Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Classic team


__ADS_3

Kediaman Tamura sudah kembali seperti semula, tanaman serta beberapa bangunan yang sedikit rusak mulai di perbaiki. Diantara pohon dan bunga yang indah, Genta menata beberapa kursi taman yang sedikit mengganggu pandangannya.


"Berkumpul.."


Teriakan keras tiba-tiba terdengar, seiring lesatan panas dari kejauhan. Tubuh Arnius mulai terlihat duduk di bangku taman yang telah di tata oleh Genta.


Genta sedikit bersiul dengan keras setelah mendengar serta melihat tuannya telah duduk di bangku taman.


"Sebaiknya kita memberi nama pada team kita ini, untuk mempermudah memanggilnya jika harus berkumpul untuk berdiskusi. Mm... Bagaimana dengan Classic team? sepertinya bagus.... Classic team berkumpul."


Teriakan Genta mengejutkan Arnius yang masih terdiam sejak tadi. Genta berbicara sendiri tanpa memperdulikan Arnius yang masih terlihat begitu terpukul.


Monki, Jung Bao dan juga Zooi bergegas meninggalkan pekerjaannya setelah mendengar teriakkan Genta. Begitupun Zen, Wu Ling, Yuki dan juga Zora yang masih sibuk memperbaiki Classic pearl, bergegas ke asal suara.


"Dari mana kau mendapat istilah itu naga besar?"


Kin Raiden yang hanya duduk di atas batang pohon sedikit tersenyum, mendengar kalimat aneh yang di ucapkan oleh Genta.


"Aku cukup berwawasan jika hanya untuk beberapa istilah. Classic team tidaklah nama yang buruk, apa kau punya yang lebih bagus?"


"Diam kalian berdua, berhenti berdebat hal yang tidak perlu. Kalian tidak lihat bagaimana situasinya saat ini?"


Zen menunjuk Arnius yang masih duduk terdiam.


"Katakan padaku tentang pria yang membawa Yin Yin pergi, dan juga jelaskan tentang istana bulan."


Ucapan Arnius seketika membuat semuanya terdiam dan hanya saling menatap.


"Minori melihat tanda bulan sabit yang bersinar terang, itu adalah simbol dari kerajaan Bulan. Pria itu pasti berasal dari tempat tersebut. Tempat asal ku dan juga tempat yang di huni oleh pasukan the Beast, pasukan terkuat yang pernah ada."


Kin Raiden mulai mencoba menjawab pertanyaan Arnius.


"Kau berasal dari tempat itu?"


Kin Raiden hanya membalas dengan anggukan kepala saat pandangan mata keduanya bertemu.


"Pecahan batu yang di miliki oleh Eiji adalah kepingan dari batu bulan putraku."


Yaza sedikit mengingatkan putranya tentang batu yang ada di dalam tubuh mereka. Zaka mendorong pelan kursi beroda yang di duduki oleh kakaknya untuk mendekat ke bangku taman.


"Hampir seluruh bintang ilahi memiliki garis keturunan dari tempat itu, bisa saja mereka terlahir di sana dan tumbuh di bumi. Atau mungkin sebaliknya."

__ADS_1


Genta ikut menambahkan.


"Kami juga memilikinya tuan muda, bahkan Jaku dulu adalah seorang pelayan di istana bulan."


Monki, Jung Bao dan juga Zooi menunjukkan tanda bulan sabit yang mereka miliki.


"Bagaimana cara ke tempat itu?"


"Menguasai ilmu segel pemindah, berkemampuan tinggi, atau bisa juga dengan cincin waktu."


Kin Raiden kembali menjawab pertanyaan Arnius.


"Wu Ling, apa kau menguasai ilmu segel?"


Arnius beralih menatap teman seperguruan adik lelakinya.


"Haaaiih.. Aku sudah berusaha menguasai berbagai segel, namun segel pemindah begitu rumit bagiku Ar."


Wu Ling menghela nafas panjang.


"Oh ya. Master Jiraya menitipkan beberapa buku yang bisa dipelajari olehmu Eiji."


Wu Ling menyerahkan sebuah buntalan kain kepada Eiji.


Arnius kembali bertanya.


"Kakek pertapa."


Genta menyahut dengan cepat.


"Maksudmu kakek Kitaro?"


"Hm...."


"Kita berangkat."


Arnius beranjak dari tempat duduknya dan bermaksud untuk segera melayang meninggalkan Nagano.


"Bawa kami bersama mu Ar."


Zen menyentuh pelan pundak Arnius.

