Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Pedang bulan


__ADS_3

Dalam sesaat batu yang tadinya bergerak tidak menentu kini terdiam, Eiji mencoba berkomunikasi seperti yang ia lakukan saat berhadapan dengan black diamond.


"Berhenti bergerak, diam."


Eiji menghela nafas sejenak saat batu tersebut menuruti ucapannya.


"Apa kau bisa merubah bentuk dan ukuran mu?"


Batu tersebut mulai berubah menjadi berbagai macam jenis benda mulai dari pisau kecil hingga sebuah kereta besar.


"Apa kau seperti black diamond milik kakak ku?"


Setelah batu itu kembali ke ukurannya semula, ia bersinar terang. Seolah menunjukkan warna biru terang yang di milikinya.


"Oh kau blue diamond?"


Sinar biru yang keluar dari dalam batu tersebut terasa semakin menyilaukan, saat batu itu berputar seolah begitu senang dengan ucapan Eiji.


"Jadi apa wujud aslimu?"


Batu biru itu berubah menjadi sebuah pedang yang cukup besar dan panjang. Bentuknya terlihat begitu indah dan sangat pantas disebut sebagai senjata pusaka. Ke dua sisi bilah nya berkilau, seolah menunjukkan ketajaman yang di milikinya.


"Pedang bulan."


Kin Raiden hampir tidak menutup kembali mulutnya setelah mengucapkan kalimat yang begitu membuatnya terkejut. Sebuah pedang yang dulu hanya bisa ia dengar kisahnya dari para leluhur sebelumnya, kini dapat ia lihat dan bahkan di sentuhnya.


Sebuah pedang besar dan panjang berbentuk melengkung, terlihat sama dengan bentuk bulan sabit. Terdapat gagang pedang berwarna emas tepat di tengah lengkungannya. Pahatan indah terukir di antara gagang pedang.


Saat pandangan mereka semua tertuju pada pedang besar yang ada di tangan Eiji. Kin Raiden, Monki, Jung Bao, Zooi dan juga seluruh peri bersimpuh di hadapan Eiji.


"Semoga tuan ku selalu panjang umur dan diberkahi oleh para dewa."


Kalimat itu terucap secara serentak dari mulut semuanya yang kini telah sepenuhnya berubah menjadi wujud masing-masing.


"Ryu kogane menyambut sang terpilih."


Suara berat sang naga emas mengejutkan Arnius yang masih belum menyadari apa yang telah terjadi.


"Bangunlah semuanya, ada apa dengan kalian?"


Eiji pun terlihat bingung.


"Dengan black diamond dan juga pedang bulan, kalian berdua adalah pemimpin baru bangsa kami. Bahkan pasukan the Beast akan tunduk dan patuh pada perintah kalian berdua."


Suara berat Ryu kogane kembali terdengar, seiring mereka kembali ke wujud manusia.


"Kalian harus menemukan ilmu gabungan untuk benar-benar bisa menguasai kekuatan ke dua pedang itu. Kepercayaan sepenuhnya dari para the Beast akan menjadi milik kalian. Bukan hanya itu. Jika kalian bisa menggabungkan keduanya, pergi ke istana bulan bukanlah hal yang sulit."


Kin Raiden ikut menjelaskan.


"Ilmu gabungan.. Apa kau lupa di mana pedang hitam itu saat ini?"


Arnius hanya menggelengkan kepala.


"Benar juga."


Genta menepuk pelan kepalanya.


"Kita akan bertanya kepada kakek guru. Jung Bao, Monki, dan kau juga Zooi. Kalian bertiga akan tetap di sini, aku serahkan keselamatan keluarga ku pada kalian. Ingat... Mereka adalah hidup ku."

__ADS_1


Arnius menatap tajam ke tiga rekannya.


"Nyawa kami taruhannya."


Ketiganya serempak menjawab seraya berlutut di hadapan Arnius.


"Para elang akan membantu menyampaikan informasi mengenai klan Ito serta keluarga bangsawan Yamada."


Kin Raiden kembali berucap, sementara ketiganya mengangguk mengerti.


"Perbaiki ruang bawah tanah, sebisa mungkin kalian harus menyempurnakannya. Supaya kejadiannya hari ini tidak terulang."


"Baik tuan muda."


Ketiganya kembali menyahut ucapan Arnius.


"Aku tidak bisa mengikuti kalian, karena harus melindungi tuan putri Azumi untuk kembali ke istana. Tapi sepertinya tuan putri tidak akan menolak jika harus tinggal di sini selama beberapa hari untuk membantu memperbaiki ruangan tersebut."


