
Di sepanjang sungai yang berada di pinggiran hutan. Terdapat beberapa bangunan besar maupun kecil. Mulai dari kedai makan, hingga penginapan besar. Beberapa pemuda terlihat berlalu lalang dengan menggunakan pakaian yang hampir sama. Ada sebuah senjata tajam yang terselip di pinggang ataupun menggantung di punggung.
Beberapa pria tersebut terlihat saling bertukar sapa, saat mereka bertemu untuk bergantian tugas. Para pria tersebut tidak terlihat begitu tangguh, namun mereka memiliki cukup kemampuan untuk sekedar membela diri ataupun melerai keributan yang terkadang terjadi di daerah tersebut.
Meskipun dikelilingi sungai dan hutan, namun tidak sedikit orang luar yang mendatangi tempat tersebut. Diantara hamparan luas lahan pertanian serta perkebunan, saat ini terdapat berbagai jenis bangunan yang menyediakan berbagai fasilitas. Ditempat ini mereka merasa cukup aman, karena kawasan kaki gunung Nagano masih termasuk daerah kekuasaan sebuah klan yang cukup di segani.
Klan Tamura terkenal sebagai klan yang selalu menjunjung tinggi kejujuran dan perdamaian. Keamanan setiap orang yang berada di wilayah klan ini pasti akan selalu terjamin. Namun tidak sedikit orang yang dideportasi dari wilayah klan Tamura karena berbagai alasan.
Sudah bukan rahasia umum, jika ada keluarga kerajaan yang sering berkunjung ke tempat itu. Bahkan putri Azumi dan pangeran mahkota pun terkadang berkunjung untuk sekedar bertemu dan melihat keadaan tuan besar klan Tamura.
Kabar yang beredar di masyarakat, bahwa tuan besar klan Tamura adalah orang yang sudah cukup tua dan sakit-sakitan. Namun beliau tetap bisa bertahan, karena selain hasil bumi yang melimpah di wilayahnya. Mereka pun memiliki berbagai jenis tanaman obat yang konon katanya bisa membuat panjang umur.
Sebuah rombongan kembali terlihat memasuki wilayah kaki pegunungan Nagano. Mereka terdiri dari beberapa kereta mewah dan disertai banyak pengawal.
Sebelum memasuki desa, mereka akan melewati kota kecil yang ada di kaki gunung. Mereka sering menyebutnya sebagai wilayah luar. Sementara itu jika ingin memasuki wilayah dalam. Mereka harus melewati beberapa pos pemeriksaan. Selain kerabat atau keluarga, dilarang menginap di wilayah dalam. Maka cukup banyak bangunan penginapan yang ada di wilayah luar, atau tepatnya di kaki gunung Nagano.
Yang diperbolehkan tinggal di wilayah dalam, atau di desa Nagano sendiri hanyalah penduduk asli. Jika pun ada keluarga yang ingin ikut tinggal di wilayah dalam, haruslah mengikuti setiap prosedur yang berlaku. Dan semua itu tidaklah mudah.
Seorang pria berseragam terlihat turun dari atas kudanya dan menemui seorang penjaga untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
"Kami dari keluarga Genji. Ingin menyampaikan beberapa hadiah kepada tuan besar. Serta ingin membuat permintaan untuk meminang putri dari tuan besar Tamura."
"Sebelumnya kami akan memeriksa beberapa bawaan anda jika diperkenankan. Semuanya hanya untuk keamanan."
"Silahkan. Mari ikuti saya penjaga."
Di pos penjagaan pertama, terdapat hampir sepuluh orang penjaga. Saat ini tiga diantaranya sedang mengikuti tamunya untuk sekedar memeriksa barang bawaan mereka.
"Tidak ada yang berbahaya. Silahkan tunggu di pos ke dua. Rekan kami akan menyampaikan permintaan anda."
Rombongan kereta kembali melaju melewati sebuah gerbang besar, hingga tiba di sebuah bangunan yang cukup luas. Meskipun tidak memiliki dinding, namun di tempat itu tersedia banyak tempat duduk serta beberapa bangku panjang yang indah. Yang bisa di gunakan untuk tidur. Minuman dan makanan mulai dipersiapkan oleh beberapa pelayan.
__ADS_1
Seluruh rombongan itu turun dari kereta dan beristirahat sejenak. Sementara dua orang penjaga yang membawa pesan kepada panglima Zooi sedikit menggerutu.
