
Perjalanan kali ini terbilang cukup aman, bahkan bagi Genta dan Kin Raiden adalah perjalanan yang paling membosankan. Sama sekali tidak ada serangan, laut terlihat begitu damai dan menenangkan. Tak jarang kedua binatang ilahi itu berlomba menyelam dan menangkap ikan terbesar, sementara yang lainnya hanya menjadi penonton setia.
"Daratan, lihat ada pulau." Kin Raiden bergegas melayang, namun baru sejengkal ia melayang. Tubuhnya sudah di tarik kembali oleh Eiji.
"Jangan terlalu menarik perhatian, tetap diam di tempatmu. Kapal ini sudah menarik banyak perhatian."
"Sebisa mungkin sembunyikan kekuatan kalian, kita di negri orang. Ingat kita adalah pedagang, ganti baju kalian. Tuan saudagar Naoki adalah pimpinan kita, batu permata adalah barang dagangan kita saat ini."
Arnius mulai mengeluarkan banyak batu permata, perhiasan serta barang berharga lainnya dari dalam giok hitam. Seluruh anggota Classic pearl mulai berganti pakaian menjadi seorang pedagang dan bangsawan.
"Ingat, tidak ada yang menunjukkan kekuatan kecuali keadaan yang memaksa. Kapten Zen kau tetap berada di kapal bersama Zora, Yuki dan Wu Ling, kalian adalah awak kapal. Genta dan kau tuan petir, kalian berdua adalah pengawal tuan besar Naoki. Kalian mengerti?"
"Siap komandan."
"Aku dan Eiji yang akan mengurus barang dagangan tuan saudagar, sementara kalian adalah saudara perempuan tuan saudagar."
Arnius melihat Keiko, Azumi dan juga Yao yin yang sudah memakai gaun seorang bangsawan.
"Kami adalah pelayan nona sekalian." Sayuri, Haruka dan juga Minori menunduk hampir bersamaan.
"Bagus, itu adalah peran kalian. Lakukan dengan benar. Kapten kita bersiap mendarat di pelabuhan itu."
"Siap komandan."
Classic pearl mulai mendarat di pelabuhan, seluruh mata tertuju padanya. Sebuah kapal besar yang begitu megah dan indah. Sebagai awak kapal, Wu Ling segera menurunkan anak tangga. Naoki yang sudah mengenakan baju bangsawan mulai turun menapaki anak tangga diikuti oleh kedua pengawal setianya.
Naoki tersenyum ramah pada setiap orang yang melihat kearahnya, Keiko yang berjalan bersama dengan Azumi dan juga Yao yin di belakang sang saudagar lebih menarik perhatian karena kecantikan dan juga keanggunan mereka.
"Berhenti tuan, tolong tunjukkan identitas kalian." Beberapa penjaga pelabuhan mendatangi mereka.
"Maaf tuan kami adalah pedagang yang ingin mendapatkan ijin melintas, bisakah tuan sekalian menunjukan tempatnya kepada kami?"
"Jika begitu silahkan menuju ke biro penjagaan pelabuhan, di sebelah sana."
"Maaf tuan pengawal, apa rombongan kami mengganggu keamanan pelabuhan?" Kakek Yao yang masih berdiri di atas anak tangga berkata dengan sedikit keras.
"Tuan besar Yao, maafkan kami yang tidak mengenali rombongan anda tuan besar." Ketiga pengawal yang tadinya bersikap sedikit angkuh kini menunduk setelah melihat keberadaan Kakek Yao.
"Aku hanya menumpang di kapal para saudagar ini untuk pulang ke tempat ini, jadi apa masih perlu kami mencari ijin melintas?"
"Tidak tuan besar, maafkan atas kelancangan sikap kami tuan besar." Ketiga pengawal kembali menunduk hormat.
__ADS_1
"Bukankah itu nona Yin, wah sepertinya dia bertambah cantik."
"Ketiga saudarinya pasti akan sangat iri melihatnya bertambah cantik."
"Apa kalian lupa, nona Yin adalah sang nona api yang mengerikan."
Berbagai bisikan terdengar mengiringi setiap langkah ketiga wanita cantik yang terlihat begitu anggun dan mempesona.
"Pangeran apa yang mereka ucapkan? katakan padaku jika mereka menghina dirimu."
Genta sedikit berbisik saat mendengar berbagai ucapan yang tidak di mengerti oleh dirinya. Bahasa yang digunakan di benua selatan memang sangat berbeda dengan bahasa di benua timur, namun hal itu bukanlah hal yang asing bagi Naoki yang sangat rajin belajar saat ia masih berada di dalam istana.
"Tenanglah tuan naga, aku bisa mengatasi mereka. Tetap diam dan ikuti perintah dariku." Naoki masih sempat tersenyum ramah setelah berucap sedikit pelan di dekat telinga Genta.
"Eiji, apa kau mengerti apa yang mereka ucapkan?" Arnius sedikit berbisik saat mengikuti langkah Kakek Yao.