Zora melihat ke arah Azumi yang sudah berdiri bersama Keiko.


"Tenanglah Kei, aku akan pergi dari sini jika ruangan itu sudah siap. Aku sangat ingin ikut dengan kalian, namun kau tahukan..."


Azumi tidak melanjutkan kalimatnya.


"Aku tahu tuan putri, terimakasih atas bantuannya."


Keiko memeluk erat tubuh sahabatnya.


"Aku memang tidak ikut kalian, namun milikku yang berharga akan bersama dengan kalian."


Beberapa kotak besar mulai berjajar, setelah Zora mengibaskan tangannya.


Zora mulai membuka satu persatu peti kayu miliknya.


"Peledak es, peledak api, panah beracun, jaring api, jaring es begitupun jaring penyengat. Semua ini juga bisa di pasang di dalam meriam Classic pearl. Sementara beberapa kotak kecil ini bisa menyambung hidup kalian."


Senyum kecil terlihat di wajah sensei kecil tersebut.


"Pil penyembuh, pil penguat tulang, pil penumbuh bagian tubuh serta pil anti racun. Ada juga beberapa obat yang sudah di ketahui kegunaannya oleh Keiko."


Pandangan mata Zora kini beralih menatap Keiko, yang hanya di balas dengan anggukan oleh adik perempuan Arnius yang masih terlihat begitu terpukul.


"Kau mengeluarkan banyak biaya untuk membuat semua ini sensei kecil, apa koin emas milikku bisa berguna untuk mu?"


Arnius menunjukkan giok hitam yang melekat di pergelangan tangannya.


"Tidak teman, kau memberi ku banyak hal baru. Aku berutang padamu Ar."


Zora menyatukan kepalan tangannya dengan kepalan tangan Arnius.


"Tuan muda, ada banyak pasukan kerajaan di halaman depan."


Seorang pelayan berlari mendekati Arnius. Azumi bergegas melangkah menuju ke halaman depan setelah mendengar kabar tersebut.


"Kakak."


"Kalian baik-baik saja?"


Naoki mendekati adik perempuannya.

__ADS_1


"Hm.."


"Jika pangeran di sini bolehkah saya ikut dengan Arnius?"


Zora bergegas menyusul Azumi.


"Kalian mau kemana?"


"Seseorang membawa nona Yin ke istana bulan."


"Baiklah, Zumi akan pulang bersama dengan ku setelah kita bereskan tempat ini."


Naoki melihat kepingan atap rumah yang masih di bereskan oleh beberapa pelayan.


"Ar maaf aku datang terlambat, sekarang pergilah. Aku akan membereskan semua ini."


"Terimakasih pangeran."


Arnius melangkah mendekati ayah serta ibunya.


"Ayah, ibu. Aku tidak tahu apakah aku bisa membawa Yin Yin kembali atau tidak, tapi aku akan berusaha. Aku tidak akan membawa ke dua adikku, jika hal ini bisa mengancam keselamatan mereka. Aku akan menyuruh mereka kembali dan tetap berada di sisi kalian."


"Kakak."


Eiji dan Keiko terkejut dengan ucapan Arnius barusan.


"Dengarkan ucapan ku Eiji, kau akan membawa Keiko kembali ke tempat ini jika perjalanan berikutnya berbahaya. Aku akan mencari Yin Yin seorang diri."


Arnius beralih menatap ke dua adiknya.


"Jika kakak bisa ke tempat itu, kami pun pasti bisa. Aku akan membawa kak Yin Yin dan calon keponakan ku kembali."


Air mata Keiko terlihat menetes di ke dua pipinya.


"Pergilah putraku, semoga kalian selalu dalam lindungan dewa."


Yaza menepuk pelan bahu putra pertamanya.


"Jaga diri kalian."


Gina memeluk ke dua putra dan putri semata wayangnya bergantian.


"Berhati-hatilah."


"Pasti pangeran."


Naoki menepuk pundak Eiji.


"Tuan Jung Bao, aku meninggalkan beberapa pil dan peledak di teras samping."


"Terimakasih sensei."


Zora menunjukkan beberapa kotak kayu yang baru saja ia keluarkan.


"Simpan juga benda-benda ini, mungkin bisa berguna untuk kalian atau bisa juga kalian jual."


Terlihat beberapa mutiara roh tergeletak di lantai setelah Genta mengibaskan tangannya.


"Ayo kita berangkat."

__ADS_1


Semua bergegas menaiki Classic pearl.


__ADS_2