
Api mulai menyelimuti seluruh tubuh Arnius saat berbagai senjata rahasia meluncur cepat ke setiap bagian vital tubuhnya. Hanya dengan satu hentakan kaki seluruh senjata itu berbalik arah. Semua lawan yang tadinya mengepung dari berbagai sisi kini terkena serangan balik dari senjata milik mereka sendiri.
"Kita terlalu meremehkan pemuda asing itu, serang dia secara bersamaan."
"Bagus sekali tuan muda Tao, kau menyuruh kami menyerang dia bersamaan. Jika pemuda tampan itu mati, bukankah hanya kau yang akan diuntungkan. Sementara jika kami mati tidak akan ada yang mengurus keluarga atau sekedar menguburkan mayat kami. Dasar licik, kau serang saja sendiri. Aku akan menyerang dirimu jika kau berhasil membunuhnya. Lagi pula tidak ada yang salah dengan pemuda itu. Kau hanya kurang beruntung tidak bisa menikah dengan nona Yin."
Seorang pemuda tanggung terlihat berdiri di atas pagar dinding yang mengelilingi pekarangan, dia tersenyum kecil saat menyadari bahwa mereka semua sudah di manfaatkan oleh satu orang.
"Rupanya masih ada dari kalian yang bisa berpikir jernih."
Naoki yang mampu berbicara bahasa benua selatan dengan baik, mulai keluar dari dalam rumah setelah mendengar ucapan seorang pemuda dari atas pagar.
"Apa yang kalian lakukan, mereka dari benua lain. Cepat bunuh mereka."
"Sekalipun kami berasal dari benua lain, sejak kami tiba di tempat ini apakah ada yang merasa kami ganggu? ku harap kedatangan kami tidak menggangu tuan-tuan sekalian. Kami hanya mengantar kakek Yao beserta cucunya pulang, kemudian salah satu rekan ku menikah dengan nona Yin. Apa ada yang salah dengan semua itu? jika kalian tetap ingin menyerang, sudah sepantasnya bagi kami untuk mempertahankan diri. Berpikirlah sebelum kalian menghantarkan nyawa."
Ucapan Naoki dapat di dengar dengan baik oleh semua orang. Para pendekar yang mulai merasakan berat pada tubuhnya serta pandangan mata mulai buram, memilih untuk meninggalkan tempat tersebut. Satu persatu banyak orang yang mulai melangkah pergi dengan tubuh yang sedikit di paksakan untuk bergerak. Aura naga yang di keluarkan oleh Ryu kogane lah yang telah menyebabkan semua itu terjadi.
Kini yang tersisa hanyalah para pengikut dari perguruan bangau putih, serta pemuda tanggung yang masih berdiri di atas pagar. Para murid bangau putih mulai menyerang dengan mengandalkan beberapa formasi bertarung.
"Kalian mengandalkan jumlah serta formasi bertarung, baiklah kami akan menghadapinya."
Zen yang sudah siap dengan pedang besar miliknya, mulai memberi aba-aba kepada setiap rekannya. Di saat Zen mengalihkan perhatian lawannya, tanpa disadari beberapa murid perguruan bangau putih yang berada di barisan belakang tumbang tanpa suara sedikitpun.
Azumi tersenyum kecil dari tempatnya berdiri saat ini. Dengan tewasnya beberapa rekan mereka, hal itu membuat panik seluruh pasukan lawan.
"Hei aku masih belum bergerak dari tempat ku, tapi kenapa rekan kalian sudah tertidur seperti itu. Apa kalian kurang beristirahat?" Suara berat Zen terdengar begitu jelas.
Suara jeritan mulai terdengar setelah Yuki mulai mengepalkan tangannya berulang kali. Beberapa orang mulai terhisap ke dalam tanah yang mereka pijak saat ini.
"Apa kalian ingin melanjutkan kembali?"
Belum sempat mereka menjawab ucapan Zen, beberapa orang mulai terduduk lemas serta mencekik leher mereka sendiri hingga tewas. Wu Ling mulai memadatkan udara hingga menyebabkan beberapa orang tewas karena tidak dapat lagi bernafas.
Sebagian besar orang yang sudah berdiri dengan senjata di tangannya tiba-tiba terbungkus es tebal dalam waktu yang hampir bersamaan. Kini jumlah pasukan lawan hanya tersisa dua puluhan orang. Itupun karena mereka memiliki tenaga dalam yang lebih baik, sehingga mampu bertahan dari setiap serangan Wu Ling, Yuki, Azumi ataupun Keiko.
__ADS_1
"Anda melihatnya tuan? komandan kami bahkan belum bergerak sedikitpun dari tempatnya, namun para pengikut mu sudah tumbang terlebih dahulu. Apa kalian masih ingin melanjutkan?" Naoki masih berusaha berkata sehalus mungkin.
"Aku tidak mengerti ucapan kalian, tapi menurutku ini membosankan. Pangeran bolehkah aku membakar mereka semua sekarang? kau bisa membuatku tertidur di sini." Genta menguap di atas sebuah pohon.
"Sekalipun kalian hebat, aku akan tetap menghabisi kalian semua."
Tetua perguruan bangau putih mulai bergerak menyerang Zen yang berdiri tidak jauh dari dirinya. Pedang besar Zen mulai beradu dengan trisula milik tetua Tao. Sementara yang lainnya juga mulai bergerak mencari lawan masing-masing.
Ada juga di antara mereka yang masih berusaha melepaskan diri dari jeratan es milik Keiko. Mereka mengerahkan segenap tenaga dalam untuk melepaskan diri dari es yang yang hampir membekukan separuh tubuh mereka.
