Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Saudara yang lain


__ADS_3

Eiji terus mengayunkan pedang bulan yang berada di dalam genggamannya, hingga membuat tubuh tua Zuraya mulai kelelahan untuk menghindari sabetan pedang yang kesekian kalinya.


Dan akhirnya darah segar berhamburan di udara, saat pedang bulan berhasil menebas lengan kiri panglima tertinggi pasukan the Beast tersebut.


""Ha... Ha.... Ha .."


Bukan bersedih atau bahkan kesakitan, namun Zuraya kini tertawa lebar saat darah segar masih mengalir deras dari lengannya yang telah terpotong.


Tubuh Zuraya kini terduduk di tanah. Ia mencoba menotok beberapa bagian tubuhnya untuk menghentikan darah yang masih mengalir dari lengan kirinya.


Sementara tubuh Eiji meluncur cepat dari ketinggian, setelah ia memuntahkan darah hitam beberapa kali. Pedang bulan yang telah lepas dari genggamannya, kembali masuk ke dalam tubuhnya dengan sendirinya.


Racun yang masih tersisa di dalam tubuh Eiji bereaksi, saat ia menggunakan tenaga dalamnya secara berlebihan karena pertarungannya dengan Zuraya.


Kin Raiden meluncur cepat dan menyambar tubuh Eiji yang sudah tidak sadarkan diri. Zora mulai menotok beberapa bagian tubuh Eiji, setelah Kin Raiden menurunkannya dari ketinggian.


"Seharusnya dia tidak bertarung seperti ini. Cepat salurkan energi mu."


Zora memasukkan sebuah pil ke dalam mulut Eiji dan meminta Kin Raiden untuk segera menyalurkan energinya.


"Apa yang terjadi dengannya?"


Zuraya ikut memperhatikan lengan Eiji yang mulai membiru.


"Dia terkena racun dari laba-laba ungu berwajah manusia."


Zora menjawab seraya berjalan mendekati Zuraya dan menyerahkan sebuah pil padanya.


"Harus ada yang menyalurkan energi ke tubuh mu setelah kau menelan pil ini."


"Aku akan melakukannya."


Akira yang datang bersama dengan Hitoshi dan yang lainnya, mengajukan diri untuk membantu sang panglima.


"Apakah kau memiliki tenaga yang lebih besar daripada panglima mu itu?"


"Tidak."


Akira menggeleng perlahan.


"Harus seseorang yang memiliki tenaga yang lebih besar dari dirinya. Jika tidak, obat itu tidak akan bereaksi."


Zora kembali menjelaskan.


"Biar aku saja yang lakukan. Apakah tidak bisa?"


Genta yang juga melihat kejadian tersebut, ikut mendekat.


"Tentu saja bisa. Kau juga berasal dari tempat ini, pasti bisa."


Zora kembali berucap.


"Tapi kau juga harus menepati ucapan mu panglima tua. Kau akan membiarkan kami pergi dari tempat ini tanpa syarat apapun."


Genta berjalan mendekati Zuraya.


"Saya akan menjamin kepergian kalian untuk kembali bumi pangeran."

__ADS_1


Zuraya tersenyum kecil.


"Aku bukan pangeran mu. Dia yang sudah hampir mati itulah pangeran mu. Cepat telan pil itu."


Genta menunjuk ke arah pangeran Arashi yang masih tidak sadarkan diri, kemudian bergegas menyalurkan energinya setelah Zuraya menelan pil pemberian Zora.


Hawa panas mulai terasa di sekitar tempat tersebut, saat Genta mulai menyalurkan energinya. Semuanya beranjak sedikit menjauh, namun tidak dengan ke tiga pangeran naga dan juga Sinziku. Gadis kecil itu justru semakin mendekatkan tubuhnya untuk duduk di samping Genta.


Dengan wajah yang selalu berurai air mata, Sinziku memperhatikan setiap lekuk tubuh dan juga wajah Genta yang masih duduk bersila. Genta yang menyadari hal itu, masih berusaha berkonsentrasi untuk membantu menyalurkan energinya ke tubuh Zuraya.


"Adik tolong menjauh lah. Biarkan kakak membantu panglima Zuraya terlebih dahulu."


Hitoshi mencoba menjauhkan adik perempuannya.


"Aku hanya ingin melihat wajah kakak pertama dengan jelas."


Sinziku kembali mengusap air matanya yang masih belum berhenti menetes.


Hitoshi hanya bisa mendekap erat tubuh adik perempuannya yang kembali terisak. Meskipun Hitoshi sulit untuk berjalan dengan leluasa, namun ia masih bisa menggunakan sisa tenaganya untuk menopang tubuhnya. Kini keduanya duduk di samping Genta.


"Kakak ini kursi mu. Mari ku bantu."


Masaru mendekatkan kursi beroda yang biasa digunakan oleh kakak keduanya.


Setelah membantu kakak keduanya duduk di atas kursinya, kini Masaru duduk di samping adik perempuannya dan ikut memperhatikan wajah kakak pertama mereka.


