
Genta seketika menyemburkan api yang besar saat melihat seekor ular besar yang juga menyemburkan api kearah mereka. Tubuh Genta yang hanya dalam wujud manusia tidak mampu mengimbangi semburan api yang berwarna putih berkilauan.
Dinding es tebal segera terbentuk di hadapan mereka setelah Keiko menyadari kekuatan lawan yang begitu besar.
"Sial .. kenapa segel beracun itu tidak berpengaruh padanya."
Genta hanya mengumpat kesal, hampir saja dirinya terpanggang jika Keiko tidak segera membuat dinding es. Sementara beberapa api berkilauan berhasil masuk ke dalam tubuhnya dan membuatnya berlutut menahan sakit yang begitu menyiksa.
"Naga putih, Apa dia bukan kakek buyut mu anak muda?"
Zen sedikit heran saat melihat seekor naga putih yang berukuran begitu besar.
"Dia istri muda mu pak tua, apa kau lupa?"
Walau sedikit kesal dengan ucapan Zen, namun kini Genta sudah bersiap menyerang kembali sembari menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Dinding es yang tadinya berdiri kokoh, kini sudah tidak ada lagi karena terkena semburan api putih yang berkilauan.
"Bagaimana api bisa berkilau seperti itu? ah .. lupakan saja, sekarang rasakan cambuk petir ku."
Eiji mengayunkan kilatan petir yang berada di tangannya hingga melilit sebagian tubuh naga putih tersebut.
"Tuan kecil."
Kin Raiden seketika melompat ke depan Eiji untuk menghalangi serangan naga putih yang berhasil melepaskan lilitan petir Eiji. Kini petir tersebut menghantam tubuh Kin Raiden yang memang dengan sengaja menjadi tameng untuk Eiji.
"Kau hanya seekor cacing di hadapanku, jika bukan karena segel sialan itu."
Kin Raiden masih sempat mengumpat sebelum ia memutahkan darah segar dari mulutnya.
Yuki segera menutup tubuh Kin Raiden dengan tempurung tanah saat naga putih itu kembali melancarkan serangannya.
__ADS_1
"Hei kakek naga kemarilah aku punya permen manis untuk mu."
Zora melemparkan bola peledak yang seketika menarik perhatian naga putih tersebut.
"Ayo kemarilah kakek, akan ku buat kau kembali pada tidur panjang mu."
Zora kembali melemparkan bola-bola yang berukuran satu kepalan tangannya, namun kali ini tidak ada ledakkan, aroma ataupun asap yang keluar.
Sebelumnya Zora sudah memperingatkan seluruh kawannya untuk menjauh setelah ia melempar bola berwarna ungu ke arah sang naga putih. Sebuah peledak berisi racun pelemas otot serta berdampak tidur panjang yang telah ia sempurnakan, serta di buat dengan ukuran yang lebih besar untuk menghadapi lawan yang berukuran besar seperti saat ini.
Naga putih tampak membuka mulutnya lebar seperti sedang menguap, namun hal itu hanya berlangsung beberapa saat. Kemudian terlihat kepala naga yang memiliki janggut tebal di bawah dagu nya itu menggelengkan kepalanya berulang kali untuk menghilangkan rasa kantuk yang mendera tubuhnya.
Yuki segera membuka kembali tempurung tanah yang ia buat untuk menutupi tubuh Kin Raiden, Eiji bergegas melesat membawa tubuh Kin Raiden menjauh dari tempat tersebut setelah tempurung yang menutupinya terbuka sepenuhnya.
Zora memang selalu bertugas untuk menjadi pengalih perhatian apabila terjadi hal-hal di luar kemampuan temannya seperti saat ini, dan kali ini dia melakukan tugasnya dengan benar.
Kali ini giliran Azumi yang bertindak, tuan putri kecil itu berhasil mengunci pergerakan lawan dengan mengendalikan aliran darah yang ada di dalam tubuh naga putih tersebut.
Melihat lawan yang sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, Zora kembali melempar beberapa peledak serta racun yang ia miliki ke arah naga putih tersebut. Namun hasil karya Zora itu seolah tidak berarti apa-apa bagi lawannya, justru tubuh Azumi yang kini terlempar jauh disertai darah yang terus keluar dari hidung, mulut, mata bahkan telinganya. Naga putih berhasil melepaskan diri dari teknik pengendalian darah Azumi dan kini berbalik menyerangnya.