__ADS_1


"Setidaknya ijinkan kami memastikan kau bisa menyusul nona Yin dan juga membawanya kembali dengan selamat."


Seluruh anggota Classic team mengangguk hampir bersamaan, mereka menyetujui ucapan sang kapten.


"Kakak, aku akan berusaha secepatnya mempelajari kitab ini untuk bisa membantumu."


Eiji menunjukkan salah satu kitab pemberian dari master Jiraya.


"Ilmu segel."


Wu Ling memperhatikan tulisan yang tertera pada sampul buku yang sudah sedikit usang tersebut.


"Baiklah, kita akan kembali ke tempat kakek guru. Ayo bersiap."


"Tunggu putraku, sebelum kalian pergi aku ingin memperlihatkan sebuah batu yang sudah ku simpan sejak dulu."


Yaza beralih menatap Kin Raiden.


"Jadi kau benar-benar berasal dari tempat itu, jika begitu kau pasti juga tahu batu apa ini?"


Yaza menunjukkan sebuah kotak kayu yang di bawa oleh Gina.


"Aku tidak akan bisa menahannya suamiku."


Tangan Gina tiba-tiba bergetar hebat saat kotak kayu tersebut bergerak tidak terkendali. Kin Raiden bergegas melesat dan mengambil alih kotak kayu yang ada di tangan Gina.


"Ooh jadi batu ini hanya bereaksi pada Eiji, aku mengira batu ini juga bereaksi terhadap tubuh mu. Karena kau juga berasal dari tempat itu."


Seluruh perhatian tertuju pada tubuh Eiji yang tiba-tiba bersinar terang.


"Pada malam itu, batu yang saat ini ada di dalam tubuh kalian juga bereaksi sama seperti dengan batu ini. Aku sempat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, aku sempat menahan ke dua batu tersebut untuk tidak bersentuhan dengan tubuh Nius maupun Eiji. Hingga aku membuat rantai pengikat untuk ke dua batu itu. Dan setelah beberapa saat batu yang satu ini pun juga bereaksi sama, namun aku segera menguncinya di dalam kotak kayu ini. Setelah aku mengamati selama beberapa hari dan tidak ada yang aneh dengan tubuh mereka, aku mencoba mendekatkan kotak ini ke dekat tubuh mereka kembali di saat keduanya tertidur. Anehnya, batu ini hanya bereaksi terhadap tubuh Eiji. Dan tidak terjadi reaksi apapun saat aku mendekatkannya ke tubuh Nius. Dan hari ini batu ini juga tidak bereaksi dengan tubuhmu tuan Phoenix."


Yaza menghela nafas sejenak.


"Seiring berjalannya waktu, aku melakukan penelitian terhadap pecahan besar batu yang sama dengan batu api Arnius. Dan terbentuklah Fudo. Lebih tepatnya, Arnius lah yang telah membentuk pedang itu sesuai dengan keinginan hatinya. Pedang itu terbentuk tanpa proses penempaan sedikitpun. Sedangkan kepingan kecil dari batu yang sedikit mirip dengan batu milik Eiji, namun sepertinya bukan batu yang sama jika menurut pengamatan ku. Terciptalah Elang perak dengan menggunakan batu tersebut. Sementara untuk batu ini aku tidak melakukan apapun untuk batu yang satu ini, aku takut jika nanti terjadi sesuatu di luar kendaliku. Jika kalian ingin membukanya kalian harus bersiap, terutama kau Ji Ji."


"Baiklah, aku akan mencobanya. Sebaiknya kalian semua sedikit menjauh."


Eiji berdiri berhadapan dengan Kin Raiden dengan jarak yang sedikit jauh untuk menghindari kemungkinan buruk. Sementara Arnius dan Genta bersiap di ke dua sisi yang berbeda. Yuki dan Wu Ling memasang segel pelindung untuk yang lainnya di tempat yang jauh dari mereka berempat.


Kin Raiden mulai membuka kunci pada peti kayu, terlihat sebuah batu biru berukuran hampir sebesar kepala manusia melayang dan melesat mendekati tubuh Eiji. Kin Raiden bergegas menangkap dan mendekap erat batu tersebut sebelum melukai tubuh tuannya. Sementara api di tubuh Arnius dan Genta sudah bersiap untuk menyerang.

__ADS_1


"Tenanglah Kin, aku bisa mengendalikan batu itu. Lepaskan."


Kin Raiden mulai melepaskannya dekapannya terhadap batu tersebut.


__ADS_2