Aksi Kami Bersaudara

Aksi Kami Bersaudara
Bip bip


__ADS_3

Hawa kehadiran iblis semakin terasa, membuat Arnius dan juga Eiji harus menggunakan tenaga dalam mereka untuk menepis dampaknya terhadap tubuh serta pikiran mereka.


Hal ini membuat Eiji menyadari sesuatu, bahwa saat ini mereka pasti berada di tempat yang tidak begitu jauh. Aura iblis sengaja mereka keluarkan untuk membuat seluruh penghuni keluarga ini kehilangan kesadaran ataupun mati dengan sendirinya, sehingga mereka tidak perlu repot untuk mengeluarkan banyak tenaga untuk membunuh setiap anggota keluarga yang ada beserta seluruh pekerjanya.


Eiji bergegas kembali masuk ke ruangan beruang tua, dan memintanya untuk mengecilkan ukuran tubuhnya, serta memberitahu tentang rencananya. Beruang tersebut mengerti dengan rencana yang Eiji buat, untuk mengetahui siapa dalang di balik semua ini.


Arnius mulai menyuruh Genta untuk menghilangkan hawa keberadaannya dan tidak menampakkan tubuhnya.


"Jika memang mereka ingin membantai keluarga ini, kita harus mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Baiklah kita lakukan rencana mu."


Arnius melakukan setiap hal yang diminta oleh Eiji, termasuk menyuruh Jung Bao, Zooi serta Monki untuk menyamar sebagai hewan biasa. Jung Bao merubah ukuran tubuhnya hingga menjadi seekor kucing kecil yang menggemaskan dan bersembunyi di atas pohon. Sementara Zooi berubah menjadi seekor anjing penjaga yang hanya duduk diam di teras rumah. Monki pun berubah kecil, seperti halnya seekor monyet peliharaan yang berada di antara pohon apel.


Genta berubah menjadi seekor ular kecil kemudian ia melilitkan tubuhnya pada sebuah batang pohon, agar tetap bisa mengawasi keadaan seluruh tempat tersebut. Sementara Arnius dan Eiji bersembunyi dibalik pepohonan dan juga dibalik dinding rumah.


**


"Kenapa mereka semua bersembunyi? dan para binatang itu, kenapa mereka merubah ukuran tubuhnya."


Keiko yang selalu memperhatikan aktivitas di luar bersama yang lainnya menjadi sedikit heran dan tidak mengerti.


"Minori, apa kau merasakan ada aura ataupun sesuatu yang terjadi di luar?"


Yao yin menatap Minori yang juga diam memperhatikan setiap kejadian yang di tampilkan oleh batu milik Yao yin.


"Aura iblis begitu terasa di luar, jika tempat ini tidak dilindungi oleh aray ciptaan nona Yin. Mungkin kalian semua tidak akan bertahan. Entah apa yang.tuan tampan rencanakan, aku akan mencoba menghubungi tuan naga besar."


"Aura iblis, apa itu, apakah berbahaya?"


Yaza mengernyitkan keningnya.


"Aura yang bisa menyebabkan kematian bagi manusia biasa seperti kalian tuan besar."


Minori sedikit memberikan penjelasan.


"Jadi mereka sengaja mengeluarkan aura tersebut untuk mengurangi jumlah kami, tanpa harus bertarung."


"Benar tuan besar."


"Jadi mereka ingin membantai seluruh keluarga ini."


Ucapan Yaza membuat semuanya terkejut dan sedikit merasa keheranan.


"Eiji sepertinya berpikir cepat, mereka ingin mengetahui siapa dalang di balik semua ini. Keponakanku yang pintar, kita perhatikan saja mereka. Sebentar lagi mungkin akan ada pasukan Shinobi yang akan mendatangi kediaman ini."


Zaka mulai menebak alur dari rencana yang telah Eiji buat.


"Suamiku, apa kau memiliki musuh?"


Gina yang juga hanya diam memperhatikan mulai sedikit keheranan.


"Aku berusaha membina hubungan yang baik dengan setiap pembeli ataupun para pedagang lainnya. Mungkin memang benar, jika ada seseorang yang tidak menyukai kehadiran keluarga Tamura di dunia perdagangan."

__ADS_1


Yaza menghela nafas panjang.


"Tenanglah kakak, mereka pasti bisa mengatasi semua ini."


Zaka mencoba menenangkan kakak iparnya.


"Jika kalian semua tidak ada bersama kami saat ini, entah apa yang terjadi dengan kami semua."


Gina menundukkan kepalanya.


"Kami akan selalu berusaha menjaga kalian ibu."


Keiko beralih memeluk tubuh sang ibu yang duduk di sebelahnya.


**


"Bersiaplah, mereka mulai bergerak."


Suara berat sang naga emas terdengar di setiap telinga para hewan besar dan juga Arnius serta Eiji.


"Lebih dari sepuluh shinobi muncul di sebelah kiri bangunan utama."


Zooi yang sudah mengubah posisinya menjadi seekor hewan yang sedang sekarat karena terkena dampak dari aura iblis, segera melaporkan apa yang di lihatnya melalui pikiran yang terhubung dengan semuanya.