Shoji yang berdiri tidak jauh dari mereka pun tidak pernah mengalihkan pandangannya dari sosok pemuda yang mereka yakini sebagai kakak pertama mereka.


Tidak butuh waktu lama, lengan kiri Zuraya mulai tumbuh perlahan. Semuanya begitu terkejut saat melihat hal itu, namun tidak dengan Zora serta anggota seluruh anggota Classic team.


Genta mulai menghentikan aktivitasnya. Ia beralih menatap gadis kecil yang sejak tadi memperhatikan dirinya tanpa berhenti terisak.


Genta mencoba bertanya kepada gadis kecil di sampingnya, namun kini ia justru sulit untuk bernafas. Karena gadis kecil itu memeluknya dengan begitu erat.


"Bi... Bisakah kau melepaskan pelukan mu. Kei.. Keiko tolong aku."


Genta melambaikan tangannya saat melihat Keiko melayang ke atas Classic pearl. Genta tersenyum kecil saat melihat wajah Keiko yang begitu kesal.


"Adik kendalikan dirimu."


Masaru menepuk pelan pundak Sinziku.


"Kakak maafkan adik Sin. Masaru menghadap kakak pertama."


Masaru bersujud di hadapan Genta yang masih terduduk.


"Hei... Ada apa dengan mu?"


"Hitoshi memberi hormat kakak pertama."


Kini Hitoshi pun ikut bersujud di hadapan Genta.


"Shoji menghadap kakak pertama."


Pangeran Shoji pun ikut bersujud.


"Ada apa dengan kalian semua. Berdirilah."

__ADS_1


Genta semakin bingung.


"Pangeran pertama, terimakasih atas pertolongan pangeran. Sekarang tolong terimalah hormat kami."


Zuraya pun ikut bersujud.


"Ku minta kalian semua berdiri sekarang. Dan kau gadis kecil, kenapa masih saja menangis."


Genta mengusap lembut sisa air mata yang masih membasahi wajah Sinziku.


"Karena kau kakak pertama kami. Aku adik perempuan mu."


Sinziku kembali memeluk tubuh Genta.


"Benarkah?"


Sinziku melepaskan pelukannya, kemudian menarik lengan kiri Genta dan menunjukkan tanda lahir yang sama dengan yang dimiliki oleh kakak ke empatnya. Masaru pun menyingkap lengannya untuk menunjukkan tanda lahir yang sama yang ada di lengannya.


"Ha.. Ha.. Jadi aku memiliki saudara selain kau Zora."


Genta memukul punggung Zora yang masih berdiri di sampingnya.


"Terserah kau saja. Sekarang bagaimana menyadarkan Eiji. Kin Raiden bisa saja di bunuh oleh tuan mu, jika Eiji tidak selamat."


Zora berlalu meninggalkan Genta untuk melihat keadaan Eiji.


"Aku akan menolongnya."


Makaira mendekati tubuh Eiji yang masih tidak sadarkan diri. Perempuan itu mulai menyalurkan energinya. Muncul beberapa sulur tanaman perak yang kini menempel pada kedua lengan Eiji.


Darah hitam keunguan mulai menetes dari batang sulur yang menempel pada lengan Eiji. Makaira mencoba untuk mengeluarkan racun dari dalam nadi dan juga tulang Eiji.


Setelah meletakkan tubuh Yao Yin di dalam sebuah ruangan yang tersedia di dalam Classic pearl. Arnius bergegas mendekati tubuh Eiji yang masih tidak sadarkan diri. Dia hanya diam dan memperhatikan setiap hal yang dilakukan oleh perempuan anggun yang baru saja dilihatnya.


"Kenapa putri kalian bisa seperti ini. Tubuhnya seolah bergerak sendiri, saat di dalam ruangan tadi."


Arnius beralih menatap komandan Sato yang masih menggendong tubuh putrinya yang juga tidak sadarkan diri.


"Semua ini berhubungan dengan pemuda itu yang sudah menebas lengan kiri pamannya."


Komandan Sato menjawab tanpa menoleh ke arah Arnius. Ia hanya terus memperhatikan wajah putrinya yang semakin memucat.


"Jika pemuda itu tidak selamat, maka putri ku pun tidak akan pernah bangun lagi."


Komandan Sato mengecup pelan pucuk rambut putrinya.


"Bagaimana bisa seperti itu?"


Arnius masih tidak mengerti.


"Apa kau melihat rantai putih yang mengikat tubuh putri ku?"


"Aku melihatnya."


"Rantai itu mempunyai dua ujung. Ujung yang satu terikat dengan tubuh putri ku, sementara ujung yang lain terikat dengan lengan kiri Zuraya. Namun pemuda itu telah menebasnya, kini ujung rantai itu terikat dengan tubuhnya. Jadi sekarang mereka berdua akan sehidup semati. Apa hubungan mu dengan pemuda itu?"


"Dia adik ku."

__ADS_1


"Dan aku akan menikahkan putriku dengan adik mu, setelah mereka sadar nanti. Sekalipun pemuda itu menolaknya, mereka akan tetap menikah. Haaah..."


Komandan Sato menghela nafas panjang.


__ADS_2