Beberapa serangan naga putih berhasil di hindari dengan baik oleh Keiko, bahkan semburan api berkilauan berhasil di tangkis oleh tongkat emasnya. Semburan api itu di hisap oleh tongkat emas Keiko kemudian kembali di disemburkan kearah pemiliknya.
"Makan kembali muntahan dari mulutmu ini kakek tua."
Naga putih kini benar-benar terdesak karena serangan gabungan dari Keiko dan Minori, hal itu bisa dilihat oleh Zen dan Naoki. Keduanya bergegas memberikan tebasan terbaik mereka, Zen yang saat ini mampu melayang mengarahkan pedang besarnya kearah kepala serta leher naga putih hingga terpisah dari tubuh panjangnya.
Sementara Naoki berhasil memisahkan kaki dan beberapa potongan di perut serta ekor naga besar tersebut.
Semua bernafas lega setelah melihat potongan tubuh naga yang tergeletak di atas bebatuan serta tanah di sekitar mereka. Kelegaan itu tidak berlangsung lama, setelah beberapa saat seluruh potongan tubuh naga putih itu melayang dan berubah menjadi cahaya berkilauan kemudian menyatu menjadi sosok seorang kakek tua berjanggut panjang.
Semua anggota classic pearl kembali bersiap untuk menahan serangan yang akan mengarah ke pada mereka, namun sebelum semua itu terjadi sebuah dinding api biru keunguan menjulang tinggi di hadapan mereka.
__ADS_1
Arnius yang sudah selesai menghisap seluruh kekuatan batu roh segera melesat menuju ke tempat teman-temannya berada. Api di tubuh Arnius yang dulunya berwarna merah kini sudah berubah menjadi biru keunguan. Dinding api biru itu terlihat begitu kuat dan seolah mampu menghalangi apapun yang akan melesat mengincar teman-temannya.
"Hadapi api biruku jika kau ingin melenyapkan teman-teman ku."
Tatapan tajam Arnius seperti anak panah yang siap dilepaskan.
"Anak muda tenanglah, aku datang hanya untuk memastikan mutiara roh milikku di gunakan oleh orang yang tepat. Aku kakek naga putih penunggu tempat ini serta pemilik mutiara roh yang telah kalian dapatkan."
Suara parau seorang kakek tua terdengar begitu jelas seolah disertai dengan tenaga dalam.
Setelah mendengar ketulusan tanpa ada sedikitpun niat berbohong dari ucapan kakek tua di hadapannya, Arnius mulai menghilangkan dinding api biru miliknya.
"Maaf atas kelancangan kami yang berani mengambil batu roh milik tetua, perkenalkan namaku Arnius tetua."
Arnius berucap sopan serta menunduk hormat di hadapan kakek tua berjanggut panjang tersebut.
"Kalian hanya mengambil mutiara roh yang berjodoh dengan tubuh kalian tanpa merusak ataupun mengambil paksa semua mutiara roh tersebut. Jadi aku hanya ingin melihat apakah benar masih ada manusia yang tidak serakah di dunia ini. Kebanyakan manusia yang berhasil sampai ke tempat ini akan berusaha mengambil semua mutiara itu setelah tahu kegunaannya. Aku akan membunuh setiap manusia yang telah dirasuki oleh keserakahan tersebut."
"Lalu kenapa kakek berusaha melukai kami semua."
Genta berucap pelan setelah bersusah payah menegakkan kembali tubuhnya.
"Apa aku melukai dirimu? rasakan apa yang mengalir dalam setiap inci di dalam tubuh kalian."
Terlihat senyum kecil diantara rimbunnya janggut tebal sang kakek naga putih.
Genta mulai meraba setiap kulit tubuhnya, merasakan ada sesuatu yang mengalir perlahan dalam setiap otot, tulang serta darahnya. Ia segera duduk bersila dan mulai mengatur nafasnya serta mulai menyalurkan sesuatu yang ada di dalam tubuhnya. Perlahan tapi pasti kini ia mampu menyalurkan aliran energi asing yang begitu kuat ke setiap tubuhnya.
"Luka ku sudah pulih, racun itu tidak ada lagi. Terimakasih kakek. Tapi seharusnya kakek melakukannya dengan perlahan, tidak harus membuat ku kesakitan seperti ini."
Genta menunduk hormat.
__ADS_1
"Sudah kubilang padamu anak muda, dia itu kakek buyut mu jadi tidak mungkin dia ingin membunuh dirimu."
Senyum penuh kemenangan terpampang jelas pada wajah Zen yang mampu membuat teman kuatnya itu tersenyum kecut.