
Seluruh anggota classic pearl kembali menaburkan serbuk bunga pada tubuh mereka untuk menyamarkan aroma manusia yang mungkin saja tercium oleh para Megan troll. Sementara Yao yin hanya mengoleskan cairan bening pemberian dari Luna sang peri kecil.
Mereka kembali berjalan perlahan diantara bebatuan serta pepohonan, gelapnya malam membantu menyamarkan keberadaan mereka.
"Pantas saja banyak sekali buah ataupun pepohonan aneh yang berukuran besar ditempat ini, ternyata bangsa raksasa pun ada juga disini."
Keiko bergumam perlahan.
"Sepertinya mereka tidak begitu menyukai buah-buahan, ayam ataupun telur ayam yang berukuran super besar tersebut."
Zora ikut menimpali.
"Tidak juga, lihat di sebelah sana ada beberapa jenis sayuran yang memang sengaja mereka tanam. Dan sepertinya aku mendengar suara beberapa ekor kambing serta babi yang berasal dari rumah besar itu."
Azumi menunjuk kesatu arah yang terdapat sebuah bangunan besar yang di kelilingi beberapa jenis tanaman.
"Berhenti."
Ucapan Eiji yang tiba-tiba mampu menghentikan percakapan diantara mereka. Semua berubah menjadi waspada tatkala Eiji menunjuk beberapa Megan troll yang sedang tertidur lelap, begitupun Arnius yang terlebih dahulu menyadari keberadaan mereka.
"Astaga suara dengkuran mereka begitu menyiksa telingaku."
Zen menutup rapat kedua telinganya.
"Perkampungan para Megan troll."
Yao yin berucap pelan.
"Kita akan berjalan memutar untuk menghindari para troll. Pepohonan dan bebatuan hampir tidak ada lagi. Jadi berhati-hatilah."
Arnius berkata singkat kemudian kembali melanjutkan perjalanan.
Seluruh rekannya mengangguk mengerti dan segera bergegas mengikuti langkah Arnius.
"Kak Nius, apa perlu aku membekukan jantung mereka saat ini juga?"
Keiko mengajukan pertanyaan kepada sang kakak.
"Lakukan hal itu jika memang nanti di perlukan, selama mereka tidak menggangu hal itu tidak perlu dilakukan. Mereka juga manusia yang ingin hidup di dunia ini Kei."
Arnius menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Hal itu juga berlaku untuk dirimu tuan putri Azumi. Kalian harus bekerjasama jika hal itu benar-benar diperlukan."
Eiji menatap Azumi yang berjalan tidak jauh darinya.
"Iya kak Eiji."
Azumi mengangguk mengerti.
__ADS_1
Suara dengkuran terdengar semakin keras saat mereka melewati beberapa Megan yang tertidur beralaskan tanah. Meskipun tampak beberapa rumah yang berukuran super besar namun tidak sedikit juga para Megan troll yang tidur di alam terbuka. Ada juga beberapa troll yang tidur dengan berselimutkan tanah yang masih ditumbuhi oleh rumput serta beberapa lumut hijau.
Saat mereka melewati beberapa troll yang nampak begitu pulas tertidur. Naoki mensejajarkan tubuhnya dengan telapak tangan troll yang tergeletak di tanah. Ukuran tubuh Naoki hanyalah sebesar jari telunjuk Megan troll tersebut.
Melihat hal itu Zen semakin mempercepat langkahnya untuk segera menjauhi para Megan troll tersebut. Bahkan tak jarang mereka juga menahan nafasnya saat melewati kepala troll yang tertidur.
"Sepertinya tengkorak kepala kita adalah hiasan rumah yang indah bagi mereka."
Wu Ling menunjuk sebuah pintu besar yang terdapat sebuah tengkorak kepala manusia yang berukuran normal, tertempel tepat di tengah pintu.
"Sebaiknya kita bergegas anak-anak, sepertinya manusia adalah hidangan terlezat di atas meja makan mereka."
Kakek Yao menghela nafas panjang.
"Jangan bercanda Kakek."
Sayuri menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa takutnya.
"Kakek Yao benar, hati-hati dengan langkah kalian."
Genta yang berada di ujung barisan juga ikut berkomentar.
Pembicaraan mereka terhenti ketika tubuh Megan troll yang ada di dekat mereka tiba-tiba bergerak, tubuh yang tadinya terlentang kini berubah posisi menjadi sedikit lebih miring. Sebuah tangan besar bergerak ke atas kemudian kembali terjatuh di atas tanah yang letaknya tidak jauh dari rombongan Arnius.
Berpindahnya posisi tangan tersebut menyebabkan bunyi debaman yang begitu keras dan bahkan menimbulkan angin yang cukup kencang hingga menyebabkan tubuh seluruh rekan Arnius terhempas ke berbagai tempat.
Bagi mereka yang masih muda serta sudah terlatih, sangatlah mudah untuk kembali menguasai keseimbangan tubuh mereka kembali. Namun tidak bagi tubuh tua Kakek Yao. Dengan cepat Kin Raiden menyambar tubuh Kakek Yao sebelum menghantam sebuah dinding rumah yang tinggi dan bahkan begitu tebal.
Kakek Yao menepuk pelan bahu Kin Raiden.
"Aku akan selalu berusaha menjaga dirimu pak tua, itu sudah tugasku."
Kin Raiden kembali berjalan di belakang Kakek tua tersebut.
"Kakek kau baik-baik saja?"
Yao yin sedikit berlari mendekati sang kakek.
