan semua kejadian itu dari balik pohon maupun bangunan yang ada di dalam kediaman keluarga besar Sato, termasuk juga panglima Phoenix terbang.


Ai Sato berniat untuk ikut masuk ke dalam dimensi para iblis dengan menyatukan kekuatan Doulu dan Dielu. Namun sebuah kekuatan besar menarik tubuh sepasang pengantin baru tersebut dan juga dua gorila kembar mereka.


"Ibu.. Aku harus menyelamatkan kakak ipar."


Ai Sato berteriak keras, saat menyadari ada sulur perak yang kini melilit di pinggangnya dan juga suaminya.


"Belum waktunya gadis bodoh."


Makaira semakin menjauhkan mereka berdua dari kumpulan asap yang kembali terlihat. Sementara Komandan Sato dan panglima Phoenix terbang menyalurkan kekuatannya untuk menarik tubuh besar Doulu dan Dielu.

__ADS_1


Genta bergegas merubah tubuhnya menjadi naga emas, saat menyadari komandan Sato dan juga panglima Phoenix terbang begitu kesulitan saat menarik tubuh besar gorila batu yang kini sudah menyatu. Ryu kogane melilitkan ekornya pada tubuh Doulu dan Dielu untuk menarik kedua gorila batu tersebut menjauh dari kepulan asap hitam yang semakin tebal.


Suasana kembali hening setelah kepulan asap hitam tersebut semakin memudar. Ryu kogane meletakkan tubuh Doulu dan Dielu di tempat yang cukup luas, sehingga tubuh keduanya bisa terpisah kembali dengan leluasa.


Tubuh Ryu kogane terduduk lemas di atas rerumputan. Ada beberapa sayatan pada kedua kakinya. Ekornya sedikit tergores saat ia menarik tubuh besar Doulu dan Dielu. Zora muncul dari dalam giok hitam setelah ia mengibaskan sedikit lengannya.


"Aku akan mengoleskan obat, tahan sebentar."


Zora bergegas membubuhkan beberapa bubuk putih di atas luka kaki sahabatnya itu. Wajah Genta sedikit memucat, teriakkan tertahan terlihat jelas dari wajahnya yang kini menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Apa setiap obat dari mu harus sesakit ini."


Genta mencoba untuk mengatur kembali nafasnya.


"Ini obat luar yang terbaik, namun rasa sakitnya memang tak tertahankan. Lihatlah, sekarang kakimu sudah kembali seperti semula. Telan pil ini untuk segera memulihkan kondisi tubuh mu, hanya kau harapan kami "


Zora mulai menembakkan alat yang melekat pada tangannya ke atas tanah yang dipijaknya, hingga muncul beberapa jaring laba-laba yang menutupi tubuh keduanya.


Genta memerlukan waktu beberapa saat untuk bisa mencerna pil yang baru saja ditelannya, sehingga sensei muda tersebut tidak ingin ada sesuatu yang bisa menyerang mereka secara tiba-tiba.


Menyadari jika rekannya terluka, Eiji yang sudah terlepas dari lilitan sulur perak bergegas mendekati tubuh Genta dengan membawa serta tubuh mungil istri barunya. Untuk memastikan tidak ada yang menyerang rekannya tersebut.


Makaira tersenyum kecil saat melihat tindakan menantunya itu. Sekalipun menyadari ada rekannya yang terluka, namun ia juga tidak ingin ada sesuatu yang menyerang istrinya. Sehingga ia membawa serta tubuh mungil istri barunya itu untuk tetap di sisinya.


Seluruh pasukan terkuat the Beast mulai berlari untuk mengelilingi tubuh Makaira dan juga komandan serta panglima mereka, untuk memastikan tidak ada penyerangan mendadak terhadap mereka. Sekalipun tidak bisa melihat keberadaan para iblis, namun mereka masih bisa merasakan aura iblis yang begitu mencekam.


Boulu yang baru saja tiba di tempat tersebut berteriak keras, hingga muncul aura yang yang begitu kuat untuk mengusir aura iblis yang menyelimuti tempat tersebut. Hal itu pun dilakukan oleh Doulu dan Dielu, setelah tubuh keduanya kembali terpisah.

__ADS_1


Perlahan aura mencekam tersebut mulai menghilang. Sang surya mulai terlihat dari kejauhan. Tubuh Ai Sato lemas, ia kini tidak sadarkan diri dalam pelukan suaminya. Zora menyerahkan sebuah pil yang sama kepada Eiji, dan memaksa istri cantiknya untuk segera menelannya. Tanpa melepaskan pelukannya, Eiji terus menyalurkan energinya untuk membuat tubuh Ai Sato mencerna pil itu dengan baik.


"Apa kalian baik-baik saja, dan kemana perginya seluruh rekan kalian?"


Makaira mendekati menantu dan juga beberapa rekannya.


"Terimakasih atas pertolongan ibu. Semua rekan kami baik-baik saja."


Eiji menjawab pertanyaan mertuanya tanpa menurunkan tubuh istrinya.


"Aku masih bisa mengerti jika benda mati yang lenyap tiba-tiba. Namun mereka manusia yang masih bernyawa, tidak ada cincin ruang yang bisa menampung mahkluk hidup yang masih bernyawa."


Makaira semakin heran.


"Ibu ratu tenang saja, seluruh rekan kami baik-baik saja. Sekarang tolong katakan padaku bagaimana caranya kita bisa masuk ke dalam dunia iblis."


Genta berdiri dari duduknya.


"Gadis kecil itu bisa membawa kalian untuk memasuki dimensi para iblis, namun sepertinya ia belum mengetahui cara untuk keluar dari dalam dunia tersebut. Jadi aku memaksa untuk menarik kembali tubuh kalian tadi."


Makaira memberikan sedikit penjelasan.


"Sekalipun menggunakan kekuatan Doulu dan Dielu, belum tentu kalian bisa bertahan di dalam dimensi tersebut. Jadi sebaiknya kita pikirkan kembali jalan keluar yang terbaik."


Komandan Sato ikut memberikan penjelasan, dan mempersilahkan mereka untuk kembali ke dalam kediamannya.


Genta masih belum mengeluarkan beberapa rekannya dari dalam giok hitam saat Zora menyuruhnya. Karena keberadaan mereka di dalam giok hitam bisa mengurangi kekuatannya. Naga emas itu menyadari bahwa ratu rumput biru perak masih terus memperhatikan langkah panglima Classic pearl tersebut.

__ADS_1


Saat berjalan perlahan menuju ke dalam kediaman Sato, Eiji mengeluarkan Kin Raiden dari dalam tubuhnya tanpa disadari oleh semuanya. Putra dari panglima Phoenix terbang tersebut kini berjalan beriringan dengan tuan mudanya.


__ADS_2