"Bunuh mereka satu persatu, tanpa diketahui oleh rekannya."


Suara Arnius kembali terdengar memberikan perintah.


"Puluhan ninjutsu handal ada di sekitarku."


Suara Jung Bao terdengar jelas oleh setiap rekannya.


"Satu orang pemuda berpakaian bangsawan memperhatikan dari atas pohon terbesar. Tunggu ... Ada simbol pada sabuk yang di pakainya."


Monki yang tengah terkapar di atas sarang para merpati, kembali mempertajam penglihatannya untuk memperhatikan simbol yang terukir pada sabuk yang melilit di pinggang Gaara.


".... Lima, enam, tuju, delapan. Delapan Master ninjutsu. Lima binatang iblis dan tiga binatang ilahi. Dari aura yang mereka pancarkan, satu diantara tiga binatang itu berada di tingkat nirwana. Sial ... Sial ... Siaaal."


Umpatan Genta terdengar jelas.


"Sepertinya mereka tidak memandang rendah keluarga Tamura, aku akan mencoba menghubungi Raiden."


Eiji yang berada di atas bangunan dapat melihat semua binatang itu dengan jelas.


"Aku mendengar kalian. Tunggulah, aku akan segera tiba."


Suara Kin Raiden terdengar di antara mereka.


"Sebaiknya kau cepat, atau kau akan ketinggalan permainan seru ini."


"Tunggulah naga besar, bukankah kau sendiri saat ini hampir di tingkat surgawi?"

__ADS_1


"Haiih... Saat ini aku hanyalah seekor cacing kecil yang sekarat."


Genta benar-benar memperkecil ukuran tubuhnya supaya para binatang ilahi tersebut tidak mencium aura miliknya.


"Minori apa kau mendengar kami?"


Arnius mencoba menghubungi Minori.


"Dengan jelas tuan muda."


"Minta Yao yin untuk mencari tahu simbol yang ada pada sabuk seorang pemuda yang berdiri di atas pohon tertinggi."


"Baik."


Minori segera memberi tahu kepada Yao yin dan semua orang, tentang pembicaraan Arnius dan juga para hewan besar. Yao yin membuka sebuah kotak berukuran sedang yang baru saja ia keluarkan. Terdengar suara dengungan serangga yang berukuran kecil.


"Bip bip aku mengandalkan mu."


Serangga yang di panggil Bip bip oleh Yao yin, mulai terbang sesuai dengan perintahnya. Serangga kecil itu terbang menyusuri lorong, kemudian keluar dari sela-sela pintu yang ada di gudang penyimpanan. Bangunan terdekat dengan kebun buah keluarga Tamura.


Sebuah kotak yang tadinya tempat sarang Bip bip, kini memperlihatkan setiap tempat yang di lewati oleh serangga kecil tersebut.


"Minta Suamiku untuk melepaskan beberapa lebah untuk menyamarkan suara Bip bip milikku."


Yao yin memandang wajah Minori yang hanya di balas anggukan kecil. Arnius mengeluarkan beberapa serangga miliknya dari dalam giok hitam, setelah mendengar penjelasan dari Minori melalui pikirannya.


"Ayah apa anda mengenali simbol ini?"


Yao yin menunjukkan gambar yang ada di kotak kayu miliknya kepada Yaza dan juga Zaka, setelah Bip bip terbang mendekati seorang pemuda yang berdiri di atas dahan pohon.


"Yamada.. Itu simbol keluarga Yamada, simbol itu ada di setiap barang dagangan yang berasal dari keluarga tersebut."


"Iya benar, itu adalah simbol dari keluarga Yamada."


Ucapan Yaza di benarkan oleh Zaka, keduanya mengenali simbol yang di tunjukkan oleh Bip bip. Yao yin menyalurkan tenaganya untuk membawa Bip bip kembali, setelah mereka mengetahui simbol yang di maksudkan. Sementara Minori mengatakan semuanya kepada Arnius dan seluruh rekannya.


"Yamada... Jika kita bisa selamat kali ini, aku benar-benar akan memusnahkan kalian."


Gemeretak gigi Arnius hampir terdengar, jika ia tidak segera menahannya.


"Tunggu kakak Yin, aku sepertinya mengenali orang itu."


Yao yin menghentikan gerakan Bip bip, saat Keiko melihat seseorang yang dikenalinya.


"Tubuhnya besar berotot, namun tidak setua paman Guiru. Tanda bintang di telapak tangan kiri serta bekas luka di kening, tidak salah lagi. Dia adalah Master Fujita dari klan Ito. Dia mendapatkan bekas luka itu dari pedang paman Guiru. Keluarga Yamada menyewa klan Ito untuk memusnahkan keluarga kita, akan ku kejar kalian sampai ke lubang semut sekalipun."


Minori melaporkan semua ucapan Keiko kepada kakak tertuanya, beserta seluruh umpatan serta sumpah yang diucapkannya. Hingga membuat meja batu di hadapan mereka berubah menjadi lempengan es tebal.


"Kita akan memulainya teman, bersiaplah."


Kepalan tangan Arnius menunjukkan betapa geramnya dia saat ini.

__ADS_1


__ADS_2