Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kalian akan menerima balasannya


__ADS_3

"Kenapa setiap wanita pengendali es selalu mengerikan."


Genta menggerutu di dalam pikirannya, dan di dengar oleh ke dua kakak Keiko, Raiden dan juga Minori.


"Bukankah kau menganggap adik perempuan ku itu cantik?"


Eiji menanggapi ucapan Genta di sela-sela pertarungannya.


"Iya, adikmu memang yang tercantik. Tapi tetap saja pengendalian es mereka begitu menakutkan, seperti wajah wanita pucat itu yang bahkan sudah seperti mayat hidup."


"Apa kau tidak tahu, warna bibir Keiko pun bisa berubah seperti itu."


"Iya aku tahu, tapi terkadang warna bibirnya cenderung berwarna biru terang jika dia sedang bersama ku."


Genta tersenyum bangga.


"Itu pertanda bahwa hatinya merasa tenang dan nyaman. Jangan sampai bibirnya berubah putih pucat seperti wanita itu, atau kau akan merasakan kemurkaannya. Saat ini gadis kecil itu baru berada di tingkat nirwana tahap awal, bersiaplah jika dia bisa berada di tingkat selanjutnya."


Arnius yang juga mendengar perbincangan mereka ikut berkomentar, sementara Genta hanya bisa menelan ludah dan menghembuskan nafas kasar.


Pertarungan semakin sengit, semua yang tidak tahan dengan hawa dingin yang tercipta dari pertarungan Keiko lebih memilih untuk menjauh selagi mereka bisa.


Kumparan salju seketika menghilang, setelah pintu rumah besar beruang tua terbang entah kemana. Seringai licik tersungging di bibir wanita berwajah pucat, saat ia melihat seekor beruang besar duduk bersila di atas lantai tepat di tengah ruangan.


Sebuah dinding es tebal muncul sesaat setelah wanita berwajah pucat itu melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah. Minori bergegas membelenggu tubuh wanita berwajah pucat dengan tubuh air yang ia miliki, setelah ia menyadari dinding es yang di buat oleh nona mudanya.


"Cepat bekukan tubuh wanita ini nona."


Suara Minori terdengar di dalam pikiran Keiko.


"Tidak, tubuhmu akan ikut hancur bersama dengan wanita itu."


"Dia terlalu kuat nona, tolong cepatlah."

__ADS_1


"Tidak akan kulakukan, minggir lah. Aku akan mencoba membunuhnya dengan cara lain."


"Tugasku adalah melindungi anda serta yang lainnya dengan nyawaku. Tuan muda, maafkan aku jika telah gagal menjalankan perintah mu. Ku serahkan keselamatan nona kepadamu."


Minori yang masih berwujud air semakin menyatu ke dalam tubuh wanita berwajah pucat tersebut setelah ia merasa yakin bahwa ucapannya di dengar oleh Arnius dan yang lainnya.


Seringai kesakitan mulai terlukis pada wajah pucat nya, jeritan pilu mulai terdengar semakin nyaring. Minori mulai merusak setiap organ vital di dalam tubuh wanita tersebut.


"Keluar kau dari dalam tubuh ku. Aaaa..."


Tubuh wanita pucat itu kini bertumpu pada kedua tangan serta lututnya. Karena menahan rasa sakit yang luar biasa, tubuhnya kini hampir tertelungkup di atas tanah. Kedua tangannya mencengkram erat gumpalan salju tebal yang telah menutupi tanah.


"Minori, cepat keluar dari tubuhnya sekarang juga."


Teriakan Keiko masih terdengar jelas di dalam pikiran Minori. Sementara tongkat emas Keiko kini tengah melayang, bersiap menusuk tubuh wanita pucat tersebut.


"Minori ...."


Keiko kembali berteriak. Saat ini ia bisa merasakan bahwa wanita tersebut mulai membekukan seluruh tubuhnya sendiri. Ia berniat mati dengan membawa serta mahkluk asing yang sudah berani merasuki tubuhnya.


"Benar dugaan ku, kau hampir bertubuh siluman."


Minori bergumam lirih setelah tubuhnya terlihat dengan jelas. Sebuah kristal biru seukuran jari kelingking, terlihat di atas telapak tangannya. Sementara tubuh wanita pucat itu kini telah membeku seutuhnya, kemudian hancur berkeping-keping setelah Minori menghentakkan kakinya.


"Jangan pernah lakukan itu lagi, atau aku sendiri yang akan membunuh mu."


Ujung runcing dari tongkat emas Keiko kini terarah tepat di hadapan Minori, setelah teriakan gadis kecil itu terdengar lantang di dalam pikirannya.