"Apa mereka tidak tahu, bahwa mereka itu sudah di urutan ke berapa untuk meminang nona muda Tamura serta tuan muda kedua."
Kedua pengawal itu hanya menggeleng perlahan.
"Aku pun tidak ingat. Sejak aku bekerja di bawah tuan panglima, mungkin ini kira-kira yang ke tiga puluh pada tahun ini."
Dua orang pemuda itu hanya menepuk pelan kepala mereka. Memang banyak sekali bangsawan yang datang untuk melamar nona muda Tamura. Bahkan ada bangsawan yang memberanikan diri untuk menyerahkan putri mereka sebagai calon istri tuan muda kedua Tamura, ataupun selir tuan muda pertama.
Namun tuan besar Yaza tidak pernah menerima ataupun menolak permintaan mereka semua. Tuan besar Tamura menyerahkan semua keputusan kepada para putra dan putrinya.
Zooi bertugas untuk memastikan keamanan wilayah dalam, sementara wilayah luar adalah tanggung jawab Monki. Jung Bao adalah penanggung jawab rumah utama.
Seperti biasa, tuan besar Tamura meminta Jung Bao untuk mengatakan kepada para tamunya, bahwa semua keputusan diserahkan kepada semua anaknya. Tuan besar Tamura sangat berterima kasih atas semua hadiah yang diberikan. Namun jika jawaban yang diberikan kurang memuaskan, maka hadiah dipersilahkan untuk dibawa kembali.
Sebagai rasa terimakasih serta permintaan maaf, tuan besar Tamura juga memberikan beberapa bingkisan yang tentunya tidak akan mengecewakan hati bagi sang penerima.
Sementara itu di dalam kediaman Tamura yang begitu besar. Seorang pria tua tengah duduk di atas kursi rodanya, seraya meminum secangkir air.
"Gina, kenapa rasa sup nya berbeda?"
Yaza meletakkan cangkir yang baru saja ia habiskan isinya. Gina tersenyum manis seraya berucap.
"Supaya kakek Yaza tidak bosan. Hanya meminum sup yang rasanya sama setiap hari."
"Kapan mereka pulang Gina?"
"Sebentar lagi mereka pulang."
Gina masih tersenyum semanis mungkin.
__ADS_1
"Bagaimana sebenarnya makna kata sebentar lagi itu Gina. Apa kau sudah menulis semua cerita ku untuk cucuku?"
"Sudah kakek, semua sudah nenek tulis. Bahkan Jung Bao pun sudah menghapalkannya. Jika mereka tiba, kakek pasti bisa bercerita sendiri kepada mereka."
"Kenapa mereka? apakah cucuku lebih dari satu?"
"Kakek sendiri memiliki putra kembar. Bukankah kemungkinan juga bisa mendapatkan cucu kembar."
"Ha.. Ha... Kau benar Gina. Hanya mereka yang membuatku bisa bertahan dan selalu tertawa seperti ini."
Meskipun tubuh tuan besar Tamura terlihat begitu tua. Namun beliau masih bisa berdiri dan berjalan perlahan, sejak menerima pengobatan dari para peri kecil. Seperti biasa, Gina sang istri selalu membawa suaminya untuk berjemur. Sekedar menikmati sinar mentari pagi. Yang saat ini sangat jarang terlihat, karena awan mendung hampir selalu menutupi langit di pegunungan Nagano ini.
Seorang anak kecil berlari mendekati Gina dan Yaza yang masih duduk diam dibawah sinar matahari pagi.
"Pagi paman dan bibi."
"Pagi Yuzar. Apa kau sudah mau berangkat bertemu dengan guru?"
Gina mengusap lembut kepala pria kecil yang baru berumur enam tahun itu.
"Iya bibi. Kali ini Yuzar akan berlari bersama guru Monki untuk memeriksa wilayah luar."
"Anak pintar. Ayah mu sedang mengirim pesanan ke kota kekaisaran. Jadi kau yang harus bertanggung jawab atas semuanya."
"Siap bibi."
Yuzar tersenyum manis kemudian sedikit membungkuk dan berlalu dari hadapan dua orang tua itu.
"Yuzar benar-benar berbakat dalam berdagang serta bisa belajar dengan cepat tentang cara mengatur keuangan klan. Kita ini sungguh sangat beruntung."
Yaza kembali tersenyum kecil saat melihat tubuh keponakannya berlari menjauh.
__ADS_1