
Eiji menyapa seorang pria tua yang selalu saja berjalan dengan menggunakan sebuah tongkat untuk membantu menopang tubuhnya.
"Kakek, sebaiknya anda beristirahat. Tidak akan terjadi apapun di tempat ini. Anda bisa duduk dengan tenang."
Eiji mempersilahkan sosok pria tua yang masih terus bergerak mondar-mandir di tempat tersebut, untuk duduk di sebuah bangku yang kosong. Sementara para pengawal lainnya sudah membawa pendatang yang lain, untuk menjauh dari tempat tersebut.
Pria tua tersebut hanya mengangguk dan mulai duduk di bangku yang masih kosong. Pandangannya mulai melihat ke sekitarnya. Dia sedikit merasa heran, karena tidak lagi menjumpai semua orang yang ada di tempat itu sejak penyerangan terjadi. Pandangannya tertuju kepada Eiji yang masih berdiri tidak jauh darinya. Sorot matanya seolah mengatakan, kemana mereka semua. Eiji pun seolah mengerti arti dari tatapan mata pria tua tersebut.
"Apa kakek membutuhkan sesuatu?"
Eiji mencoba bertanya untuk mengalihkan perhatian, saat pandangan mata keduanya bertemu. Namun kakek tua tersebut hanya diam dan kembali melihat sekitarnya.
Eiji menyadari bahwa kakek tua tersebut pastilah mencari keberadaan orang lain, yang tadinya masih bersama dengannya di tempat ini. Sebelumnya, Eiji sudah meminta beberapa orang penjaga untuk membawa pergi semua orang tanpa menimbulkan kecurigaan yang berarti. Namun sepertinya hal itu tetaplah disadari oleh kakek tua yang masih setia duduk di atas sebuah kursi panjang.
Ke dua mata sang Phoenix merah menatap tajam ke arah kakek tua yang berada di dekat tuan mudanya. Meskipun jarak mereka sedikit jauh, Kin Raiden tidak akan membiarkan tuannya terluka.
"Sungguh penyamaran yang sempurna. Hanya iblis tingkat tinggi yang bisa melakukan hal seperti itu. Bahkan aroma tubuhnya pun bisa di samarkan. Pantas saja nona Kana tertipu oleh penampilan mereka."
Kin Raiden bergumam perlahan dalam pikirannya. Namun suaranya mampu di dengar oleh beberapa orang yang telah terhubung dengan telepati pikiran di antara mereka.
"Ada apa Raiden?"
Arnius mencoba bertanya dengan ucapan yang dilontarkan oleh Phoenix merah tersebut.
"Sepertinya ada iblis yang berhasil menyusup ke wilayah dalam. Kekuatannya tidaklah rendah. Aroma iblis miliknya hampir tidak terdeteksi, jika tuan muda Eiji tidak mencoba mendekatinya."
"Ji ji menyingkir. Menjauh dari tempat itu."
__ADS_1
Arnius sedikit berteriak, meskipun hanya bisa didengar oleh beberapa orang yang terikat telepati dengan mereka.
"Kakak tenanglah. Aku tahu dia kuat. Tapi aku juga tidak lemah."
Eiji mencoba meyakinkan kakak lelakinya. Arnius melesat cepat menuju ke wilayah dalam, setelah memastikan keadaan di wilayah luar sudah terkendali. Jung Nara yang bertanggung jawab atas keamanan wilayah tersebut. Sementara Ryu kogane mengikuti pergerakan tuan mudanya.
Baru saja mereka menghentikan perbincangan tersebut. Balai penerimaan tamu hancur seketika. Tubuh seorang pria tua berubah menjadi seekor kepiting hitam yang berukuran cukup besar. Tubuh kepiting terlihat memiliki cangkang tebal, serta memancarkan aura yang begitu menekan.
Kin Raiden tersenyum kecil dan secepatnya melesat menghalau capit kepiting yang mulai meratakan bangunan, serta semua pepohonan yang ada di sekitar tempat tersebut.
"Ada berapa banyak jenis hidangan laut yang bisa kau panggang, pangeran Ryu."
Ucapan dari Phoenix merah, disambut dengan semburan api dari Ryu kogane yang sudah menggila. Sejak ia menghabisi semua iblis berwujud aneka mahkluk laut di wilayah luar klan. Pangeran dari kerajaan naga tersebut masih begitu marah saat melihat keadaan keponakan cantiknya yang terkulai lemah tidak sadarkan diri.
