
Tubuh Ryu kogane yang tadinya masih melayang setelah membakar habis tubuh Anulata tanpa sisa, kini turun perlahan. Tubuh yang masih berbentuk seekor naga perlahan mengecil dan berubah menjadi sosok pemuda.
Tubuh Genta mulai meluncur tak terkendali, semua itu disadari oleh Kin Raiden yang masih membentangkan sayapnya seraya memperhatikan setiap gerakan sang naga emas. Secepat kilat Kin Raiden menyambar tubuh Genta yang mulai meluncur dari ketinggian. Phoenix merah bergerak cepat, sayap emas itu membawa tubuh Genta yang sudah tidak sadarkan diri di atas punggungnya dan mulai turun perlahan.
"Genta, ada apa dengannya?"
Arnius bergegas mendekati tubuh Genta.
"Dia hanya perlu istirahat tuan tampan, tubuhnya begitu lemah."
Minori berucap pelan setelah memeriksa keadaan Genta.
Arnius kembali mengayunkan lengannya, hanya dalam sekejap tubuh Genta sudah beralih ke dalam giok hitam. Memei kembali berteriak histeris saat kilatan cahaya kembali muncul di atas tempat tidur tuan mudanya dan menampakkan sosok pemuda yang dikenalnya.
"Panglima .. Panglima terluka .. Kalian cepat kemari."
Teriakan Memei terdengar oleh beberapa hewan yang sedang merawat beberapa hewan lainnya dan membuat mereka bergegas berlari mendatangi kediaman tuannya.
Luna yang juga mendengar teriakkan Memei, terbang mendekati tubuh Genta yang tidak sadarkan diri.
"Tenanglah Memei, panglima hanya perlu beristirahat. Tenaganya hampir terkuras karena harus menahan bisa ular Anulata, aku akan memberikan pil terbaikku."
Luna memberikan sebuah kotak kecil kepada Memei, dengan segera Memei menerima dan membuka kotak tersebut. Cahaya putih yang menyilaukan mata muncul saat kotak yang berada di tangan Memei terbuka, terlihat beberapa pil berwarna putih yang mengeluarkan aroma kesejukan.
"Pil embun abadi."
Memei segera mengambil sebutir pil dan memasukkannya perlahan ke dalam mulut Genta, kemudian membantu pemuda itu untuk menyerap khasiat serta nutrisi yang terkandung di dalamnya.
"Kakak bagaimana dengan Zora, Zen serta Sayuri, bisakah mereka mendapat perawatan dari para bawahan mu?"
Keiko teringat ketiga rekannya yang terluka dengan segera ia mengibaskan tangannya dan mengeluarkan ketiganya dari cincin ruang miliknya.
Zora, Zen serta Sayuri terbaring lemah di atas pasir merah dengan segera Arnius memasukkan mereka ke dalam giok hitam.
"Tenanglah Kei, mereka pasti baik-baik saja."
Keiko menganggukkan kepalanya, ia percaya ada seseorang yang mampu merawat seluruh rekannya yang terluka.
Pandangan ketiganya beralih menatap langit yang mulai tertutup awan hitam termasuk Kin Raiden yang sudah kembali berdiri tegap di samping tuannya.
Kilatan petir mulai menghiasi langit di atas pasir merah yang sudah hampir tertutup oleh awan hitam. Angin mulai berhembus menerbangkan puing-puing senjata ataupun zirah perang sisa-sisa dari pertempuran. Butiran pasir mulai melayang mengaburkan pandangan, semakin lama angin berhembus semakin kencang.
"Badai pasir, berlindung."
Arnius menggenggam erat tangan kedua adiknya, dia tidak ingin ada hal yang membahayakan kedua adiknya sehingga ia memutuskan untuk memasukkan keduanya ke dalam giok hitam.
"Tuan semakin banyak mahkluk hidup yang anda masukan ke dalam giok hitam, maka semakin besar pula tenaga anda akan terkuras."
Suara Jung Bao terdengar jelas di kepala Arnius.
"Aku tahu itu, aku juga merasakannya."
Arnius kini berusaha memegang kedua lengan sosok yang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Kalian tetap bertahan, jangan sampai terpisah."
Arnius, Minori serta Kin Raiden saling berpegangan mencoba bertahan dari hembusan angin yang membawa serta butiran pasir yang sangat menggangu mata serta pernapasan mereka.
Minori dan Kin Raiden berusaha mempertahankan segel pelindung diantara mereka untuk mencegah butiran pasir panas, serta berbagai hal yang ikut terbang terbawa angin menghantam tubuh mereka. Sementara Arnius yang berada tepat ditengah berusaha mempertahankan posisi mereka supaya tidak ikut terbawa angin.
"Kakak bertahanlah."
