Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Kepulan asap


__ADS_3

"Kenapa para mahkluk aneh itu sama sekali tidak terlihat di tempat ini?"


Arnius bergumam perlahan, namun suaranya terdengar begitu jelas oleh Eiji dan yang lainnya.


"Menurut ku ada beberapa kemungkinan. Diantaranya adalah mereka sama sekali tidak mengetahui tentang oasis ini, atau tempat ini memanglah tempat terlarang bagi mereka."


"Itu mungkin saja. Apa kalian melihat tanda atau apapun yang terlihat mencurigakan sebelum memasuki tempat ini?"


Arnius menatap satu persatu rekannya. Semua tampak diam dan mengingat-ingat kembali apa yang telah mereka lewatkan.


"Apakah ada yang aneh dengan bebatuan besar itu?"


Kuma bergumam perlahan.


"Benar, ayo kita periksa."


Kin Raiden bergegas kembali ke tempat semula, saat mereka mulai memasuki tempat tersebut. Sebelum meninggalkan oasis, Yuki sempat mengingatkan semua rekannya untuk mengambil beberapa air serta menyimpannya sebagai persediaan.


Selain mereka pergi tanpa persiapan apapun, oasis sangat sulit untuk di jumpai di gurun pasir yang cukup luas ini. Bahkan mereka pun sama sekali tidak mengetahui tentang tempat yang mereka datangi saat ini. Kuma yang paling semangat serta paling banyak menyimpan persediaan air di dalam cincin ruangnya.


"Tidak ada yang aneh, ini hanya bebatuan biasa."


Eiji dan Kin Raiden melayang untuk bisa melihat lebih jelas.


"Kakak tunggu, kau mau kemana?"


Eiji bergegas mengikuti langkah Arnius, begitupun semua rekannya.


"Apa kau tahu, kemana kau melangkah?"


Kin Raiden mulai bertanya-tanya, karena langkah Arnius tanpa arah dan juga tujuan.


"Sejak aku tiba di tempat ini. Aku hanya mengikuti hati, pikiran serta insting ku."


Arnius menjawab tanpa menghentikan langkahnya.


"Bagus."


Kin Raiden menepuk pelan dahinya, ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh pemilik naga emas tersebut.


"Sepertinya kita datang dari sebelah sana."


Kin Raiden menunjuk tempat mereka bertarung sebelumnya.


"Aku tidak mau ke tempat itu."


Arnius kembali menjawab tanpa menoleh ataupun menghentikan langkahnya. Pria itu terus berjalan sesuai keinginannya.


Sekian lama berjalan, udara panas semakin menyengat. Peluh dan keringat membasahi tubuh mereka semua. Shiro sudah terlihat begitu lelah, Chio mencoba membantu gadis kecil itu dengan memapahnya perlahan. Sementara tubuh besar Kuma sudah terjatuh berulang kali. Beruang besar itu terlihat benar-benar sekarat.

__ADS_1


Langkah Arnius pun mulai melambat, begitupun Eiji, Kin Raiden dan yang lainnya. Sejenak komandan Classic pearl tersebut menoleh ke belakang, ia berhenti dan duduk di atas bebatuan untuk sekedar mengatur kembali nafasnya serta menunggu beberapa rekannya yang masih tertinggal di belakang.


Eiji dan Kin Raiden pun ikut duduk dan mencoba mengembalikan tenaga mereka yang sudah terkuras. Chio membantu Shiro untuk duduk di atas bebatuan, sementara Kuma terlihat merangkak mendekati tempat tersebut.


"A.. Air."


Suara beruang besar itu hampir tidak terdengar.


Zora menyerahkan satu butir pil kepada setiap rekannya dan menyuruh mereka menelan pil tersebut.


"Tolong Ar.. Bisakah kita istirahat sebentar."


Kuma mulai bisa berucap setelah meminum sebotol air serta menelan pil pemberian Zora.


"Hm.. Baiklah. Sepertinya tempat yang kita tuju sudah tidak jauh lagi."


Arnius mengarahkan jari telunjuknya ke satu tempat yang dipenuhi kepulan asap.


"Itu masih jauh Ar."


Kuma kembali mengeluh, setelah melihat arah yang ditunjuk oleh komandannya.


"Ayo berdiri dan berjalanlah di samping ku. Mungkin tidak akan terasa begitu panas."


Eiji membantu Kuma untuk kembali berdiri dan melanjutkan perjalanan.


