
Arnius sudah mengeluarkan Jung Nara dan beberapa rekannya dari dalam giok hitam. Kawanan binatang ilahi itu diminta untuk menjaga nyonya majikan mereka yang saat ini masih di dalam segel pelindung milik kuda air Keiko. Tak segan mereka semua juga menebas setiap kepulan asap hitam yang mendekat.
Hitoshi dan Shoji yang masih berusaha mengembalikan kekuatan serta nafas mereka yang masih memburu, sedikit tersenyum lega saat melihat beberapa hewan buas yang muncul entah dari mana dan membantu mereka untuk menebas setiap asap kepulan hitam yang semakin bertambah jumlahnya dan juga memiliki kemampuan yang semakin kuat.
"Komandan bumi itu memang benar-benar tidak bisa di anggap remeh."
Hitoshi terpana saat melihat munculnya beberapa hewan buas, setelah Arnius mengibaskan tangannya.
Keiko begitu geram saat melihat luka robek di lengan kakak iparnya, gadis itu telah memasukkan beberapa pil penyembuh ke dalam mulut wanita bercadar yang masih tidak sadarkan diri di atas pangkuannya.
Setelah membantu perempuan itu untuk mencerna semua pil yang ia masukkan, kemudian memastikan luka yang tadinya menganga lebar serta masih terus mengeluarkan darah. Kini sudah mulai tertutup dan kondisi tubuh kakak iparnya sudah berangsur membaik. Gadis pemilik elemen es itu mulai membekukan setiap kepulan asap hitam yang bisa ia rasakan.
Setiap serangan yang dilakukan oleh semua rekannya, membuat kepulan asap hitam yang sudah membeku itu hancur berkeping-keping. Namun masih ada beberapa kepulan asap hitam yang mampu melepaskan diri dari jeratan es Keiko. Beberapa kali adik perempuan Arnius melakukan hal itu, hingga membuat beberapa kepulan asap hitam mulai berkurang.
"Aku tidak menemukan organ dalam atau bahkan aliran darah pada kepulan asap hitam itu. Lalu apakah mahkluk itu mempunyai bentuk tubuh?"
Keiko bergumam perlahan.
Suara geraman yang terdengar begitu mengerikan menggema di seluruh penjuru tempat tersebut. Beberapa kepulan asap hitam mulai tampak membesar hingga muncul beberapa sosok aneh yang terlihat begitu mengerikan.
"Kita bertemu lagi mahkluk bumi. Kau telah menghabisi beberapa saudara kami dan memasuki daerah terlarang dalam wilayah kami. Ku rasa kalian telah mengambil sesuatu yang berharga dari tempat itu, hingga membuatnya benar-benar hancur."
Geraman menggelegar kembali terdengar. Ryota yang masih sibuk bertarung melawan seorang kakek yang bertubuh setengah naga, sempat bergidik ngeri.
Terlihat beberapa sosok bertubuh besar dan memakai jubah hitam mengeluarkan aura menekan yang begitu pekat. Dari celah kecil yang baru saja terbentuk di atas sana, muncul beberapa kilat petir yang terlihat melesat dan berusaha mendekati tubuh yang masih tergeletak tidak sadarkan diri.
"Minori, Keiko. Classic pearl menunggu di atas. Cepat bawa tubuh Kana dan juga kakak Yin. Kalian bertahan di sana dan berusahalah untuk menjauh, aku akan mencoba membawa Ryota. Musuh kita sangat kuat saat ini, keberadaan kalian akan menganggu konsentrasi kak Arnius."
__ADS_1
Eiji menatap tajam wajah adik perempuannya, lelaki tampan itu benar-benar tahu kepribadian Keiko yang tidak akan pernah mau untuk pergi dari pertempuran seperti ini. Namun gadis itu mengangguk mengerti, karena keselamatan keponakan serta kakak iparnya begitu berharga bagi dirinya dan juga kakak tertuanya.
Minori mengangkat tubuh Yao Yin dan melesat cepat memasuki celah kecil di atas sana dengan disusul oleh Keiko yang juga membopong tubuh keponakan cantiknya yang masih tidak sadarkan diri.
