
Di atas Classic pearl, Eiji terus mempelajari setiap dasar-dasar penguasaan segel. Walaupun dulu ia juga pernah mempelajari beberapa penguasaan segel dari master Jiraya, namun pembelajaran itu tertunda karena misi dari pangeran Naoki. Eiji membaca setiap bagian yang berhubungan dengan penguasaan segel pemindah.
Beberapa gerakan mulai di lakukan oleh Eiji, semua hal yang di lakukan olehnya selalu di perhatikan oleh Wu Ling. Keduanya saling membantu untuk mempelajari penguasaan segel tersebut. Wu Ling begitu memperhatikan setiap detil dari gerakan yang dilakukan oleh Eiji. Hampir seluruh penghuni perguruan angin utara mengetahui, bahwa murid dari master Jiraya tersebut terkenal akan kecerdasannya.
Saat Arnius mencoba berkonsentrasi untuk mencari keberadaan Fudo, ia merasakan panas api yang menyengat keluar dari tubuhnya. Hal itu pun disadari oleh Ryu kogane. Pemilik naga emas itu semakin berkonsentrasi untuk mencari titik asal energi tersebut, sementara genta pun melakukan hal yang sama.
"Haah.. Sama sekali tidak ada petunjuk. Ku harap kau menjaganya dengan baik."
Terdengar helaan nafas Arnius, setelah pemuda yang menguasai penguasaan api tersebut menyelesaikan meditasi.
"Pedang itu pasti akan melakukan tugasnya dengan baik, tenanglah Ar."
Genta menepuk pundak sahabatnya.
"Kau juga merasakannya? pedang itu sempat mengeluarkan api walaupun sesaat."
"Ya, aku tahu."
Keduanya beralih menatap Keiko yang masih berusaha untuk berkomunikasi dengan Minori. Titik keringat mulai menetes pada sebagian wajahnya yang cantik.
"Beristirahat lah cantik, kau bisa mencobanya nanti."
Genta mengusap peluh yang membasahi wajah gadis kecilnya.
"Sebelum pergi, merak besar itu menitipkan batu ini kepadaku. Haah.. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu."
Zen menyerahkan batu yang sempat di tinggalkan oleh Jaku kepada Arnius. Sebuah batu pipih yang berbentuk seperti sebuah cermin. Arnius hanya memperhatikan setiap lekuk benda yang ada di tangannya, tanpa tahu kegunaannya.
"Kau tahu tentang benda ini?"
Arnius menyerahkan batu tersebut kepada Genta.
"Ini batu cermin, tapi aku tidak tahu cara menggunakannya."
Batu tersebut kini beralih ke tangan Kin Raiden.
"Jika aku mengalirkan tenaga ku, batu ini mungkin bisa rusak karena petir. Bahkan api pun akan membuatnya lebih hancur."
"Aaah... Kau ini."
Genta yang geram kembali merebut benda tersebut dan menyerahkannya kepada Yuki, namun pria itu hanya menggelengkan kepala.
Naga besar itu beralih melihat Eiji dan Wu Ling yang masih sibuk berlatih, namun ia berpikir untuk tidak menggangu keduanya. Saat ke dua matanya melihat Keiko yang sudah kembali berdiri menatap lautan awan, ia berpikir bisa saja batu tersebut berubah menjadi kepingan es dan hancur. Genta hanya bisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Kapten, apa kau tahu tempat yang mengetahui berbagai jenis batu berharga seperti ini?"
Genta kembali menunjukkan batu tersebut kepada kapten Zen.
"Aku juga tidak tahu. Mungkinkah tempat pelelangan mengetahui benda-benda seperti itu?"
Zen berpikir keras.
"Aiiih.. Kita mau mencari tahu kegunaannya, bukan menjualnya."
Genta menggelengkan kepalanya.
"Saat menyerahkan batu ini, apa yang merak itu ucapkan?"
Genta kembali bertanya.
"Mm... Jaku akan menjaga serta melayani nyonya muda dengan baik. Mungkin seperti itu."
"Jaku akan menjaga serta melayani nyonya muda dengan baik."
Genta kembali mengulangi ucapan Zen, seraya menatap batu pipih yang ada di tangannya.
"Mungkin harus di usap, atau di tiup."
"Hah.. Kalian pikir ini permainan sulap dari dunia barat."
Kin Raiden tersenyum lebar.
"Benar Yuki, kita coba saja."
Genta kembali mencoba mengulangi ucapan Zen, seraya mengusap setiap bagian cermin batu yang dipegangnya serta meniupnya perlahan. Namun tidak terjadi apapun pada batu tersebut.
"Bagaimana cara merak itu memegang benda ini saat dia mengucapkan kalimat itu?"
"Seperti seorang wanita yang sedang bercermin. Kau tahukan, pegang bagian tangkainya."
Zen menunjuk bagian batu yang sedikit memanjang.
"Berikan padaku."