Keiko berlari mendekati batu mutiara bulat yang juga sedang di tatap oleh Jung Bao dan yang lainnya.
Badai pasir yang dahsyat menerbangkan apapun yang dilaluinya, saat ini kaki ketiganya hampir tertutup oleh pasir seutuhnya. Saat badai pasir mulai menjauh, ketiganya melompat secara bersamaan untuk membebaskan kedua kaki mereka yang terendam di dalam pasir panas.
"Keluarkan mereka yang tidak terluka, kau masih membutuhkan banyak tenaga untuk menghadapi semua kemungkinan."
Kin Raiden menyentuh bahu Arnius perlahan.
Arnius hanya mengangguk dan kembali mengeluarkan Keiko, Eiji dan juga Jung Bao.
"Apa kau masih sanggup berlari Jung Bao?"
Arnius menatap Jung Bao sesaat.
"Hamba siap tuanku."
Ketiganya kembali melesat dengan tunggangan masing-masing. Berbagai masalah kini melintas dalam pikiran Arnius, tubuhnya yang sedikit terguncang karena gerakan Jung Bao seolah tak berpengaruh terhadapnya.
"Bagaimana cara keluar dari tempat ini? aku harus berpikir."
"Kakak tenanglah, semua pasti ada jalannya. Kita hanya perlu berusaha."
"Kenapa semakin terasa panas? Jung Bao istirahatlah."
Arnius menghentikan laju lari Jung Bao yang semakin terlihat kelelahan.
"Kei, Ji ji .. kalian baik-baik saja?"
"Minori mampu menjaga suhu tubuhnya kakak, bagaimana denganmu kak Ji Ji?"
Ketiganya kembali berhenti saat merasakan udara yang begitu panas. Arnius yang memiliki elemen api pun merasakan suhu tempat itu semakin tinggi. Jung Bao kembali di masukkan ke dalam giok hitam.
"Kakak lihatlah ada dua matahari di atas sana."
Eiji menunjuk ke atas langit yang jelas memperlihatkan dua matahari yang bersinar tepat di atas kepala mereka.
"Sejak kapan ada dua matahari kembar."
Arnius bergumam pelan.
"Kakak ayo berlindung di balik bebatuan itu, kita bisa berjalan dengan berlindung dari panasnya matahari."
Keiko menunjuk deretan bebatuan besar.
Mereka berlima kini berjalan diantara bebatuan, untuk menghindari sengatan matahari kembar yang mengharuskan mereka menggunakan tenaga dalam untuk melindungi tubuh mereka supaya tidak terbakar.
__ADS_1
"Tuan gunakan mutiara salju untuk mengurangi panas yang menyengat, mutiara yang menutupi hampir seluruh puncak gunung es yang ada di dalam giok hitam."
Suara Jung Bao kembali terdengar.
Arnius segera mengeluarkan beberapa mutiara salju yang dimaksud. Sebenarnya mereka tidak begitu memerlukan mutiara tersebut, namun tenaga mereka akan cepat berkurang jika terus di gunakan. Sementara mereka masih berada dalam wilayah yang tidak aman dari serangan para iblis ataupun binatang besar lainnya.
"Bawa baik-baik mutiara itu untuk menghemat tenaga kalian."
Arnius menyerahkan mutiara salju kepada setiap rekannya.
"Ar keluarkan aku."
Suara Genta terdengar dalam pikiran Arnius.
"Kau sudah membaik? beristirahatlah dahulu."
"Peri kecilmu memberiku pil yang berharga, tenagaku sudah pulih. Aku baik-baik saja."
"Baiklah."
Tubuh Genta mulai terlihat berlari diantara bebatuan.
"Aku sudah melihat dua matahari kembar saat aku masih bertarung dengan Anulata, namun letaknya tidak tepat di atas kepala seperti saat ini."
Genta berucap pelan saat menerima mutiara salju dari Arnius.
"Mungkin saat ini memang tepat tengah hari."
Arnius menjawab singkat.
"Kau lupa, saat kita masih melayang dan menahan aura pembunuh Anulata. Saat itu matahari hampir tenggelam, jadi seharusnya saat ini adalah malam hari. Tapi mengapa seolah hari tidak mau berganti."
Genta kembali berucap.
"Benar, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Arnius mengangguk perlahan.
"Lihat ada gubuk."
Teriakkan Keiko menghentikan laju lari serta percakapan mereka.
"Mustahil ada manusia yang mampu bertahan hidup di tempat ini."
Eiji bergumam pelan.
"Bisa saja hewan atau iblis."
Keiko kembali berpendapat.
"Bukankah hanya manusia yang bisa membuat sebuah rumah."
Eiji kembali berucap.
__ADS_1
"Kalian benar, waspada dan hati-hati."
Arnius mulai mengawasi sekitar.