Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Api putih


__ADS_3

"Dengan adanya dua matahari, bukankah seharusnya atap rumah itu mudah terbakar karena hanya terbuat dari rumput kering."


Kin Raiden bergumam pelan.


"Taman yang indah, tapi bagaimana mungkin. Bukankah tanah ini cukup tandus? hei kemana perginya lautan pasir panas itu?"


Ucapan Keiko menyadarkan semua rekannya.


"Bebatuan itu memisahkan pasir dan tanah kering ini."


Genta menghentakkan kakinya berulang kali ke atas tanah yang dipijaknya.


Sebuah pohon besar berdaun merah menyambut mereka saat mulai memasuki pekarangan rumah, taman bunga yang di penuhi kupu-kupu terbentang indah di hadapan mereka. Rumput merah tertata rapi di sepanjang jalan setapak di tengah taman, nampak beberapa kursi batu serta meja di tepi taman.


"Permisi."


Arnius berucap pelan.


"Apa yang kalian inginkan, pergi dari tempat ini sekarang juga."


Suara lembut seorang wanita menggema dari dalam rumah.


"Yin yin apa yang kau katakan, kita harus menyambut tamu dengan baik. Maafkan cucu ku yang tidak tahu sopan santun. Ada perlu apa hingga tuan dan nona datang ke tempat kami ini?"


Seorang kakek tua berjalan dari samping rumah dan menghampiri mereka.


"Maaf senior, saya Arnius. Kami hanya kebetulan melewati tempat ini dan ingin memastikan benarkah ada seseorang yang tinggal di tempat ini."


Arnius berkata sopan setelah menunduk hormat sesaat.


"Aku tinggal di sini bersama cucuku, mari silahkan duduk. Panggil saja aku kakek Yao."


"Terimakasih kakek Yao, jika di perbolehkan saya ingin bertanya sesuatu."


"Tentu saja, aku akan menjawab jika memang kakek tua ini mengetahuinya."


"Bagaimana cara agar kami bisa keluar dari tempat ini?"


"Kemungkinan, kalian harus bisa melanjutkan perjalanan hingga gerbang terakhir. Dari sana kalian akan keluar dari tempat ini dengan sendirinya. Begitulah menurut ku."


Arnius dan yang lainnya hanya saling berpandangan setelah mendengar penjelasan dari kakek Yao.


"Bisakah kakek menunjukkan dimana letak pintu gerbang selanjutnya?"


Keiko menunduk hormat sesaat setelah mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Maaf nona tapi aku tidak tahu letak pintu gerbang selanjutnya."


Kakek Yao menggelengkan kepalanya perlahan.


"Yin yin kenapa kau belum juga menyajikan air untuk tamu kita."


Kakek Yao sedikit mengeraskan suaranya.


"Mereka pasti tahu bahwa setetes air di tempat ini begitu berarti, jadi suruh saja mereka pergi kakek."


Suara lembut seorang wanita kembali terdengar dari dalam rumah.


"Tidak perlu repot kakek, kami berterima kasih sudah di perkenankan untuk berteduh dari panasnya matahari. Jika boleh saya bertanya apakah kakek hanya pengelana seperti kami atau memang penduduk dari tempat ini?"


Keiko kembali bertanya.


"Aku memang pengelana seperti kalian, namun karena suatu hal aku harus bertahan di tempat ini bersama dengan cucuku."


"Apa kakek tidak berusaha mencari gerbang selanjutnya?"


Arnius mengernyitkan keningnya.


"Tempat ini penuh dengan iblis dan hewan buas, kami tidak mampu lagi melewati mereka."


Kakek Yao tertunduk sedih.


Keiko memberanikan diri untuk bertanya.


Kakek Yao mengangguk dan mulai bercerita tentang awal perjalanan mereka. Yao Lian berasal dari benua selatan yang teramat jauh dengan kekaisaran yang berbeda, Yao Lian memiliki seorang putra yang sudah menikah dan dikaruniai seorang putri yaitu Yao Yin. Pada saat kelahiran Yao Yin para pejabat negara dan bahkan sang kaisar datang untuk melihat dan memberikan doa keselamatan karena ibu Yao Yin adalah putri dari salah seorang selir kaisar.


Berbagai hadiah dan ucapan Yao Yin terima dari berbagai pihak, sampai akhirnya Yao Lian sadar ada salah satu hadiah yang menurutnya aneh. Ada sebuah batu mutiara yang sengaja di letakkan di dekat tempat tidur cucu tersayangnya. Batu yang pada awalnya berukuran satu kepalan tangan lama kelamaan menyusut hingga tinggal berukuran satu ruas jari.


Saat Yao Lian berniat mengambil dan menyingkirkan batu tersebut, dia di kejutkan karena batu mutiara itu tiba-tiba lenyap menjadi kepulan asap dan masuk ke dalam tubuh Yao Yin. Hal itu membuatnya sadar bahwa selama ini secara perlahan batu mutiara itu masuk kedalam tubuh cucunya.


Setelah Yao Yin berusia satu tahun keanehan pada tubuhnya mulai terlihat. Setiap kali Yao Yin marah terlihat kilatan api pada kedua matanya dan tak jarang api keluar dari setiap bagian tubuhnya yang ia kibaskan. Namun lain halnya jika Yao Yin bersedih, apapun yang di sentuh olehnya akan tertutup es tebal dan membeku.


