
"Ar, apa kau tahu kalau istri mu telah benar-benar melahirkan dua orang monster?"
Genta bergegas menutup mulutnya dengan kedua tangannya serta menaikkan kedua kakinya ke atas kursi yang ia duduki. Setelah menyadari kalimat terakhir yang ia ucapkan adalah sebuah hal yang tabu. Pria itu bersiap untuk segera berlari, meskipun sebenarnya ia yakin bahwa itu adalah hal yang sia-sia.
"Lanjutkan."
Arnius berucap seraya menarik pergelangan kaki sahabatnya hingga kembali duduk seperti sebelumnya.
"Aku akui didikan yang diberikan oleh nona Yin begitu baik untuk kedua anak mu. Mereka memang menjadi anak yang penurut, disiplin dan juga bertanggung jawab. Namun semua itu perlu ekstra kesabaran bagi para pengasuhnya. Seperti diriku dan juga ibunya, karena pada saat itu kau sebagai sosok ayahnya tidak berada di samping mereka. Intinya, kami semua sangat kewalahan dalam menghadapi kekuatan besar yang berada dalam tubuh kedua anak itu."
Genta menghentikan ucapannya sekedar untuk menghirup nafas panjang.
"Teruskan."
"Yang pertama aku akan membahas Ryota. Elemen dasar dari dalam tubuhnya adalah api, seperti halnya kau dan aku. Namun energi anak ini cukup besar untuk usianya yang masih anak-anak. Saat dia kesal ataupun marah oleh suatu hal, anak itu akan sedikit mengibaskan tangannya ataupun menggenggamnya. Hal itu menyebabkan energi apinya berkumpul di satu titik, dan saat ia menghempaskan nya terjadilah hal yang tidak diinginkan. Pernah suatu hari tubuh nona Yin hampir terbakar saat menggendong Ryota. Anak itu terlihat marah karena suatu hal, hingga ledakan api keluar dari telapak tangannya dan mengenai pakaian ibunya. Hingga keduanya hampir terbakar. Di saat keadaan seperti itu, tidak mungkin nona Yin akan melemparkan Ryota. Karena takut dia akan terluka jika terjatuh. Dan hal itu tidak terjadi hanya satu kali, melainkan berulang kali."
Genta menghentikan ceritanya sejenak.
"Kau tahukan bagaimana jika seorang anak kecil menginginkan sebuah gulali dan dia tidak mendapatkannya. Jika mereka anak yang normal, tentu saja mereka hanya terus menangis. Tapi tidak untuk Kana putri mu. Kabut iblis mulai tercipta, angin dan petir pun bersahutan seperti halnya badai dahsyat. Seluruh pepohonan tumbang, batu besar berhamburan hingga mencelakai orang lain. Semua itu sangat sulit untuk di kendalikan. Jika mereka adalah musuh, tentu saja aku tidak akan segan untuk membunuhnya. Kau tahu kan, mereka adalah keponakan ku. Anak dari Arnius Tamura, seorang komandan Classic pearl."
Ucapan Genta pelan, namun penuh penekanan pada setiap kalimatnya. Arnius mendengarkan dengan seksama.
"Kapan semua itu terjadi?"
Arnius mulai bertanya.
"Hal itu terjadi, kira-kira mereka mulai berusia enam bulan. Bayangkan, bayi usia enam bulan sudah bisa membakar ibunya dan bahkan dirinya sendiri."
"Lalu kau memasang segel itu?"
"Hm.'
__ADS_1
Genta hanya mengangguk saat mendengar pertanyaan Arnius berikutnya.
"Teruskan cerita mu."
"Ya, semuanya mulai membaik seiring usia keduanya yang bertambah. Aku pun sangat jarang menggunakan segel itu hingga saat ini. Karena mereka sudah mulai mengerti bagaimana mengontrol diri mereka sendiri. Walaupun itu memang sebatas pemikiran mereka yang masih anak-anak."
"Semalam aku juga melihat Yin Yin mengikatkan sebuah tali transparan antara lengan kedua anaknya dengan dirinya."
Arnius kembali teringat akan sesuatu yang dilakukan oleh istrinya semalam.
"Itu mungkin pengalaman tersendiri bagi istri mu. Karena pernah suatu malam, di saat mereka sudah tidur seperti biasanya di dalam kamar. Tiba-tiba pintu terbuka dan mereka menghilang. Pada malam itu tentu saja semuanya panik, aku bahkan hampir mengobrak-abrik seluruh hutan the Beast karena tidak juga menemukan mereka."