Kuma berdiri di samping Eiji dan merasakan ada sedikit angin yang menyejukkan di sekitar pemuda tampan itu.


"Apa kau lupa, Eiji itu seorang pengendali udara. Begitupun Wu Ling."


Arnius tersenyum kecil.


Chio dan Shiro bergegas mendekati Wu Ling yang selalu berjalan bersama Yuki dan juga Zora.


"Haah.. Pantas saja kalian tidak terlihat begitu kelelahan."


Chio mendengus kesal. Sementara Wu Ling hanya tersenyum kecil. Mereka kembali berjalan, namun kini mereka berjalan beriringan. Eiji seolah mengatur formasi mereka saat berjalan. Pemuda itu membiarkan kakak lelakinya berjalan di depannya, namun ia memintanya untuk berjalan perlahan supaya yang lainnya tidak tertinggal.


Di belakang Eiji berdiri Kuma, Zora dan Shiro. Selanjutnya Wuling, Chio, Yuki dan Kin Raiden. Dengan begitu semua bisa merasakan sedikit lebih sejuk dengan pengendalian udara diantara Wu Ling dan Eiji.


Kuma tidak lagi mengeluh, meskipun mereka masih harus berjalan cukup jauh. Kepulan asap mulai terlihat, sesekali asap tebal membumbung tinggi ke angkasa dengan kecepatan yang luar biasa.


"Apakah itu termasuk gunung berapi yang selalu menyemburkan isi perutnya?"


"Itu asap, bukan isi perutmu."


Chio menyahut ucapan Kuma.


"Tebal sekali abu yang ikut keluar dari kawah itu."

__ADS_1


Yuki ikut memperhatikan kepulan asap yang keluar.


"Tutup hidung dan mulut kalian."


Zora mengeluarkan beberapa lembar kain dari dalam cincin ruang miliknya.


"Ya dewa semoga aku tidak terpanggang."


Kuma berharap dirinya akan baik-baik saja.


"Beruang panggang hm... Pasti lezat sekali."


Chio tersenyum kecil.


"Ka... Kau.."


Kuma berusaha menahan emosinya.


Mereka tidak lagi bisa berjalan beriringan. Saat ini mereka berbaris, karena jalan yang mereka lalui sangat sempit sekali. Kuma bahkan berjalan dengan menempelkan tubuhnya pada dinding batu yang berada di sisi kanannya. Karena di sisi kiri mereka adalah jurang lebar yang sama sekali tidak terlihat dasarnya.


"Ar.. Tolong aku. Aku belum mau mati. Aku masih belum menikah dan bahkan belum memiliki keturunan. Apakah tidak ada jalan lain lagi?"


Lutut beruang besar itu terasa benar-benar lemas, saat satu buah kerikil kecil terjatuh ke dalam jurang di sampingnya.


"Berhati-hatilah, sebentar lagi kau sampai. Jalan di depan terlihat sedikit lebih lebar."


Arnius mencoba menyemangati rekannya.


"Haah... Kenapa aku tadi tidak menunggu kalian di bawah gunung saja."


Kuma mendesah perlahan, ia menyesal kenapa tadi tidak memilih untuk menunggu saja di bawah gunung batu.


"Ayolah kawan, kau pasti bisa."


Arnius mengulurkan tangannya. Kuma sedikit bernafas lega, karena benar yang dikatakan oleh komandannya. Jalan dihadapannya saat ini terlihat sedikit lebih lebar. Kepulan asap tebal pun tidak lagi mengganggu mereka. Saat ini mereka seolah berada pada sisi lain kawah.


Arnius duduk di antara bebatuan, untuk sejenak beristirahat. Begitupun seluruh rekannya. Mereka saling berbagi air yang masih tersisa, untuk sekedar membasahi tenggorokan.


"Waaoooo lihat asap itu. Kepulan asap itu terlihat seperti paha ayam."


Kuma menelan ludahnya, saat ia melihat kepulan asap yang membumbung tinggi itu membentuk beberapa hal yang selalu ada di dalam pikirannya.


"Waah benar. Lihat itu sarang lebah yang dipenuhi dengan madu. Pasti sangat lezat."


Chio ikut menunjuk beberapa kepulan asap yang kembali membumbung.


"Awas saja kau. Aku tidak akan pernah berbagi madu dengan mu, jika nanti aku menemukannya."


Kuma berdecak kesal.

__ADS_1


__ADS_2