"Tenanglah Yin yin, tuan Phoenix menjaga diriku dengan sangat baik."
Semua bergegas kembali melangkah mengikuti Arnius yang sudah terlebih dahulu melanjutkan perjalanan. Kali ini sang komandan tertinggi tersebut lebih memilih untuk benar-benar menjauh dari para Megan troll.
Setelah benar-benar jauh dari para troll yang tengah terlelap. Arnius beserta seluruh rekannya bergerak sedikit lebih cepat, namun tetap tanpa suara sedikitpun supaya tidak membangunkan tidur para Megan troll.
Kin Raiden kembali menggendong tubuh tua Kakek Yao di atas punggungnya. Sementara yang lainnya terbang dengan kemampuan masing-masing.
Arnius kembali memberikan perintah untuk berhenti, saat mereka tiba di sebuah rumah yang terlihat lebih kecil daripada rumah para troll yang sudah mereka lewati sebelumnya.
Rumah tersebut sedikit lebih jauh dari rumah yang lainnya. Arnius kembali memberikan tanda untuk menyebar dan bersembunyi, ketika ia melihat ada pergerakan dari dalam rumah tersebut.
__ADS_1
Pintu rumah terbuka lebar dan tampaklah seseorang bertubuh kurus dan tidak begitu besar seperti para Megan troll yang lainnya. Wajah serta tubuhnya terlihat lebih bersih daripada para Megan yang lainnya. Rambutnya berwarna putih dan hanya ada beberapa helai di bagian pinggir kepalanya. Di bagian tengah terlihat kulit kepala yang halus tanpa rambut satupun.
"Botak."
Satu kata yang terlintas hampir di seluruh pikiran semua orang.
Seluruh rekan Arnius yang bersembunyi di berbagai tempat terlihat begitu memperhatikan troll yang satu ini. Bahkan Zen berusaha menahan tawanya karena merasa lucu, serta sedikit aneh saat melihat penampilan troll tersebut.
"Diantara para troll yang bertubuh besar, serta rambut dan bulu yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Kenapa dia justru tidak memiliki rambut."
Zen menepuk pelan keningnya.
Celana pendek selutut dengan kemeja yang sudah terlihat kusam serta terdapat rompi tanpa lengan yang juga melekat di tubuhnya. Sepasang sepatu yang sudah usang, serta jubah hitam yang menggantung di lengannya. Sebuah tongkat kayu terlihat di genggaman tangannya. Sementara tangan yang lainnya terlihat menjinjing sebuah tas tua.
"Malam gelap seperti ini, dia mau pergi kemana?"
Genta bergumam pelan.
Troll yang sudah terlihat tua tersebut mulai memakai jubahnya kemudian melangkah menyusuri jalan setapak diantara gelapnya malam.
Arnius kembali memberikan perintah untuk kembali berjalan. Langkah mereka tiba-tiba berhenti saat melihat seorang troll yang lebih besar menghadang langkah troll botak tersebut.
"Maroon, mau kemana kau malam-malam begini? sebaiknya kau di rumah saja pak tua. Berikan aku minuman terbaik yang kau punya, baru kau boleh pergi dari hadapanku."
Tangan besar troll tersebut mencengkeram kerah baju sang troll botak, kemudian melempar tubuhnya hingga menghantam dinding rumah.
"Aku kehabisan minuman tersebut. Jadi biarkan aku mencari bahannya kemudian membuat minuman itu untukmu."
Troll botak tersebut berusaha berdiri kemudian membenarkan sedikit bajunya yang berantakan.
"Pergilah dan bawakan aku daging manusia segar jika kau bertemu dengan mereka."
Troll botak bergegas meninggalkan rekannya yang tengah tertawa lepas.
Arnius dan seluruh rekannya kembali berjalan diantara batu dan beberapa pohon, mereka berusaha mengikuti Maroon yang sudah jauh melangkah di hadapan mereka. Arnius dan rekannya memutuskan untuk mengikuti dan mencari tahu apa yang sedang troll botak itu lakukan.
Jalan yang mereka lalui terlihat sedikit menanjak, lebih tepatnya sebuah bukit. Setelah mengikuti arus sungai, Maroon terlihat menghentikan langkahnya di bawah pohon besar berwarna hijau. Bukan hanya daunnya yang berwarna hijau melainkan ranting serta seluruh batang pohon juga berwarna hijau.
Setelah beberapa saat Arnius dan seluruh rekannya baru menyadari bahwa arus sungai yang seharusnya mengalir ke bawah bukit justru mengalir ke atas mengelilingi pohon besar tersebut sebagai pusatnya.
"Berhenti mengikuti diriku, tunjukkan wujud kalian hai para peri bunga atau apapun wujud kalian."
Maroon tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Aku bukan seperti para Megan troll yang suka menyakiti, aku tidak akan menyakiti kalian jika kalian tidak pula berbuat jahat kepada diriku."
Maroon kembali berucap.
Merasa kehadirannya sudah diketahui, Arnius keluar dari balik bebatuan begitupun dengan yang lainnya. Dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi, Arnius mencoba mendekati troll botak tersebut.
__ADS_1
"Mereka sudah mencium kehadiran kalian para manusia. Kenapa kau memakai serbuk bunga yang begitu harum? tidak ada wangi bunga yang seperti itu di tempat ini. Apa yang kalian inginkan?"
Troll botak tersebut meletakkan telunjuknya ke tanah tepat di hadapan Arnius. Arnius segera melompat ke atas jari besar tersebut.