"Tidak akan nona, aku tidak akan melakukan hal itu jika tidak terpaksa. Wanita itu sudah menyerap beberapa kristal iblis, kekuatannya berada jauh di atas kita. Aku berpikir bahwa kita tidak akan mampu menghadapinya. Jadi.."


"Jadi apa.. Kau ingin mati bersamanya... Atau bisa saja wanita itu mampu mengendalikan mu dan menyerap seluruh kekuatan mu, hingga kau menyatu ke dalam tubuhnya."


"Maaf nona."

__ADS_1


Minori hanya bisa tertunduk, saat suara Keiko terdengar begitu marah.


"Ini bukan saatnya menghukum, tetap fokus pada lawan mu."


Suara Raiden terdengar sedikit nyaring, seiring kilatan petir nya yang menyambar beberapa jarum yang melesat ke arah Minori. Segera Minori memasang pertahanan airnya setelah mendengar teriakkan Kin Raiden. Seekor Phoenix kini berdiri tepat di halaman rumah beruang tua.


"Naga besar, bunuh mereka semua. Jangan cemaskan nona kecil kalian. Selama aku masih berdiri di sini, tidak akan ada yang berani menyakitinya."


Petir mulai menyambar mengelilingi seluruh rumah beruang tua seiring hentakan kaki sang Phoenix. Hal itu membuat seluruh lawan mengerti bahwa seluruh penghuni kediaman Tamura berada di dalam rumah tersebut.


Seluruh perhatian Ryu kogane kini tidak lagi terpecah, ia mempercayakan keselamatan seluruh penghuni kediaman kepada sang burung petir.


Kibasan ekor hingga lilitan di tubuh lawan kini dilakukan oleh sang naga emas. Semburan api menghiasi langit di atas kediaman Tamura. Ryu kogane seolah tidak mengijinkan satu orang pun terlewatkan dari serangannya.


Tubuh Fujita yang tengah berdiri di samping seekor rajawali besar terhempas ke atas tumpukan salju yang tidak jauh dari tongkat emas Keiko, saat terkena kibasan ekor sang naga emas. Ryu kogane mengerti apa yang di inginkan oleh gadis kecilnya.


Seluruh hewan besar bekerja sama untuk menghabisi sang naga emas, namun hal itu seolah tidak menyulitkan bagi Ryu kogane. Pisau api Arnius dan juga panah petir Eiji mampu menghalau hampir seluruh master ninjutsu yang berusaha mendekati rumah beruang tua.


Setelah memastikan tidak ada lagi ninjutsu yang tersisa di sekitarnya, Monki, Zooi dan juga Jung Bao ikut bergabung bersama tuan mereka. Ketiganya ingin memastikan Arnius dan semuanya dalam keadaan baik-baik saja.


Tanah di sekitar rumah beruang tua yang kini mereka pijak, terasa bergetar. Ada beberapa guncangan dari beberapa sisi. Minori kembali masuk ke dalam ruang bawah tanah untuk memastikan keadaan mereka semua yang ada di dalam tempat tersebut.


Sementara tongkat emas Keiko sudah menancap beberapa kali di setiap bagian tubuh Fujita. Tubuh lelaki tua itu terlihat begitu menyedihkan, sebelah tangan serta kakinya terpisah dari tubuhnya. Tongkat emas Keiko kini menancap tepat di sampingnya, ia ingin memastikan lelaki tua itu merasakan kesakitan sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Tindakan Keiko benar-benar membuat kedua kakaknya menggelengkan kepala. Mereka tidak percaya gadis kecil itu mampu membunuh tanpa belas kasihan sama sekali.


"Sebenarnya apa yang telah lelaki ini perbuat kepadamu Kei?"


Eiji bergumam lirih saat mendekati tubuh Fujita yang sudah tidak bernyawa.


"Dia yang telah menyebabkan ayah sakit dan menderita selama ini, dia yang telah membuat ayah mengerang kesakitan hampir setiap malam. Dia yang telah membuat ibu menangis karena tidak tahan melihat ayah menahan rasa sakit yang selalu mendera tubuhnya."


Suara Keiko terdengar jelas di pikiran semua rekannya, setelah Minori memasukkan kristal biru yang ia dapatkan ke dalam kening nona mudanya yang masih duduk terpejam di dalam ruangan.

__ADS_1


"Lelaki tua ini bersama dengan para anak buahnya yang telah membuat tempat produksi peledak di istana terbakar. Paman Guiru berhasil melukainya saat melakukan pengejaran, namun orang ini berhasil lolos karena di bantu oleh para master dari klan Ito. Kalian semua akan menerima balasannya."


Keiko kembali berteriak keras.


__ADS_2