"Kalian hebat juga, mampu menahan es abadi milikku. Namun tidak dengan ini."
Keiko mulai mengayunkan sabuk emas miliknya yang kini sudah berubah menjadi cambuk yang melilit tubuh lawannya hingga membeku dan membuat mereka hancur berkeping keping.
"Kau memiliki trisula yang hebat pak tua, namun sayang sekali kau masih belum begitu kuat untuk mengayunkannya."
KRAAAK.
Trisula milik tetua bangau putih patah menjadi dua, saat Zen mengayunkan pedang besarnya dengan sekuat tenaga. Tebasan Zen terus berlanjut hingga membuat tetua tersebut kehilangan sebelah lengannya.
"Maaf tetua. Tapi jika kau beruntung, kau bisa meminta pil penumbuh kembali anggota tubuh mu itu kepada salah satu rekan ku."
Tuan muda Tao berusaha mendekati Arnius yang masih berdiri di tempatnya. Saat ia berusaha menyerang dengan pedangnya, seolah pedangnya menghantam sebuah dinding yang keras.
"Kau harus berhadapan dengan ku terlebih dahulu sebelum membuatnya bergeser dari tempatnya berdiri."
Genta berdiri tepat di hadapan tuan muda Tao dan menahan pedang yang diarahkan ke tubuh Arnius.
"Ha ha kau memilih lawan yang salah tuan muda."
Kin Raiden yang berdiri tepat di depan pintu masuk ruangan, terlihat tertawa lebar. Phoenix merah itu memastikan tidak ada serangan yang masuk ke dalam ruangan itu, hingga mengenai kakek Yao, nona Yin, Eiji serta beberapa anggota keluarga lainnya yang berada di dalamnya.
Genta tidak langsung membunuh tuan muda Tao tersebut, melainkan membuatnya babak belur hingga sulit untuk di kenali.
"Kau terlalu kejam naga besar, lihatlah wajah tampannya jadi rusak karena ulah mu."
__ADS_1
Zora memeriksa keadaan tuan muda Tao yang telah terkapar di atas rerumputan, setelah menjadi bulan-bulanan oleh rekannya itu.
"Suruh saja ayahnya itu membawa putra tercintanya kembali ke rumah, dan ingatkan mereka untuk tidak mengganggu keluarga Yao lagi."
"Ku dengar para pendekar benua selatan mampu mengukur tingkat ilmu praktik seseorang, namun kenapa kau bisa salah memilih lawan. Jika aku yang melawan dirimu, mungkin kau bisa saja menang, sekarang pergilah dan jangan pernah kembali ke rumah ini. Hei jangan lupa, bawa juga semua rekanmu."
Zora memberikan sebutir pil penyembuh kepada tuan muda Tao, supaya dia bisa berdiri dan berjalan dengan benar. Saat tuan muda Tao sudah mulai berjalan menjauh dari Zora, ia melempar sesuatu dari balik lengan bajunya ke dalam rumah. Namun Kin Raiden berhasil menghalau sebuah bola kecil yang akhirnya meledak di udara. Hal itu membuat Genta sedikit menyesal karena tidak membunuh tuan muda tersebut.
"Kau benar-benar tidak akan melihat matahari terbit esok hari tuan muda."
Genta melesat mendekati dan membakar habis tubuh tuan muda Tao hingga tak bersisa, saat lengannya mencekik leher tuan muda tersebut. Semua lawan yang melihat perbuatan Genta, mulai meletakkan senjata mereka dan memilih menyerah.
Semua orang yang tadinya berniat membunuh, kini berjalan meninggalkan kediaman keluarga Yao dengan membawa serta tubuh rekan mereka yang sudah menjadi mayat. Genta memastikan mereka tidak melakukan serangan kembali seperti halnya yang tuan muda Tao lakukan.
Kediaman keluarga Yao kembali seperti semula, para pelayan di minta untuk membersihkan semua kekacauan yang ada.
"Kakek Yao, seperti yang anda ketahui. Kami tidak bisa lama di tempat ini, jadi kami akan meninggal tempat ini sekarang juga."
Naoki berjalan mendekati Kakek Yao, serta meminta ijin untuk segera meninggalkan kediaman tersebut.
"Iya pangeran, terima kasih sudah menolong keluarga kami serta mengantarkan kakek tua ini pulang ke rumah dengan selamat."
"Kakek Yao kami mohon diri."
Naoki menunduk hormat dan mulai melangkah keluar dari dalam rumah diikuti oleh para rekannya, setelah saling berpamitan kepada kakek Yao beserta keluarganya.
"Gadis bodoh, kenapa kau masih di sini. Pergi dan ikuti suami mu."
"Tapi kakek, aku tidak akan meninggalkan kakek."
"Kau harus selalu bersama dengannya, kau ini istrinya. Sementara kakek akan menghabiskan masa tua Kakek di rumah ini dengan tenang. Sekarang pergilah."
"Kakek."
Yao yin bersimpuh dan memeluk erat kaki kakek yang selalu menyayangi dirinya.
__ADS_1
"Dengarkan aku yin yin, kau harus ikut dengan suami mu. Temui lah keluarganya dan mintalah restu, kau harus bahagia cucuku. Yao Fu serta yang lainnya akan menjaga kakek dengan baik, pergilah nak."
Dengan terisak Yao yin memeluk sang kakek, kemudian mulai berjalan menyusul Arnius dan yang lainnya.