Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Batu hitam


__ADS_3

"Hei tampan bukankah aku sangat indah, kenapa kau tidak jadi menyentuhku."


Bisikan halus terdengar disekitar pohon, seketika semua berubah siaga.


"Iblis betina. Jangan harap kau akan mampu kembali menyatukan potongan jiwamu, jika kau berani mengganggu perjalanan kami."


Suara Sayuri sedikit terdengar aneh ditelinga para sahabatnya.


"Kau mampu menguasai bahasa kami gadis kecil. Ha ha ha."


Desis suara lembut kembali terdengar diiringi tawa yang mengerikan.


"Apa yang kau katakan nona ikan."


Arnius menatap Sayuri keheranan begitupun yang lainnya.


"Dia adalah iblis wanita yang mampu merasuki setiap benda di tempat ini, tentunya yang berwarna putih tuan muda."


Sayuri menjawab pelan.


"Tajamkan telinga serta mata kalian, iblis itu ada di sana."


Sayuri melesatkan pisau air ke salah satu dahan pohon batu putih.


"Bakar roh iblis dengan api abadi, dia tidak akan bisa kembali mencari tubuh yang baru jika tuan sudah menemukan keberadaannya."


Sayuri kembali berkata dan menyerang beberapa batu disekitar mereka. Semua orang mengikuti petunjuk Sayuri, berkonsentrasi menajamkan setiap Indra ditubuh mereka. Tak lama kemudian terdengar beberapa ledakkan disekitar tempat mereka berdiri.


"Eiji .. Tetap lindungi rombongan, aku tahu keberadaannya. Aku bisa merasakannya."


Arnius yang sudah bergerak cepat melompat ke sana kemari sambil melancarkan serangannya, sedikit berteriak dan di balas anggukan oleh Eiji.


Setelah beberapa kali melompat berpindah tempat, kini Arnius berdiri tepat di samping Naoki dan menghunuskan pedangnya pada batu putih tepat di samping Naoki berdiri.


Batu yang tertusuk oleh pedang Arnius, kini mulai mengeluarkan cairan hitam pekat serta diikuti bau busuk yang menyengat. Api mulai merambat dari tangan Arnius hingga ke ujung pedangnya. Ledakkan besar terdengar disertai hancurnya batu putih di hadapan Arnius hingga berkeping-keping.


Eiji bersama Kin Raiden serta Genta sudah bergerak cepat, membawa semua rekannya menjauh dari tempat itu tak terkecuali Naoki yang berdiri paling dekat dengan Arnius. Mereka bergerak secepat mungkin, untuk membawa semua rekannya menjauh untuk menghindari efek ledakkan dari serangan Arnius.


Belum sempat mereka menyesuaikan pandangannya dari debu akibat ledakkan, tubuh Arnius sudah kembali berpindah tempat. Ia kembali menusukkan pedangnya pada sebuah batu besar.


"Ampuni aku tuan, jangan bunuh aku. Aku tidak akan mengganggu anda, seperti apa yang sudah iblis wanita itu lakukan."


Suara parau seorang lelaki terdengar dari batu di hadapan Arnius. Batu dihadapan Arnius kini sudah berubah menjadi seorang lelaki tua yang duduk bersimpuh dihadapan pria tampan tersebut.

__ADS_1


"Apa ucapan iblis seperti dirimu bisa dipercaya?"


Lengan Arnius sudah mulai mengeluarkan api.


"Tuan, saya bisa merasakan kemampuan yang kalian semua miliki. Saya tidak berani, saya hanya ingin menjalani hidup damai di tempat ini. Ini adalah tempat kami para iblis serta beberapa binatang ilahi yang tidak ingin di temukan. Apa yang membuat anda sekalian datang ke tempat ini?"


"Kami mengikuti rombongan yang sudah terlebih dahulu sampai di tempat ini. Apa kau mengetahuinya?"


"Ada satu rombongan yang mendarat di sisi barat pulau ini, kebanyakan dari mereka memiliki aura gelap hampir seperti kami para iblis. Tapi tolong diingat tuan, kami para iblis tidak selalu jahat seperti yang tuan maksudkan. Ada diantara kami yang hanya ingin menjalani hidup dengan damai. Kami tidak akan menyakiti jika kami tidak diganggu."


"Kemana rombongan itu pergi?"


"Mereka berjalan menuju gerbang selanjutnya, di sana."


"Apa ucapan mu bisa aku percaya?"