Ibunda Yao Yin terbakar dan meninggal dunia saat mencoba menenangkan putri kecilnya yang masih belum bisa mengontrol emosinya. Keadaan tubuh Yao Yin yang begitu mengerikan berlangsung hingga ia tumbuh menjadi seorang gadis, tidak ada seorang pemuda pun yang mau memperistri dirinya. Hal itu membuat sang ayah gundah.


Akhirnya Yao Lian bersama putranya membawa Yao Yin berkelana untuk mencari pertapa yang mampu menyembuhkan tubuh Yao Yin. Namun belum ada seorangpun yang mampu menyembuhkannya. Hingga Yao Lian mendengar ada berbagai batu mutiara roh yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang terletak di pulau Bunin, dan sampailah mereka di pulau mengerikan ini.


Ayah Yao Yin tewas saat mereka tiba di gerbang ke dua, karena keinginannya mencari mutiara berharga untuk kesembuhan sang putri hingga menyebabkan keserakahan dan berakhir mengenaskan.


Yao Lian berhasil membawa Yao Yin memasuki gerbang ke tiga, mereka mencoba bertahan dari serangan para mahkluk buas yang ada di tempat ini. Namun tubuh Yao Lian yang sudah tua, menyebabkan luka di sekujur tubuhnya sangat susah di sembuhkan dan membutuhkan waktu yang lama untuk kembali pulih seperti semula. Ia tidak mampu lagi jika harus kembali bertarung dengan para iblis ataupun binatang buas, jadi mereka memutuskan untuk bersembunyi dari kejaran para hewan buas tersebut.


"Pohon berdaun merah itu mampu menutupi keberadaan kami dari para iblis dan hewan buas, hanya manusia yang tidak memiliki dendam dan angkara murka yang mampu melihat keberadaan rumah kami ini."

__ADS_1


Yao Lian mengakhiri ceritanya.


"Sudah berapa lama kalian berada di tempat ini?"


Genta yang sedari tadi hanya mendengarkan kini mencoba bertanya.


"Aku sendiri tidak tahu pastinya, karena siang dan malam sulit ditebak di tempat ini. Terkadang kami menjumpai siang dan malam berganti secara alami seperti biasanya, namun seperti yang kalian lihat saat ini. Tidak ada malam hari sekalipun dan bahkan muncul dua matahari."


"Kalian sudah mendengar semuanya jadi silahkan pergi dan tinggalkan tempat ini."


Suara Yao Yin kembali terdengar dari dalam rumah.


"Nona bagaimana kalau aku membawa serta kalian dari tempat ini, apa kau masih juga bersikap dingin terhadapku?"


Arnius berucap pelan.


"Jangan bersikap sok kuat di hadapan ku."


Suara Yao Yin terdengar sedikit keras disertai semburan api yang keluar dari dalam rumah. Lesatan api tepat mengenai tubuh Arnius, yang sama sekali tidak dihindarinya.


"Api putih.... Kau memiliki api yang unik nona, namun butuh api yang lebih besar untuk melukai ataupun membakar tubuhku."


Arnius tersenyum kecil.


"Maafkan cucuku tuan muda, dia selalu bersikap seperti itu jika bertemu dengan pemuda seumurannya. Haaah... Itulah kenapa dia belum juga menikah. Tuan dan nona bisa beristirahat di teras, ada beberapa kursi dan dipan yang bisa digunakan untuk rebahan. Aku akan menasehati anak nakal itu."


Yao Lian menghela nafas pelan dan berjalan masuk ke dalam rumah.


Tak berselang lama Yao Lian terlihat keluar bersama seorang gadis yang membawa sebuah guci air. Gadis itu bertubuh ramping dan memiliki tinggi badan yang sesuai hingga bisa disebut sempurna. Namun wajah Yao Yin di penuhi warna hitam yang menyerupai luka bakar hingga jauh dari kata cantik.


"Perkenalkan tuan, ini cucuku Yin Yin. Maaf atas kelakuannya tadi."


Yao Lian menunduk sesaat.


"Tidak apa kakek, kakak Yin senang bertemu dengan mu. Maaf jika kedatangan kami merepotkan kalian."


Keiko menunduk sesaat kemudian meraih tangan Yao Yin untuk bersalaman.


"Kakak Yin ayo duduklah, aku tahu kakak itu sangat pintar dan pastinya kakak sudah mengamati semua hal yang ada disekitar tempat ini. Jadi bolehkah kami tahu tentang semua itu, yang mungkin bisa kita gunakan untuk keluar dari tempat ini. Atau setidaknya untuk menemukan pintu gerbang berikutnya."


Keiko meraih tangan Yao Yin dan membawanya untuk duduk bersamanya.


"Jika aku mengatakan semua yang aku ketahui. Apakah kalian mampu menjamin keselamatan kakek ku, saat kita berusaha keluar dari tempat ini?"


Yao Yin mulai membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Tentu saja nona, kami akan berusaha semampu kami untuk melindungi kakek Yao."


Arnius menjawab tanpa keraguan sedikitpun.


__ADS_2