"Kapal itu di sana kakak, kami akan mengamankan kalian."
Ronin yang masih berjaga di tempat tersebut melihat sosok asing muncul di hadapannya, namun seorang wanita yang berada dalam gendongannya cukup dikenalnya. Minori kembali melesat ke arah yang ditunjuk oleh pemuda yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian Keiko pun menyusul di belakangnya.
"Shiro, perkuat segel pelindung. Aku akan kembali ke tempat itu untuk membawa tubuh Ryota."
Keiko dan Minori kembali melesat ke celah kecil tempat mereka keluar sebelumnya setelah melihat Wu Ling yang masih memulihkan kondisi tubuhnya.
"Sebaiknya nona di sini, aku yang akan masuk. Karena perintah tuan Eiji cukup jelas, untuk membawa anda dan nona Yin menjauh."
Keiko hanya mengangguk cepat, gadis itu tidak ingin berdebat dengan kuda airnya. Meskipun saat ini dia sangat ingin memasuki celah itu dan berjuang bersama ke dua kakaknya.
"Pangeran Shoji, bawa keluar saudara mu. Salah satu dari kalian harus ada yang hidup untuk memimpin istana ini."
"Ziku, selamatkan Sinziku."
Hitoshi menatap wajah adik perempuannya yang juga masih berusaha menghalau serangan yang tertuju kepadanya.
"Tenanglah kak, aku akan kembali untuknya."
Shoji menjawab singkat, seraya terus membumbung tinggi ke udara membawa tubuh kakak keduanya. Minori yang melihat hal itu bergegas mengangkat kursi beroda yang sudah ditinggalkan oleh penggunanya.
"Letakkan dia di kapal itu."
__ADS_1
Keiko yang melihat seseorang yang baru saja keluar dari celah tersebut, menunjukkan letak Classic pearl yang melayang sedikit jauh dari tempat tersebut. Tak berselang lama Minori kembali terlihat keluar dengan membawa satu kursi beroda dan menyerahkannya kepada Keiko.
"Nona terima ini."
Keiko hanya menerima benda itu dan membawanya ke atas Classic pearl. Gadis itu tahu bahwa seseorang yang tadi dilihatnya pasti memerlukan benda yang saat ini dipegangnya.
Minori kembali mencari celah untuk mendekati pertarungan Ryota, meskipun Eiji juga melakukannya. Eiji berulang kali menahan serangan yang ditujukan kepada keponakannya, serta memintanya untuk menyingkir. Namun pria kecil itu begitu ingin menghabisi lawannya yang sudah melukai ibunya.
Minori bergegas mendekati tubuh Ryota yang masih membara dan mencoba membawanya pergi.
"Pangeran kecil ayolah ikut bersama dengan ku, pangeran harus melindungi ibu Yin Yin dan nona Kana yang masih belum sadarkan diri. Biarkan paman Ji Ji yang menghabisi orang itu."
Minori masih terus berusaha membujuk Ryota yang belum bisa disentuhnya karena api di tubuh pria kecil itu benar-benar membara.
"Setidaknya aku ingin memisahkan ekor pak tua itu dari tubuhnya."
Ryota kembali menyerang, kali ini pria kecil itu membuat pedang api yang membara dengan sebelah tangannya.
"Aargh..."
Sesaat terdengar teriakan yang begitu memilukan sebelum tubuh orang tua yang ada di hadapan Ryota benar-benar terpisah dari ekor ularnya. Tubuh panglima Chisen telah meregang nyawa saat pedang api Ryota membelah tubuhnya.
Eiji dan juga Minori sedikit terpana saat melihat pemandangan itu. Keduanya benar-benar terkejut akan perangai pria kecil yang tubuhnya masih membara seutuhnya.
"Sudah cukup Ryota. Sekarang ikut bibi Minori dan tinggalkan tempat ini. Kau jaga ibu dan adikmu."
Ryota mengangguk dan melesat mendekati Minori setelah tubuhnya kembali seperti semula.
__ADS_1
"Ayo pangeran, mereka menunggu di atas Classic pearl."
Minori memastikan Ryota mengikutinya, karena pria kecil itu sama sekali tidak ingin di sentuh.