"Tuan, saya percaya anda adalah manusia baik. Sementara rombongan itu, aku meragukannya. Apapun yang ingin mereka lakukan ditempat ini, pasti akan berdampak buruk. Jadi saya percaya tuan akan menggagalkan rencana mereka. Ikutilah batu hitam, dia akan membawa tuan menuju gerbang berikutnya. Namun saya ragu, apakah anda akan bisa menjumpai iblis yang bisa membantu anda di gerbang selanjutnya."


"Terimakasih atas bantuan mu."


Kakek iblis kembali berubah menjadi batu besar, setelah menyelesaikan percakapannya dengan Arnius.


Mereka kembali berjalan, mengikuti beberapa batu hitam yang menempel diantara sekian banyak batu putih di tempat tersebut.


"Kita harus beristirahat, tubuhku sudah sangat lelah. Hari sebentar lagi akan malam, kita harus berhenti dan mencari tempat untuk beristirahat."


Suara Zora yang lemah dan tersendat-sendat menandakan bahwa ia sudah benar-benar letih.


"Aku akan memeriksa tempat ini apakah benar-benar aman."


Kin Raiden beranjak mengawasi sekeliling tempat itu.


Zora sudah terkapar di atas sebuah batu yang memiliki permukaan datar dan halus, begitupun dengan yang lainnya. Mereka mencari tempat masing-masing, namun tetap tidak saling berjauhan. Keiko mengeluarkan beberapa perbekalan mereka dan menawarkannya.


"Mendekat ke perapian, malam akan terasa semakin dingin di tempat ini."


Ucap Genta yang sudah selesai membuat perapian.


Naoki, Haruka, Zen, Zora serta Wu Ling merapat mendekati perapian dan kembali mencari posisi nyaman mereka.


"Istirahatlah, kami akan bergantian berjaga."


Ucap Arnius yang duduk di atas batu yang cukup besar.

__ADS_1


"Jangan keluar dari tempat yang sudah aku tandai dengan ranting, segel ku akan membantu kalian berjaga."


Wu Ling berucap sambil menguap beberapa kali.


"Aku akan memperkuatnya, sehingga udara dingin tidak akan menembus masuk ke tempat ini."


Telunjuk Eiji mengeluarkan sinar putih, dan kini mereka persis seperti di dalam tempurung kelapa.


"Tidurlah."


Eiji mengusap rambut putih Keiko yang sudah terlelap di pangkuannya.


"Tuan kecil Ji Ji, bisakah aku menggantikan posisi mu kali ini. Aku rela kedua kakiku menjadi tumpuan kepala permaisuri ku semalaman."


Genta duduk bersimpuh di samping Eiji.


"Kau mau jadi patung es besok pagi?"


Eiji tersenyum kecil, sementara Genta menghela nafas dan menggaruk kepalanya.


"Kenapa susah sekali mendapatkan hatinya."


Genta bergumam pelan dan kemudian melangkah gontai meninggalkan Eiji, mencari tempat nyamannya sendiri.


Semua sudah terlelap dalam tidurnya, kecuali empat pria yang masih duduk di atas batu dan membentuk empat penjuru mata angin, mengelilingi tempat istirahat mereka.


Sayuri yang duduk di tepi perapian terlihat beberapa kali memasukan kayu bakar untuk menjaga api tetap menyala.


"Nona, aku tahu kau mengerti yang aku ucapkan. Aku tidak mampu berbicara seperti kalian. Tolong yakinkan kepada para tuan muda itu untuk beristirahat sejenak, mereka akan menghadapi hal yang lebih sulit esok hari setelah sampai ke gerbang berikutnya. Aku batu hitam yang kalian ikuti, aku bisa menjamin keselamatan kalian saat ini."


Sebuah bisikan halus terdengar oleh Sayuri.


"Tuan muda sekalian, batu hitam itu berkata dia bisa menjamin keselamatan kita malam ini. Kalian harus beristirahat, besok adalah hari yang melelahkan untuk kalian."


Sayuri memandang Arnius, Genta, Kin dan juga Eiji yang duduk di empat penjuru yang berbeda.


"Ya nona, kami akan beristirahat. Sekarang kau tidurlah."


Arnius menjawab dan tersenyum kecil kearah Sayuri.


"Sekarang senyummu itu sungguh tampak menggoda tuan besar."


Genta tersenyum lebar dan mulai merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


__ADS_2