Keiko menoleh saat mendengar percakapan beberapa lelaki yang sudah cukup akrab dengan dirinya, seraya mengambil batu pipih yang ada di tangan Genta.
Keiko mengamati setiap lekukan yang ada pada batu tersebut. Gadis kecil itu berpikir bahwa batu yang dipegangnya saat ini mirip dengan cermin hias yang dipakai setiap wanita saat berhias.
__ADS_1
Keiko kembali mengulangi ucapan Genta yang sempat di dengarnya, kemudian ia mengusapkan telapak tangannya tepat di depan batu pipih tersebut. Seperti halnya Genta, Keiko pun tidak mendapati perubahan pada batu yang masih dipegangnya. Wu Ling dan Eiji menoleh setelah mendengar perbincangan seluruh rekannya.
"Coba gunakan bulu ini, aku menangkapnya saat merak besar itu mengibaskan sayapnya padaku."
Wu Ling menyerahkan sehelai bulu hijau yang di lepaskan oleh Jaku saat keduanya melompat dari Classic pearl.
Keiko kembali mengulangi ucapannya, kemudian mengusapkan bulu merak hijau tersebut ke permukaan batu. Adik perempuan Arnius itu hampir melepaskan pegangannya saat batu tersebut berkilau memancarkan cahaya. Perlahan namun pasti, terlihat gambar Jaku bersama dengan Yao Yin di dalam cermin yang terlihat begitu nyata.
Air mata Keiko mulai menetes saat melihat tubuh Yao Yin yang terkulai lemas. Sebelah tangannya yang lain, mengepal kuat menahan amarah saat terlihat seorang pemuda yang berdiri tidak jauh dari keduanya. Pemuda asing yang sempat bertarung dengannya.
Semua menyadari perubahan raut wajah gadis kecil tersebut, hingga membuat semuanya bergegas mendekati serta melihat ke dalam cermin. Tidak terdengar suara apapun, namun gambar yang mereka lihat begitu nyata.
"Kakak.."
Keiko berucap pelan saat air matanya kembali menetes.
Terlihat seseorang wanita cantik yang berpakaian begitu indah, menyerahkan sebuah botol kecil kepada Jaku. Pada saat itu pula, merak besar tersebut mulai menyadari sesuatu.
"Cermin batu ku mulai aktif."
Jaku bergumam dalam hati, saat menyadari cermin batu yang ia tinggalkan mulai bekerja.
Sebelum ia menyerahkan botol kecil yang di pegangannya kepada Nyonya mudanya, ia mengguratkan jari telunjuknya pada lengan kirinya tepat di hadapan Yao Yin. Seolah sedang menuliskan sesuatu. Yao Yin melihat semua yang dilakukan oleh merak besar tersebut, ia pun ikut membaca goresan jari pelayannya tersebut.
"Nyonya muda baik-baik saja, hanya tubuhnya masih lemah. Wanita anggun itu adalah ratu negri ini, saat ini dia melindungi nyonya dari putranya. Pangeran Arashi, mereka menyebutnya pangeran sembilan. Lebih tepatnya rubah berekor sembilan. Kami akan berusaha menjaga nyonya muda dengan baik, sampai tuan muda menjemputnya."
Tulisan tersebut muncul melingkar di tepian cermin. Keiko membaca dengan suara yang keras setiap kali ada tulisan yang muncul. Yao Yin melihat semua yang dilakukan oleh pelayanannya tersebut. Ia menyadari bahwa merak besar itu berusaha memberikan kabar tentang keadaannya kepada seseorang yang tertulis sebagai tuan muda, yaitu Arnius. Ayah dari janin yang ada di dalam kandungannya saat ini.
"Tenanglah nyonya muda, tuan muda memperhatikan kita saat ini. Anda hanya perlu memulihkan kembali kondisi kesehatan tubuh anda, serta menjaga bayi yang mulai tumbuh di dalam rahim nyonya muda, hingga tuan muda menjemput kita."
Jaku berkata lirih, saat ia menyerahkannya botol obat kepada nyonya mudanya. Yao Yin mengangguk mengerti, setelah ia menerima dan menelan sebutir pil dari dalam botol tersebut.
"Yang mulia ratu, nyonya muda ku perlu beristirahat. Bolehkah..."
"Tentu saja, Arashi cepat bawa tubuh nona itu ke paviliun untuk beristirahat."
Ratu Asuka mengerti ucapan Jaku. Namun saat pangeran tersebut berjalan mendekati Yao Yin, tubuh wanita bercadar itu kembali mengeluarkan api.
"Jangan mendekat, aku yang akan memapah tubuh nyonya muda ku."
Jaku berdiri tepat di hadapan Arashi.
"Apa yang ingin di lakukan pemuda mesum itu, kau hanya akan menjadi debu jika berani berbuat macam-macam kepada kakak ku."
__ADS_1
Keiko kembali mengepalkan tangannya. Tanpa mereka sadari, kepalan tangan Arnius pun sempat mengeluarkan api, saat pemuda asing tersebut mencoba mendekati tubuh istrinya.