Genta kembali menghirup nafas dalam-dalam.
"Lalu di mana mereka?"
"Tidur di antara Doulu dan Dielu. Keduanya hampir tertindih tubuh gorila batu besar itu, saat Doulu menggerakkan tubuhnya. Nona Yin bahkan sudah terduduk lemas saat melihat kedua anaknya yang terhimpit batu besar. Karena Doulu dan Dielu bahkan tidak menyadari keberadaan mereka."
"Ya, mereka bisa mengendalikan kekuatannya dengan sangat baik. Bahkan orang lain pun sama sekali tidak mampu menyadarinya, seperti diriku semalam yang hampir menyerang mereka karena terkejut."
"Maksud mu?"
"Awalnya kami bermain di tempat ini. Namun kedua anakmu itu sudah bersembunyi di salah satu kios penjual kue ternama di pasar kota."
Arnius tidak lagi bisa menyembunyikan senyum kecil dari wajahnya. Ia mulai menyadari tingkah kedua anaknya yang begitu menyebalkan serta menggemaskan. Sementara Genta hanya menggelengkan kepalanya.
"Jika hanya untuk membayar semua yang sudah mereka makan itu tidaklah mengapa. Namun kami mati-matian mencari keberadaan keduanya. Apa kau mengerti bagaimana rasanya? Cemas karena tidak kunjung menemukan mereka, dan tentu saja kami takut jika terjadi sesuatu pada keduanya. Namun setelah bertemu, mereka terkapar di sebuah kios penjual kue karena kekenyangan. Itupun karena aku mengaktifkan segel yang aku berikan untuk mencari keberadaan kedua anak mu."
"Ha.. Ha.. Ha.."
Arnius tertawa lepas.
__ADS_1
"Kau bisa tertawa sekarang. Karena tidak tahu bagaimana kacaunya kami saat itu. Lebih dari sepuluh orang dewasa menjaga dua orang anak kecil dan itu masih selalu kecolongan."
"Baiklah, terimakasih paman Ryu. Kau sudah menjaga keponakan mu dengan baik."
Arnius menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
"Ya. Jika tadi di hadapan mereka, kau benar-benar meminta ku untuk mengatakan bahwa aku telah memasang segel pada tubuh mereka karena tidak bisa mengendalikan tingkah laku keduanya. Bisa-bisa mereka merasa bangga dengan kekuatan yang mereka miliki dan hilanglah wibawa ku di hadapan mereka."
"Lalu apakah mereka sudah mengetahui tentang segel itu?"
"Sepertinya sudah, meskipun mereka belum begitu mengerti tentang kegunaan segel itu. Karena saat ini mereka sudah mulai belajar beberapa jenis segel. Walaupun masih dalam tahap dasar."
"Baiklah sepertinya sudah terlalu lama kita di tempat ini. Sebaiknya kita keluar."
Arnius dan Genta kembali terlihat di tempatnya semula. Keduanya tidak lagi melihat setiap rekannya di tempat tersebut.
"Air terjun. Apa yang mereka lakukan di tempat itu?"
Arnius mulai melacak segel buatan Genta yang masih melekat pada tubuh kedua anaknya.
"Kau lihat saja sendiri."
Genta bergegas bergerak mengikuti langkah tuanya dan juga sahabat baiknya itu. Arnius benar-benar membulatkan kedua matanya, saat melihat tingkah kedua anaknya saat ini. Ryota yang melayang tepat di tengah air terjun, terlihat sedang membuat air yang mengalir itu menjadi sedikit lebih panas. Sehingga adiknya yang sedang berada di bawahnya, tersiram air hangat.
"Dahulu hal ini bisa menjadi sebuah ritual mandi yang mendebarkan. Karena air itu bisa saja mendidih hingga membuat tubuh seseorang menjadi daging matang yang siap untuk di makan."
Genta berucap seraya tersenyum kecil saat melihat beberapa wajah yang terlihat begitu cemas sedang berdiri di tepi sungai.
"Kau lihat wajah mereka."
Genta mengarahkan telunjuknya ke beberapa orang yang masih setia berdiri di tepi sungai sebelum kembali berucap.
__ADS_1
"Mereka terlihat begitu cemas, dan bahkan genggaman tangan bibinya selalu membeku. Calon permaisuri ku itu selalu bersiap untuk segala kemungkinan yang akan terjadi."
Arnius hanya mendesah perlahan, melihat tingkah kedua anaknya yang benar-benar diluar perkiraannya.