"Aku tahu sedikit kakak, aku sempat mempelajarinya dari buku di perpustakaan perguruan."
"Ya, aku juga mengerti sedikit. Nyonya Hao yang menolongku dulu, terkadang juga menggunakan bahasa seperti mereka."
"Siapa nyonya Hao itu?"
"Tuan saudagar, aku akan membantumu untuk mendapatkan ijin melintas dan juga berdagang." Kakek Yao melihat ke arah Naoki yang hanya di balas dengan anggukan kepala.
Kakek Yao bergegas memasuki sebuah biro keamanan pelabuhan untuk mendapatkan ijin yang mereka perlukan. Tak butuh waktu lama, Kakek Yao sudah terlihat keluar dari dalam biro.
"Ini ijin yang saudagar perlukan, saya mohon tuan beserta seluruh rombongan berkenan mampir ke gubuk saya walau sejenak."
Naoki melihat ke arah Arnius setelah mendengar permintaan dari kakek Yao. Terlihat anggukan kecil tanda persetujuan dari Arnius.
"Kapten Zen, siapkan segel kapal. Kita akan berkunjung ke rumah kakek Yao."
Zen bergegas kembali ke kapal dan mempersiapkan segel yang di minta. Hanya Zooi dan juga Jung Bao yang bertugas menjaga kapal.
Arnius menyewa beberapa kereta kuda untuk membawa rombongan mereka ke kediaman keluarga Yao.
"Komandan, sebaiknya kau juga menyiapkan berbagai mahar untuk di bawa ke rumah keluarga Yao." Zen sedikit berbisik di samping telinga Arnius.
"Siapa yang akan kau lamar kapten?"
"Bukan aku, tetapi dirimu yang harus melamar. Kau harus melamar nona Yin dan juga menikahinya sekarang juga."
__ADS_1
"Apa yang kau bicarakan?"
"Tenanglah kakak, aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku yakin ayah dan juga ibu tidak keberatan jika kakak menikah. Aku dan kak Eiji adalah wakil dari keluarga, sementara paman Zen dan juga pangeran Naoki yang akan mewakili ayah untuk melamar kakak Yin." Keiko berucap pelan tanpa jeda sedikitpun.
"Bagaimana kalian bisa seperti itu, apa nona Yin mau menikah dengan ku?"
"Hal itu sudah di urus oleh Minori, jadi kakak tenang saja."
Kereta kuda mulai berhenti di depan sebuah kediaman yang begitu besar, satu persatu mereka mulai memasuki rumah yang begitu besar. Berbagai kotak yang berisi berbagai barang mulai diletakkan di dalam ruangan.
"Pangeran, apa yang anda bawa?" Kakek Yao memperhatikan setiap barang yang diletakkan oleh Wu Ling dan teman-temannya.
"Kakek Yao, kedatangan kami kemari selain karena permintaan Kakek. Kami ingin melamar nona Yin sebagai istri dari komandan kami. Tentu saja jika nona Yin berkenan."
"Tentu saja pangeran, melihat Yin yin menikah adalah keinginan terbesar ku dan juga ayahnya. Namun semua itu tentu saja terserah kepada Yin yin." Pandangan Kakek Yao tertuju pada Yao yin yang masih berdiri mematung.
"Kakek, apa secepat ini aku harus menikah?"
"Apa kau mau menjadi perawan tua atau menjadi salah satu selir kaisar? kau sudah berumur Yin yin, apa kau mau selamanya di hina oleh ke tiga saudarimu karena tak laku-laku?"
"Kakek... Baiklah aku akan menikah dengan Ar' gege."
"Syukurlah aku bisa menghabiskan masa tua ku dengan tenang."
"Ar' gege.. Apa aku tidak salah dengar kak Yin yin?" Keiko tersenyum kecil.
"Begitulah kami warga benua selatan menyebut seseorang yang lebih tua, Keiko san." Yao yin tersipu malu saat melihat Arnius melihat keakraban keduanya.
"Saudari Yin, ku dengar kau sudah pulang bersama para saudagar tampan. Tolong kenalkan aku pada mereka." Yao Fu salah satu sepupu Yao yin bergegas memasuki ruangan setelah mendengar sang kakek bersama saudarinya telah pulang dengan menumpang kapal para saudagar tampan.
"Fu'er apa kau tidak malu dengan tingkah laku mu itu?"
"Tapi saudari Yin mereka benar-benar tampan." Yao Fu sedikit berbisik di samping Yao yin.
"Hati-hati kalau berbicara, aku akan menikah dengan salah satu dari mereka." Yao yin menunjuk ke arah Arnius, Eiji, Naoki, Wu Ling dan juga Yuki yang duduk hampir berdekatan.
"Haa.. Kenapa harus yang tampan, mereka begitu tampan."
"Apa kau pikir aku ini buruk rupa?"
"Kau adalah Yin yin sang monster." Yao Fu menghentakkan kakinya kesal dan segera bergegas meninggalkan ruangan tersebut.
__ADS_1