Gerakan kepiting hitam terhitung lebih gesit di bandingkan dengan beberapa rekan iblisnya yang lain. Beberapa kali sambaran petir dari Kin Raiden mampu dihindarinya. Bahkan semburan api Ryu kogane, hanya menghanguskan puing-puing bangunan serta beberapa batang pohon yang sudah tumbang.
Ketika sambaran petir Kin Raiden kembali menyerang tubuhnya. Phoenix merah tersebut merasakan seolah petirnya menyambar batu yang begitu keras.
"Bagus sekali. Dia hampir berada di puncak tingkatan surgawi."
Kin Raiden masih tersenyum kecil, saat menyadari tingkat kekuatan dari lawannya. Ryu kogane pun menyadari hal yang sama.
"Jangan biarkan dia menyerang dengan kekuatan penuhnya. Tempat ini bisa hancur hingga rata dengan tanah."
Genta membalas ucapan Kin Raiden yang hanya terdengar dalam telepati mereka. Ryu kogane masih mencoba berfikir untuk mencari cara menghabisi lawan mereka saat ini. Naga emas tersebut kembali berkata dan mulai memberikan perintah.
"Eiji, bantu burung petir mu membuat segel pelindung terkuat kalian. Perkuat segel saat ia mulai menyerang. Atau tidak akan ada yang selamat dari tempat ini."
__ADS_1
"Baiklah."
Kin Raiden menjawab singkat, sementara Eiji hanya mengangguk. Ryu kogane masih terus melayang mengelilingi lawan mereka. Dia terlihat kembali berfikir. Arnius yang sejak tadi hanya diam mendengarkan, kini mulai berbicara.
"Minori. Perkuat segel mu. Kemungkinan dampak serangannya akan sampai di rumah beruang tua."
"Pasti tuan muda."
Minori yang sudah berdiri di depan rumah beruang tua bersama Jung Bao dan dua rekannya yang lain, menjawab ucapan tuan mudanya dengan penuh semangat.
"Kei.."
Belum lagi Arnius melanjutkan ucapannya, adik perempuannya sudah menjawab terlebih dahulu.
"Aku tahu tugas ku kak. Aku akan tetap di sini bersama dengan Minori untuk menjaga ayah dan ibu."
Menyadari semua orang yang berkumpul mengelilingi dirinya hanya terdiam. Kepiting hitam mulai melancarkan serangan. Kembali ke dua lengan capitnya bergerak cepat menghancurkan semua yang ada.
Api naga emas kembali menyembur untuk menghentikan pergerakannya. Namun lagi-lagi kepiting hitam bergerak cepat untuk menghindar. Sekalipun tubuhnya terhitung besar, namun pergerakannya cukup cepat. Tidak seperti binatang besar yang cenderung bergerak lebih lambat.
Pergerakan kepiting hitam terlihat jelas dari atas. Semua pengawal kediaman yang berjaga di atas kapal, dapat melihat seluruh kejadian yang sedang berlangsung di bawah sana. Mereka semua mengikuti perintah dari dari beberapa anggota Classic team yang sudah berjaga pada setiap armada kapal tempur tersebut.
Selama Eiji ataupun Komandan Sato belum memberikan perintah. Maka Yuki, Wu Ling, kapten Zen dan juga yang lainnya tidak akan melakukan tindakan apapun. Namun tidak dengan seorang pria bertubuh kecil dan memiliki enam lengan tambahan, yang bahkan bisa menopang tubuh serta menggantikan tugas sepasang kakinya untuk berjalan. Saat ini, zora terlihat sudah melesat cepat dengan membawa sebuah kantong kain.
Enam lengannya memberikan tolakan yang kuat. Sehingga tubuhnya bisa melesat cepat, dan hanya menyisakan hembusan angin. Zora melesat ke arah kepiting hitam, dengan melemparkan beberapa bola berwarna hijau maupun merah. Hingga tepat pada tubuh lawan.
Beberapa asap tipis terlihat menutupi sebagian tubuh kepiting besar tersebut. Gerakannya tidak lagi bisa terkendali dengan baik.
__ADS_1